Sementara Hilang Memori

Sementara Hilang Memori
10. Sakit Kepala


__ADS_3

Di dalam ruang konferensi, Adler mendengarkan laporan para eksekutif perusahaan satu persatu dan sesekali memberikan pendapat.


Ini pertama kalinya Adler mengadakan rapat dengan para direktur dari berbagai perusahaan di mana kakek Ansanay memiliki 90 persen saham. Sekarang semua saham dalam perusahaan-perusahaan itu berada atas namanya.


Ini juga pertama kalinya para direktur berkumpul bersama dipimpin oleh ketua baru. Saat kepemimpinan ketua lama, mereka hanya mengadakan konferensi video. Beberapa direktur mendukung kepemimpinan Adler, beberapa menolak, dan beberapa netral.


Yang menolak merasa Adler masih muda dan pertama kali memasuki perusahaan, mereka tidak tahu kalau selama ini ketua sebelumnya selalu memberikan semua informasi perusahaan kepada Adler. Apalagi sebelumnya Adler bekerja sebagai aktor di industri hiburan menyebabkan mereka tidak puas.


"Saya tahu beberapa dari kalian tidak setuju saya sebagai ketua AR Grup dan pemegang saham terbesar dari perusahaan kalian," ucap Hilman berhenti sejenak melirik beberapa direktur yang berwajah cemberut.


Adler berbicara kembali tidak melanjutkan topik sebelumnya, "Saya telah mendengar semua laporan dari kalian tentang perkembangan perusahaan yang kalian kelola. Saya tidak akan mengambil alih perusahaan-perusahaan itu. Saya hanya ingin fokus mengurus masalah AR Grup. Jadi, kalian bisa tetap menjadi pemimpin di perusahaan masing-masing."


Sebelum para eksekutif itu berpendapat Adler memotong terlebih dahulu.


"Jika kalian tidak mau, silakan mengundurkan diri dan saya akan memberikan 1 persen saham sebagai kompensasi. Jika tidak terima dan membuat keributan, saya akan menunggu Anda di pengadilan."


Adler tahu mereka tidak akan puas dengannya, karena itu dia mengatakan hal tersebut. Tidak ingin terlibat dengan mereka panjang lebar.


"Oke. Sampai di sini pertemuan kita hari ini. Saya sudah menyiapkan jamuan khusus untuk kalian semua. Saya permisi dulu." katanya, lalu berdiri keluar dari ruang konferensi.


Rama yang bertindak sebagai sekretaris segera berdiri, memberi hormat kepada para direktur dan segera mengikuti Adler.


"Huh, sungguh anak muda jaman sekarang tidak ada hormatnya dengan orang yang lebih tua." Sindir seorang direktur pria paruh baya berkepala botak yang tidak puas dengan sikap Adler.


"Dia seenaknya meminta kita mematuhi perintahnya. Memangnya apa yang bisa dia perbuat, heh? Kita lihat saja nanti bagaimana dia bisa memimpin AR Grup yang sangat besar," tambah direktur lain.


"Benar-benar merasa sangat tinggi dan angkuh. Memangnya dia pikir mengelola perusahaan itu gampang. Hanya sekedar akting." Direktur yang satunya tidak mau kalah.


"Ayo pergi. Bukankah ada jamuan spesial yang disiapkan untuk kita." Salah satu direktur mengubah topik.


"Pergi. Jangan lewatkan kesempatan yang baik seperti itu," kata direktur botak.


×××


Keluar dari lift, Adler langsung menuju tempat parkir.


"Kamu yakin nggak mau hadir di jamuan itu?" tanya Rama mengikuti di samping Adler.

__ADS_1


"Em, langsung pulang saja," jawab Adler.


"Kamu nggak bawa sopir? Ke mana Nino?" Duduk di kursi co-pilot Rama melihat Adler ingin tahu.


Baru kali ini dia tidak melihat Nino mengawal Adler di hari kerja.


"Aku meminta Nino menyelidiki sesuatu. Mau ikut ke rumah atau gue antar pulang?" Adler mengalihkan pembicaraan tidak ingin Rama bertanya lebih banyak.


"Nggak usah, turunin gue di mal depan aja."


"Ok."


Tidak lama kemudian Adler menghentikan mobil depan pintu mal.


"Thanks, tumpangannya," kata Rama melambaikan tangan ke Adler."


"Bye," balas Adler.


Setibanya di rumah, Adler keluar dari mobil dan memberikan kunci mobil pada petugas keamanan.


Adler tidak mendengar telepon itu, karena sejak memasuki ruang konferensi dia mematikan ponselnya, tidak ingin terganggu saat rapat.


Adler langsung menghubungi Nino, "Halo. Bagaimana?"


Nino adalah pengawal sekaligus sopir Adler. Dialah yang dimintanya untuk menyelidiki keberadaan istrinya.


Adler kecewa mendengar laporan Nino, istrinya masih belum kembali sejak pergi terakhir kali.


Ke mana kamu? Kenapa tidak pernah mengabariku?


"Baik. Coba selidiki teman yang akan dikunjunginya." Adler memberikan beberapa petunjuk untuk penyelidikan lebih lanjut.


"Jika ada berita apapun segera hubungi aku," pinta Adler.


Adler khawatir dan bingung mencari keberadaan istrinya, sementara orang yang dicarinya sedang duduk di sofa menonton televisi.


"Kenapa diganti? Aku masih ingin melihat kartun itu. Cepat ganti kembali Jiha!" teriak Natsya tidak puas Jiha tiba-tiba memindahkan saluran televisi.

__ADS_1


"Tidak. Drama yang aku kejar akan tayang sebentar lagi. Aku sudah menunggunya selama seminggu," balas Jiha menolak.


Natsya cemberut, "Humh, sudahlah biarkan saja. Aku mengasihanimu karena menunggu begitu lama."


Jiha tersenyum gemas, "Terima kasih Nona muda," ucapnya menggoda.


Setelah bergaul selama beberapa hari ini, Jiha sudah tahu kalau Natsya yang berpikiran lima tahun memiliki temperamen manja dan suka dipanggil nona muda. Sangat berbeda dengan Natsya yang dikenalnya dulu saat datang bersama ibunya dan tinggal bersama mereka.


Drama yang dikejar Jiha bercerita tentang seorang pria yang bekerja sebagai polisi khusus. Pria itu memilih jadi polisi untuk menyelidiki penyebab kematian orang tuanya yang sebenarnya. Pria itu bekerja keras untuk memecahkan kasus-kasus yang ada dan ternyata beberapa kasus tersebut berkaitan dengan kematian orang tua kandungnya.


"Ah!!! Akhirnya aku bisa melihat idolaku lagi," teriak Jiha kegirangan melihat drama di mana aktor pria kesukaannya berperan sudah dimulai.


"Sayang sekali kenapa Hilman harus mundur dari industri hiburan saat ini. Sedih banget, deh, nggak bisa ngeliat Hilman lagi nanti." Protes Jiha sedikit sedih aktor kesukaannya Hilman Ansanay tidak akan berakting lagi.


Tentu saja Hilman Ansanay keluar dari industri hiburan karena dia sekarang adalah Adler Ridsyi, ketua baru AR Grup. Adler sangat sibuk mengambil alih perusahaan dan tidak punya waktu untuk mengurus masalah hiburan. Jadi dia dengan tegas memilih meninggalkan kebebasannya sebagai Hilman dan memenuhi janji terakhir pada kakeknya.


Natsya bingung melihat Jiha yang bertingkah aneh, teriak-teriak, dan seakan mau menangis, tapi matanya tidak pernah teralih kan dari tv.


Natsya geleng-geleng kepala mengalihkan perhatian pada layar televisi.


Natsya terkejut melihat wajah tampan pria di tv. Pria itu sangat tampan, bahkan lebih tampan dari daddy dan kakaknya.


Menatap lebih lama kepalanya tiba-tiba terasa sedikit sakit. Natsya memegangi kepalanya tidak enak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar menampakkan dirinya, namun tidak bisa.


Jiha yang fokus menonton tidak melihat keanehan Natsya yang saat ini sudah membenamkan kepalanya di sofa sembari menutupinya dengan bantal kecil.


Setelah beberapa saat sakit kepalanya menjadi lebih baik dan Natsya sudah tenang. Natsya melihat Jiha yang terlalu fokus pada TV, dia berjalan perlahan ke kamar tidak ingin mengganggu Jiha.


Berbaring di atas tempat tidur Natsya menatap platform langit-langit kamar mengulang tayangan drama tadi. Kenapa kepalanya tiba-tiba sakit? Apa sebenarnya yang telah dia lupakan?


Setahunya dia masih kecil dan sudah bersekolah di taman kanak-kanak. Tapi, kenapa tubuhnya sekarang menjadi tubuh orang dewasa?


Ke mana daddy, mommy, dan kakak? Kenapa mereka tidak pernah datang mencari Syasya? Apa mereka tidak menyayangi Syasya lagi? Apa karena Syasya seperti ini, jadi mereka tidak mau bertemu Syasya?


Syasya sepertinya sangat ingin dipeluk dan dihibur, Syasya ingin bersandar di dada seseorang saat sedih, tapi Syasya tidak tahu siapa orang itu?


×××××

__ADS_1


__ADS_2