
Para Mahasiswa itu baru saja diizinkan untuk pulang. Cuacanya saat ini, tengah hujan deras. Beruntungnya Citra memakai outer berwarna cokelat.
Meskipun begitu, hujan Indo dan hujan Auckland berbeda. Hujan di Auckland bisa mencapai 6° celcous. Maka dari itu, Citra masih saja kedinginan.
Gadis itu tak mau kebasahan, maka dari itu, ia dan Jasmine meneduh di perpustakaan. Citra asik membaca buku fiksi, sedangkan Jasmine asik memainkan ponselnya.
Catoline pun turut ikut. Ia sedang mendengarkan musik sambil membaca buku resep makanan. Huft! Mentang-mentang anak chef, baca buku saja tentang makanan.
Citra menutup bukunya. Selera membacanya hilang entah kemana. Apalagi mengingat kejadian di parkiran tadi, ia rasanya kesal dengan Jasmine. Tapi, ia tak dapat berkutik. Toh, kalau komplen pada Jasmine percuma saja, yang ada persahabatan mereka renggang.
Terdengar suara ponsel berdering milik Calorine. Gadis itu langsung keluar dari perpustakaan. Beberapa selang detik kemudian, ia kembali masuk dan menghampiri Citra dan Jasmine.
"Sorry! I have to go home now."
Citra dan Jasmin mengangguk, "*b*ye!"
Calorine melambaikan tangannya, "*b*ye!"
Hingga, di meja itu tersisa Citra dan Jasmine. Citra menghembuskan napas lelahnya, "I know what I have to do. About my life, my choices, and everything about me, only I can make decisions. Only I make the decision. Other people are just advisors, not regulators." (aku tahu apa yang harus aku lakukan. Tentang hidupku, pilihanku, dan segala sesuatu tentangku, hanya aku yang bisa membuat keputusan. Hanya aku yang membuat keputusan. Orang lain hanyalah penasihat, bukan regulator)
Jasmine menatap Citra dengan sinis, lalu meletakkan ponselnya di atas meja, "maksud lo ngomong gini apa?"
"Aku yakin bahwa bahasa Inggrismu sangat luas. Kamu sudah menguasai bahasa ini."
Jasmine menggelengkan kepalanya, "tujuan lo ngomong gitu apa?"
Citra yang tadi menunduk, kini berani menatap Jasmine, "tentang apapun. Yang intinya, seseorang tidak bisa menghakimi keputusan si objek itu."
Jasmine mengangkat dagunya, "lo buat keputusan apaan?"
Citra menggeleng, "belum ada. Tapi, aku paling tidak suka dengan orang yang ikut campur. Kalau nasehat aku masih terima. Tapi untuk memberi keputusan, apalagi aku belum memberi keputusan, aku sangat tidak menyukai itu."
"Tentang Steve?"
Citra tersenyum tipis, "tentang apapun."
Setelah mengucapkan dua kata itu, Citra bangkit dan keluar dari perpustakaan. Tak lupa pamitan sangat singkat dengan Jasmine.
Gadis itu mulai keluar dari gedung. Hujan mulai mereda. Namun, jalanan masih nampak terlihat becek.
__ADS_1
Genangan air itu bergerak begitu ankle boots itu menginjaknya. Citra menutupi kepalanya dengan kupluk. Ia berdiri di tepi jalanan, mencari taksi yang melintas. Dari jarak yang cukup dekat, Citra melihat Steve yang mulai memasuki mobilnya.
Citra melangkah mendekati mobil itu, membuat suara ketukan pada jalanan akubat sepatunya.
"Steve!" panggil Citra. Steve yang hendak masuk itu, menghampiri dan menutup mobilnya.
"Kamu berubah."
Steve tersenyum sinis, "apakah itu menjadi masalah?"
Bibir Citra terkatup. Steve gencar tersenyum sinis, lalu, senyuman sinis itu berubah menjadi senyuman keikhlasan, "silahkan! Silahkan jika kamu hendak bersama yang lain. Anggap saja, kita ini hanya orang yang baru kenal dan sok akrab, lalu saling tak ada kabar."
Citra meneteskan air matanya, "kenapa fikiranmu sangat kejam?"
"Memang suatu saat, kita akan begitu. Aku harap, jangan sampai salah satu di antara kita, ada yang mencintai. Ataupun saling mencintai. Itu akan menyakitkan."
Steve langsung masuk ke dalam mobil dan melaju membelah jalanan. Sedangkan Citra, ia menyentuh dadanya yang sangat terasa seperti tertusuk.
"Kamu terlambat, Steve. Aku sudah mencintaimu."
Citra memeluk dirinya sendiri. Bibirnya bergetar. Harinya bak ditancap pisau tajam. Lidahnya kelu. Kini, hanya suara is akan yang keluar dari mulutnya.
***
Steve mengemas seluruh barang-barang miliknya, ke dalam koper. Rencananya, ia akan pindah ke penthouse yang jauh letaknya dari Citra.
Ia berniat akan menghindari gadis itu, sebelum Citra mencintainya.
Setelah merasa semuanya telah disiapkan, Steve menyeret koper itu ke lift. Ia berpapasan dengan Citra yang kebetulan hendak turun juga.
Di dalam lift. Hanya mereka berdua yang diselimuti rasa keheningan. Namun, mata Citra mengarah pada koper yang Steve pegang.
"Kamu mau kemana?"
Steve memasukan satu kepalan tangannya ke dalam saku celana, "kita hanya bertemu di kampus saja. Atau di tempat umum yang sekiranya kebetulan."
"Kamu menghindar?"
Steve memejamkan matanya, "bisa dikatakan begitu."
__ADS_1
Citra membuang pandangannya, ia berusaha menetralkan nafasnya agar bahunya naik-turun dengan normal. Kalau tidak, mungkin Steve akan tahu bahwa ia menangis.
Posisi Citra memunggungi Steve. Sebenarnya, Steve ingin terkekeh, tapi situasinya tidak mendukung.
Ting!
Pintu lift terbuka. Steve mendekatkan bibirnya pada telinga Citra, "aku harap, dengan keputusanku ini, kita baik-baik saja."
Mereka berdua keluar dari pintu kotak besi itu. Dan berjalan ke arah parkiran.
Mereka berdua saling berhadapan. Hidung dan pipi Citra sudah memerah.
"Semoga kamu bahagia dengan pria yang kamu cintai. Dan semoga kamu bahagia melanjutkan kehidupanmu dengannya."
Steve langsung masuk ke dalam mobil. Citra hendak mencegah,tapi tangannya terasa sangat berat.
"Aku saja belum tau berjodoh dengan Kak Andri atau tidak. Tapi, Steve sudah begini. Bagaimana jika aku menikah? Mungkin Steve tak lagi dapat aku temui." batinnya
***
Steve menyimpan beberapa pakaiannya di dalam lemari yang berada di kamar barunya. Kamar dengan warna minimalis ini, menjadi warna favoritnya. Hitam dan putih. Terkesan sangat minimalis. Tiba-tiba, ia berfikir tentang Eliosia. Bukankah ia tak izin pergi padanya?
Steve lalu menggelengkan kepalanya, ia benar-benar pusing, lupa mengabari Mamahnya sendiri. Sesekali memijit pelipisnya.
Tiba-tiba, ada pesan masuk melalui aplikasi chatnya.
Mama: Geh, wo bist du Sohn der Gesetzlosigkeit? (pergi kemana kau anak durhaka!)
Tuh kan! Dia sudah tau, pasti akan terjadi seperti ini. Steve terkekeh sambil mengusap wajahnya, ia pun membalas pesan itu.
Steve: Di penthause baru. (Di penthause baru) tak ada balasan. Hanya di read saja oleh Eliosia. Steve pun langsung mencharger ponselnya yang memang sudah lowbat.
***
Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.
So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.
Selamat membaca semuanya!
__ADS_1