
Di sebuah lorong rumah sakit sekelompok orang berkumpul, raut wajah mereka tegang, cemas, dan sedih.
Bersandar di dinding pikiran Adler melayang. Di tengah rapat di perusahaan, Adler tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari papa Harial memintanya segera ke rumah sakit.
Adler segera menghentikan rapat dan menuju kantor presiden mengambil sesuatu, kemudian bergegas ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit dilihatnya papa menghibur kakek dan menenangkannya.
Merasakan kedatangannya kakek langsung tenang dan ingin berbicara dengannya sendirian.
Kakek bercerita tentang masa kecilnya, kemudian menyampaikan harapannya untuknya.
"Ad, Kakek tahu kamu memiliki pikiran dan kemauanmu sendiri. Kamu lebih kuat dan berbakat dari yang Kakek kira. Tapi Kakek harap kamu mau menerima dan melakukan keinginan terakhir Kakek."
Kakek Ansanay berbicara sangat pelan dan ringan. Adler harus membungkuk lebih dekat hingga dapat mendengar dengan jelas.
"Kakek sudah berbicara dengan pengacara dan menuliskan surat wasiat. Kakek memberikan semua saham perusahaan utama kepada kamu. Papamu, pamanmu, bibi, dan sepupumu tidak akan mendapatkan saham apa pun."
"Mereka Kakek berikan harta, rumah, mobil, dan saham dari perusahaan kecil yang tidak masuk dalam perusahaan utama. Sebenarnya Kakek sangat ingin melihat kamu menikah."
"Meski tidak dapat melihat kamu menikah. Kakek selalu mendoakan semoga kamu mendapat pasangan yang terbaik. Yang bisa merawat dan mencintaimu sepenuh hati."
Mata Adler merah mendengar ucapan kakek. Adler menyesal tidak memberitahukan tentang pernikahannya kepada kakeknya sebelumnya.
Adler menggenggam tangan kakek dengan kedua tangannya sambil sesekali menciumnya.
"Kakek. Kakek tidak perlu khawatir. Adler sudah mendapatkan pasangan yang terbaik. Adler minta maaf tidak mengundang kakek waktu itu."
Adler melepaskan tangan kakek dan mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna coklat dan hijau dari saku jasnya. Inilah yang tadi dia ambil di kantor.
"Kakek lihat ini." Adler membuka salah satu buku kecil dan membiarkan kakek melihatnya.
Kakek Ansanay mengulurkan tangan memegang buku itu mendekatkan ke wajahnya dan melihatnya dengan jelas dan hati-hati. Dia terkejut sekaligus senang melihat buku nikah di hadapannya. Kakek tersenyum sangat gembira.
Ini pertama kalinya Adler melihat kakek tersenyum sangat bahagia sejak dia mulai memasuki industri hiburan.
Kakek Ansanay meraba foto cucunya dan seorang wanita cantik terpasang di sana.
Sekarang dia bisa pergi dengan tenang cucu tersayangnya juga sudah menikah. Beban di hatinya berkurang sangat banyak.
Kakek dan Adler berbicara beberapa hal lagi. Kemudian, kakek mengembalikan buku kecil itu pada Adler.
Melihat putranya berdiri dari tadi, Harial maju dan menepuk pundaknya.
Adler tersadar dari lamunan merasakan pundaknya ditekan oleh seseorang. Adler melihat wajah papa Harial yang mencoba menyemangatinya.
"Kamu sudah lama berdiri. Duduk lah dulu."
Adler mengangguk dan mengikuti Harial duduk di kursi.
Di dalam bangsal dokter sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawa pasien yang sedang sekarat.
Waktu terus berlalu dan dokter akhirnya keluar.
Adler segera berdiri menghampiri dokter itu. “Bagaimana kakek saya Dokter?” tanyanya penuh khawatir.
Semua orang menegakkan tubuh mereka dan memandang ke arah dokter, menunggu jawaban dokter.
Wajah dokter terlihat khusyuk dan perlahan menggelengkan kepalanya.
“Kami sudah berusaha yang terbaik. Maaf, pasien telah meninggal pukul 21.05.” Dokter berkata perlahan.
"Saya turut berdukacita."
__ADS_1
Suara tangis langsung pecah di antara kerumunan.
Adler tertegun dan segera berlari memasuki ruangan. Beberapa anggota keluarga lain juga segera berlari mengikuti Adler ingin melihat Kakek Ansanay untuk yang terakhir kalinya.
Adler berdiri kaku menatap ranjang rumah sakit yang tertutup kain putih. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk terus mendekat dan membuka penutup kain. Adler mencoba mencerna dan menerima kenyataan di depan matanya.
Saudara-saudaranya yang lain sudah menangis sambil memeluk jenazah Kakek Ansanay. Tapi, Adler tetap tanang, matanya memerah dan air mata perlahan keluar, namun Adler memaksanya kembali.
Akhirnya papa Harial lah yang membuka kain itu dan Adler bisa melihat wajah Kakek Ansanay yang terbaring tenang, damai dan pucat.
Adler merasakan kakinya lemah. Dia berusaha mengangkat kakinya tetap kuat berjalan ke samping tempat tidur.
Adler membungkuk, melebarkan tangannya dan memeluk tubuh kakeknya yang sudah kaku.
Adler sekarang tahu kakek yang selama ini paling menyayanginya telah pergi sangat jauh.
×××××
Jiha dan Natsya baru saja kembali dari atap rumah sakit melewati sebuah bangsal yang terdengar sangat berisik. Natsya berhenti di depan bangsal dan mencoba melirik ke dalam.
"Jiha, kenapa di dalam sangat berisik? Sepertinya semua orang di dalam sedang menangis. Apa yang membuat mereka menangis?" Natsya bertanya pada Jiha penasaran. Dia bisa merasakan suasana yang sangat menyedihkan dan kehilangan yang luar biasa dari tangisan orang-orang di dalam.
"Sepertinya salah satu anggota keluarga mereka meninggal dunia, karena itu mereka menangis sangat sedih," jawab Jiha melihat ke dalam ruangan yang maksud Natsya.
Natsya memperhatikan seorang pria dengan kepala tertunduk duduk di kursi. Natsya merasa orang itulah yang paling sedih di antara semua orang di dalam.
"Ayo kita kembali. Sudah waktunya kamu tidur." Jiha menarik tangan Natsya meninggalkan tempat itu.
Saat Natsya mengalihkan pandangannya dan mengikuti Jiha. Pria yang di lihatnya tadi mengangkat kepalanya dan melihat bagian belakang punggung Natsya.
Adler merasa seseorang menatapnya tadi. Saat melihat ke luar dilihatnya dua orang yang baru saja lewat berjalan menjauh. Bagian belakang wanita bergaun rumah sakit itu membuatnya merasa akrab.
Setibanya di bangsal Natsya. Jiha meminta Natsya tidur. Dia tidak akan meninggalkannya, dia akan menemaninya malam ini.
Jiha sudah menitipkan adiknya Naila kepada tetangga. Jadi dia bisa menemani Natsya dengan tenang.
×××××
"Lukanya sudah baik-baik saja. Kamu sudah bisa pulang," kata dokter setelah memeriksa luka di belakang kepala Natsya.
Dokter berbalik melihat Jiha. "Jahitannya bisa di buka bulan depan. Kamu bisa membawanya ke rumah sakit saat itu untuk membuka jahitan dan pemeriksaan lebih lanjut." Nasihat dokter.
"Baik. Terima kasih Dokter." Jiha mengangguk paham.
Setelah kepergian dokter Jiha meminta Natsya mengganti pakaian dengan yang baru di belinya.
Natsya mengambil pakaian yang di serahkan Jiha dan mulai berganti pakaian.
Keduanya lalu meninggalkan rumah sakit bersama menggunakan taksi.
Jiha mampir membeli beberapa makanan ringan di supermarket terlebih dahulu. Kemudian membawa Natsya ke rumah tetangga untuk menjemput Naila.
"Bibi Nilam, ini Jiha. Bibi ada di rumah?" teriak Jiha sambil mengetuk pintu rumah Bibi Nilam.
"Iya, tunggu sebentar." terdengar teriakan balasan dari dalam.
Natsya menatap sekeliling ingin tahu.
Tempat tinggal Jiha berada di rumah susun di pinggiran kota. Rumah itu di tempati oleh 2 hingga 3 kepala keluarga setiap lantainya. Rumah Bibi Nilam berada di lantai 3 yang kebetulan juga di lantai itu Jiha tinggal.
Setelah beberapa saat pintu rumah terbuka, Bibi Nilam lah yang membukakan pintu.
"Eh, Jiha, sudah kembali."
__ADS_1
Bibi Nilam adalah seorang wanita berusia 40-an. Dia mengenakan daster dan rambutnya dibuat menjadi sanggul.
"Iya, Bibi. Saya di sini mau menjemput Naila." Jiha tersenyum sopan.
"Naila, Kakak mu Jiha datang menjemputmu." Bibi Nilam berteriak ke dalam rumah memanggil Naila.
"Ayo masuk dulu." Undang Bibi Nilam.
"Tidak usah, Bibi. Ini untuk Bibi." Jiha menolak dengan sopan, kemudian menyerahkan beberapa biskuit yang tadi dibelinya.
"Kenapa kamu repot-repot segala. Bibi kan sudah bilang bakal bantu kamu jagain Naila. Nggak usah ngasih begituan segala." Bibi Nilam berkata menolak dengan sopan.
"Tidak apa Bibi. Ini tidak merepotkan." Jiha bersikeras.
Bibi Nilam akhirnya menerima pemberian Jiha.
"Kakak Jiha." Naila langsung berteriak dan memeluk kakaknya melihat Jiha di depan pintu.
"Kalau begitu terima kasih, Bibi. Jiha akan bawa Naila kembali sekarang. Maaf telah merepotkan Bibi."
"Tidak apa-apa. Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa panggil Bibi kapan saja."
"Iya, makasih, Bi."
Jiha kemudian membawa Naila dan Natsya ke rumahnya yang tepat di sebelah rumah Bibi Nilam.
Berhenti di depan pintu Jiha teringat belum memperkenalkan mereka.
"Naila, kamu ingat ini Kakak Natsya."
"Natsya, ini Naila. Adik ku dan juga adikmu."
Natsya perlahan berjongkok memperhatikan Naila. "Hai Naila. Senang bertemu denganmu." Natsya mengulurkan tangannya di depan Naila.
"Halo. Kamu Natsya. Kakak ku yang lain?" Naila menatap Natsya ingin tahu.
Natsya mengangguk.
Naila kemudian mengangkat tangannya dan menjabat tangan Natsya.
"Kamu sangat cantik. Bisakah Naila secantik Kakak saat besar nanti?" tanya Naila kagum.
"Tentu saja. Kamu kan adikku." Natsya tersenyum menanggapi ucapan Naila.
Memasuki rumah, Jiha melepaskan sendalnya dan menuju ruang tamu meletakkan tas di tangannya di kursi.
Jiha berbalik dan melihat Natsya dan Naila yang saling memandang bingung di sana.
"Natsya, ayo masuk. Anggap aja rumah sendiri. Naila ajak Kak Natsya masuk," ucap Jiha mengingatkan.
Natsya mengangguk patuh mengikuti Naila membuka sepatunya, kemudian berjalan menuju Jiha.
Rumah Jiha tidak besar, tapi terlihat hangat, nyaman, rapi dan bersih. Mereka sekarang berada di ruang tamu. Selain itu, ada dua kamar tidur, dapur dan kamar mandi.
Jiha membawa Natsya ke kamar Naila.
"Kamu akan tidur di sini dulu." Jiha meletakkan tas berisi beberapa pakaian yang dibelinya untuk Natsya.
"Naila tidur di mana?" tanya Naila bingung karena Kakak yang sangat cantik harus tidur di kamarnya.
Jiha membungkuk memeluk Naila dan menggendongnya. "Kamu akan tidur dengan Kakak, oke."
Naila mengangguk patuh.
__ADS_1
"Kamu bisa melihat-lihat dulu. Aku akan menyiapkan makan siang." Jiha keluar dari kamar setelah mengucapkan itu.
×××××