Seindah Takdir

Seindah Takdir
2. Pose Unik


__ADS_3

Citra menggeliat ketika bunyi alarm yang berbunyi dari ponselnya itu berdering. Ia menyibak selimut setelah itu mematikan alarm.


Suhu pada shubuh ini sungguh dingin. Bahkan ketika telapak kaki gadis itu menginjak lantai, ia tak kuat rasanya.


Citra berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah itu, ia tak lupa untuk berwudhu.


Gadis itu keluar dari kamar mandi dan mengambil kaos kaki di dalam lemari. Kaos kaki itu mengemas kakinya yang putih mulus kedinginan. Bibir gadis itu bergetar.


Ia meraih mukena berwarna hitam. Tak lupa menghamparkan sajadah sesuai kiblat.


Gadis itu mengucapkan takbir, tangannya mengangkat sebentar lalu menumpuk di perutnya.


"Assalamualaikum warahmatullah!" Citra memutarkan kepalanya ke arah kanan-kiri secara bergantian. Menandakan bahwa shalat telah selesai. Ia kembali melipat mukenanya.


Citra memakai pakaian rapih. Rok tutu panjang berwarna cream, baju blouse berwarna baby pink, hijab pashmina berwarna mocca, sling back shoes berwarna putih, field bag berwarna mocca, dan sentuhan terakhir ialah jaket trench coat berwarna camel.


Citra memakai liptint, polesan bedak tipis, dan blush on berwarna pink.


Sungguh perfect!


Pertanyaannya, Citra akan pergi kemana? Citra sendiri pun tidak tahu. Jasmine yang mengetahuinya akan kemana.


Jasmine tinggal di Apartemen yang sama. Namun beda lantai. Lantai Citra diatas satu lantai dari Jasmine.


Citra sudah siap, ia segera keluar dari tempatnya dan tak lupa mengunci pintu Apartemen yang ia tempatkan. Ia segera masuk ke dalam lift. Hanya satu lantai saja lift itu bergerak sesuai tujuan Citra.


Ting!


Pintu lift terbuka. Citra mengayunkan kakinya bersiap mengetuk pintu Apartemen Jasmine. Tangan gadis itu terkepal, kemudian mengetuk pintu itu berkali-kali sembari mengucapkan salam dengan keras.


Pintu itu terbuka, menampilkan pakaian Jasmine yang masih acak-acakan.


"Ngapain?"


Citra mengernyit, "katanya mau ngajak aku jalan-jalan hari ini?"


Jasmine mengacak-ngacak rambutnya, "Citra sayang. Gak sepagi ini juga. Baru aja gue selesai shalat shubuh. Jam 9 maksud gue,"


"Kamu gak ngomong begitu,"


Jasmine menggeram frustasi. Ia menarik lengan Citra untuk masuk ke dalam Apartemennya. Citra duduk disofa dengan santai. Kaki kanannya ia pangku disebelah kakinya.


"Lo udah makan?"


Citra menggeleng, "niatnya pas dijalan aja."

__ADS_1


Jasmine menyodorkan Citra semangkuk mie instan, "lo makan dulu aja! Baru gue rebus tadi,"


"Loh, kamu gimana?"


"Gue masak dua. Firasat gue yakin, pasti lo belum makan. Dan emang lo suka dateng pas gue lagi masak atau makan,"


Mata Citra berbinar. Ia merentangkan tangannya hendak memeluk Jasmine.


"Lo meluk gue, mie itu bakalan gue tarik." ucap Jasmine penuh ancam.


Citra menurunkan kedua tangannya. Jasmine memang sudah paham jika Citra akan memeluknya sambil berkata, "Jasmine peka banget. Kamu itu temen yang paling the best,"


Menurutnya, itu terlalu hiperbolis. Tapi bagi Citra tidak, itu adalah ungkapan bahagia yang sesungguhnya.


Jasmine pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap setelah menghabiskan makanannya.


Citra berinisiatif untuk mencuci beberapa peralatan makan yang tadi ia dan Jasmine gunakan.


Jasmine sudah rapih dengan pakaiannya ketika keluar dari kamar. Cantik. Pakaiannya begitu simple namun tak mengurangi kecantikannya. Jasmine memakai baju atasan putih, rok Midi, dan outer berwarna hitam.


"Ayo!"


Citra mengangguk semangat, mereka berjalan menuju Lobi. Mereka sama-sama menunggu taksi.


"Jas, kita mau kemana sih?"


Taksi menepi disamping mereka. Keduanya masuk ke bangku belakang.


"Where to go, Miss?" (kemana tujuannya, Nona?) tanya sang supir taksi.


"Matamana,"


"The place of entertainment? "(tempat hiburan itu?)


Jasmine mengangguk, "*y*es, how long does it take to get there?" (ya, berapa lama perjalanan menuju kesana?)


"Only two hours, Miss." (hanya dua jam, Nona.)


Supir taksi itupun melaju dengan kecepatan normal. Citra hanya memandangi ke arah jendela melihat beberapa bangunan yang singgah kokoh disana.


***


Citra terkagum-kagum melihat Manatama yang disebut oleh Jasmine pada sang supir taksi tadi. Mereka tengah seperti sedang di alam sebuah film 'Lord of the Rings'


Citra dapat melihat rumah bag end. Rumah yang sangat kecil dengan 180 derajat yang diselimuti rerumputan.

__ADS_1


Tentu saja mereka melakukan swafoto. Mereka berpose mengangkat dua jari telunjuk dan tengahnya. Tak lupa senyum menawan.


Citra duduk di depan bag end itu. Kalau Citra sendiri menyebutnya seperti rumah iglo. Rumah iglo itu berada di Kutub Utara dan Selatan. Rumah yang didominasi warna putih luar-dalam.


Citra dan Jasmine juga mendarat sejenak di farmstay. Di sebelah kiri Timur kota pun mereka dapat melihat air terjun tertinggi di North Island.


Lagi-lagi Citra berpose saat Jasmine mengaktifkan kameranya.


***


Citra merebahkan tubuhnya di atas kasur. Baru saja ia dan Jasmine pulang. Rasa lelah dan pegal itu menyeruak tubuh mungilnya. Citra menatap ponselnya yang wallpaper itu adalah fotonya ketika berada di bag end.


Ia mengulas senyum. Jasmine paling bisa membuatnya bahagia.


Citra langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Begitu keluar dari kamar mandi, ia sudah memakai pakaian biasa.


Ia berjalan menuju dapur. Perutnya baru saja keroncongan. Ia berniat menumis udang saus tiram. Makanan kesukaannya. Ia juga membuat ayam bakar.


Tangannya begitu lihat memotong-motong cabai dan beberapa bumbu dapur yang dibutuhkan.


Keluarga Hamzah memang mahir dalam bidang memasak. Maka tak heran jika Hamzah dan Raina membiarkan Citra sendiri di negara asing baginya. Citra bisa menjaga diri dan pastinya pandai memasak.


Hamzah tak ingin memanjakan Citra. Maka dari itu ia izinkan Citra sendiri di negara ini. Meskipun ada Jasmine. Tapi tetap saja mereka beda lantai.


***


Steve mengulas senyum ketika melihat foto Citra yang berpose unik menurutnya. Gadis itu mengangkat dagunya ke atas, kedua tangannya terkepal dibawah dagu gadis itu. Bibirnya mengerucut.


Ya, dari awal mereka di Lobi, Steve baru menyadari jika mereka tinggal di Apartemen yang sama. Steve membuntuti mereka secara diam-diam. Begitupun memoto gadis berhijab itu. Tentu dari jarak tak terlalu jauh. Tapi, bodohnya mereka adalah, tak menyadari bahwa Steve selalu membuntuti mereka.


Padahal sesekali Steve berjalan di depannya. Di belakangnya. Disampingnya. Tapi Citra tak menyadari. Citra sendiri pun sangat ingat wajah Steve. Ia itu terlalu terhipnotis oleh lingkungan sekitar.


Steve sudah berhasil mencetak foto itu. Kini, ia simpan di dalam sebuah kardus berukuran kecil yang sudah ia persiapkan.


Tak ada foto lain selain foto Citra. Ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Ini adalah hal yang paling gila baginya saat mendekati perempuan.


Dulu, ketika ia mendekati Lexy tak sampai seperti ini. Perjuangan kecil tapi membuahkan hasil ketika ia mendapatkannya.


Tapi sepertinya memperjuangkan Citra adalah hal yang rumit baginya. Mengapa? Karena ada satu hal yang membuat mereka tak bisa bersama.


Yaitu agama. Agama mereka berbeda. Perbedaan itulah yang membuat Steve down. Ia tak paham jika dalam Islam wanita-pria yang berbeda agama tidak boleh menikah. Tapi ada rasa kecewa begitu Steve menyadari Citra yang berlainan dari agamanya.


***


Oh iya guys! Ada beberapa part yang memang harus aku revisi. Mungkin semua part. Jadi, mohon bersabar jika ada kejanggalan dalam cerita ini. Awalnya mau nanti aja buat revisinya, tapi tangan aku udah gatel. Tapi, aku tetep update part baru kok. Insya Allah. Tenang aja.

__ADS_1


So, pastinya Insya Allah cerita akan menjadi lebih baik.


Selamat membaca semuanya!


__ADS_2