
Pukul 15.14 waktu Munchen.
Seorang pria yang tengah sibuk dengan laptopnya, fakusnya teralihkan oleh seorang gadis yang berumur dibawahnya. Lamaran Andri pada Citra, membuatnya bimbang.
Satu sisi, ia tak ingin membuat adiknya itu sedih. Satu sisi pula, ia tak ingin dilangkah oleh Citra. Ia memijit pelipisnya. Ia bimbang, apakah keputusannya sudah benar?
Fajar menatap layar wallpaper fotonya bersama Citra sewaktu kecil. Dulu, ia adalah gadis yang polos, selalu Fajar manjakan. Tapi sekarang, ia adalah gadis yang sudah mengenal apa itu cinta. Hidup mandiri. Meskipun jika bertemu, sangat manja kepadanya. Sifatnya benar-benar temurun dari Raina.
Bel apartemen berbunyi. Fajar langsung menutup laptopnya dan beralih membuka pintu apartemen. Terlihatlah Senja. Wanita yang juga kuliah di kampus yang sama dengannya. Juga sama-sama semester akhir di jurusan Hukum.
" Assalamualaikum!"
" Waalaikumsalam!"
Senja mengadahkan tangan di depan dada Fajar, "mana flashdisk gue?"
Fajar mengernyit, "gue gak pernah ngambil barang-barang lo."
Senja menghembuskan napas lelah, "Charles bilang, dia nitpin flashdisk gue ke lo. Mana?"
Seketika Fajar teringat, ia mengangguk antusias, "oh iya, tunggu sebentar. Jangan masuk!"
Senja mengerutkan keningnya begitu Fajar meninggalkan dirinya di depan pintu apartemen seorang diri. Setelah dua menit lamanya, Fajar kembali menemui Senja yang berdiri menunggunya.
Senja langsung merampas flashdisk itu, "sumpah, yah. Baru kali ini gue jadi tamu, gak diizinin masuk."
Fajar memasang wajah datar. Tak berniat menjawab. Hal itu membuat Senja ingin mencabik-cabik wajahnya. Bahkan menguliti wajah yang sok iceboy.
Senja menunjuk Fajar dengan sorotan mata yang begitu tajam, "gue doain, semoga lo gak dapet jodoh. Lagian, cewek mana coba yang bakalan betah sama lo?"
Lagi-lagi Fajar memasang wajah datar, namun kali ini ia menanggapi doa senja tadi, "mendoakan itu, berarti untuk hal yang baik. Insya Allah, akan berbalik kepada orang yang mendoakan kebaikan. Kalau yang lo ucapin tadi, itu sumpahan. Dan bisa jadi malah sebaliknya. Artinya, lo nyumpahin diri lo sendiri."
Kedua bola mata Senja membola, "eh-nggak! Gue tarik sumpahan gue yang tadi. Tadi itu, cuma bercanda."
__ADS_1
Fajar langsung menutup pintu apartemennya ketikabSenja masih membuka mulut. Ia khawatir jika yang ada hanyalah perdebatan antara dirinya dengan Senja.
Di balik pintu, Senja menggerutu sambil menendang-nendang pintu apartemen. Lalu, ia beranjak menuju lift. Fajar kembali ke kamarnya yang sedari tadi ia singgahi. Ia membuka layar laptopnya yang masih menampilkan dokumennya.
Ting!
Satu notifikasi masuk melalui aplikasi chat. Fajar pun membukanya. Ia dapat melihat nama Citra yang teroamoang disana.
Citra: Abang, Citra kangen. Kesini dong!
Fajar tersenyum tipis, sedari tadi otaknya benar-benar pusing oleh tugas, akhirnya ada yang menghiburnya dengan kelebayan.
**Fajar: Bentar lagi gue wisuda. Lo dong yang kesini.
Citra: Seriously? Ah Citra gak sabar pengen ketemu abang. Abang kangen gak sama Citra?
Fajar: Banget.
Citra: Aaaaaa! Love you so, Bang**.
"Citra terlalu baik sama gue. Dia bahkan selalu menghibur gue walaupun dengan jarak yang cukup jauh. Dan gue? Tega nyakitin hatinya. Tapi ini demi kebaikannya." batin Fajar yang bimbang.
Apakah Fajar egois? Maka jawabannya ada di dirinya sendiri.
***
Citra menggerutu melihat chat dengan Fajar yang tak kunjung dibalas. Sudah dua hari yang lalu, chat itu belum juga dibalas.
Citra pun memasukan ponselnya ke dalam tas, merasa tak sopan jika di depannya terdapat dua pria yang kini tengah menemaninya. Steve dan David.
Awalnya mereka tak sengaja bertemu di restoran ini. Akhirnya mereka memilih tempat di meja yang sama. Citra berdehem.
"So, you are brothers?"
__ADS_1
David memutarkan bola matanya, "*i d*on't even want a younger brother like him." (aku bahkan tidak ingin adik seperti dia.)
Citra terkekeh, "*w*hy? I am even happy if I have siblings like you." (kenapa? Aku malah senang jika memiliki saudara seperti kalian)
Steve menggeleng, "i don't even want a gift for blood with you, Ra. I'm worried if we can't have a loving relationship." (aku bahkan tak ingin ada hadiah bungan darah denganmu, Ra. Aku khawatir jika kita tak dapat menjalin hubungan kasih)
David menjitak pucuk kepala Steve, "*yo*u even have two girlfriends. Do not be greedy!" (kamu bahkan sudah memiliki dua pacar. Jangan serakah!)
Steve menepis tangan itu tak terima, "*w*hat's greedy? Me and Citra are just friends. And Lexy has become my ex." (apanya yang serakah? Aku dan Citra hanya berteman. Dan Lexy sudah menjadi mantanku)
David terkejut, berbanding terbalik dengan Citra yang sudah mengetahui itu. Wajar saja David tak tahu, Steve tak pernah menceritakan hubungan asmaranya dengan Lexy. Itupun jika tak ada masalah surat, Citra tak akan mengetahuinya.
"Steve, I want to spend this winter vacation with you. Do you want it? Even if it's just a walk in a nearby park. Or you take me to a bookstore. It does not matter." (Steve, aku ingin menghabiskan liburan musim salju ini bersamamu. Apa kamu mau? Meskipun hanya sekedar jalan-jalan di taman terdekat. Atau kamu mengajakku ke toko buku. Itu tidak masalah)
Steve awalnya terkejut. Lalu, ia menaruh tangan kanannya di dada kirinya, badannya sedikit membungkuk, " *wi*th pleasure, your majesty." (Dengan senang hati, yang mulia)
Steve menjulurkan tangannya, berniat menggandeng tangan gadis itu, diluar dugaan, Citra menerima uluran tangan itu. Mereka beranjak dari restoran begitu telah membayar tagihan minuman mereka. Meninggalkan David yang masih melongo tak percaya.
Citra dan Steve saling menautkan jemari mereka. Jalannya beriringan. Bibirnya mendekati telinga Citra, "i will treat you like a queen. Queen of my heart." (aku akan memperlakukanmu layaknya seorang ratu. Ratu di hatiku)
" Queen of my heart." Steve mengulang kalimat terakhirnya.
Citra tertawa kecil sambil menutupi mulutnya, "*li*ke the song title."
" Westlife song?" tanya Steve mendekatkan wajahnya.
" Yes."
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
__ADS_1
Selamat membaca semuanya!