
Hotel Luxury.
Di dalam aula berhias bunga-bunga yang indah dan deretan meja tamu tertata rapi dengan tamu undangan yang sedang menyaksikan pernikahan mewah dari pengantin yang duduk di kursi pelaminan.
Duduk di kursi tamu, Linda tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya. Hingga sekarang dia masih belum bisa menghubungi Natsya dan tidak tahu bagaimana kabarnya.
Hari ini adalah acara bahagia Krista dan Devin. Linda tidak ingin membuat Krista khawatir dan mengganggu acara pernikahannya. Bahkan hingga sekarang dia tidak berani berhadapan langsung dengan Krista.
Para tamu mulai pergi satu persatu membuat aula menjadi sepi. Linda melihat Krista dan Devin turun dari panggung dan mengikuti keduanya di belakang.
Di dalam kamar pengantin Krista mulai melepas gaun pernikahan dengan bantuan asisten. Linda masuk dan duduk di sofa tidak mengganggu Krista yang sedang berganti pakaian.
"Linda, Linda ...." Krista yang telah berganti pakaian menggoyangkan tangannya di depan wajah sahabatnya yang dari tadi tidak menanggapi panggilannya.
"Ah, kamu sudah berganti pakaian?" ucap Linda sedikit bingung tidak sadar kapan Krista sudah berdiri di depannya.
Duduk di samping Linda, krista menuangkan air untuk Linda.
"Minum dulu." Setelah Linda mengambil gelas yang diberikannya. Dia menuangkan air untuk dirinya lagi.
"Apa yang kami pikirkan hingga melamun seperti itu. Dari tadi aku perhatikan kamu tidak pernah fokus saat di acara pernikahan tadi. Dan sepertinya kamu menghindar dari ku." Krista bisa merasakan kelainan sahabatnya.
"Tidak ada. Aku cuma ke pikiran masalah kuliah," tukas Linda cepat tidak ingin Krista berpikir macam-macam.
"Jangan membohongiku. Pasti ada hubungannya dengan Natsya kan?"
"Bukankah aku sudah memberitahu kamu. Natsya sakit makanya tidak datang," ucap Linda mengelak dari pandangan Krista.
"Apa yang kamu sembunyikan. Aku tahu setiap kali kamu berbohong kamu tidak akan memandang mataku dan menjadi gugup."
"Apa yang kalian bicarakan?"
Devin yang baru selesai berurusan dengan beberapa hal melihat istri dan sahabatnya masih sibuk berbincang menghampiri.
Linda sedikit tenang melihat kedatangan Devin yang bisa mengalihkan perhatian Krista.
Krista yang masih ingin bertanya segera beralih menatap Devin dengan senyuman. Menarik tangan Devin duduk di sampingnya.
"Karena suami kamu sudah ada. Aku pamit pergi dulu. Kita bisa lanjutkan obrolannya kapan-kapan," kata Linda terburu-buru mengambil dompetnya dan bergegas keluar ruangan.
Melihat kepergian Linda yang tergesa-gesa Krista menjadi sedikit curiga.
"Apa menurutmu Linda menghindari sesuatu dariku. Aku bisa merasakan Linda menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin aku tahu."
Devin menarik Krista ke dalam pelukannya. "Kamu tidak boleh banyak berpikir sembarangan. Itu tidak baik untukmu dan bayinya. Linda pasti memiliki masalahnya sendiri dan tidak ingin merepotkan kamu," ucap Devin menghibur istrinya.
Itulah sebabnya Linda tidak menceritakan hilangnya Natsya kepada Krista. Karena Krista sedang hamil, jika Krista tahu pasti akan ke pikiran terus dan menyalahkan diri sendiri yang akan berakibat buruk bagi ibu dan bayinya.
Setelah keluar dari hotel Linda melihat sebuah mobil Range Rover hitam berhenti di depannya.
Jendela depan di turunkan dan Linda melihat wajah tampan pacarnya muncul di dalam mobil.
"Ayo masuk." Pria itu berkata sambil membukakan pintu mobil dari dalam untuk Linda.
__ADS_1
"Kenapa kamu di sini?" tanya Linda terkejut. Kemarin dia meminta pria itu menemaninya di pesta pernikahan Krista. Pria itu berkata tidak bisa karena perusahaan akan menyambut CEO baru.
Linda masuk ke mobil dan menunggu penjelasan pacarnya.
"Hari ini CEO baru pulang cepat dan kami tidak perlu bekerja lembur. Aku teringat kamu, jadi aku datang menjemputmu."
"Ada masalah apa?" tanya pria itu khawatir melihat wajah pacarnya terlihat pucat dan lelah.
Linda tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia tidak bisa memendam ini sendirian. Mungkin dengan bantuan orang lain Natsya bisa lebih cepat di temukan.
"Ryan, maukah kamu membantuku?" ucap Linda sambil meraih tangan Ryan.
"Katakan saja. Aku pasti akan membantu sebisaku." Ryan mengulurkan tangan satunya menjadi menggenggam tangan Linda dengan kedua tangannya.
"Kamu tahu kan. Kemarin teman aku Natsya baru saja tiba di sini. Aku tidak bisa menghubungi atau menemukannya di mana pun. Apa yang harus ku lakukan? Aku bingung harus gimana lagi." Linda mengeluarkan frustrasinya sejak kemarin kepada pria itu.
"Teman kamu hilang? Sudah kah kamu menghubungi polisi?" tanya Ryan.
Linda menggeleng sebagai tanggapan.
"Sebaiknya kita lapor polisi sekarang," usul Ryan
"Iya, aku hampir lupa. Cepat kita ke kantor polisi." Linda segera melepaskan tangannya dari genggaman Ryan menatapnya penuh antisipasi mendapatkan harapan bisa menemukan sahabatnya segera.
Ryan mengangguk, menyalakan mobil melaju ke arah kantor polisi.
×××××
Bersandar di dinding pembatas, Natsya dan Najiha melihat pemandangan dari lantai atas gedung rumah sakit.
Pancaran sinar matahari berwarna jingga menerpa awan menghasilkan pemandangan langit yang menakjubkan.
"Aku tidak menyangka bisa melihat Matahari terbenam yang sangat indah." Najiha menatap matahari di kejauhan penuh kekaguman.
"Iya, sangat indah." Natsya tersenyum membalas ucapan Najiha.
Natsya tersenyum hangat mengabadikan pemandangan yang cantik itu dengan ponsel yang baru di berikan Najiha
Setelah mengambil beberapa gambar, Natsya mengubah kamera belakang ponsel menjadi kamera depan ingin memotret dirinya sendiri.
Melihat gambar yang tercermin dari kamera ponsel, Natsya tercengang, kaget. Ponsel di tangannya langsung terjatuh.
"Ada apa Natsya?" Mendengar suara itu Najiha segera berbalik dan melihat Natsya yang berdiri diam dengan wajah berkerut.
Najiha segera menghampirinya dan memegang tangan Natsya yang tergantung di depan.
"Kamu kenapa? Katakan padaku?" tanya Najiha khawatir.
Natsya perlahan sadar dan menatap wajah khawatir Najiha. Dia bisa melihat bayangan wanita yang dilihatnya tadi tercermin di mata Najiha.
"Kakak Jiha, kenapa wajah aku berbeda? Apa yang terjadi pada Syasya? Mengapa wajah Syasya tidak sama?" Air mata mulai mengalir saat Natsya mengucapkan kalimat itu.
Ini pertama kalinya dia melihat wajahnya sejak bangun dan berada di rumah sakit, jadi Natsya terkejut melihat wajah berbeda yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
Najiha langsung memeluk Natsya melihatnya menangis sambil mengelus rambutnya menenangkan.
"Natsya jangan menangis. Kamu tidak apa-apa, kok. Wajahmu memang seperti ini. Tidak ada yang salah. Wajahmu sangat cantik tidakkah kamu melihatnya." Najiha berusaha menghibur.
"Tapi ... Syasya ... wajah Syasya tidak seperti ini sebelumnya?" Natsya sudah berhenti menangis. Dia tidak mengerti kenapa wajahnya bisa tiba-tiba berubah.
Najiha melepaskan pelukannya, menatap wajah Natsya dan memegang kedua tangannya. Najihaa berkata, "Natsya, sekarang kamu sudah dewasa. Ini wajah asli kamu yang sudah dewasa. Kamu lihat tubuhmu. Kamu sudah besar. Kamu lebih tinggi dari aku."
Mendengar itu, Natsya mulai melihat dirinya dengan cermat mulai dari bawah hingga atas.
Apa yang dikatakan Najiha ternyata benar. Tubuhnya benar-benar berubah. Ini bukan tubuh yang bisa dimiliki anak kecil. Ini tubuh orang dewasa.
"Tapi, Syasya kan baru berusia 5 tahun? Kenapa seperti ini?" tanya Natsya curiga. Ke mana perginya tubuh kecilnya yang imut?
"Aku akan jujur katakan kepadamu. Kamu harus percaya apa yang aku katakan. Oke?"
"En." Natsya mengangguk.
"Begini, kemarin kamu mengalami kecelakaan yang membuat kamu amnesia. Kamu sekarang berusia 22 tahun, bukan 5 tahun. Kamu sekarang sudah dewasa. Banyak hal dari masa lalu yang telah kamu lupakan. Karena itu kamu mungkin hanya ingat saat kamu baru berusia 5 tahun." Najiha menjelaskan dengan singkat.
"Jadi Syasya bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa. Aku hanya amnesia?"
"Iya." Najiha menarik napas dalam-dalam melihat Natsya mengerti. Najiha tidak tahu apakah memberitahu Natsya berita itu sekarang baik atau buruk.
Melihat perilaku Natsya sebelumnya Najiha memutuskan untuk memberitahunya. Jangan sampai karena penyembunyiannya malah mencelakakan Natsya.
"Natsya, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu. Kamu harus jaga diri baik-baik dan berhati-hati. Karena sekarang kamu bukan hanya satu orang sekarang. Ada hal lain yang sedang tumbuh bersama denganmu."
Natsya mengernyit tidak mengerti apa yang akan dikatakan Najiha. Apa yang tumbuh bersamanya?
"Kamu sedang hamil."
Natsya merasa telinganya meledak mendengar Najiha mengatakan kalimat terakhir.
"Kakak, apa yang kamu katakan? Apakah hamil itu orang yang perutnya besar dan ada bayi di dalamnya?" Natsya memiringkan kepalanya bertanya ragu-ragu.
"Begitulah."
Mendengar jawaban Najiha, Natsya cemberut menurunkan matanya melihat ke perutnya. Natsya mengangkat tangannya dan meletakkannya di perut bagian bawahnya yang masih rata.
"Kakak bilang perut Syasya nanti akan lebih besar," ucap Natsya mengusap perut bawahnya.
Natsya melepaskan tangannya dari perutnya tiba-tiba teringat sesuatu mengangkat kepalanya menatap Najiha.
"Apakah karena ini daddy dan mommy tidak datang ke Syasya? Mereka tidak menginginkan Syasya lagi."
Najiha yang cemas mendengar ucapan Natsya buru-buru menggelengkan kepalanya menyangkal ucapan Natsya barusan.
"Bukan seperti itu. Kamu dengarkan aku ...." Najiha mulai menceritakan beberapa masa lalu Natsya saat mereka baru pertama kali bertemu.
Matahari bergerak perlahan menghilang di ujung pandang. Langit berganti gelap gulita, tapi tidak menghalangi kecantikan pemandangan kota A yang semarak. Kilau lampu berwarna-warni sudah menyala satu demi satu malah menjadi lebih hidup.
×××××
__ADS_1