Seindah Takdir

Seindah Takdir
Prolog


__ADS_3

"Lulus!" satu kata yang terlontar dari bibir Citra tatkala ia melihat amplop yang berisi surat kelulusan masa SMA, gadis itu melompat kegirangan.


Citra Asshofiyah, gadis Jambi yang sekolah di Jakarta, Putri pertama anak kedua dari pasangan Raina dan Hamzah, ia memiliki seorang Kakak bernama Fajar yang sedang melanjutkan study di Jerman. Ayahnya bekerja sebagai CEO di CR Corporation, sedangkan Bundanya hanya bekerja di Rumah.


Di saat yang sama, gadis berambut sedada, baju seragam putih dan rok abu-abu di bawah lutut memeluk Citra dengan hikmat.


"Gua seneng banget, Ra!" Jasmine menyeringai sambil melepaskan pelukannya.


"Apalagi aku," balasnya.


Mata kedua gadis itu menyoroti dua sosok pria yang menghampiri mereka.


"Selamat, Ra!" Andri, salah satu dari pria itu yang mengucapkan selamat pada Citra dengan senyuman khas dari bibirnya.


"Makasih, eh-bukannya Kak Andri lagi kuliah di Amerika yah? Kok bisa ada di sini?"


"Emangnya kenapa sih? Gak boleh, yah orang ke sini?"


"Yah kan aku cuma nanya."


Andri manggut-manggut, "ya... Ya... Ya. Terserah!"


"Kakak sama Haidar ngapain di sini, kan kalian harus kuliah?"


"Kalau aku kuliah, aku gak bisa dateng pas kelulusan kalian dong?"


"Ish Kak, kan belajar itu lebih penting, kalau sekedar ngucapin selamat kan bisa lewat hp?"


"Tenang aja, Ra! Kita ini lagi pada libur kuliahnya,"


Mulut Citra membentuk huruf 'o'.


"Citra doang yang dikasih selamat?" suara Jasmine terdengar seperti merajuk.


Andri menepuk jidatnya, "oh iya lupa, selamat yah Jasmine!"


"Selamat Jasmine, Citra!" ucap Haidar.


"Makasih!" nada ketus di keluarkan oleh Jasmine.


"Biasa aja kali jawabnya!" ledek Haidar.


"Kalian mau pada lanjut dimana?" baik Citra maupun Jasmine, mereka saling berpandang  diiringi senyuman manisnya.


"University of Auckland!" jawabnya serempak.


"Widihh, ngambil fakultas apa?"


"Kedokteran!" jawabannya masih serempak


"Sama kayak aku dong?" tanya Andri. Citra dan Jasmine sama-sama mengangguk.


"Kalau gue nih yah, di Al-Azhar, di Kairo, Mesir, "


"Gak usah dijelasin secara detail kali! Gue juga tau," ketus Jasmine.


"Tapi kenapa lo duaan gak bareng si Andri aja di Amerika?"


"Karena Kita pengennya di New Zealand," jawab Jasmine seadanya, Haidar membuang nafas kasar.


"Gimana kalo yang lulus bayarin Kita makan?" ide licik itu memenuhi otak Haidar.


"Gua setuju!" sambung Andri.


"Citra aja deh yang bayar, gua gak bawa duit lebih!" wajah Jasmine memelas, Citra yang mendengarnya langsung menautkan alisnya.


"Ra, waktu gua sedikit nih, ayo cepet traktir kita nasi Padang!" Haidar nyelonong pergi ke Warung nasi Padang tanpa menunggu jawaban dari Citra.


Citra hanya bisa berpasrah, mengikuti Haidar yang menjadi navigasi mereka bertiga.


Citra mengambil posisi berhadapan dengan Andri, membuat degub jantungnya berpacu sangat cepat, karena Andri lah yang mengisi ruang hatinya. Tak sengaja manik-manik mata mereka bertemu, ini yang diinginkan oleh Citra, menatapnya lebih lama. Pun dengan Andri.


Suara deheman Haidar memudarkan lamunan mereka, sedangkan Jasmine menatap dua anak alim itu dengan raut wajah aneh.Ya, karena keduanyalah yang paling paham soal agama dari mereka berempat. Tidak! Maksudnya, terlihat lebih berwawasan soal agama. Yah, seperti itu. Mereka hanya paham sedikit-demi-sedikit tentang agama. Dan sekarang, waktunya Haidar menyusul mereka untuk memperdalam ilmu agama di Kairo sesuai kemauan Ayahnya yang berprofesi TNI berpangkat Kapten.


"Hati-hati! Setan mainnya pake cara halus loh." peringat Haidar.


Kedua insan itu melafalkan istighfar dalam hati.


"Kenapa Kita makan nasi Padang sih? Biasanya orang kalau traktir atau makan-makan tuh yah makan bakso." protes Jasmine sambil menyantap nasi Padang.


"Kalau makan bakso gak kenyang, soalnya gak ada nasi, kalau nasi padang kan enak, nasinya boleh ditambahin, beehhh kan mantep!" Haidar mengancungkan jempolnya, serasa sangat nikmat. Nikmatlah, orang ditraktir.


"Tapikan kalau bakso tuh-, "


"Udah, bawel lu! Makan aja banyak protes gitu." potong Haidar membuat Jasmine mengerucutkan bibirnya.


Sedangkan Citra dan Andri hanya diam sambil menyantap makanan yang ada di hadapannya, mengasingkan perdebatan dengan dua kandidat yang sama-sama tak bisa dikendalikan dengan nasehat.


"Lama-lama gua jodohin kalian berdua!"


"Lama-lama gua jodohin lu berdua!" balas Haidar yang tidak ingin kalah dengan Andri.


Andri dan Citra kembali melafalkan Aamiin secara bersamaan di dalam hatinya.


                                   


   ***    


                                               


Hujan. Kalimat yang singkat untuk mendeskripsikan cuaca saat ini. Citra baru saja pulang dari Gramedia, namun di tengah jalan ia dilanda hujan, membuat gadis itu harus menepi di halte sambil menunggu entah angkot atau apalah itu, yang penting gadis itu bisa kembali ke rumah dengan selamat. Eitts tunggu! Citra bukan menunggu angkot, tapi taksi yang melintas.


Tangan mungilnya menggenggam tas plastik yang berisi beberapa buku novel yang ditulis Oleh Habbiburrahman El Shirazy, atau yang lebih akrab disapa, Kang Abik. Citra sebenarnya sudah baca semua judul buku karya Kang Abik, namun entah kemana buku-buku itu semua. Citra tak pernah bosan membacanya.


Hujan semakin deras, bahkan disertai suara petir yang menggelegar, membuat Citra ketakutan. Dia sendiri di halte, tak ada satupun orang yang meneduh di sini, juga tak kelihatan taksi yang melintas, hanya ada mobil pribadi yang melintasinya.


Beberapa menit lagi adzan maghrib dikumandangkan, namun tak ada tanda-tanda lenyapnya hujan, tak ada tanda-tanda berhentinya gemuruh petir.


Sesekali gadis itu melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. Pukul 17.57.


Citra memang bosan, namun ia tak berani mengeluarkan ponselnya karena petir yang terus menyambar.


Suara gerungan motor membuyarkan lamunan Citra yang juga berhenti di halte. Seorang Pria berjaket tebal yang sudah basah kuyup mulai duduk di kursi halte. Seketika pandangan mereka bertemu. Sama-sama terkejut.


"Kak?" Citra mengeluarkan suara yang sedikit serak


"Citra, abis dari mana?"


"Gramed,"


Andri melepaskan jaketnya yang basah dan menaruhnya pada bangku halte.


"Dari tadi sendiri?" Citra mengangguk.


"Udah adzan maghrib,shalat dulu yuk!" ajaknya.


Citra menggeleng, "Citra lagi gak shalat." Andri hanya mengangguk saat mendapat jawaban.

__ADS_1


"Kakak mau shalat dimana?"


"Di sini aja," Andri segera menggulung celana cingkrangnya hingga betis, dan memulai wudhu dari air hujan yang membasahi bumi Allah.


Andri kembali merapihkan celananya hingga panjangnya di atas mata kaki ketika selesai berwudhu. Andri segera mengumandangkan adzan karena memang sudah waktunya. Hati Citra terenyuh mendengar suara bariton. Indah nan syahdu.


Hatinya tentram. Tenang. Ahhh, Andri memang selalu membuat Citra meleleh.


Andri segera mengeluarkan sajadah dari tas ranselnya. Mengamparkan sajadah di atas semen. Citra terus memperhatikan aktivitas Andri.


Andri melirik Citra. Andri mulai terkekeh melihat Citra yang terus memperhatikannya, "Apa sih, Ra, liat-liat mulu?" Citra tersenyum seraya menggeleng.


Sesegera mungkin Andri melaksanakan ibadah wajibnya. Citra masih mencuri pandang. Wajahnya teduh menentramkan hati dan fikiran. Tak sadar, sudut bibir Citra terangkat, membentuk sebuah senyuman manis.


Assalamualaikum warahmatullah, Andri memutakan kepalanya ke kanan-kiri. Menandakan shalatnya telah selesai. Saat ia bangkit, Citra langsung mengambil sajadah dan melipatnya dengan rapih.


Andri mematung melihat aktivitas yang bari saja gadis itu lakukan. Hatinya bak bunga yang mekar. Jantungnya seperti orang yang habis maraton.


"Kak, kira-kira sampai kapan hujannya berhenti?"


Andri menggedikan bahunya, "aku bukan Tuhan." Andri menjeda kalimatnya lima detik, "Terkadang kita kurang bersyukur akan adanya hujan, padahal hujan itu rahmat dari Yang Maha Kaya. Banyak orang yang suka mengeluh karena hujan, tapi ketika kekeringan mereka protes kepada siapapun, menyalahkan pihak manapun, termasuk Tuhan. Kenapa mereka begitu? Karena mereka kurang bersyukur."


"Kak, adanya kehadiranmu mengartikanku apa artinya bersyukur, rezeki, jodoh sekaligus kematian. Aku bersyukur dipertemukan orang seperti kamu, seolah-olah kamu adalah rezeki yang selalu Allah limpahkan kepadaku, aku banyak belajar tentang jodoh darimu dan aku ingin, ketika ajal menjemputky, kamu yang di sampingku sekaligus menuntunku."


"Segitu istimewanya aku di matamu?"


"Itu belum semua aku katakan, namun suatu saat akan aku katakan apa yang lebih istimewa dari itu semua kepadamu,"


"Aku fikir itu hanya bagian kecil dari kesempurnaanmu,"


"Hanya Allah Yang Maha Sempurna, Ra,"


"Aku tau, tapi diantara aku, kamu, Haidar, dan Jasmine, kamulah yang sempurna di mataku,"


"Tapi aku hanya ingin sempurna di mata Allah,"


"Berdoa saja! Aku aamiinkan setiap untaian doamu, Kak."


Andri membuang nafas halus, entah mengapa Citra sangat menyukai suara nafasnya. Semoga aku selalu mendengar setiap nafasmu, Kak. Kalau boleh aku pilih, aku ingin yang lebih dulu diangkat nyawaku. Karena aku gak bakal sanggup nerima, bahwa kamu tak ada lagi di dunia, batin Citra.


"Kak, " lirih Citra yang membuat Andri menoleh sambil berdehem.


"Kamu tau apa itu cinta?"


"Aku gak pandai urusan cinta, tapi Aku bisa merasakannya. Aku gak bisa mendeskripsikannya seperti apa. Tapi, inilah caraku mencintai seseorang dalam diam,"


"Seperti cinta Fatimah dan Ali?" tanya Citra.


"Mungkin keinginan orang seperti itu, namun itu tergantung kondisi dan situasi. Dan memang ini caraku mencintai seseorang, karena aku gak pandai ngungkapin rasa,"


"Siapa orangnya?"


"Kamu akan tau suatu saat, Ra,"


Ada rasa nyeri di hatinya. Sesakit inikah Citra mencintainya? Namun ia belum tahu, siapa pengisi kekosongan hati Andri. Masih belum ingin menyerah.


Hujan mulai mereda, tetapi tetap saja tak ada satupun taksi yang melintas. Citra mengaktifkan gawainya, dan membuka aplikasi ojek online.


"Kamu mau naik ojek online?"


"Iya Kak, abis kalau nunggu taksi kelamaan."


"Jangan, kamu bareng aku aja!"


"Gak ah Kak! Masa boncengan?" tolak Citra dengan halus.


"Kak, kan gak mungkin kita boncengan."


"Bedanya sama ojek online apa? Malah itu bukan orang yang Kamu kenal."


"Siapa tau supirnya perempuan,"


"Terus kalau laki-laki kamu cancel gitu?" Citra membungkam.


"Udahlah naik aja! Tas aku besar kok dan bakal aku taro di belakang!"


Dengan penuh keraguan, akhirnya Citra menuruti perintah Andri.


"Sudah?" Andri memastikan posisi duduknya Citra.


"Sudah," Jawabnya singkat.


Andri melajukan motornya dengan kecepatan normal. Keduanya sama-sama canggung.Belum ada pembicaraan.


"Kak, jaketmu basah,"


"Iya tau,"


"Kalo tau basah, kenapa masih dipake?" dengus Citra saat mendapat respon yang tak sesuai keinginannya.


"Mau pulang ini, soalnya cuacanya dingin,"


"Lebih dingin lagi kalau kamu pake jaketnya." Andri membuang nafas lelah.


"Terus aku harus apa? Aku kan pakai baju lengan pendek."


"Nanti pas di Rumah Citra, jaketnya Citra keringin dulu!" tukasnya.


"Janganlah!" tolak Andri.


"Harus!" paksa Citra.


Andri hanya bisa berpasrah. Siapa coba yang bisa menang melawan perempuan?Mereka tiba di rumah megah American style. Bercat putih dan abu-abu.Perlahan Citra turun dari motor. Diikuti pula oleh Andri.


"Kak, ayo masuk!" Andri mengangguk.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Pak Rahmat membuka pintu pagar yang berhias bunga-bunga , "eh Non Citra, masuk Non!"


"Kak, motornya masukin aja yah?"


"Yaudah,"


"Pak Rahmat tolong masukin motor Kak Andri!"


"Siap Non! Permisi Den, motornya Saya masukin dulu!"


"Makasih Pak!"


"Sama-sama, Den!"


Andri mengikuti Citra dari belakang. Memasuki rumah yang indah nan megah. Saat membuka pintu utama, mereka berdua sudah menemui ruang tamu yang luas.


"Assalamualaikum!" ucap salam keduanya.


"Waalaikumsalam! Citra, Andri?" itu suara khas wanita paruh baya berbalut gamis hijau dengan warna kerudung yang senada warnanya menghampiri dua anak muda.

__ADS_1


Citra mencium tangan Raina dengan lembut. Sedangkan Andri hanya menangkupan kedua tangannya di depan dada.


"Duduk dulu yuk!" ajak Raina.


Tubuh Andri mendarat di empuknya sofa, "Kak, jaketnya Citra keringin dulu sini!" Andri melepaskan jaketnya yang sedari tadi membuatnya dingin.


"Ini," Andri menyodorkan tangannya yang diisi jaketnya. Citra pun meraih jaket itu.


"Tunggu sebentar!" Sang pemilik jaket hanya mengangguk.


Gadis itu berjalan menuju tempat pengeringan baju, dimana di situ juga ada Bi Sari.


"Bi Sari, boleh tolongin Citra gak?"


"Yah boleh atuh Non, minta tolong apa?"


"Tolong keringin dulu jaket ini! Citra mau buat teh anget." Citra menyodorkan jaket basah itu pada Bi Sari.


"Siap,Non!"


Citra langsung beranjak ke dapur untuk membuatka teh hangat untuk dirinya dan Andri. Entah mengapa rasanya berbeda saat dirinya membuat hidangan untuk tamu biasanya dengan Andri.


Citra terlalu membiarkan rasa suka ini berkembang menjadi cinta. Rasa yang dulu hanya sebatas wajar, sekarang sudah melebihinya. Dosakah ia?


Citra kembali ke ruang tamu saat teh hangat itu sudah selesai. Citra sangat telaten saat menaruh cangkir teh hangat itu di atas meja.


Citra mengambil posisi duduknya di sebelah Raina.


"Diminum dulu, Kak!"


"Makasih!" Andri menyeruput pelan teh tersebut.


"Ra, kapan Kamu ke New Zealand?"


"Besok, Kak,"


Terlihat aura pancaran kesedihan dari ekspresi Andri. "besok banget?" Citra mengangguk.


"Ayahnya sih nyuruhnya hari ini, tapi Citranya gak mau. Pengennya besok aja," sambung Raina.


"Kamu fakultas kedokteran, Dri?"


"Iya Bun. Dari dulu udah pengen banget jadi dokter,"


"Sama kayak Citra banget. Disuruh Tantenya untuk jadi designer dianya gak mau,"


"Kak, Bun! Makan dulu yuk! "


"Gak usah deh, Ra. Aku langsung pulang aja!"


"Gak! Jaket kamu juga kan lagi di keringin. Mending kita makan dulu!"


"Iya Dri. Mending Kita makan dulu aja!"


Lagi-lagi Andri hanya bisa berpasrah. Kini ada dua lawannya. Sudah pasti Andri kalah.


"Ini yang masak Bi Sari loh!" seru Bi Sari yang tiba-tiba muncul begitu saja ke ruang makan.


"Oh yah? Keliatannya enak nih, Bi,"


"Rasanya juga atuh, ganteng!"


"Bibi ih genit banget!" protes Citra.


"Lumayan atuh Non, dapet tamu cowok ganteng. Perempuan mana yang gak klepek-klepek ngeliat Den Andri? Kecuali Nyonya," Bi Sari menyeringai.


"Pasti Non juga klepek-klepek kan sama Den Andri?" Bi Sari menaik-turunkan alisnya dengan senyuman menggoda.


"Hah? Apaansih, Bi?" wajah Citra merona, tak bisa disembunyikan lagi rasa malunya.


Andri hanya mengulas senyum. Tapi siapa sangka, kini hatinya bergemuruh hebat.


"Yaudah makan yuk!" Citra mengalihkan agar rasa malunya segera lenyap.


"Si Non mah meuni pinter ngalihin pembicaraan," ledek Bi Sari sambil mengambil posisi duduk dekat Andri.


"Masya Allah! Bi Sari pinter banget duduknya deket Andri" sindir Raina.


"Atuh bangku deket si Den Andri kosong. Sedangkan si Non duduknya deket Nyonya. Yaudah atuh saya duduknya deket Den ganteng. Lumayan. Kesempatan gak dateng dua kali," semua yang ada di ruang tamu tertawa.


"Eh iya Bi, kasih Pak Rahmat makan gih! kasian Pak Rahmat kayaknya belum makan." pinta Citra.


"Siap Nona!" Bi Sari mengampil porsi makan ke dalam piring untuk Pak Rahmat ,setelah itu ia beranjak dari tempat duduknya meninggalkan sang Pemilik rumah dan Andri.


"Non. Tempat Bi Sari jangan di tempatin yang di deket Den Andri!" ucap Bi Sari dari kejauhan.


Citra menggelengkan kepalanya heran.


Tanpa sadar, Andri menatap lekat wajah Citra. Gadis keturunan Jerman itu tak menyadari ada yang mencuri pandang dengannya walaupun Andri duduk berhadapan dengannya.


Andri mengabsen dari setiap wajahnya. Hidung mancung, mata biru, bibir pink, wajah oval, alis coklat, dan wajah putih mulus.


Sungguh, tak bisa dibohongi lagi. Andri jatuh cinta pada gadis itu. Gadis yang selalu menari-nari di otaknya. Memudarkan akal dikala ia mengingatnya.


Membuatnya selalu melafalkan 'Masya Allah' dari lubuk hatinya. Sungguh indah melihat pergerakan bibirnya yang mengunyah menu makanan. Rasanya Citra lebih menyenangkan dibanding ia melihat makanan. Bahkan perhiasan di Bumi ini saja kalah oleh kecantikannya.


Andri terlonjak kaget saat ada lima jari yang melambai di depan matanya.


"Den Andri kenapa ngeliatin si Non mulu? Cantik si Non?"


Andri gugup,tak tahu harus jawab apa, "E... Enggak kok Bi. Siapa juga yang lagi ngeliatin Citra? Orang lagi liatin itu lukisan," Andri menunjuk sebuah bingkai lukisan nama 'Citra Asshofiyah' yang di ukir kaligrafi. Pas sekali lukisan itu berada di belakang Citra.


"Yeeh... Si Den Andri mah pinter ngeles kayak si Non. Nya, kayaknya anak muda mah pinter ngeles, yah?"


"Mungkin Bi. Kayaknya Bunda setuju sama pendapat Bi Sari kali ini,"


Citra dan Andri hanya tertunduk malu.


"Kasian nasinya Kak gak dimakan dari tadi," Citra menyindir halus.


"Lauknya juga kasian atuh, Non!"


"Iya... Iya!" Citra mengalah.


"Dimakan, Den ganteng!"


"Iya Bi," Andri menyuap makanan itu ke dalam mulutnya. Membuat sebuah pergerakan dimulutnya.


                                              


 


***


Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.


So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.

__ADS_1


Selamat membaca semuanya!


__ADS_2