Seindah Takdir

Seindah Takdir
10. Bimbang


__ADS_3

Malam ini, Citra ditemani oleh Jasmine di apartemennya. Mereka berdua tengah duduk di balkon sambil melahap mie instan.


Keduanya tampak hanyut dalam sepoi-sepoi angin yang menghembus. Angin itu membelai pelan rambut Jasmine dan mengusap hijab pashmina Citra.


Citra menatap Jasmine sekilas sambil tersenyum penuh ramah. Ia meneguk teh hangat hingga menyisakannya setengah.


"Jas!" panggil Citra membuat Jasmine berdehem.


"Aku mau cerita,"


"Silahkan!"


Citra membuang napas dalam-dalam, "seandainya ada seorang pria yang memberi surat cinta pada kita, apa pria itu sungguh-sungguh mencintai kita?"


Jasmine mengelap mulutnya dengan tisu, "Ra, gue rasa lo lebih paham,"


Citra menggeleng, "aku gak paham soal cinta,"


"Ucapan 'I love you' sebelum nikah itu, hoaks!"


Citra menautkan alisnya, "maksudnya?"


"Kalau dia cinta, gak usah pake kata-kata! Langsung lamar dan nikah. Itu menurut sudut pandang Islam. Tapi, kalau menurut sudut pandang gue melalui orang yang pacaran, gombalan itu gak ada maknanya. Langsung tembak dan pacaran kalau memang saling mencintai,"


"Komitmen?"


"Gak ada komitmen sebelum nikah."


Seketika Citra ragu dengan ungkapan Andri. Ucapan Jasmine menurut sudut pandang Islam, itu benar. Mengapa ia tak pernah berfikir sampai situ?


Mereka berdua diselimuti keheningan. Membiarkan hanya suara desahan angin yang menghembus saja.


Dalam sepuluh menit, mereka masih diam. Hingga akhirnya Jasmine berdehem.


"Lo nanya soal ini untuk apa?"


Bukannya menjawab, Citra bangkit dari duduknya dan mengambil sesuatu dari laci nakas. Ia menyodorkan amplop surat itu pada Jasmine.


Gadis itu mengernyit bingung. Gak butuh waktu lama untuk kebodohannya, Jasmine segera mengambil isi amplop itu. Ia membuka secarik kertas yang tulisannya lebih dari tiga bait.


Jujur saja, gadis itu terkejut bukan main. Ia menatap Citra tak percaya, "ini... Tulisan Kak Andri?" lantas Citra mengangguk.


"Berarti Kak Andri bohong?"


Jasmine menggedikkan bahunya, "gue gak tau. Tapi, dia ini tipikal cowok yang pecundang. Teknologi sekarang udah canggih, kenapa harus lewat surat? Banci!"


"Dia bisa datengin lo secara langsung, atau mungkin sebelum keberangkatan lo ke sini, tapi dia lebih memilih menjadi pecundang."


Citra tersenyum kecut, "baru aja aku merasakan bahagia di saat pria yang aku cintai menyatakan perasaannya pada aku, tapi seketika, aku merasakan sakit hati."


"Tapi, bisa aja lo tanyain langsung ke dia. Ucapan gue gak sepenuhnya bener, loh."


Ah, mau Jasmine menenangkannya seperti apapun, moodnya sudah jelek duluan. Silahkan jika kalian ingin menyebut Citra adalah gadis yang lebay! Tapi, memang ini yang dirasakannya.


***


Jasmine merogoh ponselnya dari saku celana. Ia menelpon seseorang yang saat ini ia sangat ingin berbicara padanya. Panggilan itu tersambung.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, kak!"


"Waalaikumsalam, ada apa, Jas?"


"Gue harap lo bukan tipe pria yang pecundang."


"Maksudnya?"


"Lo nyatain cinta, tapi gak ketemu secara langsung atau gak langsung khitbah. Lo tuh cuma bisa bikin dia berharap banyak, kak."


"Jas, itu surat dari awal gua kenal dia. Jujur, gua masih malu ngungkapin. Disaat sekarang ini, gua rasa belum ada time yang pas untuk ngungkapin."


"Terus selanjutnya apa?"


"Gua akan khitbah dia. Jika gua libur, gua minta izin sama Ayah Hamzah,"


Mulut Jasmine seketika terkatup.


"Gua sama Citra saling mencintai. Jadi, insya Allah gak akan ada yang tersakiti."


"Kalau lo sakitin Citra, gue gak akan segan-segan nyakitin lo balik."


"Tanpa anceman lo juga gua gak akan sakitin dia."


***


Hari ini adalah hari sabtu, dimana kuliahnya diliburkan. Gadis itu sangat suntuk berada di apartemen. Sedangkan Jasmine tengah mengerjakan tugas yang masih terbrngkalai, berbeda dengan Citra, malahan ketika mendapat tugas, ia langsung mengerjakannya tanpa menunda waktu, tidak seperti Jasmine.


Citra berada di lobi apartemen. Pergi kemanapun ia tak tahu. Citra berjalan menuju taman.


Sesekali, ia merentangkan tangannya sambil menghirul udara segar. Ia memejamkan matamya begitu sinar ultraviolet menusuk wajahnya.


"Kamu cantik," puji nya membuat Citra membelalakan matanya.


"Apa?"


"Kamu cantik," jawabnya masih dengan jawaban yang sama.


"Kok kamu disini?"


"Aku tinggal di apartemen ini," jawab Steve.


Dengan kesal, Citra menginjak kaki Steve yang hanya dibalut oleh sandal gunung, "ngeselin banget sih! Kalau gitu kenapa gak ngasih suratnya langsung aja?"


Steve meringis, "mana kutahu jika kamu tinggal di apartemen ini. Ini pertama kalinya untukku melihatmu disini," jawab Steve berdusta. Citra langsung meminta maaf padanya.


"Mau jalan-jalan?"


Citra mengernyit, "kemana?"


"Kamu maunya kemana?"


"Pantai,"


"Pantai Muriwai, mau?"


Citra mengangguk senang, saking semangatnya, ia menarik pergelangan tangan Steve untuk segera pergi.

__ADS_1


"Hey! Mau ngapain?"


"Ayo ke Pantai!"


Steve terkekeh, "aku ingin siap-siap dulu,"


"Silahkan!"


Mata Steve mengarah pada pergelangan tangannya yang masih digenggam oleh Citra, "singkirkan tanganmu terlebih dahulu!"


Sontak, mata Citra mengikuti arah pandang Steve. Gadis itu langsung melepaskan tangannya.


"Maaf!"


***


Citra memakai gamis oversize berwarna putih tulang ditambah cardigan renda perdana putih. Hijabnya ia pakai dengan pashmina berwarna cokelat susu.


Citra dan Steve berjalan di pesisir pantai. Mereka sama-sama menikmati pantai ini.


Namun, mata Steve benar-benar harus Citra jaga karena pakaian renang wanita para turis dan pengunjung. Dimana pakaiannya sangat terbuka.


"Enak, yah disini," ungkap Citra.


"Enak, tapi mata bener-bener harus dijaga. Aku hanya ingin melihat tubuh istriku kelak saja,"


Mereka berdua memilih duduk di pesisir pantai. Sambil menikmati air kelapa muda.


"Bagiku, aku hanya ingin menikahi istri yang tubuhnya tertutup saja. Meskipun tak sepertimu, paling tidak, hal yang berharganya masih tertutupi."


Citra menatap Steve begitu lamat, "kenapa?"


"Bukankah itu adalah kebanggaan seorang suami jika ia adalah orang yang spesial. Lebih utama tentang tubuh,"


Citra tersenyum tipis. Pandangannya beralih pada matahari yang masih berwarna kuning. Mereka berdua berdiri. Hendak membuang batok kelapa yang sebelumnya, air kelapa muda itu telah habis.


Mereka berjalan berdampingan. Hingga Citra merasakan kakinya terselimpet oleh kaki sebelahnya membuat tubuhnya oleng. Beruntung Steve cepat menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Batok kelapa itu ia jatuhkan.


Mereka sama-sama terdiam ketika dua pawang mata beriris biru itu bertemu. Keadaan menjadi awkward bagi mereka.


Tubuh Steve bergetar hebat diikuti pompaan jantung yang lebih kuat. Bulu kuduk Citra meremang. Tatapan itu benar-benar mencelos hatinya.


Mereka tersadar, Steve membantu Citra untuk berdiri dengan normalnya. Steve kembali mengambil batok kelapa yang tadi ia jatuhkan.


Entah mengapa Citra menjadi nyaman berada di dekat Steve. Padahal, pertemuan mereka belum lama. Dan Steve, ia sudah mencintai gadis itu.


Sebelumnya, mereka tampak akrab dan berbicara banyak. Tapi tidak dengan sekarang. Mereka sama-sama sedang menganalisis hatinya.


Suasana hatinya masih menjadi rumusan masalah bagi mereka. Banyak tanda tanya di hatinya, namun otaknya seperti enggan menjawab.


Steve, adalah orang yang pertama memeluknya bagi pria yang bukan makhramnya. Apakah ia bangga? Atau malah sebaliknya? Entahlah! Yang jelas, Citra semakin nyaman berada di pelukan Steve tadi. Bahkan, tubuhnya seketika menghangat berada di dekat Steve. Apa yang Citra rasakan, itu terjadi pada pria di sampingnya.


***


Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.


So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.

__ADS_1


Selamat membaca semuanya!


__ADS_2