
Jasmine dan Citra baru saja keluar dari perpustakaan. Hubungan mereka baik-baik saja semenjak Jasmine meminta maaf. Sebenarnya, tanpa Jasmine meminta maaf pun, hubungan mereka akan baik-baik saja.
Citra mengernyit ketika sangat petugas perpustakaan memanggilnya. Citra pun menghampiri sangat penjaga perpustakaan itu.
Sedangkan Jasmine, ia hanya menunggu Citra sambil menyenderkan punggungnya di dinding dan menatap ponselnya begitu fokus. Sampai tak sengaja, ada seorang pria yang menabraknya.
Jasmine dan pria yang tak dikenal identitasnya itu sana-sama terjatuh, namun posisinya masih berjarak sepuluh centi meter.
Mereka pun sama-sama terbangun. Jasmine menggerutu kesal. Ia mengibas-ngibaskan bajunya dari kotoran yang menempel di bajunya. Padahal, tak ada sedikitpun kotoran yang terlihat dengan mata telanjang.
"Untung gak kotor." gerutunya.
Pria yang tak ia kenal itu merasa tak enak hati, "anda orang Indonesia? Maafkan saya! Saya sedang buru-buru."
Jasmine menatapnya dengan tajam, "lo punya mata, kan?" tanyanya sindir.
Tanpa merasa tersindir, pria itu menjulurkan tangannya, "nama saya Uways, mahasiswa baru disini,"
Jasmine menatap lekat wajah Uways, ia memiliki wajah Asia. Kulitnya berwarna sawo matang. Tatapan Jasmine beralih pada tangannya yang masih mengulur, ia pun menyambut uluran itu.
"Jasmine, mahasiswa baru juga." ucapnya sedikit ketus.
Uways menarik kedua sudut bibirnya, "jangan marah! Saya tidak sengaja."
Jasmine masih tidak menjawab. Ia menyilangkan tangannya di depan dada sambil membuang wajahnya.
Hingga, suara Citra terdengar memanggil namanya, "Jasmine!" Citra menepuk pundaknya.
"Kenapa lo?"
Citra menyengir kuda, "tadi, bukunya masih aku pegang. Eh- untungnya diingetin sama penjaga perpustakaannya."
Mata Citra beralih pada Uways yang sedari tadi memandanginya, lalu kembali menatap Jasmine, "baru beberapa hari jadi mahasiswa disini aja, udah dapet ekhem," ledek Citra.
Jasmine menatap Citra begitu tajam, "apa bedanya lo sama Steve?"
Uways terkekeh, lalu menjulurkan tangannya, "saya Uways, baru saja berkenalan dengan Jasmine,"
Citra menyambut uluran tangan itu, "saya Citra, sahabatnya Jasmine,"
__ADS_1
Uways menarik tangannya setelah berjabat tangan dengan Citra, ia terlihat salah tingkah. Terbukti ia menggaruk tenguknya sambil tersenyum malu-malu.
Uways pun menatap keduanya secara bergantian, "saya permisi duluan. Sekali lagi maafkan saya, Jasmine! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" jawabnya serempak.
Uways pun segera pergi. Setelah memunggungi mereka, Uways tersenyum sinis karena telah dapat berkenalan dengan wanita yang selama ini menjadi incarannya.
***
Jasmine menghentakan kakinya di atas lantai kamar Citra. Sesekali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lalu, kembali bangkit dan berjalan menuju balkon. Citra memilih tetap fokus pada buku sejarah "Muhammad Al-Fatih 1453" dimana saat itu, Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukan Konstatinopel.
Saat Jasmine memanggil namanya pun, sengaja Citra tulikan. Karena pasti yang ia dengar hanyalah gerutuan dan sumpah serapahnya.
Merasa diabaikan, Jasmine merampas buku itu tanpa perduli komentar Citra.
"Gue kesel, Ra! Gue kesel!"
Citra dengan santainya menyeruput yogurt rasa stroberi, "kesel kenapa?" tanyanya setelah menarih kembali gelas itu di atas meja.
"Uways!" pekik Jasmine.
Citra tersenyum menggoda, "kamu suka Uways?"
"Gak usah merona juga, kali!"
Jasmine mendelik kesal. Ia menyeruput minuman yogurt Citra tanpa sadar bahwa itu bukan minumannya. Setelah lidahnya merasakan rasa asam, barulah ia tersadar bahwa yang ia minum adalah milik Citra.
Jasmine segera meminum kopi susu miliknya dengan cepat.
"Sumpah asem banget. Lo lagi hamil, yah?"
"Kalau minum itu liat-liat dulu punya siapa! Jangan asal ambil!"
Jasmine memijit pelipisnya. Membiarkan rambutnya dibelai angin yang menyapu di balkon kamar Citra.
Diam-diam, Citra pun memikirkan Andri dan Steve. Dimana dua nama pria itu, telah melekat sempurna dihatinya.
Ia hanya bertemu Steve di kampus, bahkan itu jika mereka ada kelas yang sama. Jika tidak, maka mereka tidak pernah bertatap muka.
__ADS_1
***
Steve menatap tembok kamarnya yang terbuat dari kaca. Maka dari itu, ia dapat melihat sebuah pemandangan malam di kota Auckland tanpa harus ke balkon terlebih dahulu, cukup berbaring di atas ranjang saja sudah terlihat paparazinya.
Steve menjadikan tangannya sebagai bantal. Dan bodohnya, bantal itu tak ia gunakan.
Ia terngiang-ngiang ucapan Jasmine, itulah yang berada di benaknya sekarang. Ia tidak rela kehilangan wanita yang ia cintai.
Di tengah-tengah kegalauannya, suara bel berbunyi, Steve mengernyit, tanpa fikir panjang, ia langsung membuka pintu utama penthouse itu. Ia terkejut bukan main ketika melihat Eliosia yang menatapnya penuh amarah dan menyelonong masuk ke dalamnya. Bahkan, ia sudah duduk di atas sofa.
"Ein Kind kann es ertragen, seine Mutter in der Wohnung zu lassen." (seorang anak tega meninggalkan Ibunya di Apartemen) ungkap Eliosia berniat menyindir Steve.
Steve mengambil duduk berhadapan dengan Ibunya, "*e*s tut mir leid, Ma! Ich habe vergessen." (maafkan aku, Ma! Aku lupa)
Eliosia bersedekap, "*br*ingen Sie einfach alle Ihre Gründe heraus!" (keluarkan saja semua alasanmu!)
Steve menjambak rambutnya frustasi, "*ic*h möchte einfach mitten in meinem geschäftigen Leben Frieden finden." (aku hanya ingin mencari ketenangan di tengah kesibukanku) jawabnya yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Womit bist du beschäftigt?" (kamu sibuk apa?) tanya Eliosia dengan nada suara yang sedikit menantang.
"Merken Sie sich die Namen der Organe, merken Sie sich Krankheiten, chemische Drogen, traditionelle Medizin und so weiter." (menghafal nama organ tubuh, menghafal tentang penyakit, obat kimia, obat tradisional, dan sebagainya)
Eliosia membungkam seketika. Ia baru mengingat, bahwa putranya sekolah kedokteran dan juga mendapatkan beasiswa. Meskipun beasiswa, hanya dipotong beberapa juta saja, karena pada dasarnya, sekolah kedokteran itu mahal. Seandainya mendapatkan beasiswa, hanya mendapat potongan kurang lebih 50 juta rupiah.
Sedangkan, sekolah kedokteran menghabiskan beberapa ratus juta. Terbilang sangat mahal.
"Geh ins Bett! Morgen bringst du Mama zum Flughafen, wie du willst, sie will nur den Zustand deiner Wohnung sehen. Du bist morgen weg, oder?" (tidurlah! Besok kamu antarkan Mama ke Bandara, sesuai keinginan Mama hanya ingin melihat kondisi apartemenmu saja. Besok kamu libur, kan?)
Steve mengangguk, "Wie du möchtest." (sesuai permintaanmu)
Steve langsung kembali ke kamarnya setelah menunjukan kamar Ibunya. Ia memang sangat ngantuk, namun, bayang-bayang Citra hadir begitu saja.
Ia menatap ponsel yang menampilkan isi chat dirinya dengan gadis itu. Dimana ada pertanyaan dan pernyataan serius, guyonan, dan lain sebagainya sebagai topik ketika mereka saling membalas chat. Namun, selalu diakhiri dengan Steve yang hanya berniat membaca tanpa membalas.
Bukannya ia tak suka chat dengan Citra, melainkan gilirannya akan terus terbayang wajah Citra yang menggerutu kesal. Itu lucu menurutnya. Ibu jari Steve memencet foto profil gadis itu. Sebelumnya, ia sudah screenshot foto itu setelah mendapatkan nomor Citra.
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
__ADS_1
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
Selamat membaca semuanya!