Sementara Hilang Memori

Sementara Hilang Memori
9. Ketemu


__ADS_3

Taman kanak-kanak.


Berjalan keluar kelas, Natsya tersenyum senang menyapa teman-teman kecilnya yang baru.


"Sampai jumpa besok teman-teman."


Natsya yang pikirannya masih 5 tahun ingin ikut ke sekolah Naila, karena itulah Natsya sekarang berada di sini.


"Sampai besok Kak Natsya," ucap gadis-gadis dan cowok-cowok kecil melambaikan tangannya pada Natsya.


Beberapa orang tua yang sudah menunggu langsung membawa anak-anak mereka pulang.


Natsya dan Naila duduk di bangku taman sekolah menunggu Jiha menjemput mereka.


Tidak lama kemudian, Jiha datang.


"Maaf ya, kalian menunggu lama," ucap Jiha penuh penyesalan.


"Tidak kok. Kamu datang tepat waktu," ucap Natsya tidak ingin Jihan khawatir.


"Ayo pergi. Aku akan traktir kalian es krim."


Natsya dan Naila berteriak senang bisa makan es krim. Sambil bergandengan tangan ketiganya meninggalkan sekolah.


"Kakak, bisakah besok kita makan es krim lagi?" tanya Naila sambil menjilati es krim di tangannya.


"Tidak boleh. Kamu hanya bisa makan es krim sekali seminggu," ucap Jihan tidak setuju.


"Kamu berbicara seperti mommy tidak membiarkan aku makan es krim setiap hari," kata Natsya sedikit tidak bahagia tiba-tiba teringat mommy tidak pernah menemuinya hingga sekarang.


Jihan terdiam sejenak tidak tahu harus bagaimana. Natsya yang kehilangan ingatan hanya mengingat masa kecilnya.


"Momy kamu benar. Tidak baik makan es krim setiap hari. Nanti gigi kamu sakit." Jihan merasa Natsya tanpa ingatan jauh lebih baik daripada harus mengetahui kenangan yang menyakitkan bahwa ibunya sudah tiada.


Jihan segera mengalihkan perhatian, "Cepat habiskan es krim nya, nanti es krimnya mencair lo." Tidak ingin Natsya berpikir lebih banyak tentang ibunya.


Setibanya di lantai 3, Jiha berhenti sejenak melihat beberapa orang yang berdiri di depan rumahnya. Jihan merasa khawatir karena dukung dari mereka mengenakan seragam polisi.


"Ada apa, kenapa berhenti?" tanya Natsya tidak mengerti. Rumah mereka sudah hampir sampai, namun Jihan tiba-tiba saja berhenti.


Beberapa orang yang berdiri di depan pintu langsung berbalik saat mendengar suara itu.


Mereka melihat dua orang gadis dan anak kecil berdiri di depan tangga.


Mata Linda melebar terkejut melihat orang dicarinya selama ini tidak jauh di hadapannya.

__ADS_1


Linda memeluk Natsya dengan erat, "Akhirnya aku menemukanmu. Aku sangat khawatir sejak kamu menghilang begitu saja. Untungnya kamu baik-baik saja," ucap Linda berlinang air mata.


Natsya merasa tidak enak dipeluk oleh orang asing, dia berusaha melepaskan pelukan wanita itu dari dirinya.


"Tolong lepaskan. Kamu memelukku terlalu erat. Aku tidak bisa bernapas."


Linda segera melepaskan pelukannya mendengar perkataan Natsya sambil menghapus air matanya.


"Aku minta maaf, Sya. Karena kelalaian ku kamu jadi terluka. Ini pertama kalinya kami kembali setelah 3 tahun. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian begitu saja." Linda masih merasa bersalah atas hilangnya Natsya dan kecelakaan yang menimpanya.


Natsya menatap wanita bermata merah di depannya dengan bingung. Dia tidak mengenal wanita ini, kenapa dia bersikap sangat akrab.


"Kamu siapa? Apa kamu mengenal ku?" tanya Natsya ingin tahu.


Linda tercengang, syok mendengar pertanyaan Natsya.


"Kamu... " Linda menunjuk Natsya tidak dapat percaya.


"Jangan bercanda, deh. Aku tahu, aku salah. Tapi, kamu tidak seharusnya bersikap seperti ini kepadaku."


"Kita udah berteman sejak SMA. Masa kita nggak kenal?"


Jiha yang dari tadi hanya menonton menyela, " Maaf, Natsya tidak bermaksud seperti itu. Sebenarnya Natsya kehilangan ingatannya karena kecelakaan," jelasnya tidak ingin teman Natsya salah paham.


"Apa?" Linda bingung.


Tidak baik berbicara sambil berdiri di koridor. Apa lagi ada petugas polisi.


Jiha memimpin membuka pintu rumah dan mempersilakan para tamu masuk.


Jiha membiarkan mereka duduk sementara dirinya pergi ke dapur mengambil air minum.


Jiha mulai bercerita dan menjawab pertanyaan polisi setelah menyajikan air putih.


"Jadi Natsya sekarang hanya memiliki ingatkan berkisar usia 5 hingga 6 tahun," ucap Linda merangkum cerita Jiha.


"Begitulah kata dokter," balas Jiha.


"Artinya kita harus mencoba membatu Natsya mengembalikan ingatnya lagi."


Memegang tangan Natsya, Linda berkata, "Tenaga aja, Sya. Aku pasti bakal bantu kamu sampai semua ingatan kamu kembali."


Natsya tersenyum, "Em, makasih," ucapnya.


"Baiklah, karena orang yang dicari telah ditemukan. Kasus ini berakhir sampai di sini. Kami pamit permisi dulu," ucap Pak Polisi.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak, atas bantuannya." Ryan berdiri menjabat tangan Pak Polisi.


Linda juga mengucapkan terima kasih dan mengantar polisi keluar dengan Ryan.


Kembali ke ruang tamu, Linda duduk di samping Natsya.


"Apa yang harus dilakukan sekarang? Natsya hanya memiliki ingatan anak lima tahun. Natsya pernah cerita kalau dia tinggal di desa dan mengajar di sana. Sayangnya Natsya tidak mengatakan alamat dan nama desa tempat tinggalnya." Linda berbicara sambil menatap Natsya kasihan.


"Bagaimana dengan KTP atau tanda pengenal lainnya. Pasti ada alamatnya di situ," ucap Ryan.


Jiha menggelengkan kepalanya, "Semua barang-barang Natsya dirampok, termasuk KTP, ponsel, dan lainnya. Hanya tersisa kalung yang dia pakai di lehernya yang masih selamat dari perampokan itu," balas Jiha tidak yakin.


Linda menutupi wajahnya dengan kedua tangan frustrasi dan kecewa. Jika seperti ini, bagaimana mereka bisa membantu mengembalikan ingatan Natsya tanpa kartu identitas.


"Bisa perlihatkan kalungnya. Mungkin kita bisa cari tahu dari situ," saran Ryan.


Linda langsung menegakkan kembali tubuhnya mendapatkan sedikit harapan. "Natsya, bisa keluarkan kalung di lehermu?" pinta Linda.


Natsya menatap Linda sejenak, kemudian pada Ryan dan Jiha. Dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dan untuk apa mau melihat kalungnya. Tapi, dia merasakan mereka berdua tidak bermaksud jahat padanya.


"Ok. Tapi, hanya sebentar, kalian tidak boleh mengambilnya," ucapnya waspada.


Linda mengangguk, "Iya, sebentar saja. Kami hanya melihatnya, kok. Nggak bakal kami ambil," bujuk Linda.


Natsya melepaskan kait kalungnya, mengeluarkan dari balik pakaian, dan meletakkan di telapak tangannya.


Linda mengambil kalung itu dan menggantungnya di depan matanya. "Rantai kalung ini sepertinya terbuat dari emas putih. Ini... ini bukan liontin kalungnya. Ini cincin... " ucap Linda terkejut melihat cincin emas bertatahkan berlian sebagai liontin kalung itu.


Memegang cincin lebih dekat, Linda memperhatikan cincin itu sepertinya terbuat dari emas kuning, sebuah berlian merah muda berbentuk hati tergeletak di tengah dengan dua berlian bundar ungu lebih kecil di sampingnya.


"Ini bukannya cincin nikah, ya?!" kata Linda terkejut. Cincin ini sangat indah, harganya pasti mahal banget.


Jiha tidak terkejut Linda bisa mengenali cincin itu. Saat melihat cincin itu pertama kali, dia berpikir Natsya sudah menikah, bayi di perutnya punya ayah yang sah. Suami Natsya pasti akan mencarinya, tapi tidak tahu apakah suaminya Natsya bisa menemukannya di sini.


Ryan mendekat menatap cincin di tangan Linda, " Itu memang cincin nikah," ucapnya menguatkan perkataan Linda.


"Aku baru pertama liat model cincin kayak gini. Pasti di pesan khusus, deh," tambah Linda.


Linda tiba-tiba berbalik menatap Natsya tidak bisa percaya, "Sya, elo udah nikah? Kenapa elo nggak pernah bilang sama gue? Dan juga nggak ngundang gue ke pernikahan elo!" katanya benci dan kesal.


"Apa itu nikah?" Natsya menatap Linda polos bingung.


Linda langsung bersandar di kursi menepuk dahinya mendengar pertanyaan Natsya.


Ya ampun... Natsya sekarang hilang ingatan. Ngapain gue nanya ama dia! batin Linda.

__ADS_1


×××××


__ADS_2