
Di Universitas yang letaknya di New York itu tengah diliburkan di bulan Desember ini. Salah satu alasannya, ini adalah liburan akhir semester.
Salju turun menyelimuti jalanan. Gedung-gedung, perumahan, dan lainnya. Beberapa orang yang berjalan kaki maupun menaiki kendaraan, berpakaian sangat tebal. Jaket dan juga syal yang selalu wajib dipakai.
Andri berjalan masuk ke dalam Bandara. Rencananya, ia akan pulang ke Jakarta untuk meminta restu kepada Hamzah untuk menikahi Citra. Sebelumnya, Andri sudah izin pada Citra dan kedua orangtua mereka.
Dari pihak Hamzah, menyuruh Andri untuk bertatap langsung. Dan sebelumnya, hal itu pula sudah direncanakan oleh Andri sendiri.
Setelah melalui beberapa intruksi, akhirnya Andri sudah masuk ke dalam pesawat. Pesawat take off pukul 09.00 waktu New York. Artinya, Andri akan sampai Jakarta pada pukul 12.00 WIB. Dua hari selama dalam penerbangan.
Andri diselimuti rasa grogi. Ini pertama kalinya ia berniat melamar seorang wanita. Terlebih, wanita itu adalah orang yang dicintainya.
Setelah mencapai perjalanan kurang lebih 18 jam, pesawat pun mulai landing. Merasa pesawat sudah aman dan di silahkan untuk keluar, Buku-buku Andri melepas sabuk pengaman dan mengeluarkan tas ranselnya dari bagasi kabin.
Siang ini, matahari cukup terik menyengat kulitnya. Andri lebih dulu memilih shalat di Masjid terdekat, setelah itu kembali ke rumahnya.
Pukul 14.00, Andri telah sampai di rumahnya. Kedatangannya disambut ramah oleh Kayla, adiknya kandungnya.
"Kakak!" Kayla menghamburkan pelukannya.
"Kenapa gak bilang kalau udah sampe?" kesal Aminah, Uminya.
Andri yang membalas pelukan adiknya itu akhirnya melepaskan pelukannya, "gak keburu, Mi. Ponsel aku lowbat."
Andri melihat sekeliling rumah, "mana Abi?"
"Abi lagi nyupir pesawat," jawab Kayla yang mendapat kekehan dari Andri. Ya, Abinya Andri itu berprofesi sebagai pilot.
"Terbang kemana?"
Kayla melepaskan pelukannya, "Abu Dhabi,"
Andri hanya mengangguk. Lalu mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Ia meregangkan tangannya menghilangkan rasa pegal.
Kayla masih duduk di sebelah kakanya itu sambil memeluk lengannya, "gimana puasa di sana? Berapa jam, sih?"
Itulah yang sering ditanyakan jika Andri pulang ke rumah. Bosan? Memang. Tapi, ia tetap menjawabnya.
"Alhamdulillah, 18 jam di sana,"
Kayla refleks melepaskan pelukannya, "Apa?! 18 jam?" Kayla menjerit histeris. Padahal, ia sudah tau.
Andri mengangguk lemah, "iya, udah ah jangan banyak tanya! Kakak lagi capek."
Kayla sibuk dengan jari-jarinya seolah-olah sedang menghitung.
Tak lama, Aminah datang membawa minuman dan makanan untuk Andri, "makan sama minum dulu, nih!"
Andri yang benar-benar lelah hanya berdehem saja, matanya tertutupi oleh lengannya. Kayla merasa risih melihat Andri yang bermalas-malasan. Ditambah, tas ransel yang berisikan baju dan laptopnya, belum dirapihkan.
"Kak! Bangun!"
"Dua jam lagi." gumamnya.
Kayla langsung meraih ponsel miliknya, "kalau kakak gak mau bangun. Aku foto kakak, terus aku kirim ke Kak Citra." ancamnya.
__ADS_1
Andri langsung duduk dengan sempurna, "bgancem mulu." protesnya.
Ancaman Kayla memang tidak patut di remehkan, pernah sekali Kayla membangunkan Andri yang sulit dibangunkan. Alhasil, gadis itu memotret dirinya dan dikirim kepada Citra. Sungguh memalukan!
Kayla mengelus pundak Andri, "iya dong, kalau mau jadi suaminya kak Citra itu gak boleh males-malesan."
Andri tersipu malu, ia langsung mencibit pipi Kayla dengan gemas. Ia langsung menyantap hidangan yang diberi Aminah tadi. Sedangkan Kayla, ia membersihkan tas ransel Andri.
***
Dengan penuh kegugupan, Andri menghela napasnya, "Bismillah," ucapnya.
Lalu, ia turun dari mobil milik Abinya yang ia pinjam. Ia berdiri di depan pagar rumah Hamzah, "Assalamualaikum!"
Tak butuh waktu lama, pagar itu terbuka, pelakunya adalah Pak Rahmat.
"Waalaikumsalam! Masya Allah Den Andri, apa kabar, Den?"
Andri menyalami Pak Rahmat, "Alhamdulillah baik, Pak Rahmat gimana?"
"Alhamdulillah baik,"
"Alhamdulillah, Ayah ada?"
Pak Rahmat mengangguk, "ada, Den. Silahkan masuk!"
Pak Rahmat membukakan pintu utama itu, lalu menyuruh Andri untuk duduk di ruang tamu. Selang beberapa detik, Hamzah dan Raina menghampirinya.
"Assalamualailum, Yah, Bun!"
Kini, Andri duduk di hadapan orangtua Citra.
"Apa kabar Ayah sama Bunda?"
"Alhamdulillah baik, kamu gimana?"
"Alhamdulillah baik,"
"Alhamdulillah, gimana kuliah kamu? Puasa di sana?"
Andri berdehem, "Alhamdulillah kuliah lancar, puasa juga lancar sehari 18 jam."
Hamzah mengangguk, "Oh, Ayah taunya puasa di Jerman, belum pernah nyobain di New York."
"Banyak godaan banget ternyata di negara-negara minoritas Muslim. Di New York aja hanya 2% warga Muslim yang puasa. Ditambah jajanan yang bikin ngiler."
Hamzah manggut-manggut, "iya, gak jauh beda dari Jerman."
Selang beberapa menit, Bi Sari datang membawa suguhan menggunakan nampan. Setelah itu, ia kembali ke dapur.
Hamzah menyeruput minuman itu menyisakan nya setengah, lalu menaruhnya kembali di atas meja.
"Kamu sering kontekan sama Citra?"
Tenggorokan Andri tercekat, "emmm... Dibilang sering sih, enggak. Tapi, kadang suka bahas apa aja yang sekiranya menarik. Hal-hal yang penting pastinya."
__ADS_1
"Hanya basa-basi?"
Andri tertawa hambar, "P... Pernah,"
"Kamu bakalan tega banget, Ra, kalau sampe nolak aku. Perjuangannya susah banget, sampe keringet dingin." batin Andri.
Kening Andri sudah dibasahi oleh keringet dingin yang sebesar biji jagung. Sesekali ia mengelapnya.
Andri berdehem menghilangkan rasa gugupnya, "Bismillah,"
Andri menatap lekat mata Hamzah. Ia mengambil posisi duduk yang sama, namun duduknya menjadi tegak.
"Seperti yang sudah saya sampaikan pada Ayah dan Bunda. Andri berniat meminta restu dari Ayah dan Bunda untuk menikahi Citra."
"Jujur, mungkin ini masih terlalu muda untuk kami, tapi Insya Allah, kami saling memahami satu sama lain."
"Dari awal ketemu Citra, maafkan saya yang telah lancang mencintai putri Ayah dan Bunda."
Hamzah mengusap rahangnya yang dipenuhi jambang, "Saya gak masalah soal itu, tapi, Citra memiliki Abang. Gak mungkin jika kita gak dapet persetujuan dari Fajar."
"Lagi pun, Citra itu masih labil, Dri. Dia masih belum bisa memahami konsep sebuah pernikahan yang sesungguhnya. Yang dia tau hanya ngurus suami, pekerjaan rumah, hanya itu aja. Jujur, Ayah masih ragu ngelepas Citra begitu aja tanpa tatap mata langsung sama dia."
Seketika, pertahanan Andri hancur begitu saja mendengar ucapan Hamzah. Bagaikan ia terbang di angkasa, seketika jatuh hingga menyebabkan luka.
Itu baru keraguan, bagaimana penolakan?
Harapan Andri seperti telah pupus. Ia berpura-pura tersenyum di depan Hamzah dan Raina.
Andri hanya mengangguk paham mendengar ucapan Hamzah. Bibirnya tak dapat berkata. Seandainya ia membuka suara, mungkin yang terdengar hanyalah suara paraunya dan nada yang bergetar.
"Kata Citra juga dia pengen ke sini, tapi mungkin sampenya besok. Mungkin lusa kamu bisa ke sini lagi, Dri. Masih sempet kan waktunya?" tanya Raina.
Andri mengangguk semangat, "Saya seminggu di sini, Bun."
Setelah berbincang soal itu, dan kota-kota penutupan, akhirnya Andri memilih undur diri dari rumah itu.
Sesampainya di rumah, Aminah dan Kayla tengah duduk di ruang keluarga untuk menginterogasinya.
"Gimana tadi, kak? Diterima? Kok mukanya kusut gitu? Ditolak, yah?"
"Iya, Dri. Tadi gimana?"
Andri membuang napas lelah, "belum tau." setelah mengucapkan itu, ia memilih ke kamarnya. Menenangkan dirinya.
Andri merogoh ponselnya yang berada di saku celana. Kemudian, ia mengirimkan pesan singkat kepada Citra.
Andri: Aku tadi sudah menghadap orangtuamu, semoga impian kita menjadi kenyataan, Ra. Aamiin!
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
Selamat membaca semuanya!
__ADS_1