
Diandra membuka matanya pelan pelan, kepalanya terasa pusing sehingga dia harus sedikit meringis, sesaat Diandra mencoba memutar ulang ingatannya apa yang sudah terjadi pada dirinya.
Setelah mengingat semua yang terjadi Diandra terkejut tidak percaya dengan apa telah di lakukannya, dengan gerak spontan Diandra memaksakan diri untuk duduk.
"Ah... Aduhh.." erang Diandra pelan sambil memegang kepalanya.
"Ada apa???" Mario terkejut dengan pergerakan Diandra, dia duduk menghadap Diandra sambil memegang bahu Diandra.
"Kepalaku sakit" keluh Diandra sambil memegang kepalanya dan memejamkan matanya.
"Maaf ya.." Mario mengelus lembut kepala Diandra untuk mengurangi rasa pusing pada kepala Diandra.
Suara barithon milik Mario terdengar di telinga Diandra dengan jelas membuat Diandra teringat akan bagaimana suaranya dan suara Mario bersahut sahutan tadi malam hingga mereka melakukannya berkali kali.
Diandra mengangguk menjawab pertanyaan Mario. Pelan pelan kembali Diandra membuka matanya untuk melihat keberadaan wajah mario.
"Mario..."
"Hem..."
"Kenapa aku melihatmu berbeda???"
"Mungkin karena kepalamu sedang sakit" Mario kembali mengusap kepala Diandra.
"Tidak Mario"
"Jadi apa???"
"Kau..." Diandra menyentuh wajah Mario dengan jari telunjuk secara perlahan hingga turun keleher, dada hingga keperut Mario yang berotot, Diandra tidak menyangka jika lelaki yang tidur dengannya malam itu sangat gagah dan perkasa.
wajahnya sangat tegas dengan bola mata yang bulat bewarna cokelat, hidung mancung dan bibir sexy sudah pasti membuat para wanita tergila gila kepadanya ditambah dengan kedua pipi yang mempunyai lesung, tubuh nya yang perkasa dan berotot di balut dengan kulit bewarna sawo matang menambah maskulinnya seorang Mario.
"Ada apa??" Tanya Mario pelan menatap heran kepada Diandra.
"Apakah kau orang yang sama?? Maksudku, kau terlihat berbeda pagi ini"
"Tentu saja aku orang yang sama, mana mungkin aku meminta orang lain menggantikan aku meniduri wanita cantik sepertimu Diandra.." jawab Mario sambil menatap bola mata Diandra yang begitu indah.
"Hem..." Diandra membuang mukanya kesamping, Dia tidak mau Mario melihat mimik mukanya.
"Mau aku bantu kekamar mandi??"
"Oke" diandra menganggukkan kepala tanda setuju, Mario menggendong Diandra ala bridal style, dia sangat tau jika Diandra merasakan tidak nyaman pada tubuhnya, apa lagi pada bagian intinya.
Mario meletakan tubuh Diandra di dalam bathtub kemudian di isinya air hingga batas dada Diandra, setelah di rasa cukup Mario juga ikut masuk ke dalam bathtub bersama Diandra.
Mario duduk di belakang Diandra, dengan lembut Mario menggosok punggung Diandra yang putih membuat Diandra sedikit canggung, karena ini kali pertama dia di perlakukan oleh seorang lelaki dengan manis dan seromantis ini.
__ADS_1
Biasanya Diandra yang menggoda suaminya mati Matian barulah frey akan menyentuhnya itupun hanya sebatas pemanasan tidak pernah lebih.
"Kenapa diam saja, apa kamu kurang nyaman??" Tanya Mario setengah berbisik di telinga Diandra membuat bulu halus Diandra meremang.
"Oh .. tidak.." jawab Diandra canggung.
Selanjutnya Mario menggosok bagian depan tubuh Diandra, bagian leher dan dada hingga kepinggang membuat jantung Diandra berdetak lebih kencang.
Setelah dirasa cukup Mario menarik tangannya Namun tangan Mario di tahan oleh Diandra.
"Aku menginginkanmu Mario.."
"Tapi .."
"Sekali ini saja, anggap saja ini salam perpisahan kita" Diandra setengah memohon kepada Mario.
"Diandra .. tapi aku .." belum sempat melanjutkan ucapan bibir Mario sudah di sambar oleh Diandra, Mario tentu tidak bisa menolaknya.
Tangan Mario yang semula mengusap lembut kini berubah menjadi remasan kasar guna menambah gairah Diandra, tubuh Diandra menerima baik sentuhan demi sentuhan yang di berikan oleh Mario.
Percintaan panas di dalam bathtub tidak dapat di hindari lagi, rasa lelah yang semula dirasakan Diandra tidak di rasakannya lagi, bahkan Diandra lebih bergairah di bandingkan saat mengkonsumsi obat perangsang tadi malam.
"Akh .. Mario.." desis Diandra saat Mario mulai memasuki Diandra lewat belakang.
"Akhhh... Kau sangat sempit Diandra" suara nikmat Mario juga ikut keluar.
***
"Sebaiknya hari ini kamu jangan pulang dulu"
Mario berbicara sambil menghirup kopi hitam, mereka sekarang duduk di balkon sambil menikmati kopi dan roti sebagai sarapan pagi.
"Tidak Mario, aku harus pulang"
"Kenapa???"
"Suamiku pasti sedang menungguku"
"Ukhuk. Ukhuk... Hem" Mario tersedak mendengar ucapan Diandra "kamu punya suami??" Mario bertanya dengan menautkan kedua alisnya dan dijawab dengan anggukan oleh Diandra
"Sepertinya aku dalam masalah besar" ucap Mario pelan.
"Iya Mario, sepertinya kita sedang berada dalam masalah"
"Tapi kenapa kau menyeretku Diandra, mungkin aku seorang lelaki playboy, tapi aku tidak bermain dengan istri orang" Mario mulai bicara dengan nada tinggi karena kesal dengan Diandra.
"Kenapa kau hanya menyalahkan ku, bukankah kau juga menginginkannya???" Diandra juga berbicara dengan nada tinggi karena tidak terima jika Mario hanya menyalahkannya.
__ADS_1
"Aishhh... " Mario mengusal rambutnya yang setengah basah.
"Kau menyesal???"
"Tentu saja aku menyesal" jawab Mario.
"Oke Mario, anggap saja kita tidak pernah ketemu" Diandra memalingkan wajahnya dari hadapan Mario.
Hening di antara mereka berdua, Mario sibuk memikirkan kesalahannya karena telah meniduri istri orang yang masih perawan, sedangkan Diandra menyesali dengan keputusannya telah datang ketempat yang salah hingga dia harus terjebak dengan tidur bersama seorang lelaki.
***
Setelah Diandra pergi dari rumah frey berusaha bersikap tenang dan tidak ikut ikutan emosi seperti yang di lakukan oleh istrinya, tetapi tetap saja rasa bersalah, takut dan malu menghantui pikirannya.
Bukan hal yang menyenangkan tidak bisa memberikan nafkah batin selama menikah kepada istri, namun frey tidak bisa berbuat apa apa karena penyakit impoten yang di deritanya belum bisa sembuh meski dia sudah berobat hingga keluar negeri namun belum membuahkan hasil.
"Bagaimana jika aku jujur saja kepada Diandra???" Hati kecil frey mulai menggelitik.
"Tidak.. tidak.. Diandra pasti akan meninggalkanku dan reputasiku sebagai seorang lelaki pasti akan hancur, apalagi jika Diandra angkat bicara, tidak.. itu tidak boleh terjadi" frey berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi sambil melipat kedua tangannya di dada, pikirannya sangat kacau kali ini.
"Arghhhh...." frey berteriak karena prustasi.
Masalahnya bagaikan berada di jalan buntu, di pikirkan bagaimanapun tetap tidak akan menemukan jalan keluar, pasrah juga bukanlah solusi.
frey mencuci mukanya agar pikirannya tidak terlalu kusut, bayang bayang kehancuran rumah tangga dan nama baiknya selalu terlintas dalam otaknya.
Karena tetap tidak tenang akhirnya frey memutuskan untuk pergi dari rumah menuju ke apartemennya, dia berniat untuk menenangkan diri di sana dengan sedikit obat obatan.
"Terimakasih Marvel, sudah mau menemaniku malam ini" frey yang duduk bersandar pada sofa tersenyum manis saat melihat Marvel menyerahkan serbuk putih ketangannya.
"Apa kau akan terus begini sepanjang hidupmu frey?? Aku sangat khawatir dengan kesehatanmu" ucap Marvel serius.
"Hem... Untuk sementara iya, tapi bukankah aku punya seorang teman dokter yang siap membantuku kapan saja, jadi buat apa aku khawatir dengan kesehatanku, bukankah begitu dokter Marvel "
"Tapi aku tidak bisa menolongmu dari obat obatan terlarang ini frey, ini sangat berbahaya" Marvel adalah seorang dokter, selama ini dia yang membantu frey mendapatkan obat obatan tersebut karena Marvel adalah teman baik frey, Marvel juga punya hutang Budi dengan papa frey karena jasa papa frey dia bisa sekolah kedokteran hingga menjadi dokter spesialis kulit dan kelamin yang cukup famous.
"Tapi kau selalu memberikannya kepadaku ketika aku butuh, jadi tolonglah dokter Marvel, jika kau memintaku melepaskan obat ini sungguh aku tidak bisa, kasih saja aku solusi yang lain" jawab frey tegas sambil menghirup serbuk putih yang sudah ada di depan hidungnya.
Marvel hanya bisa menarik napasnya dalam dalam, ada rasa perih di dalam dadanya saat menyaksikan salah satu sahabat terbaiknya harus terjerumus dengan obat obat terlarang, namun dia tidak bisa membantunya untuk berhenti, bahkan dia yang membantu mendapatkan obat tersebut saat frey membutuhkannya.
"Ahhhh...." Desah frey setelah menyedot pil ekstasi yang sudah di haluskan sambil menyandarkan punggungnya kesopa dan mendongakkan kepalanya kebelakang sebagai bentuk posisi yang paling rileks.
"Aku butuh Vodka" ucap frey pelan namun masih bisa di dengar oleh Marvel.
Marvel menuangkan minuman yang di butuhkan lalu memberikannya kepada frey, frey menerima Vodka tersebut lalu meminumnya seteguk untuk mengimbangi efek dari ekstasi yang di konsumsinya.
"Hahahaha...." Tawa frey meledak setelah meneguk Vodka, rasa gelisah dalam dirinya sudah terbang bersama nikmatnya ekstasi yang di konsumsinya, saat ini frey tidak merasakan lagi kegelisahan dan takut serta frustasi yang dialaminya, dia hanya merasakan rileks dan tenang.
__ADS_1