
Setelah seminggu menetap di Indonesia, akhirnya Citra memilih untuk kembali ke Auckland. Bukan apa, tetapi kasian Jasmine harus menyantap mie instan seminggu ini, karena tak pandai memasak. Jadilah Citra berinisiatif untuk membuat makanan untuknya.
Kini, gadis itu tengah berada di Bandara. Raina dan Hamzah turut mengantarkannya. Hamzah mengecup kening Citra begitu lembut, "kamu jaga diri di sana, yah? Ayah dan Bunda selalu mendoakan kebaikan kamu."
Citra mengangguk mantap, "makasih, Yah." Citra pun memeluk Hamzah. Lalu, beralih memeluk Raina.
Raina mengecup pipi Citra dengan gemas, "jangan lupa baca doa. Jangan telat makan."
"Iya Bunda."
Citra mengecup punggung tangan Raina dan Hamzah secara bergantian, "Citra berangkat dulu Yah, Bun."
Hamzah menepuk puncak kepala Citra, "iya, hati-hati."
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Saat beranjak, matanya menangkap sosok Andri yang juga tengah menatapnya. Mereka sama-sama mendekat. Memangkas jarak yang begitu jauh.
"Kakak berangkat sekarang juga?"
"Iya, aku cuma seminggu di sini."
Citra menepuk lengan Andri, "hati-hati di jalan."
Andri mengangguk, "kamu juga."
"Aku berangkat duluan, Kak. Assalamualaikum!"
Andri terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis, "Waalaikumsalam!"
Citra berbalik arah, memunggungi Andri. Kemudian berbaris di antrean tiket. Sesekali, matanya mencuri pandang pada Andri yang masih menatapnya.
Setelah melalui beberapa tahap, akhirnya Citra diizinkan masuk ke dalam pesawat. Dan lagi, ia mendapat tempat duduk di pojok. Sebelah jendela. Citra memejamkan matanya.
***
Pada pukul 21.00 waktu Auckland, akhirnya pesawat berhasil landing. Citra tengah berjalan menuju Lobi. Mungkin ia akan ke apartemen seorang diri. Tapi siapa sangka? Ternyata Jasmine datang menjemputnya.
"Jas, kok kamu jemput aku sih?"
"Gue kasian sama lo. Udah cantik, masa sendirian ke apartemen, kalo ada musibah gimana?"
Citra merentangkan tangannya hendak memeluk Jasmine. Namun, lebih dulu Jasmine menginterupsi nya, "lo peluk gue, gue tinggalin."
__ADS_1
Selalu seperti itu. Apa salahnya Citra memeluknya? Citra kembali menurunkan tangannya. Bibirnya mengerucut.
Mereka akhirnya beranjak menuju apartemen. Jasmine duduk di atas ranjang kasur milik Citra.
"Ra, gue nginep di sini semalem, yah? Capek kalau bulak-balik naik lift."
Citra mengangguk sambil tersenyum, "boleh kok. Tapi, aku pengen cerita-cerita sama kamu. Kamu mau, yah, tidur sama aku?"
"Asal lo gak ngorok, gue mau."
Jasmine pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Citra tengah bersiap membersihkan diri. Setelah keluar dari kamar mandi, ia hanya memakai baju piyama lengan dan celana panjang berbahan satin berwarna hitam. Hijabnya masih menempel menutupi rambutnya.
Citra duduk di depan cermin. Ia mulai membuka sematan jarum pentul yang menancap pada hijab di bawah dagunya. Ia juga mulai melepaskan hijab dan ninjanya.
Terpampanglah rambut Citra yang panjangnya melebihi dada. Rambut yang berwarna cokelat dan bagian bawah rambutnya ikal. Jasmine berdecak kagum melihat kecantikan gadis itu.
Citra pun merebahkan tubuhnya di samping tubuh Jasmine.
"Pantesan Kak Andri demen sama lo."
Citra menautkan alisnya, "kenapa emangnya?"
"Lo cantik, Ra. Tapi, masih cantikan gue sih."
Citra terkekeh, "secantik itu, yah aku?"
Citra menggeleng, "aku gak pernah fokus pada orang lain."
"Rahasianya lo bisa bule apaan sih, Ra?"
"Ayah aku aja bule, yah otomatis keturunannya juga bule."
"Tapi kan Bunda lo orang Indonesia,"
"Yah jangan tanya aku. Allah yang menciptakan aku. Apapun itu, kita harus bersyukur apa yang Allah berikan sama kita."
Jasmine tersenyum, "kalau lo nikah ama bule, pasti keturunan lo juga bule."
Citra menggeleng cepat, "aku maunya sama Kak Andri."
Ingin rasanya Jasmine menyekap wajah Citra dengan bantal, tapi ia harus tahu diri, karena ia sedang menumpang, dan Citra pula lah yang selalu membuatkan makanan untuknya.
"Lo jangan berharap lebih, Ra. Keputusan abang lo aja udah buat lo nangis, gimana gak berjodoh? Nangis darah bisa-bisa."
Ya, Jasmine sudah mengetahui masalah itu, tentu saja. Karena, Citra sendiri yang memberi tahunya.
__ADS_1
"Munafik jika lo gak sedih emang, tapi jangan terlalu larut. Gue juga setuju sama keputusan abang lo, fokus dulu sama kuliah. Lo mau ambil spesialis, jadi lo harus fokusin sama kedokteran aja dulu, cita-cita harus lo kejar dulu."
"Orangtua gue juga nikah muda, Ra. Tapi, lo tau dampaknya untuk Mamah gue apa? Berenti sekolah. Untungnya Ayah gue udah lulus. Meskipun sekarang Mamah gue punya butik, tapi gak akan ada yang tau nasib orang lain akan seperti apa.
Mamah gue juga nyesel banget sampe berenti sekolah. Mungkin penyesalan itu masih berlarut kalau Mamah gue gak punya butik.
Nikah muda itu gak enak, Ra. Masih ada yang labil. Entah dari pihak cowok atau pun ceweknya. Bisa jadi pihak keduanya."
"Urusan cinta itu masalah nanti, kalau jodoh gak akan kemana. Sayang kepinteran lo kalau lo di sia-siain demi nikah muda. Gue tau, kalau kuliah bisa sambil nikah. Tapi, apa lo bisa bayangin? Kefokusan lo merendah setelah menikah, ngurusin suami dan tugas. Sekolah medis itu berat, Ra. Gak semudah kalau lo nyari kuliah untuk menjadi guru."
Citra mengangguk setuju, "makasih, Jas."
"Gue sahabat lo, Ra."
"Oh iya, gimana kabarnya Calorine?"
Jasmine menghela napasnya, "kalau lo mau ikut, besok kita jalan-jalan keluar sama dia."
"Mauuuu!" Seru Citra.
***
Steve baru saja pulang dari Supermarket, untuk membeli bahan-bahan makanan, minuman, dan lain sebagainya. Saat ia membuka pintu penthouse, terlihatlah David, kakak kandungnya yang asik makan snack sambil menonton TV. Kenapa David bisa masuk ke dalam penthausenya? Karena ia memiliki card lock duplikat.
"Ich bin wieder kein Kind." (aku bukan anak kecil lagi) ucapnya sambil menaruh kantung plastik belanjaannya di atas meja ruang keluarga.
"Niemand hat das gesagt." (tidak ada yang mengatakan itu) ungkap David santai.
"Ich habe dich auf keinen Fall rausgeschmissen." (tidak mungkin aku mengusirmu)
David menoleh sekilas pada Steve yang tengah duduk di sampingnya, "*ic*h arbeite hier. Natürlich wird es dich nicht stören. Aber Stößel verspricht nicht." (aku bekerja di sini. Tentu saja tidak akan merepotkanmu. Tapi aku tidak janji)
Steve membuang napas dalam-dalam, "*si*e haben nicht einmal irgendwelche Absichten." (kau saja tidak niat sama sekali)
David menggerakkan bahunya, "*zu*mindest kann ich Instantnudeln kochen. Das ist mehr als genug für dich." (paling tidak aku bisa merebus mie instan. Itu lebih dari cukup untukmu)
Steve bangkit dari duduknya, ia berjalan menaiki anak tangga, ia memutarkan tubuhnya menghadap David, "*ih*r Zimmer ist unten. Der beste Platz." (kamarmu di bawah. Tempat terbaik)
David pun berjalan menuju kamar yang di sebut Steve tadi. Saat pintu kamar dibuka, realita tak sesuai ekspektasi. Nyatanya, kamar itu tak dilengkapi dengan kamar mandi. Televisi pun tak ada. Dan kamar itu, designnya lebih cocok untuk kamar wanita.
"Du bist ein dummer kleiner Bruder. Ich werde dich nicht als meinen Bruder betrachten." (kau memang adik yang konyol. Aku tak akan menganggapmu sebagai adikku) teriaknya sambil menatap lantai atas, berharap Steve mendengarnya. Tapi, pada kenyataannya Steve sedang menyantap snack sambil menutup telinganya dengan headphone.
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
__ADS_1
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
Selamat membaca semuanya!