
Citra dan Jasmine baru saja dari kantin. Kini jam istirahat telah selesai. Mereka berdua berjalan melewati kantor, saat melintasi, satu guru memanggil nama Citra.
Sontak mereka berdua menghentikan langkahnya Itu adalah Bu Rasya, guru bahasa Indonesia.
"Ya, Bu?" tanya Citra dengan sopan.
Bu Rasya menyerahkan buku paket dan tas laptopnya pada Citra, "tolong kamu taro ini di kelas 12 MIPA 1, yah!"
Mata Bu Rasya beralih pada Jasmine, "kamu ke kelas langsung! Jangan cari alesan!"
Yang ditatap oleh Bu Rasya hanya cengengesan. Kedua gadis itu langsung berjalan menghilang dari hadapan Bu Rasya.
Namun, seketika Citra menghentikan langkahnya, gadis itu mengernyit, lalu tak lama matanya membola, "Kelas 12 MIPA 1?"
"Iya, kenapa?"
Buku paket dan tas laptop itu Citra alihkan di tangan Jasmine, "duh! Kamu aja deh yang bawa! Aku ke kelas duluan, Jas. Kepala aku pusing banget." dustanya. Ya, gadis itu tidak sanggup melihat wajah tampan yang ia sebut mirip Andi Arsyil itu.
Citra bergegas lari tanpa peduli dengan jawaban Jasmine seperti apa nantinya.
Gadis itu langsung masuk ke dalam kelasnya. Beberapa murid melihatnya keheranan. Namun sebagian hanya menatapnya sekilas. Beruntung belum ada guru yang masuk.
"Pelajaran siapa sih sekarang?" tanya Citra entah pada siapa. Posisi gadis itu masih di ambang pintu.
"free class!" jawab para kaum Hawa dengan kompak.
Citra tak kalah senang. Meskipun ia tergolong dalam murid yang pandai, tetap saja ia merasa jenuh dengan pelajaran.
Gadis itu hendak duduk di bangku yang biasa ia booking, namun satu suara menginterupsi nya.
Citra menatap Nisa sekilas, "apa?"
Citra langsung duduk di bangku tempatnya, ia merasa kelelahan akibat berlari-lari menuju kelas tadi. Ia memang lemah dalam bidang olahraga.
Nisa melempar buku catatan uang kas itu tepat di atas meja Citra, "bayar uang kas! Minggu kemaren sama minggu ini lo belom bayar."
Citra menggigit bibir bawahnya, "berapa semuanya?"
"Sepuluh ribu,"
Pelupuk mata Citra melebar, "Mahal amat? Bukannya seminggu dua ribu?"
Nisa menjual pucuk kepala Citra berkali-kali, "Seminggu itu lima ribu. LIMA RIBU!" Nisa menunjukkan lima jarinya tepat di depan wajah Citra.
"Ayah lo kan CEO, malu lah kalau sepuluh ribu aja gak kebayar."
Citra merotasikan bola matanya, tangannya merogoh uang sepuluh ribu dari saku baju seragamnya. Ia menaruh uang itu di atas mejanya dengan kasar, "nih! Sepuluh ribu doang mah kecil."
__ADS_1
Nisa mengancungkan jari telunjuknya tepat di depan mata beriris biru itu, "awas aja lo kalau minggu besok susah ditagih lagi!" peringatnya penuh ancaman.
Gadis itu hanya menggedikkan bahunya sok acuh. Nisa mulai mencatat pada buku kasnya.
Nisa sudah kembali ke tempat duduk semulanya. Beberapa menit kemudian, Jasmine masuk ke dalam kelas. Ia menyunggingkan senyum.
Jari telunjuk Jasmine yang tampak lentik itu mencolek pipi Citra, "Cieee~" siulnya. Citra yang tidak mengerti maksud Jasmine itu apa hanya menggedikkan bahunya.
Jasmine duduk di sebelah Citra, "lo dapet salam dari Kak Andri,"
Deg!!!
Kedua pipi Citra berubah menjadi merah. Jantungnya memompa lebih cepat. Jasmine tertawa terbahak-bahak melihat pipi Citra yang sudah seperti kepiting rebus.
Nisa yang duduk di belakang mereka itu mencondongkan kepalanya, "kenapa, Jas?"
"Kak-" belum sempat Jasmine menyelesaikan kalimatnya, buru-buru Citra membekap mulut itu.
Nisa memincingkan matanya pada Citra, "gue curiga,"
Citra menatapnya penuh tajam, "urusin aja tuh uang kas! Eh-iya, Jasmine minggu ini belum bayar uang kas."
Nisa menatap buku catatan uang kas itu. Matanya beralih menatap Jasmine, "gue kasih lo keringanan kalo lo mau ngasih tau,"
Citra membulatkan matanya, "Gak bisa gitu dong! Itu namanya gak adil! Nisa not fair!" Citra meninggikan suaranya.
"Berisik lo, Ukhti!" protes Alex. Sepupu Citra.
Keadaan kelas sedari tadi memang ricuh. Citra yang biasanya jika free class hanya tidur sekarang harus meladeni Nisa sekaligus Jasmine.
Jasmine menurunkan tangan Citra yang sedari tadi membekap mulutnya. Citra melafalkan istighfar dalam hati, berharap Jasmine tak memberitahunya.
"Maaf, Nisa! Ini privacy,"
Jasmine merogoh saku seragamnya, mengeluarkan uang bernilai dua ribu rupiah, "Nih gue bayar uang kasnya,"
Posisi Nisa menjadi duduk seperti biasa, kepalanya ia mundurkan, "gak asik lo, Jas!" ia menarik paksa uang itu.
Citra bernapas lega. Gadis itu menumpukkan tangannya di atas meja. Ucapan Jasmine masih terngiang-ngiang di benaknya.
"Andi Arsyil," ucapnya lirih tanpa sadar.
"Andi Arsyil?"
Seketika Citra tersadar, "eh-nggak, aku abis nonton film yang di peranin sama Andi Arsyil. Masya Allah, dia itu tampan banget,"
Jasmine mengangguk percaya. Bodoh sekali! Padahal Jasmine adalah tipikal wanita yang sulit dibohongi.
__ADS_1
***
Citra tengah menunggu Pak Rahmat untuk menjemputnya. Gadis itu berdiri di gerbang sekolah. Bahkan sesekali ia duduk sambil memeluk lututnya.
"Pak Rahmat mana sih?" monolognya pada diri sendiri.
Tin!
Suara kelakson terdengar hingga gendang telinga gadis itu dapat menangkap suaranya. Citra menoleh pada sumber suara, ia segera bangkit berdiri.
Sang pemilik motor itu membuka kaca helmnya. Terlihat wajah Andi Arsyil. Ralat! Andri.
Wajah Citra pucat pasi, bagaimana tidak? Ia sedang duduk seperti orang gelandangan dan itu dapat dilihat oleh Andri. Sungguh, memalukan!
"Nungguin siapa?"
Citra tersenyum tipis, "Pak Rahmat," jawabnya singkat.
Andri menoleh pada jog belakangnya sekilas, lalu tatapannya beralih pada Citra, "bareng aku aja! Takutnya kamu nunggu kelamaan,"
Citra menggeleng lemah, "enggak ah! Nanti kalau Pak Rahmat udah nyampe kasian gak ada aku disini."
Andri mengangguk, ia langsung turun dari motornya, tak lupa melepas helm. Ia berdiri yang posisinya tak jauh dari Citra.
Gadis itu memejamkan matanya, punggungnya bersender pada pagar sekolah. Sesekali ia melirik jam yang berada di pergelangan tangannya.
Selang beberapa menit kemudian, mobil berwarna hitam itu menepi di depan sekolah SMA Negeri itu. Citra langsung menegakkan tubuhnya.
Tubuh tinggi tegap itu keluar dari mobilnya, "Non Citra, maafin Pak Rahmat yah nungguinnya lama! Soalnya tadi macet banget," ujarnya dengan rasa bersalah.
Citra mengangguk, "gak papa! Tapi, lain kali Pak Rahmat jemputnya agak cepetan aja dari sebelumnya, kasian aku nunggunya lama."
Andri menatap Citra tak percaya. Yang benar saja? Gadis itu mengasihani dirinya sendiri. Belum pernah ia melihat orang seperti itu sebelumnya.
"Siap, Non!"
Citra mengayunkan langkahnya menuju mobil itu, namun seketika terhenti dan menoleh ke belakang, "Kak Andri, makasih yah udah nungguin Citra."
"Iya sama-sama,"
Citra langsung masuk ke dalam mobilnya. Dan mobil itu telah melaju dengan kecepatan normal.
Andri langsung memakai kembali helmnya dan mulai menaiki motornya itu. Sedalam perjalanan, kedua pipinya bersemu merah mengingat Citra yang begitu menggemaskan baginya.
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
__ADS_1
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
Selamat membaca semuanya!