Sementara Hilang Memori

Sementara Hilang Memori
7. Petunjuk


__ADS_3

Saat Jiha memasak untuk makan siang, Natsya mengajak Naila untuk bermain.


“Kak Syasya mau main apa? Kita main boneka aja gimana? Naila akan tunjukin boneka-boneka Naila. Ayo!” Naila menarik tangan Natsya dan membawanya menuju kamarnya.


“Wah, boneka kamu bagus dan cantik ya!” seru Natsya melihat barusan boneka di atas tempat tidur dan lemari di kamar Naila.


Naila berlari ke tempat tidur dan mengambil boneka beruang besar berwarna merah muda.


“Ini boneka kesayangan aku. Boneka ini di berikan oleh papa, hadiah ulang tahunku yang ke 6,” ucap Naila membawa boneka itu ke depan Natsya.


“Aku juga punya boneka seperti itu, tapi warnanya coklat. Nanti aku kasi liat kamu juga boneka-boneka aku,” kata Natsya. Boneka beruang itu mengingatkan Natsya saat daddy mengajaknya ke mal hanya berdua. Dan daddy membelikannya boneka beruang yang sangat besar.


“Kalau gitu kita bisa main rumah-rumahan nanti. Boneka aku jadi ibu dan boneka kamu jadi papa,” celoteh Naila.


“Iya.”


“Ayo Kak Syasya pilih aja bonekanya, lalu kita main.”


“Aku mau yang kelinci itu,” tunjuk Natsya pada boneka kelinci sedang di atas lemari.


Keduanya kalau bermain boneka bersama hingga Jihan memanggil untuk makan siang.


Setelah makan siang Jiha harus pergi bekerja, tapi dia khawatir meninggalkan Natsya yang pikirannya seperti anak kecil bersama Naila yang merupakan anak kecil sebenarnya. Terlebih lagi dalam keadaan Natsya saat ini harus benar-benar di jaga.


“Kak Jiha kok belum berangkat kerja?” tanya Naila.


“Kakak mau berangkat kok. Cuman Kakak khawatir ninggalin kalian berdua di rumah,” ucap Jiha.


“Jiha jangan khawatir. Syasya bisa jaga diri kok. Syasya juga akan jaga Naila. Syasya udah biasa di tinggalin mommy kerja,” kata Natsya.


“Baiklah, kalau begitu kalian di rumah baik-baik, ya. Aku berangkat kerja dulu,” pamit Jiha.


Natsya menepati perkataannya menjaga Naila dengan baik. Saat Jiha pulang dengan membawa nasi bungkus, mereka makan malam bersama. Selesai makan malam Natsya mengantuk dan Jiha menyuruhnya untuk tidur di kamar.


×××××


Kediaman utama keluarga Ridsyi dipenuhi karangan bunga dan para pelayat yang datang melayat. Mereka turut berdukacita atas meninggalnya ketua AR Grup, mengucapkan kata-kata penghibur bagi keluarga yang ditinggalkan, melihat almarhum kakek Ansanay untuk yang terakhir kalinya, mendoakan almarhum, dan mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Kakek Ansanay adalah seorang tokoh publik yang sangat diidolakan, disegani, dihormati, dan disayangi oleh banyak orang di kalangan masyarakat.


Almarhum merupakan teladan dan kekaguman di hati orang-orang, sukses dalam bisnis, donatur yang sangat dermawan, dan sering membantu saat terjadi musibah bencana alam.


Mereka turut sedih atas kepergian beliau dan mendoakan semoga beliau tenang di alam sana dan semoga diterima di sisi Allah SWT.

__ADS_1


Acara pemakaman berlangsung tenang dan khidmat.


Adler sudah berjongkok di samping makam Kakek Ansanay selama satu jam sejak semua pelayat pergi.


Rama yang menunggu di dalam mobil dari tadi tidak tahan lagi keluar dari mobil menghampiri Adler.


"Hilman, sudah hampir malam. Ayo kembali. Kakek Ansanay pasti tidak ingin kamu bersedih seperti ini. Jika kamu menghawatirkan almarhum. Lebih baik jika kamu mendoakan beliau."


Rama menekuk tubuhnya menepuk pundak Hilman menasihati temannya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


Hilman perlahan berdiri, merapikan pakaiannya dan berbalik meninggalkan kuburan. Rama segera mengikuti di belakang Hilman.


Di dalam mobil Adler memeriksa surel di laptopnya.


"Bagaimana persiapan rapat eksekutif?" tanyanya masih tertuju pada laptop di depannya.


"Semua eksekutif sudah menerima undangan. Beberapa sudah tiba di Pearce hotel. Yang ada di negara lain sudah dalam perjalanan kembali dari luar negeri. Yang pasti semuanya akan tiba tepat waktu menghadiri rapat." Rama yang duduk di samping segera melaporkan.


"Kamu tidak perlu menjemput aku besok. Aku mungkin terlambat ke perusahaan. Kamu urus beberapa hal terlebih dahulu sebelum aku tiba di perusahaan." Adler menutup laptop di pangkuannya memberikannya pada Rama.


"Oke."


"Masalah pengunduran dirimu sebelumnya telah ditangani. Kamu benar-benar yakin tidak akan kembali?" Rama tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.


Tak akan ada lagi yang namanya aktor Hilman Ansanay. Karier Hilman hanya bisa sampai di sini. Sekarang hanya ada Adler Ridsyi, presdir AR Grup dan pemilik keluarga Ridsyi.


Hilman hanya memiliki akting dan penggemar dalam hidupnya. Dia bebas mengekspresikan dirinya. Tidak ada yang akan membatasi pilihannya. Dia bisa berakting menyembunyikan sifat asli atau membuat semua keinginan dan tindakan yang nyata yang ingin dia lakukan.


Adler memiliki tanggung jawab yang harus dipikul. Semua keputusan melibatkan perusahaan dan keluarga. Perilaku dan tindakan harus mencerminkan seorang pengusaha yang tegas dan dominan. Mampu membuat kemajuan dan kesuksesan di setiap langkah. Waktu adalah uang. Tidak akan ada waktu untuk kesenangan.


Adler maupun Hilman, mereka tetaplah orang yang sama. Hanya dirinya sendiri yang bisa mengambil keputusan apa yang akan dilakukan. Palsu atau nyata, kepribadian yang berbeda, mereka tataplah satu orang.


Masa depan masih panjang. Entah jalan yang ditempuh lurus, penuh tikungan, belokan dan tanjakan. Hanya diri sendiri yang akan melaluinya. Jika bisa buatlah jalan yang ingin kau tempuh terlebih dahulu.


~


Duduk di tempat tidur, Adler mengeluarkan ponsel dari sakunya memeriksa pesan dan panggilan masuk.


Semua pesan berisi ungkapan bela sungkawa dari keluarga, teman, dan kolega. Adler merasa kecewa tidak mendapat pesan atau panggilan dari dia.


Pesan terakhir hanya 3 hari yang lalu. Dia mungkin sibuk hingga tidak menghubunginya atau takut mengganggunya. Dia tahu istrinya bukanlah orang yang suka banyak bicara, dia sedikit tertutup, hanya mengungkapkan hal-hal yang penting saja, dan tidak ingin terlalu mencampuri urusan orang lain.


Adler meletakkan ponsel di atas lemari kecil dekat tempat tidur. Dia kemudian menaikkan kakinya ke tempat tidur, lalu bersandar menggunakan bantal.

__ADS_1


Adler memikirkan banyak hal yang terjadi belakangan ini.


Jam di dinding menunjukkan pukul 12 malam, namun dia masih tidak mengantuk sekarang.


Ingin rasanya dia bercerita, mengeluarkan keluh kesah di dalam hatinya. Se-andainya dia ada di sampingnya saat ini.


Adler pasti akan memeluknya dan dia akan menghiburnya seperti saat dia mengeluh karena tidak bisa melakukan pekerjaan pertanian dengan baik.


Mengingat istrinya, Adler perlahan tenang. Dia perlahan berbaring di tempat tidur. Masih banyak hal yang harus dia lakukan besok. Dia perlu istirahat yang baik agar bisa tatap bugar besok.


Setelah menyelesaikan semua masalah di sini dia pasti akan menjemputnya, membawanya ke rumah ini dan memperkenalkannya kepada semua orang.


××××××


Selama beberapa hari terakhir Linda sangat khawatir dan tidak bisa tidur memikirkan sahabatnya Natsya yang entah ada di mana. Di tengah kecemasan Linda akhirnya mendapatkan harapan, polisi menemukan petunjuk keberadaan sahabatnya. Melalui rekaman CCTV terlihat Natsya naik bus setelah meninggalkan restoran dan berhenti di pinggiran kota.


Melihat petunjuk itu, bukannya senang, Linda malah lebih sedih dan khawatir. Karena dia melihat Natsya dirampok dan dilarikan ke rumah sakit.


Linda dan Ryan sekarang sudah berada di depan rumah sakit bersama dengan polisi. Polisi sedang berbicara dengan petugas keamanan dan dokter rumah sakit.


"Semoga Natsya nggak kenapa-kenapa." Linda berdoa penuh harap.


"Kalau sampai Natsya kenapa-napa, gue nggak bakal bisa maaf in diri gue sendiri."


"Jangan banyak pikir. Teman kamu pasti baik-baik aja." Ryan mencoba menghibur Linda yang cemas.


Linda mengangguk tergesa-gesa, "Iya, Natsya pasti baik-baik aja."


Pak Polisi menghampiri Ryan dan Linda setelah berbicara dengan petugas keamanan dan dokter.


"Maaf Pak Ryan dan Bu Linda, menurut perkataan dokter, teman Anda sudah dipulangkan kemarin," jelas Pak Polisi.


"Siapa yang membawanya pulang? Apa dokter memberitahu?" tanya Linda cemas.


"Menurut keterangan adik perempuan bu Natsya yang membawanya pulang. Kami telah mendapatkan alamat rumahnya. Jika kalian mau, kalian bisa ikut dengan kami."


"Baik, Pak Polisi, cepat bawa kami ke sana." Linda berkata terburu-buru.


"Baik."


Mereka segera keluar dari rumah sakit dan menuju alamat yang diberitahukan oleh pihak rumah sakit.


×××××

__ADS_1


__ADS_2