
Malam yang begitu dingin, Citra menunggu di Bandara Soekarno-Hatta, karena Hamzah dan Pak Rahmat akan menjemputnya. Beberapa menit kemudian, ia melihat Hamzah dan Pak Rahmat yang baru saja keluar dari mobil di tempat parkiran, dengan cepat, ia menghampirinya.
Ia memeluk Hamzah dengan erat, "Citra kangen banget sama Ayah." ungkapnya.
Hamzah mencium pucuk kepala putrinya, "kami sekeluarga kangen sama kamu dan Fajar."
Hamzah langsung mengajaknya masuk ke dalam mobil, Hamzah dan Citra duduk bersebelahan di kursi belakang. Mereka saling melepas rindu. Sedangkan Pak Rahmat, duduk sendirian di kursi depan.
"Gimana di sana? Seru?"
Citra mengangguk antusias, "seru banget, Yah! Citra juga udah punya temen, baru satu sih."
"Oh yah? Kalau Jasmine?"
"Itu mah the best Citra. Pasti always beside me."
Citra melingkarkan tangannya di pinggang Hamzah. Hamzah pun mengusap punggung Citra yang memakai jaket tebal.
"Eh, kamu udah shalat, belom?"
"Udah kok, di pesawat tadi."
Hanya butuh waktu setengah jam, akhirnya mereka sampai di depan rumahnya yang designnya tak ada yang berubah. Pak Rahmat menyalakan Klakson mobilnya. Hingga, Bi Sari pun membuka pagar yang ornamennya adalah bunga.
Setelah pagar terbuka, barulah Pak Rahmat kembali melajukan mobilnya.
Pak Rahmat membukakan pintu di bagian belakang, Citra dan Hamzah pun turun. Sepanjang masuk ke dalam rumahnya, tangannya memeluk lengan Hamzah.
"Assalamualaikum!" ucap salam keduanya ketika Bi Sari membukakan pintu utama.
Raina langsung menghampiri mereka dan memeluk Citra begitu erat.
"Bunda kangen banget sama kamu, Ra." ungkap Raina yang terdengar hiperbolis. Ya, sifat lebay Citra keturunan dari Raina.
Citra membalas pelukan itu, "Citra juga kangen banget sama Bunda, kangen masakan Bunda juga. Kangen Bi Sari juga."
Bi Sari yang merasa namanya disebut, tersenyum malu. "Si Non mah bikin Bibi speechless aja."
Citra melongo ketika Bi Sari menggunakan bahasa Inggris. Padahal, Bi Sari tak bisa menggunakan bahasa asing itu.
"Bibi bisa bahasa Inggris?"
__ADS_1
Bi Sari menggaruk tenguknya yang tak gatal, "kan nyambut Non yang dateng dari Nuw Selan, jadinya kudu pake bahasa itulah."
Citra terkekeh, "New Zealand."
Hamzah mengibaskan tangannya, "udahlah! Selandia Baru lebih simpel."
"Nah itu lebih simpel." ucap Bi Sari antusias.
Raina mencium kening Citra lama, "istirahat dulu, sayang. Besok biar gak bangun Shubuhnya gak kesiangan."
Citra mengangguk, sebelum beranjak, lebih dulu ia mengecup pipi Raina.
Citra langsung merebahkan diri di kasurnya. Ia sudah tak peduli jika barang bawaannya masih belum dirapihkan. Untung saja ia hanya membawa barang-barang yang penting. Soal baju, ia tak bawa, karena persediaan di rumah ini pun masih ada.
***
Andri sudah duduk dengan tegang di hadapan Raina, Hamzah, dan Citra. Tubuhnya terasa kaku. Wajahnya pucat. Citra yang menyadari itu, terlihat khawatir.
Citra berdehem, "Kakak kenapa? Kok mukanya pucet?"
Andri tergelak, "gak papa, ini... Tadi belum sempet sarapan aja."
Andri menggeleng cepat. Padahal, jawaban itu hanya alibi yang tidak benar. "gak usah, Bun! Andri gak bisa lama-lama." dustanya. Padahal, ia ingin lebih lama menatap Citra.
Hamzah mulai mengeluarkan suara, "kesimpulannya gini, Citra mau untuk ke jenjang yang lebih serius, tapi sayangnya, dia memiliki kakak, Dri. Dan beliau belum menikah. Dan Fajar itu, bukan tipikal pria yang mudah jatuh hati oleh wanita. Bahkan sikapnya aja dingin dan cuek."
"Kami sudah bicarakan ini pada Fajar, Abangnya bilang bahwa, ia menyuruh Citra untuk fokus terlebih dahulu pada kuliahnya. Apalagi jika nantinya ada hal yang memberatkan keduanya. Mau kamu atau Citra."
"Kalian kuliah di Negara yang berbeda, apa jadinya jika kalian sudah sah, tapi saling berjauhan? Kami khawatir akan terjadinya hal yang tidak menyenangkan."
"Insya Allah, kalau jodoh tidak akan kemana. Dan kalau setiap masalah, pasti ada solusinya, begitupun nantinya jika kalian saling berjauhan. Seperti itu."
"Tapi, kalau soal kesetiaan, tidak ada yang bisa menebaknya. Saya tidak hanya memojokkan kamu, tapi juga Citra. Apalagi anaknya baperan. Kami, tidak mau hal-hal seperti itu terjadi."
"Insya Allah jika saja Fajar merestui, saya pun akan merestui kalian. Jika sudah dapat restu dari kedua pihak, maka Insya Allah, masalah yang tadi saya katakan, ada solusinya."
Andri menganggukan kepalanya, ia melihat Citra yang tertunduk sambil menahan agar air matanya tak jatuh.
"Saya paham, Yah."
"Terimakasih atas pahamnya."
__ADS_1
Hati kedua anak muda itu seketika mencelos. Ekspresinya sulit ditebak. Citra tetap menundukan wajahnya begitu setetes air mata turun, dengan cepat, ia mengusapnya. Agar tak ada yang melihatnya selain Allah.
Dari sisi kejauhan, Bi Sari menatap Citra yang tengah bersedih hati.
Setelah cepika-cepiki, akhirnya Andri memilih undur diri. Citra, Raina, dan Hamzah turut mengantarkannya hingga depan.
Raina dan Hamzah berhenti di depan pintu utama, sedangkan Citra turut mengantarkannya hingga Andri masuk ke dalam mobil.
Sengaja, Raina dan Hamzah memberikan luang waktu sedikit untuk menenangkan hati mereka dengan cara mereka masuk ke dalam rumahnya.
Andri dan Citra sudah berhadapan, mereka berdiri di depan pagar.
"Jangan sedih! Insya Allah kalau jodoh gak akan kemana." Andri mencoba untuk menenangkan Citra. Namun, setetes air mata kembali turun dari pelupuk mata gadis itu.
Refleks, Andri mendekapnya membuat Citra membeku. Bohong jika Citra tak senang. Tangan Citra bergetar untuk membalas dekapannya. Ini pelukan pertama dari Andri.
Andri dan Citra saling memejamkan matanya menikmati kehangatan dalam pelukan. Tangan Andri mengusap lembut pucuk kepala Citra yang berbalut hijab.
Citra menyenderkan pipinya pada bahu Andri. Andri langsung mengusap lembut pipi Citra. Mata mereka saling bertemu, keduanya terpancar raut saling mencintai. Andri tersenyum tipis, "aku akan berusaha untuk kita. Kamu gak usah khawatir. Kita saling mendoakan, yah?"
Citra mengangguk, "iya, Kak." kedua pipi Citra merona. Hingga, Andri gemas untuk mencubit pipinya. Citra hanya mengerucutkan bibirnya sambil tersenyum malu.
Mereka berdua saling melepaskan pelukan. Mereka berdua saling bertatap mesra. Hingga sepuluh detik kemudian, mereka saling melepas pandangan, keduanya dibuat salah tingkah.
Andri bersiap untuk masuk ke dalam mobil, "aku pulang. Assalamualaikum!"
Citra mengangguk, "Waalaikumsalam! Take care!"
Andri tersenyum lebar mendengar perhatian Citra, lalu ia menjalankan mobilnya.
Citra pun ikut masuk ke dalam rumah. Sekarang, ia tak tahu keberadaan Hamzah dan Raina berada di ruangan mana. Citra mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Mungkin ada di dapur, atau kamar. Ah tak tahu lah! Citra juga masih belum connect setelah dipeluk. Ralat! Setelah berpelukan dengan Andri.
Ia mengambil napas dalam-dalam. Berharap akan ada jalan keluarnya hubungan mereka.
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
Selamat membaca semuanya!
__ADS_1