
Di depan sebuah bangunan mansion yang megah empat orang keluar dari mobil mewah dan berjalan masuk ke mansion.
“Ini rumah daddy?" tanya gadis kecil berusia 5 tahun menatap mansion di depannya dengan takjub.
”Iya. Mulai sekarang kita semua akan tinggal di sini. Syasya suka?" Pria itu membungkuk, memeluk putrinya, dan menggendongnya.
Gadis kecil itu adalah Natsya kecil dan dia bersama orang tua dan saudaranya.
Gadis kecil itu mengulurkan tangannya memeluk leher daddynya. “Syasya suka. Rumah ini sangat-sangat besar dan sangaaat cantik,” ucap Natsya.
“Dad, dia bukan bayi lagi. Kenapa Daddy harus menggendongnya,” protes lelaki kecil berambut coklat menatap Natsya dengan cemburu.
“Nico mau mommy gendong juga?” ucap wanita cantik di samping pria itu menatap putranya dengan lembut.
“Tidak. Nico udah besar. Nanti Mommy capek,” tolak Nico meskipun sebenarnya dia sangat ingin.
Daddy Natsya berjongkok di depan Nico dan mengulurkan salah satu tangannya yang bebas. “Ayo, Nico. Biar Daddy menggendong kalian berdua,” ajaknya.
Nico tersenyum dan langung menghampiri daddynya. Setelah memeluk kedua anaknya dengan baik, pria itu berdiri dan berjalan masuk ke mansion. Wanita itu juga mengikuti dengan senyuman di wajahnya.
Adegan beralih ke sebuah koridor.
“Dasar wanita penggoda! Kamu hanya tahu untuk menggoda pria. Kalau bekerja tidak pernah becus!" bentak seorang wanita paruh baya sambil mendorong mommy Natsya.
”Mommy!" seru Natsya kecil berlari menghampiri mommynya.
“Mommy tidak apa-apa kan?" tanya gadis kecil itu memegang lengan mommynya.
Mommy Natsya tersenyum pada putrinya. ”Mommy baik-baik saja sayang,“ ucapnya tidak ingin putri kecilnya khawatir.
Natsya berbalik menatap wanita paruh baya itu dengan cemberut dan marah. ”Kenapa Nenek mendorong Mommy? Mommy salah apa?"
“Heh, dasar bocah kurang ajar. Beraninya kamu berbicara seperti itu denganku! Kamu pikir kamu siapa memanggilku seperti itu? Kamu hanya anak tidak sah dari putraku. Jangan pernah berpikir aku akan menganggapmu sebagai cucuku hanya karena kamu tinggal di rumah ini!" teriak wanita paruh baya itu.
Mata Natsya melebar menatap nenek di depannya tidak bisa percaya. Matanya mulai berkaca-kaca ingin mengeluarkan air mata, namun tertahan.
Mommy Natsya buru-buru memeluk putrinya dan menghiburnya. ”Sayang, jangan dengarkan ucapan Nenek ya. Nenek hanya bercanda, kok.“
”Oh, jadi seperti ini kamu mengajari anakmu. Asal kamu tahu ya, putraku sudah memiliki calon istri. Sebentar lagi kamu dan kedua anakmu itu akan ditinggalkan. Dan kalian semua harus keluar dari rumah ini,“ imbuh wanita itu.
Sebuah cahaya melintas dan adegan berpindah lagi.
__ADS_1
”Wajah Mommy kenapa? Kok, merah dan bengkak seperti itu?" tanya Natsya kecil khawatir.
“Tidak apa sayang. Mommy tidak sengaja terbentur,” jawab mommy Natsya.
“Mommy tunggu sebentar biar Syasya obati,” ucapnya berlari ke lemari dan mengambil obat.
“Biar mommy yang obati sendiri. Syasya pergi saja bermain,” ucap Mommy Natsya mengambil kotak obat dari tangan putrinya.
“Mommy .... apa nenek memukul Mommy lagi?"
”Tidak Sayang.“
”Mommy bohong. Syasya tahu nenek selalu memarahi dan memukul Mommy. Nenek bahkan juga melakukannya sama Syasya,“ ucap gadis kecil itu menggulung lengan bajunya memperlihatkan memar di lengan kecilnya yang putih.
”Ya, ampun! Bagaimana kamu bisa terluka sayang? Kenapa kamu tidak memberitahu Mommy?" Mommy Natsya segera memegang lengan putrinya dan melihat luka di lengannya.
Satu persatu adegan berubah seperti memutar sebuah film.
Adler berjalan ke tempat tidur ingin membangunkan Natsya untuk makan malam terkejut melihat air mata yang membasahi wajah tidur Natsya.
“Sayang ada apa? Kenapa kamu menangis?" Adler berlutut di samping tempat tidur dan mengulurkan tangannya mengusap air mata di wajah Natsya.
Saat Adler menyentuh wajah Natsya dia melihat mata Natsya perlahan terbuka dan air mata semakin berjatuhan.
Setelah beberapa saat Natsya berhenti menangis dan melepaskan pelukannya, lalu duduk.
Adler juga duduk di samping Natsya. ”Kamu bermimpi apa hingga menangis seperti tadi?" tanya Adler.
Natsya menatap Adler dan mengamatinya dengan hati-hati. “Kamu benar-benar suamiku kan? Kita punya surat nikah? Keluarga kamu setuju dengan pernikahan kita?" tanyanya pelan.
”Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan ini? Apa kamu ingat sesuatu?" tanya Adler sedikit berharap.
“Kenapa kamu tidak menjawab Syasya? Jangan-jangan kamu hanya menipu Syasya,” ucap Natsya sedih.
Mendengar nada suara istrinya harapan Adler sedikit surut. Dia pun tenang, berbalik dan membuka laci lemari kecil di samping tempat tidur.
“Lihatlah ini.” Adler menyerahkan buku nikahnya ke tangan Natsya. “Ini adalah bukti kalau kita pasangan suami istri yang sah,” ucapnya membuka buku itu dan memperlihatkan bagian foto keduanya.
Natsya menatap buku itu dengan seksama dan perasaan tenang sekaligus lega muncul di hatinya.
“Jika mengenai keluargaku. Maka, aku akan membiarkan mereka bertemu denganmu besok. Aku akan memberitahu semuanya kalau kamu adalah istriku,” tambah Adler.
__ADS_1
“Mereka tidak akan marah atau memukul Syasya kan?” tanyanya hati-hati.
Adler memeluk Natsya dari belakang. “Mereka tidak akan berani. Ada aku bersamamu. Jika ada yang berani melawanmu, maka kamu harus segera memberitahu aku. Aku akan mengurus mereka untukmu,” ucap Adler berusaha menenangkan istrinya.
Sepertinya dia bermimpi buruk hingga membuatnya merasa tidak aman seperti ini. Apa yang sebenarnya yang dia impikan sehingga menjadi seperti ini?
“Aku tahu. Di depan kamu mereka akan baik padaku. Tapi, jika kamu tidak ada, apa mereka akan memperlakukan aku dengan buruk?" ujar Natsya bersandar di pelukan Adler.
”Kamu jangan khawatir. Meskipun aku tidak ada mereka juga tidak akan berani. Kamu adalah tuan di rumah ini. Kehadiranmu sama sepertiku,“ ucap Adler.
”Kamu tahu aku bermimpi,“ ucap Natsya.
”Mimpi hanya bunga tidur. Tidak perlu di ambil hati,“ bujuk Adler tidak ingin Natsya terlarut dalam mimpinya.
”Aku tahu ini bukan sekedar mimpi. Ini adalah ingatan aku sebelumnya. Kejadian-kejadian masa lalu yang terjadi dalam hidupku,“ ungkap Natsya mengenang mimpinya.
”Benarkah? Sampai mana kamu ingat sekarang?" tanya Adler tidak terburu-buru.
Meskipun dia sangat ingin tahu tentang masa lalu istrinya, tapi dia tidak ingin memaksanya.
Natsya menggelengkan kepalanya tidak tahu pasti sampai mana dia ingat.
“Apakah kamu akan meninggalkanku juga?" tanyanya khawatir.
Adler memegang kedua bahu Natsya dan membalikkannya menghadap dirinya, membuat mereka saling bertatapan. ”Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Kamu istriku. Selamanya kita akan bersama sampai maut memisahkan,“ teguhnya.
”Sungguh?“
”Aku berjanji!"
“Aku mempercayaimu. Aku hanya takut akan ada variabel lain yang akan membuatku harus berpisah denganmu. Sama seperti mommy yang terpaksa meninggalkan daddy. Aku tidak ingin seperti mereka,” ungkap Natsya mengeluarkan kekhawatirannya setelah memimpikan masa lalunya.
Adler meraih kedua tangan Natsya dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. “Natsya, apapun yang terjadi kita akan tetap bersama. Jika seperti yang kamu katakan. Maka aku akan mencarimu sampai aku menemukanmu. Sama seperti kali ini, aku akan mencarimu sampai kamu kembali ada bersamaku. Tapi, aku berharap hal seperti itu tidak akan pernah terjadi.”
Natsya sedikit tenang mendengar ucapan Adler dan melihat tatapan matanya yang tulus dan serius. Entah kenapa semua yang dikatakan Adler membuat hatinya yang gelisah menjadi tenang. Dia sepertinya begitu mempercayai pria ini. Pria yang berstatus sebagai suaminya.
Setelah mengalami mimpi masa kecilnya ingatan Natsya kembali sedikit. Dia telah mengingat hingga perpisahan kedua orangtuanya dimana mommynya harus kembali ke negara asalnya bersama dia. Kembali ini keduanya tidak di sambut oleh keluarga kelahiran mommynya.
Dia sudah mengingat hingga masa sekolah dasarnya. Masa di mana dia sering di ejek karena tidak memiliki ayah.
Dia punya ayah, ayah yang sangat tampan dan kaya. Tapi, ayahnya melupakannya dan mommynya.
__ADS_1
❖❖❖