Sementara Hilang Memori

Sementara Hilang Memori
8. Pembacaan Surat Wasiat


__ADS_3

Sisi lain, rumah keluarga Ridsyi.


Seluruh keluarga Ridsyi saat ini berkumpul di ruang tamu mendengarkan pengacara membacakan surat wasiat


Kakek Ansanay hanya memiliki dua orang anak, anak pertama ialah Harial dan anak kedua yaitu Herman. Dari keduanya terdapat empat cucu.


Cucu pertama bernama Adrian Ridsyi putra pertama dari Herman dengan istrinya, Selena. Cucu kedua bernama Arfan Ridsyi putra kedua Herman dengan seorang selebriti yang bersamanya satu malam karena mabuk. Cucu ketiga adalah Adler Hilman Ansanay Ridsyi putra satu-satunya Harial. Nama Adler yang lebih panjang dari semua cucu diambil sendiri oleh kakek Ansanay. Cucu keempat ialah Asgar Ridsyi putra ketiga Herman dari Selena.


"Sebelum membacakan surat wasiat ini, ada yang ingin saya beritahukan terlebih dahulu." Pengacara berkata sambil melirik anggota keluarga Ridsyi 11 yang ada di depannya.


"Almarhum bapak Ansanay sebelumnya berpesan bahwa 5% dari hartanya akan disumbangkan ke panti asuhan, masjid, dan sekolah. Beliau menitipkan ini pada ahli waris utama agar dapat dilaksanakan dengan baik," terang pengacara melanjutkan.


Semua anggota keluarga mengangguk setuju.


Pengacara kemudian membuka berkas ditangannya dan mulai membacakan isi surat wasiat.


"Total aset yang dimiliki almarhum senilai 350 triliun rupiah yang di dalamnya termasuk perusahaan AR Company Grup, perkebunan kelapa sawit, tambang batu bara, beberapa saham dari berbagai perusahaan yang tidak termasuk dalam AR Company Grup, sebuah pulau, realestat berupa beberapa rumah dan apartemen yang tersebar di berbagai daerah pusat kota, 20 unit mobil dari beberapa merek, .... Semua saham perusahaan AR Grup, perkebunan, tambang, pulau, dan rumah utama diberikan kepada pewaris utama yaitu Adler Hilman Ansanay Ridsyi."


"Apa ini? kenapa semua warisan jatuh ke tangannya? Adrian adalah cucu pertama seharusnya Adrian yang mewarisi perusahaan!" Selena, istri Herman dan ibu Adrian berteriak tidak puas mendengar hasil bacaan pengacara.


"Juga Herman dan Harial merupakan anak kandungnya. Mengapa perusahaan tidak di serahkan kepada mereka? Kenapa langsung pada Adler?" tambah Selena tidak habis pikir dengan keputusan itu.


Herman, Adrian, dan Asgar mengerutkan kening, kesal, dan tidak setuju dengan keputusan kakek. Tidak ada yang berbicara untuk menghentikan Selena. Mereka juga menginginkan penjelasan pengacara.


Harial menggelengkan kepala melihat sikap keluarga adiknya. Sejak dulu ayah telah merencanakan semua ini dan tidak menyembunyikan dari mereka. Kenapa baru sekarang mereka mengeluh tidak dapat menerima.


Adler yang mendapatkan semua warisan hanya duduk diam tanpa mengubah postur atau wajahnya. Dia sudah tahu pasti akan seperti ini.


Pengacara memperbaiki kacamatanya dan melirik orang-orang yang duduk satu-persatu.


"Hal-hal yang saya bacakan merupakan keputusan dari almarhum yang sudah bulat dan di bagi rata, kecuali bagian yang diberikan kepada Pak Adler." Pengacara menjawab dengan tenang dan tegas.


“Nggak bisa gitu dong! Dia hanya seorang aktor, bagaimana dia bisa mengerti masalah perusahaan? Menjalankan perusahaan bukanlah sebuah permainan peran, salah sedikit bisa sangat berbahaya. Bisakah perusahaan besar AR Grup tetap bertahan di tangannya?” cecar Selena.


"Harap tenang! Biarkan saya melanjutkan pembacaan wasiat hingga selesai. Dan biar saya beritahu, Pak Adler telah menjadi penasihat utama AR Grup sejak 6 tahun lalu. Jadi, Anda tidak perlu khawatir AR Grup akan bangkrut,” sela Pak Pengacara. Kemudian melanjutkan pembacaan surat wasiat.


Harial dan Herman mendapatkan sejumlah uang tunai sebesar 5 miliar serta sebuah rumah mewah. Selena selaku istri Herman mendapat tunjangan 2 miliar rupiah, saham 5% dari sebuah perusahaan kecantikan, sebuah rumah mewah, dan beberapa perhiasan.


Adrian sebagai cucu tertua telah memasuki perusahaan AR Grup sejak lulus kuliah. Tapi, hanya di cabang perusahaan bukan di markas. Adrian telah mengelola hotel dengan baik selama bertahun-tahun, karena itu kakek memutuskan memberikan saham hotel tersebut kepada Adrian. Selain itu, Adrian juga mendapat uang tunai 1 miliar dan sebuah rumah.


Arfan, cucu kedua memiliki masalah pada kakinya dan tidak mau terlibat dalam perusahaan. Arfan memiliki suara yang bagus dan sering menulis lagu untuk menghabiskan hari-harinya karena tidak bekerja.

__ADS_1


Sesekali Arfan akan memberikan lagu yang ditulisnya ke adik tirinya dari ibunya yang bekerja sebagai penyanyi. Dari situ Arfan mulai bekerja sebagai penulis lagu dan pengisi suara.


Karena pekerjaan cucunya dibidang musik, kakek memberikan 50% saham di perusahaan hiburan setelah berdiskusi dengan Adler. 50% sisanya adalah milik Adler yang juga berkecimpung di industri hiburan. Dan ini berlaku setelah surat wasiat dibacakan.


Sama seperti Adrian, Arfan juga mendapatkan uang tunai 1 miliar rupiah dan sebuah rumah.


Sementara itu, Asgar, cucu termuda yang telah menikah selama setahun. Istrinya bernama Rindi Yudisa. Pacarnya sejak kuliah dan juga merupakan putri keluarga kaya. Saat ini Rindi sedang hamil 7 bulan.


Sama seperti kedua saudaranya, Asgar juga mendapatkan saham sebuah perusahaan, uang 1 miliar, dan sebuah rumah. Adapun Rindi istrinya mendapatkan tunjangan 1 miliar, sebuah rumah, dan beberapa perhiasan. Ini agar Rindi dapat melahirkan dan merawat cicitnya dengan baik.


Setelah pembacaan surat wasiat selesai, Selena masih ingin memprotes, tapi dihentikan oleh suaminya. Akhirnya mereka menandatangani surat penyerahan warisan dan menerima bagian yang mereka dapatkan.


Selena berjalan pergi lebih dulu di ikuti oleh Herman. Harial mengucapkan beberapa kata kepada putranya dan pergi juga. Tinggal saudara-saudara mereka di ruangan itu.


"Selamat atas kepemimpinan kamu. Aku harap kamu tidak akan mengecewakan keinginan kakek. Jika tidak, aku pasti akan berusaha merebutnya darimu."


Adrian lah yang memecah kesunyian terlebih dahulu, menatap Adler menahan iri dan sedikit marah.


Adler membalas Adrian dengan senyuman, "Tentu saja."


"Saudara ketiga selamat. Bagaimana kalau kita merayakan hal ini? Ayo makan malam bersama," ajak Asgar.


Adler mengangguk setuju, "Baiklah, kamu bisa atur waktu dan tempatnya." Lagi pula ada hal penting yang harus dibicarakan dengan mereka.


"Oke. Aku bakal kirim ke grup nanti. Kakak kedua juga harus datang," kata Asgar tersenyum ke arah Arfan.


Arfan terdiam sejenak, lalu mengangguk.


Kelimanya kemudian meninggalkan ruang tamu.


Di tangga, Adler berhenti sejenak dan berbicara dengan Arfan yang ada di belakangnya.


"Ikut aku ke ruang kerja. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan kamu."


"Ok." Arfan menanggapi dan mengikuti Adler ke ruang kerja.


Adler mengeluarkan berkas dari laci dan meletakkannya di atas meja kopi di depan Arfan yang duduk di sofa.


"Aku ingin kamu mengambil alih Star Entertainment sebagai CEO," ucap Adler duduk di samping Arfan.


Star Entertainment adalah perusahaan hiburan tempat Adler bekerja sebelumnya. Adler pemilik utama perusahaan itu, kemarin dia memberikan 10%kepada Rama dan 50% baru saja tiba ditangan Arfan, sekarang hanya ada 40% di tangannya.

__ADS_1


Arfan melirik Adler penuh tanya, "Bukankah Star Entertainment memiliki CEO? Dan juga aku bekerja di perusahaan berlawanan."


"Perusahaan membutuhkan CEO baru soalnya CEO lama sudah habis masa kontraknya. Kamu juga salah satu pemegang saham terbesar sekarang. Aku pikir kamu sangat cocok. Tidakkah kamu ingin punya perusahaan juga?"


Adler tahu dengan jelas pikiran saudara-saudaranya termasuk Arfan yang merasa minder karena statusnya sebagai anak haram.


"Tenang saja. Ini tidak gratis. Aku akan memberimu 10 persen dari saham milikku di Star Entertainment. Bagaimana?"


Arfan mengambil berkas di atas meja dan membaliknya.


Tawaran Adler memang sangat menggiurkan untuk dirinya yang bukan siapa-siapa di rumah ini. Dengan bekerja di sana setidaknya dia bisa sedikit sejajar dengan saudara-saudara lainnya yang telah bekerja di perusahaan besar.


Apa lagi perusahaan itu juga terbilang miliknya. Jika dia tidak bisa mengurus perusahaan dengan baik, Adler pasti akan membantunya.


"Oke. Aku setuju," ucap Arfan menandatangani namanya di atas dokumen.


"Senang bekerja sama." Adler mengulurkan tangganya di depan Arfan.


Arfan mengangguk menjabat tangan Adler.


Setelah Arfan keluar, Adler melihat ponselnya.


Selama beberapa hari terakhir Adler terlalu sibuk hingga tidak sempat memperhatikan berita dari istri barunya. Setelah mengurus beberapa hal lagi dia akan segera membawanya bertemu papa dan keluarga.


Adler mengerutkan kening karena masih tidak ada pesan atau telepon darinya. Bahkan pesan yang terakhir dia kirim belum terbaca. Adler mencoba menelepon sekali lagi.


'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif'


Hanya suara operator yang terdengar.


Adler menatap ponselnya kesal. Ada apa ini? Kenapa tidak bisa di hubungi?


Apa terjadi sesuatu? Dia juga tidak memberitahu di mana rumah temannya yang menikah itu. Dengan begitu dia bisa langsung mencarinya ke sana.


Mungkin kah dia telah kembali ke kampung halamannya?


Sebaiknya aku cari tahu ke sana dulu.


Adler segera menghubungi pengawalnya, "Halo. Saya ingin kamu mencari seseorang. Akan saya kirimkan alamat dan fotonya."


×××××

__ADS_1


__ADS_2