
frey yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa memperhatikan Diandra dan Mario dari jauh, air matanya jatuh saat melihat istrinya sedang berciuman dengan orang lain, garis takdir yang dibuatnya sangat menyakiti perasaannya sendiri.
"ini tidak seberapa frey, karena mereka akan melakukan lebih dari yang kau lihat" ucap frey bersama tetesan airmatanya.
"kenapa kau berada disini??? untuk menghindariku???" suara seorang wanita membuat frey kaget, matanya yang semula tertuju pada Mario dan Diandra yang sedang berdansa dialihkannya kearah sumber suara.
"Selvi..." frey langsung bisa menebak siapa yang punya suara.
"jangan sebut namaku, bahkan di luar kantor kau masih saja menyebalkan" gerutu Selvi sambil memberikan minuman kepada frey.
"menyebalkan bagaimana???"
"salah satunya ya ini, sengaja menghindar dariku"
"aku tidak menghindarimu"
"pergi dariku saat sedang berdansa itu apa??? padahal aku baru saja mengatakan sebagian dari isi hatiku padamu ..."
"aku.. berdansa denganmu???" frey semakin bungung.
"jangan bercanda frey" Selvi sedikit kesal, dia membuang mukanya menatap beberapa orang yang masih berdansa berpasangan, tetapi tiba tiba matanya tertuju pada Diandra yang sedang berdansa dengan seorang lelaki yang memakai pakaian sama persis dengan frey.
"itu istrimu bukan, tapi kok dia sedang bersama laki laki lain???" Selvi menunjuk kearah Diandra yang sedang terbuai mesra bersama pasangan dansanya.
"memangnya kenapa, kamu juga bisa berpasangan dengan laki laki manapun jika sedang berdansa bukan???" frey berusaha memberikan penjelasan yang masuk akal agar Selvi tidak curiga.
"mmmm.. ya sih.. tapi..." Selvi terlihat sedang meneliti sesuatu dari laki laki yang berdansa bersama Diandra.
__ADS_1
"sudah.. jangan kebanyakan mikir, ayo kita keluar cari angin, disini agak gerah dan terlalu berisik, aku kurang suka dengan suasana seperti ini" frey berusaha membawa Selvi pergi dari sana, dia tidak mau Selvi akan mengacaukan rencananya.
"tunggu dulu,, istrimu bagaimana?? apa kau akan meninggalkannya dengan laki laki itu???" Selvi berusaha menunjuk kearah Diandra yang masih berdansa, tetapi frey berusaha menghalangi dengan tubuhnya, frey tidak mau Selvi melihat jelas laki laki yang berdansa dengan istrinya karena Selvi pasti bertambah curiga setelah melihat seutuhnya penampilan laki laki itu.
"itu tidak terlalu penting,, nanti setelah acara selesai Diandra pasti akan mencari ku" frey mencoba meyakinkan Selvi "ayo ... ikut denganku, ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan padamu"
"baiklah.." akhirnya Selvi mengikuti langkah kaki frey karena pergelangan tangannya di tarik oleh bosnya itu, sedangkan matanya berusaha melihat kebelakang, mencari keberadaan Diandra dan pasangan dansanya yang membuat Selvi penasaran.
*
*
*
tubuh Mario mulai terasa hangat, berlama lama berpelukan dengan Diandra membuat saraf motoriknya bekerja ekstra untuk mengontrol gerakan tangan liarnya.
keringat Mario mulai keluar dari wajah yang masih di tutupi oleh topeng, bayangan malam indah yang dihabiskannya saat bersama Diandra masih terus melintas dalam pikirannya membuat jiwa kejantanan Mario bangkit.
"apakah kau marah kepadaku???"
Mario hanya menjawab dengan gelengan, diam sungguh membuat dirinya sangat tersiksa, andaikan dirinya tidak sedang dalam mode penyamaran menjadi seorang frey sudah pasti akan banyak pembicaraan yang terjadi antara dirinya dan Diandra, meskipun pembicaraan tersebut akan di dominasi oleh pertengkaran.
"boleh aku meminta sesuatu pada dirimu???"
Mario mengangguk sambil terus menatap Diandra.
"tapi kau jangan marah"
__ADS_1
Mario kembali menggelengkan kepala, tetapi Diandra sedikitpun tidak menaruh curiga terhadap diamnya lelaki yang dianggapnya suami.
"aku tidak tau alasanmu tidak melakukan tugasmu sebagai suami kepadaku, padahal orang tuamu sangat menginginkan cucu dari kita, aku tidak ingin berburuk sangka padamu mas, jujurlah padaku apapun alasanmu, aku akan menerima kejujuran kamu dengan tulus, aku menyayangi mu mas" Diandra mengelus dada Mario dengan lembut dan mengecupnya, kemudian Diandra menempel kan telinganya kedada bidang Mario.
debaran dada Mario yang sedikit cepat bisa didengar Diandra dengan jelas "kau gugup sayang!!!" Diandra terus mengelus lembut dada bidang itu hingga Mario tidak mampu menahan lebih lama lagi.
Mario menghentikan dansanya, pelukan pada tubuh Diandra di longgarkan nya, kemudian diraihnya pergelangan tangan Diandra untuk menggandengnya menuju sebuah kamar dari salah satu hotel tempat pesta yang telah di booking oleh frey.
"sayang.. kita mau kemana??" Diandra kewalahan mengimbangi langkah Mario yang agak laju.
mereka telah sampai di sebuah kamar VVIP, kamar dengan fasilitas yang sangat lengkap, Diandra tidak heran dengan kamar seperti itu, karena dirinya dan frey sudah sering menginap di kamar VVIP di manapun mereka berpergian.
"kita mau ngapain kesini mas???" tanya Diandra sekali lagi kepada Mario, Mario tetap diam seribu bahasa, hanya matanya yang menatap penuh arti pada bola mata Diandra.
Mario kembali memeluk Diandra dengan penuh kehangatan, kemudian Mario membuka topeng yang menutupi wajah cantik Diandra dengan perlahan, wajah cantik yang terlihat dalam cahaya yang remang cendrung gelap tetap cantik dan menggoda, rambut, bibir, hidung, mata yang entah sejak kapan sangat dirindukan oleh Mario, semuanya disentuh olehnya dengan lembut.
Diandra juga merasakan hal yang sama, dia sangat merindukan belaian itu, belaian seorang frey yang sudah lama tidak di rasakannya, Diandra meraih topeng yang melindungi wajah Mario, tetapi Mario menahan tangan Diandra agar tidak melanjutkannya.
Mario mengangkat tubuh sintal Diandra ala bridal style kemudian dia meletakan pelan tubuh Diandra diatas sofa empuk.
harapan Diandra kian besar, dia sangat yakin suaminya akan memberikan haknya malam ini, frey akan membuat Diandra benar benar menjadi istri, Mario mulai mencium lembut bib*r Diandra sambil membuka dres yang masih membalut tubuh indahnya, Diandra pasrah, tidak ada penolakan yang dilakukannya.
Mario hampir tidak percaya jika suami Diandra memberikan kesempatan kepadanya, kesempatan yang membuatnya menjadi lelaki pecundang, namun dia tidak bisa berbuat apa apa.
Mario dan Diandra sudah melakukan penyatuan, sedikitpun Diandra tidak menaruh curiga terhadap laki laki yang yang kembali menyetubuhi dirinya dengan gagahnya, lampu kamar yang remang remang membuat mata Diandra tidak bisa melihat secara jelas meskipun Mario telah membuka topengnya. bertambah lagi kenikmatan dunia yang sedang dirasakan nya membuat mata Diandra kehilangan fungsi secara total.
Rasa nikmat bercampur bahagia membuat Diandra lupa daratan, akhirnya suaminya telah memberikannya hak untuk menjadi istri seutuhnya, meskipun ada kebimbangan yang sangat besar, pernah berhubungan dengan laki laki lain membuat Diandra sangat takut jika suaminya akan mengetahui hal tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, kau telah menjadikanku istri yang seutuhnya, jangan pernah berubah sayang, tetap seperti ini sampai maut memisahkan kita, aku akan setia kepadamu apapun yang akan terjadi selanjutnya" ucap Diandra pelan di telinga Mario setelah mereka puas melakukannya.
ada rasa perih di dalam hati mendengar apa yang diucapkan oleh Diandra, begitu besar rasa cintanya terhadap frey.