Sementara Hilang Memori

Sementara Hilang Memori
13. Pertemuan


__ADS_3

“Ini pertama kalinya saudara-saudara kita berkumpul bersama. Bagaimana kalau kita minum sedikit?” kata Adrian membuka topik untuk mencairkan suasana.


“Benar. Aku hampir lupa. Aku sudah memesan anggur terbaik.” Asgar menanggapi sambil mengambil botol anggur dan membukanya.


Asgar menuangkan anggur ke dalam empat gelas kosong, kemudian membagikannya.


“Anggur yang bagus,” puji Adrian, lalu menghabiskan anggur di gelas.


“Rasanya ringan dengan aroma buah yang unik. Anggur ini juga cocok untuk wanita,” komentar Arfan yang dari tadi hanya diam saja.


Arfan suka mencicipi anggur dan tahu banyak tentang minuman seperti itu.


“Kakak kedua benar, tapi wanita di keluarga kita tidak boleh minum seperti ini,” balas Asgar.


“Kak Adler, cobalah, anggur ini tidak kuat. Aku tahu kamu hanya suka minum anggur yang ringan,” ucap Asgar meletakkan gelas anggur di depan Adler.


Adler mengambil gelas yang diberikan Asgar menggerakkannya perlahan. “Ada hal penting yang ingin aku beritahukan pada kalian,” katanya perlahan mencicipi anggur itu.


Adrian menatap Adler penuh minat menunggu hal penting apa yang dia maksud.


“Sebelum kepergian kakak, ia berpesan satu hal padaku yang harus aku penuhi. Tapi, kakek juga berkata jika aku tidak bisa memenuhinya, maka salah satu di antara kalian yang harus melakukannya.” Adler menatap ketiga sepupunya yang langsung menjadi serius mendengar perkataannya.


“Hal apa yang tidak bisa kamu lakukan sehingga harus melemparkannya pada kami?” tanya Adrian menyelidik.


Tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan Adler sebagai cucu kesayangan kakek dan pewaris AR grup. Tidak, sekarang dia kepala keluarga Ridsyi dan ketua AR grup. Kekuasaan yang dimilikinya bisa membuatnya melakukan apa saja.


Natsya bisa merasakan suasana tegang di dalam ruangan yang berbeda dari sebelumnya. Dia mengangkat kepalanya dan melirik orang-orang di ruangan itu melihat ke arah yang sama.


Mereka berempat menatap ke arah paman polisi dengan waspada, sementara itu paman polisi terlihat sangat tenang tanpa emosi apa pun di wajahnya. Sama seperti saat dia menginterogasi tersangka.


Melihat tatapan rasa ingin tahu saudara-saudaranya, Adler perlahan berkata: “Kakek punya permintaan terakhir yang di sampaikan padaku. Dan permintaan ini harus kita penuhi. Tidak masalah siapa yang bisa memenuhi permintaan ini. Yang jelas dia harus bertanggung jawab. Kakak juga memberikan beberapa harta dan properti untuk tugas ini.”

__ADS_1


”Aku rasa Kakak Pertama pasti akan menyukainya jika mendapat warisan tambahan,“ kata Adler melirik Adrian.


”Katakan dulu apa tugasnya. Baru aku akan memutuskan untuk mengambilnya atau tidak,“ jawab Adrian tenang. Dia tidak akan mudah terpancing oleh omongan Adler hanya karena dia menginginkan harta.


”Jika Kakak Pertama tidak tertarik. Maka hanya Kakak Kedua yang bisa melakukannya. Yang pasti Adik keempat tidak bisa,“ lanjut Adler melirik Arfan dan Asgar.


Semuanya diam-diam mendengarkan Adler berbicara.


”Kakek mempunyai janji lisan dengan seorang teman agar kedua keluarga menikah. Dan hal ini harus di penuhi. Aku sudah memeriksa keluarga itu. Ada dua wanita muda yang belum menikah dan usianya masih sangat muda. Yang tertua berusia 19 tahun dan yang kedua berusia 18 tahun. Saat ini keluarga itu sedang mengalami masalah dan perusahaan mereka terancam akan bangkrut.“ Adler akhirnya mengatakan yang sebenarnya.


Ternyata sebuah janji pernikahan. Asgar dan Rindi langsung tenang dan menyerah. Tidak ada kesempatan untuk Asgar dalam hal ini, karena dia sudah memiliki istri yang dia cintai.


Pantas saja Adler tidak bisa melakukannya karena dia juga sudah punya pacar.


”Aku menyerah. Aku tidak ingin dipaksa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Kenapa bukan kamu saja. Kamu bisa putus dengan pacarmu saat ini. Dia sepertinya terlihat bodoh,“ kata Adrian melirik Adler dan Natsya yang hanya duduk makan dari tadi.


Adler tidak senang mendengar ucapan Adrian yang mengatakan istrinya bodoh. ”Jaga ucapanmu Adrian. Jangan mengatakan hal seperti itu tentang istriku!“ Adler berkata marah.


”Pernikahanku bukan urusanmu!“


‘Bbanggk’


Pintu ruangan tiba-tiba terbuka yang langsung menghentikan suasana tegang dalam ruangan itu. Mereka langsung menoleh ke arah pintu dan melihat seorang wanita bersama gadis kecil dan manajer yang mengikuti di belakangnya berjalan masuk.


Natsya yang melihat Linda dan Naila segera berdiri dari kursinya dan berlari menghampiri mereka. ”Linda dan Naila juga ada di sini?“ tanya Natsya senang melihat keduanya.


”Natsya, akhirnya aku menemukanmu!“ teriak Linda dengan mata memerah langsung memeluk Natsya.


Adler dan yang lainnya dibuat bingung melihat ini.


”Aku pikir. Kamu akan menghilang seperti sebelumnya dan mengalami kecelakaan. Kamu tahu aku sangat takut. Takut kamu kenapa-napa.“ Linda berkata sambil menangis melampiaskan kekhawatirannya.

__ADS_1


Natsya mengangkat tangannya dan menepuk punggung Linda menenangkan. ”Linda jangan menangis. Syasya tidak hilang. Syasya baik-baik saja. Tadi Syasya bertemu Paman Polisi. Paman polisi sangat baik, dia mengajak Syasya makan makanan enak.“


Kini giliran Adler yang terkejut dengan apa yang dikatakan Natsya. Dia menyebutnya paman polisi?


Dan kenapa Natsya bertingkah seolah tidak mengenalinya?


Saudara-saudara Adler juga bingung. Adler mengatakan gadis itu adalah pacarnya bahkan istrinya. Tapi, gadis itu tidak mengenalnya, hanya menganggapnya sebagai paman polisi. Ada apa sebenarnya ini?


Linda akhirnya tenang dan berhenti menangis keluar dari pelukan Natsya. Dia lalu melihat ke arah Adler dan yang lainnya yang ada di ruangan itu.


”Aku tahu kalau kamu adalah artis terkenal. Tapi, kamu juga tidak bisa berbuat seenaknya memeluk sahabatku dan membawanya pergi begitu saja. Kamu tahu, kami berdua sampai panik mencarinya,“ teriak Linda pada Adler melampiaskan kemarahannya.


”Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti ini?” tanya Adler menunjuk Natsya.


“Apa sahabat mu itu bodoh?” selamat Adrian.


Linda memelototi Adrian dengan marah. “Kamu yang bodoh! Sahabatku tidak bodoh. Asal kamu tahu, ya. Sahabat ku selalu menjadi juara pertama di sekolah!” teriak Linda.


“Kalau begitu kenapa dia bertingkah seperti anak kecil?” balas Adrian.


“Sahabat ku mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya. Dia hanya mengingat saat dia berusia 5 tahun. Karena itu dia seperti ini. Tapi, aku yakin ingatannya pasti akan segera kembali!”


Adler mendekati Natsya dan memegang kedua bahunya. “Kamu tidak mengingat ku? Kamu tahu siapa aku?” tanya Adler ingin memastikan.


Natsya menatap Adler takut-takut. “Kamu paman polisi kan. Aku melihatmu bersama Jihan di TV kemarin malam,” jawab Natsya.


“Hahaha, Adler, sepertinya gadis ini adalah penggemarmu. Kamu berani berbohong hanya karena kamu tidak ingin melakukan permintaan terakhir kakek dan melemparkannya kepada ku. Kamu benar-benar keterlaluan Adler.” Adrian tertawa menyindir Adler.


“Diam Adrian! Aku bukan orang seperti kamu katakan. Nanti malam aku akan membawa Natsya ke rumah dan memperkenalkannya kepada semua orang. Kalian semua juga harus hadir,” ucap Adler melirik saudara-saudaranya.


Adler lalu menarik tangan Natsya berjalan keluar dari ruangan itu. Linda dan Naila segera mengikuti.

__ADS_1


×××××


__ADS_2