
frey terus berjalan menuju kamar mandi tampa menghiraukan amukan istrinya, Diandra yang merasa di cuekkan semakin kesal dengan tingkah suaminya.
"Ahhhhhhhhhhh........" pekik marah Diandra memenuhi kamar, semua bantal di lemparkannya kesembarangan arah, bad cover semuanya di acak acak diandra untuk melampiaskan kekesalannya.
Tidak sampai di situ amukan Diandra, dia turun dari tempat tidur menuju ke walk ini closet dan mengacak semua barang yang ada di sana, peralatan kecantikan, sepatu, tas dan baju menjadi sasaran diandra, semua barang di hamburkannya, sembarang arah.
"Puas kamu mas... Puas... Akkkkkkkhhhhh" geram Diandra.
frey yang sejak tadi masuk kedalam kamar mandi tidak memberikan respon, dia hanya mendengarkan Diandra yang menjerit dan menghamburkan barang seperti orang kerasukan.
Setelah merasa puas Diandra berdiri di depan kaca menatap pantulan dirinya yang polos Tampa busana, garis bibirnya melengkung keatas membentuk senyum sinis mengejek dirinya sendiri.
"Kau sangat menjijikan Diandra, bahkan suamimu tidak ingin bercinta denganmu" Diandra berbicara kepada pantulan dirinya di cermin.
"Kau benar, tetapi aku bisa mencari orang lain untuk bercinta denganku bukan??" Diandra membalas ucapannya sendiri dengan menyeringai.
"Kau tidak akan bisa Diandra, kau pengecut.. kau tidak akan bisa melakukannya hahaha" Diandra kembali menjawab ucapannya sendiri menyerupai dialog antara dua orang.
"Diam kau ...." Pekik Diandra, kemudian dia mengambil sebuah botol farpum yang terbuat dari kaca dan di lemparkannya ke cermin yang ada di depannya.
"Prangggg...." Cermin yang berada di depannya pecah sempurna.
"Aku akan melakukannya malam ini.. ya.. aku akan melakukannya" dengan tergesa gesa Diandra mencari gaun yang sudah di hamburkannya, dress sexy putih diatas lutut, dengan tali yang menggantung di leher. Ukuran Bu*h d*da yang besar membuat Diandra tidak perlu memakai bra lagi karena baju sexynya sudah penuh pada bagian dada, pinggulnya yang montok dengan pinggang ramping membuat tampilan Diandra semakin sexy.
Setelah dirasa cukup Diandra segera pergi meninggalkan rumah mewahnya menggunakan mobil Lamborghini yang di stir nya sendiri menuju sebuah club' malam yang cukup terkenal di kota itu.
***
Diandra berdiri di depan club' dengan tatapan ragu, namun sebuah tangan kekar meraih lengan Diandra dengan lembut.
"Kenapa??? Kamu ragu???" Sebuah suara besar barithon memecahkan konsentrasi Diandra yang berperang antara masuk atau kembali kerumah.
"Hem... I..iya.." jawab Diandra gugup karena yang sedang menggandengnya tentu saja orang yang tidak di kenalnya.
"jangan ragu jika itu buat kebahagiaan kamu" lelaki bersuara barithon itu berbicara sambil mengguncang bahu Diandra.
"Apa aku terlihat tidak bahagia???" Tanya Diandra kepada lelaki yang tidak di kenalnya itu.
"Tentu saja, karena setiap yang datang kemari pasti punya masalah dengan kebahagiaan"
"Anda sangat pandai menilai orang.." sarkas Diandra
"Tepat sekali" jawab lelaki itu sambil tersenyum dan menuntun Diandra masuk kedalam club'.
Di dalam club' Diandra duduk di sudut ruangan, memperhatikan kejadian di sekelilingnya, ini pertama kalinya Diandra pergi ke club', suasana club' cukup asing baginya, suara DJ mengiringi orang yang berjoget dengan tangan berada di atas, beberapa meja di kelilingi oleh gadis sexy dan seorang lelaki yang sepertinya seorang bos dengan memegang gelas berisi wine.
__ADS_1
Di sana semua orang terlihat tertawa bahagia, tidak ada seorangpun yang murung.
"Hmm.. hallo ... " Sapa seorang lelaki yang berjalan mendekati Diandra yang duduk sendiri seperti orang asing.
"Iya... Hallo.. " Diandra membalas sapaan pria tersebut.
"Mario.." lelaki itu memperkenalkan diri sambil menyodorkan setengah gelas wine kepada Diandra.
"Diandra.."
"Saya teman Daniel, yang punya club' ini" Mario mencoba mengakrabkan diri.
"Daniel??" Diandra menautkan kedua alisnya tanda bingung.
"Maksud ku, lelaki yang bersamamu saat masuk kesini" terang Mario.
"Oh.. jadi dia Daniel??"
"Iya.. kamu baru kenal juga??" Kini giliran Mario yang menautkan kedua alisnya.
"Iya.. tadi di depan"
Hening sesaat, Mario meneguk wine yang ada di tangannya diikuti oleh Diandra.
"Kamu cantik malam ini" ucap Mario dengan senyuman manis disertai dengan kedua lesung pipinya.
Mereka berdua berpandangan lalu kembali tersenyum dan mereka membuang pandangan.
"sepertinya aku harus pergi" Mario tiba tiba ingin beranjak karena merasa kikuk dengan obrolan mereka.
"Mau kemana??,, Aku ikut" Diandra juga ikut berdiri sambil kemudian menggapai tangan Mario .
"Jangan... Kamu di sini saja, atau sebaiknya kamu pulang" saran Mario kepada Diandra.
"Kenapa pulang?? Aku ingin mencari kesenangan disini, aku mohon.." pinta Diandra sedikit memohon kepada Mario.
Mario terdiam sejenak, menatap bola mata Diandra yang indah.
"Kesenangan seperti apa yang kamu cari Diandra???" Bola mata Mario mencari keyakinan pada wajah Diandra.
"Yang tidak ada dirumahku.."
"Maksud kamu??" Mario berusaha memahami ucapan Diandra.
"Ta.. tapi aku tidak bisa Diandra, aku sedang di jebak" ucapan Mario mulai bergetar, tubuhnya mulai panas, sejak minum minuman yang di berikan oleh Daniel Mario curiga ada yang tidak beres pada minuman itu.
__ADS_1
"Please..." Diandra kembali memohon.
"Kamu yakin???" tanya Mario dan di balas dengan anggukan kepala oleh Diandra.
"baiklah..Ikut aku .." Mario menarik tangan Diandra menuju sebuah tempat.
Sebuah kamar VVIP yang ada di club itu menjadi pilihan Mario dan Diandra untuk melakukan sesuatu yang lebih intim lagi.
Mario dan Diandra tidak sadar jika Minuman mereka berdua telah di berikan obat perangsang oleh Daniel yang membuat mereka tidak sabar menginginkan satu dengan yang lainnya.
Sesampainya di kamar, Mario yang sedang terbakar gelora jiwanya segera mengeksekusi Diandra, tidak ada keraguan diantara mereka untuk melakukan permainan panas karena efek dari obat perangsang tersebut.
Bibir Diandra dilumat kasar oleh mario dan Diandra pun tidak menolaknya, ciuman dalam yang dilakukan oleh Mario membuat gairah Diandra bertambah kuat menginginkan sentuhan yang lebih hangat dan kasar dari Mario.
"Apa ini yang kau inginkan Diandra???" Tanya Mario yang sudah ada diatas Diandra dengan nafas memburu.
"Aku sangat menginginkannya" Diandra sudah tentu tidak tahan menunggu lebih lama lagi, kali ini apa yang di inginkannya sudah bukan lagi harapan palsu seperti yang di lakukan oleh suaminya selama ini.
"Apa kau tidak menyesal, aku melakukannya bukan karena cinta Diandra"
"aku tidak peduli soal cinta mario, Cepatlah lakukan Mario, atau kau juga seorang pengecut??" Diandra mulai tersinggung dengan Mario.
Ucapan Diandra membuat Mario semakin yakin jika Diandra menginginkan dirinya malam ini dan begitupun Mario, dia sangat membutuhkan Diandra untuk melampiaskan hasrat nya yang sudah tidak terkendalikan lagi.
"kau sudah basah sayang...." Ucap Mario saat merab* bagian inti Diandra.
"Cepat lakukan.. akhhhhhh" ucap Diandra saat jari Mario masuk kedalam lob*ng kenikmatan Diandra.
Tampa berpikir lagi Mario melakukan apa yang di pinta oleh Diandra, karena dia juga sangat menginginkannya.
"Ukhhhhh...." Pekik Diandra saat Mario memasuki intinya, untuk pertama kali Diandra melakukannya hingga menyebabkan rasa sakit karena Mario melakukannya sedikit kasar.
"Wow.... Kau perawan baby.. akhhh" mario sedikit kaget mendapati teman kencan satu malamnya masih perawan, sangat jarang Mario mendapatkan teman bermain perawan, biasanya wanita yang suka keluyuran malam apa lagi main jlke club' sudah jelas barang PJ semua, itu yang ada di dalam pikiran Mario.
"Akhh... Sakit Mario.." erang Diandra sambil mencengkram bahu Mario.
"Iya sayang... Nanti juga bakalan enak" jawab Mario yang sudah mulai memompa pinggulnya pelan.
Benar saja beberapa detik kemudian rasa sakit berganti dengan rasa nikmat yang selama ini di impikan oleh Diandra,
"Ohh Mario.... Akh. Akh.. " pekik Diandra saat Maria memompa panggulnya lebih cepat lagi, hingga rasa nikmat ketika ingin mencapai puncaknya sudah Diandra dapatkan.
"Akhh ..." Erangan Mario juga tak kalah nyaring karena miliknya juga ingin mencapai puncak kenikmatan.
Akhirnya Mario dan Diandra menggelinjang tidak karuan setelah mengeluarkan cairan kental hangat yang membasahi rahim Diandra.
__ADS_1
Setelah selesai Mario segera mencabut miliknya, dan setetes darah mengalir di selah **** * Diandra yang menandakan diandra benar benar masih perawan, melihat itu Mario semakin semangat untuk melakukannya lagi dan Diandra pun tidak menolak, malam itu mereka habiskan entah beberapa kali permainan hingga Mario dan Diandra lelah.