
Matahari sudah tertutupi setengah tubuhnya oleh awan yang warnanya jingga. Langkah kaki Citra dan Steve menuju apartemen yang sama. Namun, mereka berpisah setelah tempatnya terpisah.
Saat membuka pintu, ia dapat melihat Jasmine yang duduk di atas sofa dengan santai. Tatapannya datar.
"Jas, kok kamu di sini?"
"Kebiasaan! Kalau keluar apartemen tuh dikunci dulu pintunya!"
Citra yang mendengarnya menatap Jasmine tak percaya. Ia rasa, sudah mengunci pintu penginapan apartemennya. Mungkin Citra lupa saking semangatnya.
"Darimana aja sih, lo?"
Citra mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Jaraknya bersebelahan dengan Jasmine.
"Abis ke Pantai."
"Sama siapa?"
"Steve."
Mata Jasmine membulat, "lo jalan berduaan bareng cowok?"
"Aku bosen di sini, Jas. Aku suntuk. Aku pengen ngajak kamu jalan-jalan, tapi kamu sibuk." alibinya.
Jasmine menggeleng, "gak usah cari alesan!"
"Lo udah dapet izin sama Bunda?"
Bibir Citra terkatup. Kepalanya menggeleng lemah.
"Why?"
"Bunda pasti gak izinin."
"Yang waktu lo ke restoran sama Steve?"
"Di izinin. Soalnya, aku bilangnya ada kamu."
Jasmine mengangkat kedua tangannya di atas kepala. Ia sudah menyerah mendengarkan Citra berbicara.
Jasmine mengambil langkah cepat untuk keluar dari apartemen Citra. Dan kini, Citra sendiri. Ia juga menyesali perbuatannya.
Citra menatap ponselnya yang baru saja terdengar suara notifikasi. Nomor tak di kenal.
+49*********: Citra, ini nomorku, Steve.
Nomor tak dikenal itu adalah kode nomor Jerman. Memang sebelumnya, Steve meminta nomor chat gadis itu. Senyum Citra seketika merekah. Dengan semangat, ia membalas pesan itu.
Citra: Iya, sudah aku simpan nomormu.
Steve: Danke!
Citra: Sama-sama!
Steve hanya membaca pesan itu, tak berniat membalasnya. Sedangkan Citra menggerutu kesal ketika Steve tak lagi mengetik sesuatu di aplikasi chat.
__ADS_1
Citra menamai kontak Steve itu adalah "Steve Menyebalkan!" Citra mengukir senyum ketika melihat foto profil pria itu.
Dimana Steve tengah berdiri sambil mengenakan baju kemeja putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Ditambah jas hitamnya. Lalu, kalung yang berlogo persegi panjang berwarna silver.
Rambutnya berwarna cokelat. Mata biru. Bibir seksi berwarna merah. Pipi kemerahan. Memiliki lesung pipit. Kulit putih. Hidung mancung, dan postur tubuh yang tinggi.
Bisa dikatakan ia mirip dengan Mark anggota westlife saat masih muda.
Citra screenshot foto profil itu. Dan ia abadikan di dalam galerinya.
Saat Citra hendak menaruh ponselnya, saat itu juga ponselnya kembali berdering. Nama "Mas Andri" yang terpampang di sana.
Citra memanel tombol itu ke atas, "Assalamualaikum! Ada apa, Mas?"
"Waalaikumsalam! Ra, kamu masih percaya aku?"
Alis Citra bertaut, "maksudnya?"
"Setiap manusia itu memiliki cara mencintai seseorang dengan berbeda-beda. Tolong! Percaya sama aku!"
"Kakak ngomong apa?"
"Kamu tau ucapan Jasmine?"
Citra mengangguk, "semenjak itu, aku bimbang. Aku juga gak tau percaya sama Kakak atau nggak. Aku hanya butuh bukti untuk saat ini, Kak."
"Bukti?"
Citra mengangguk lagi, "iya bukti. Buktiin kalau Kakak beneran cinta sama aku."
"Kakak mau buktiin apa?" tanyanya yang pura-pura tidak tahu.
"Aku akan cari tanggal libur kuliah. Lalu aku ke Indo dan meminta restu dari orangtuaku dan orangtuamu,"
"Kalau gak dapet restu?"
"Kamu negative thinking mulu, sih? Kita sama-sama berdoa aja, Ra!"
"Iya-iya."
"Aku akan berusaha untuk mendapatkan kamu."
Citra mengepalkan tangannya, "semangat!"
"Makasih calon... " Andri menghentikan ucapannya, hampir keceplosan mengucapkan "Calon istri"
"Calon apa, Kak?"
"Kamu maunya jadi calon apa untuk aku?"
Citra mengetuk-ngetuk dagunya sok berfikir, "apa, yah?"
"Calon istri. Aamiin!"
"Aamiin! Udah ah! Nanti Kakak makin meleleh kalau ngobrol sama aku." tuturnya dengan tingkat kepedean yang tinggi.
__ADS_1
Andri terekekeh, "y**audah. Aku juga mau makan dulu. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Citra terkekeh menatap ponselnya yang panggilan suara itu tidak aktif lagi.
***
Karena tak bisa masak, akhirnya Steve hanya merebus mie instan di tambah telur. Hampir setiap hari sarapannya adalah ini. Karena Ibunya selalu berpergian. Sok sibuk.
Setelah sarapan, Steve menyampirkan tasnya dipundak. Ia menyambar kunci mobil. Klau menuju parkiran. Sesampainya di sana, ia menatap sahabt Citra, Jasmine, yang menatapnya penuh tajam.
"Jauhi Citra!"
Steve tersenyum sinis, "apa maksudmu?"
"Citra does not love you."
Steve terkekeh sekilas, pandangannya menara ke arah lain, "Don't be so knowledgeable!"
Tawa Jasmine tergelak, "w**e will see later. You will see Citra side by side with the other men." (kita lihat saja nanti. Lo akan ngeliat Citra bersanding di pelaminan dengan pria lain) usai mengucapkan itu, Jasmine memberhentikan taksi, dan masuk ke dalamnya.
Sedangkan Steve mengepalkan tangannya. Di sisi lain, ada Citra yang berada posisi yang tak jauh dari Steve. Sengaja ia ke tempat parkiran, niatnya ia hanya ingin memberikan Steve bekal.
Gadis itu meneteskan matanya tanpa sadar. Entah mengapa, mendengar Jasmine mengucapkan kalimat itu, hatinya terasa sesak untuk tak lagi dapat berdekatan dengan Steve.
Citra meremas rok plisket yang ia pakai. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Perlahan, Citra mendekati Steve yang masih berdiam diri.
Citra menyodorkan kotak bekal itu pada Steve, "makanlah!"
Steve mendongak. Lalu mendorong kotak bekal itu, "aku sudah kenyang." saat itu juga Steve masuk ke dalam mobil dan melakukannya dengan cepat.
Baru kali ini keinginan Citra ditolak oleh Steve. Ia tak kuasa menangis dalam diam. Ia memasukan kotak bekal itu ke dalam tasnya.
Ia mengelap sisa air matanya Gadis itu segera memberhentikan taksi, dan masuk ke dalamnya.
Sang supir taksi itu menoleh ke belakang "Where are you going, Miss?"
"University of Auckland."
Supir itu mengangguk. Lalu melakukan mobilnya dengan kecepatan normal. Citra memandang jalanan kota Auckland. Namun, hatinya masih menerawang soal tadi. Ia mencintai dia pria sekaligus. Benarkah? Kenapa ia bisa berpaling dari Andri? Citra pun bingung, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Menjauhi Steve? Tak mungkin! Ia terlanjur nyaman dengan pria itu.
Citra memejamkan matanya sesaat. Saat ia hendak mendapat kebahagiaan, seolah direnggut kembali. Seolah tak berhak mendapatkannya.
Andri, adalah pria yang pertama kali ia cintai. Namun, Steve seolah memberi kehangatan, kenyamanan, dan rasa cinta yang kian hari-kian membesar. Darahnya berdesir dikala mengingat pria bule itu. Dan itu, datang dengan sendirinya, bukanlah dari keinginan Citra sendiri.
Lalu, ia pilih siapa? Steve non-Muslim, tapi Steve yang membuat Citra nyaman, sedangkan dengan Andri ia biasa-biasa saja. Ia memang cinta Andri, tapi Citra juga mencintai Steve.
Disaat seperti ini, apakah ia harus shalat istikharah yang jelas-jelas menandakan nama "Andri" yang telah Allah hadirkan untuknya? Tapi, agama itu memang penting. Mungkin, Citra tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dari Steve lagi. Perjalanan cinta mereka, hanya sebatas ini saja. Tidak lebih.
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
__ADS_1
Selamat membaca semuanya!