
Di dalam kamar Natsya berbaring di atas tempat tidur dan seorang dokter sedang memeriksanya di samping. Sementara itu, Adler berdiri di samping sambil menatap Natsya dengan khawatir.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Adler pada dokter yang sedang memeriksa Natsya.
Dokter Fandi yang memeriksa Natsya berbalik menatap Adler terkejut. “Kamu bilang apa tadi? Aku nggak salah dengar, Kan?" tanya Fandi curiga.
”Apa?" Adler bertanya balik.
“Kamu bilang istri. Wanita ini?" Fandi berkata sambil menunjuk Natsya.
”Ya. Dia istriku," jawab Adler.
"Kapan kamu menikah? Kenapa nggak ada berita? Dan kamu nggak ngundang aku?" cerocos Fandi menatap Adler tidak bisa percaya.
Fandi merupakan teman sekelas Adler saat SMA dan keduanya tetap berteman hingga saat ini. Fandi sangat terkejut pohon besi ini akhirnya memiliki daun dan sedang berbunga. Sebentar lagi buah akan muncul dari bunga, buah hati pohon besi.
"Kenapa menatapku seperti itu? Aku meminta kami ke sini untuk memeriksa istriku. Bukan untuk menanyai ku!" kesal Adler.
Natsya yang berbaring di tampat tidur menatap dokter dan suaminya yang berdebat. Sepertinya mereka sangat akrab.
"Kamu ... ah sudahlah." Fandi tidak tahu harus berkata apa melihat Adler yang seperti ini. Dia pun kembali ke penampilannya yang profesional sebagai seorang dokter. "Istrimu baik-baik saja. Dia sedang hamil, jadi wajar jika dia muntah-muntah. Aku akan menyiapkan resep penguat janin untuknya," ucap Fandi sambil menulis di atas notebook.
Fandi merobek selembar kertas yang telah di tulisnya dan menyerahkannya kepada Adler. "Kamu bisa ke apotek untuk mengambil obatnya."
Adler menerima resep yang diberikan Fandi dan melirik nya. "Ok. Kamu bisa kembali. Aku sudah meminta sopir untuk mengantarmu," kata Adler.
"Hah, kamu ini nggak berperasaan ya. Habis pakai langsung dibuang. Setidaknya antar lah aku sampai ke depan pintu. Sekalian kita bisa bicara," ucap Fandi cemberut.
"Kamu bisa pergi sendiri. Aku mau menemani istriku," balas Adler.
"Kamu bisa pergi mengantar dokter. Tidak perlu menemaniku di sini," ucap Natsya pelan.
Adler menatap istrinya yang membujuknya mengantar dokter, melihat senyum menenangkan dari istrinya dia harus mengalah. "Baik. Kamu istirahat yang baik. Aku akan segera kembali." Adler lalu berbalik dan keluar dari kamar.
"Aku akan mengantarmu hingga ke depan pintu," ucap Adler saat berhasil menyusul Fandi.
Fandi yang sedang berjalan langsung berhenti mendengar suara Adler. Dia menatap Adler dengan heran. "Kamu serius? Ini pertama kalinya loh kamu begitu sopan padaku."
"Ini permintaan istirku," ucap Adler.
__ADS_1
"Oh, pantas saja. Sepertinya kamu sangat menyukai istrimu yang cantik sehingga kamu jadi penurut seperti ini."
"Coba ceritakan bagaimana kalian bertemu hingga akhirnya menikah?" tanya Fandi penasaran.
"Kamu tidak perlu tahu," jawab Adler.
"Astaga, kamu pelit! Bagi-bagi rahasia kenapa? Aku juga ingin menemukan pacar yang cantik."
Adler mengantar Fandi hingga ke depan pintu, melihatnya memasuki mobil dia pun kembali ke kamarnya.
×××××
Natsya mengalami morning sickness yang parah selama bulan itu membuat Adler merasa sangat khawatir dan cemas. Berat badan Natsya turun karena tidak nafsu makan. Semua makanan yang dimasukkan ke perut dimuntahkan semua.
Untungnya ada Najiha dan Naila yang menemani Natsya sehingga Adler bisa sedikit lega meninggalkan Natsya di rumah saat dia pergi ke perusahaan. Ingin rasanya dia terus berada di sisi istrinya, namun tidak bisa. Dia baru saja mengambil alih perusahaan dan masih banyak hal yang harus dia pelajari dan lakukan.
"Pergilah, nanti kamu telat," ucap Natsya pada suaminya yang masih memeluknya tanpa niat melepaskan.
Adler mengecup kening istrinya, lalu melepaskan pelukannya. "Baiklah, kamu baik-baik di rumah. Jika butuh sesuatu panggil bibi saja," pesan Adler masih khawatir.
"Iya. Aku tahu," anggul Natsya patuh.
"Baik. Ayo pergi. Rama sudah menunggumu sejak tadi."
"Ok. Kalau begitu kamu masuk."
Natsya menggelengkan kepala dan langsung berjalan masuk ke rumah. Belakangan ini suaminya sangat lengket, apa ini ada hubungannya dengan dede bayi? Pikir Natsya mengelus perutnya yang sudah tidak rata lagi.
Adler menghilangkan senyumnya melihat Natsya sudah tidak terlihat lagi. Dia pun berbalik menuju ke mobil dengan wajah pantang dan dingin.
Di depan istrinya Adler bisa terus memasang wajah ramah dan tersenyum, tapi di luar dia kembali menjadi Tuan Adler yang acuh tak acuh.
"Cepat sekali kamu membalikkan wajah. Tidak bisakah kamu tersenyum sedikit seperti tadi," goda Rama di kursi pengemudi.
"Diam. Ayo pergi," perintah Adler.
"Ok."
"Kamu undur semua jadwal ku besok menjadi lusa," kata Adler kemudian.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rama ingin tahu.
"Aku akan menemani istriku ke rumah sakit besok," jawab Adler.
×××
Duduk di sofa, Natsya membalik halaman buku parenting di tangannya. Beberapa hari ini Natsya sangat tertarik mempelajari parenting.
"Natsya, aku udah buatkan rujak mangga muda. Ayo kamu coba," kata Najiha sambil meletakan piring di atas meja dan duduk di samping Natsya.
Natsya menutup buku di pangkuannya dan mengambil seiris buah mangga dan mencelupkannya ke dalam saos.
"Emm, kecut sekali," gumam Nastya saat menggigit mangga.
"Kalau kamu nggak suka yang kecut, kamu coba yang ini. Yang ini mangga madu," kaya Najiha menunjuk potongan mangga di bagian kiri.
"Jangan hanya mehilatku makan sendiri. Kamu juga makan," pinta Natsya.
Jangan biarkan hanya dia yang merasakan rasa kecut itu, Najiha juga harus memakannya.
"Ok, aku bakal makan juga. Tapi, ingat ya kamu hanya boleh makan sedikit saja," pesan Najiha mengingatkan.
Nastya sudah sering makan mangga beberapa hari ini, dia tidak boleh makan banyak lagi.
Setelah makan rujak Natsya jalan-jalan di taman samping rumah bersama dengan Rindy.
"Besok setelah pemeriksaan kandungan gimana kalau kita ke pusat perbelanjaan. Aku ingin membeli beberapa perlengkapan bayi. Kamu mau ikut Natsya?" tanya Rindy duduk di kursi taman.
"Aku mau!" seru Natsya girang. Dia sudah bosan tinggal di rumah terus, dia juga ingin pergi keluar jalan-jalan.
Rindy terseyum geli melihat tingkah Natsya yang bahagia seperti anak kecil. Rindy tahu Natsya sangat ingin keluar dan bermain dengan bebas sesuai dengan psikologinya yang masih anak-anak saat ini. Dia merasa kasihan, kapan ingatan Natsya akan kembali. Sangat susah menjadi wanita hamil, apalagi dengan kondisi Natsya saat ini.
Untungnya Natsya memiliki Adler disisinya, Adler adalah suami dan ayah yang siaga. Rindy bisa melihat kasih sayang, perhatian, dan cinta Adler pada Natsya selama sebulan tinggal bersama. Adler yang seperti itu tidak pernah terlihat sebelumnya. Cinta benar-benar bisa merubah seseorang.
"Baiklah, kalau begitu kita berangkat ke rumah sakit bersma besok."
"Em. Aku akan memberitahu suamiku nanti," angguk Natsya.
×××××
__ADS_1