Sementara Hilang Memori

Sementara Hilang Memori
19. Hadiah


__ADS_3

Natsya tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Dia terlihat cantik mengenakan dress kuning angsa sebetis. Sepatu plat datar dengan warna senada menyelimuti kakinya.


Dari pantulan cermin Natsya melihat Adler sedang berpakaian. Natsya berdiri dari kursi menghampiri Adler dan mengambil dasi dari tangan Adler.


“Biar aku yang pakaikan," ucapnya mulai membantu Adler memasang dasi.


Natsya sering melihat mommynya memasangkan dasi pada daddynya dulu. Melihat Adler, Natsya juga ingin mencobanya.


Adler sedikit membungkuk membiarkan Natsya memasang dasi untuknya dengan lebih baik. Ini pertama kalinya Natsya membantunya memasang dasi.


Natsya mengangkat kepalanya setelah selesai mengikat dasi untuk Adler dan di saat itu kedua mata mereka bertemu. Dia bisa melihat pantulan dirinya dari mata Adler yang menatapnya dengan lembut.


”Selesai," kata Natsya mundur sedikit sambil menundukkan kepalanya menghilangkan kecanggungan.


“Terima kasih," ucap Adler sambil memperhatikan dasi di lehernya.


Natsya mengangkat kepalanya menatap Adler mendengar ucapan terima kasihnya. "Sama-sama," balasnya tersenyum.


”Kamu mau aku antar ke rumah teman kamu?" tawar Adler.


“Tapi kan, kamu harus pergi ke perusahaan?"


”Tidak masalah. Aku bisa mengantarmu dulu baru ke perusahaan," ucap Adler mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu hitam.


"Ini untukmu." Adler mengulurkan kartu itu ke depan Natsya.


"Apa ini?" tanya Natsya mengambil kartu itu.


"Ini kartu baru untukmu. Kamu bisa menggunakan ini untuk membeli apapun yang kamu mau," jelas Adler.


Adler telah meminta Rama untuk membuat kartu baru untuknya setelah mengetahui semua barang Natsya di ambil oleh perampok.


Mata Natsya berbinar mendengar itu. Dia tersenyum senang dan berterima kasih kepada Adler. Kemudian memasukkan kartu itu ke dalam dompetnya.


Keduanya lalu turun bersama.


"Adler, Adik Ipar, selamat pagi," sapa Arfan yang berpapasan dengan Adler dan Natsya ingin keluar rumah.


"Selamat pagi Kakak Ipar," balas Natsya.


"Mau ke perusahaan?" tanya Adler melihat Arfan berpakaian formal.


"Iya Kak," jawab Adler.


"Kalau begitu sekalian kita pergi bersama," ajak Adler.

__ADS_1


Adler tahu Arfan tidak pernah dianggap di rumah ini oleh paman dan bibinya sehingga dia sangat transparan tinggal di rumah ini. Bahkan untuk keluar dia tidak memiliki kendaraan sendiri, karena itu Adler menawarkan untuk mengantarnya.


"Tidak perlu Kakak. Aku bisa naik taksi online," tolak Arfan.


"Taksi online tidak bisa masuk ke sini," ucap Adler.


Arfan berpikir sejenak dan akhirnya setuju. Ketiganya lalu masuk ke dalam mobil Adler dimana sudah ada Nino duduk di kursi pengemudi menunggu mereka.


“Nino, kita ke kediaman keluarga Mahendra terlebih dahulu," pinta Adler.


"Baik, Pak." Angguk Nino mulai mengemudi.


Kediaman Mahendra cukup dekat dari kediaman Ridsyi, hanya butuh mengemudi 5 menit mobil sudah berhenti di depan rumah Mahendra.


"Aku turun dulu, sampai jumpa," pamit Natsya membuka pintu mobil.


”Baik. Kalau ada sesuatu kamu harus segera menghubungi aku. Mengerti?"


"Iya. Aku pasti akan menghubungi kamu," angguk Natsya turun dari mobil.


Natsya berjalan ke teras rumah, berhenti sejenak, dan berbalik ke arah mobil. Dia tersenyum seraya melambaikan tangannya. "Ayo pergi," ucapnya melihat Adler melalui jendela mobil.


"Jalan," ucap Adler menurunkan jendela mobil.


Berdiri di depan pintu, Natsya menekan bel yang terpasang di dinding dekat pintu. Tidak lama kemudian pintu di buka oleh seorang wanita berusia 30-an.


”Saya temannya Krista, Natsya. Krista ada di rumah?"


“Oh, Nona Natsya. Nona Krista dan Nona Linda ada di dalam sedang menunggu Nona Natsya. Mari saya antar." Wanita itu membuka pintu dengan lebar dan mempersilahkan Natsya masuk.


Natsya tersenyum dan masuk ke dalam. Wanita itu membawa Natsya ke ruang tamu.


"Natsya, kamu cepat sekali datang." Linda berdiri dari sofa mendekati Natsya dan menariknya duduk di sofa.


"Lama tidak bertemu Natsya. Kamu menjadi semakin cantik sekarang," sapa Krista tersenyum pada Natsya.


Natsya juga tersenyum melihat Krista. ”Kamu juga sangat cantik," puji Natsya.


Dia telah melihat foto-foto Krista yang diperlihatkan oleh Linda. Krista memang terlihat lebih cantik dari fotonya.


“Aku dengar dari Linda kalau kamu sudah menikah. Kenapa kamu tidak memberitahu aku sebelumnya?" tanya Krista.


”Maaf. Pernikahan kami sangat sederhana dan terburu-buru," jawab Natsya.


Inilah yang diceritakan Adler padanya. Mereka menikah secara tertutup, bahkan tidak memberitahu anggota keluarga.

__ADS_1


“Di hari pernikahan kamu aku tidak bisa datang. Maaf," ucap Natsya sedikit menyesal.


Linda dan Najiha telah memberitahunya apa yang terjadi sebelum dia kehilangan ingatannya. Meskipun dia masih belum bisa mengingatnya, Natsya tetap merasa harus meminta maaf pada Krista. Karena sebelumnya dia sudah berjanji untuk menghadiri pernikahannya.


”Tidak perlu meminta maaf seperti itu. Linda sudah memberitahuku kalau kamu sedang sakit hari itu."


“Aku sudah menyiapkan hadiah pernikahan untukmu," kata Natsya membuka tas tangannya dan mengeluarkan sebuah amplop putih.


”Ini untukmu. Sebenarnya suamiku yang menyiapkan ini mengetahui aku ingin memberi hadiah pernikahan untuk kamu. Meskipun terlambat, aku harap kamu akan menerimanya," kata Natsya meletakkan amplop itu di atas meja.


“Apa ini? Kenapa kamu repot-repot segala," kata Krista meraih amplop dan membukanya.


Krista terkejut melihat isi amplop itu. "Ini kan paket persalinan di rumah sakit utama kota. Lebih baik ini kamu gunakan sendiri. Kamu kamu kan juga sedang hamil," ujar Krista mengembalikan paket itu ke Natsya.


Krista tahu paket bersalin ini sangat mahal dan sangat susah didapatkan. Suami Natsya pasti sudah bersusah payah dan mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli paket ini.


”Kamu tidak menyukai hadiah ini?" tanya Natsya bingung melihat Krista ingin mengembalikan hadiahnya.


“Bukannya aku tidak menyukainya, tapi ini terlalu mahal."


”Jangan khawatir Krista. Kamu terima saja. Natsya tidak membutuhkan hal seperti itu. Rumah sakit utama kota adalah milik paman suami Natsya. Jadi jangan merasa terbebani," bujuk Linda.


"Apa maksud kamu Linda? Siapa suami Natsya?" tanya Krista heran.


"Ah, aku lupa memberitahu kamu kalau suami Natsya itu adalah presdir AR Grup yang baru," ungkap Linda.


"Apa?" seru Krista terkejut.


Di sisi lain.


Sebuah mobil hitam berhenti di pintu masuk perusahan AR Grup.


“Nino, kamu bawa Arfan ke toko 4S setelah selesai bekerja untuk memilih mobil dan tagihannya masukkan ke rekeningku," ucap Adler.


”Tidak perlu. Aku bisa membeli mobil sendiri. Tidak perlu merepotkan kamu," tolak Arfan.


“Hari ini adalah hari ulang tahunmu kan. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun dariku," ucap Adler kemudian keluar dari mobil.


Di dalam mobil, Asgar terdiam, sementara itu Nino diam-diam melajukan mobil meninggalkan AR Grup.


Jika Adler tidak mengatakannya dia akan lupa jika ternyata hari ini adalah hari ulang tahunnya. Mungkin hanya Adler saja yang akan mengingat hari ulang tahunnya saat ini. Kedua orang tuanya tidak pernah mengingat dan merayakan hari ulang tahunnya.


Mengucapkan selamat saja tidak pernah. Dia hanya bisa iri melihat anak-anak lain merayakan hari ulang tahun, mendapatkan ucapan selamat, dan hadiah ulang tahun.


Selama ini hanya Adler dan kakek yang selalu mengirimkan hadiah ulang tahun padanya. Di keluarga itu hanya Adler dan kakek yang menganggapnya sebagai keluarga. Kini kakek sudah pergi, dia pikir Adler akan berubah setelah kepergian kakek. Karena sebelumnya Adler sangat dingin dan mengabaikan orang. Dia pikir tidak ada lagi kakek yang mengekang Adler, maka Adler tidak perlu bersikap baik lagi padanya.

__ADS_1


×××××


__ADS_2