
Di dalam ruang kerja.
Pak Harial dan Pak Herman duduk di sofa menatap Adler ingin tahu apa yang ingin dia bicarakan sehingga memanggil mereka ke ruang kerja.
“Papa, Paman, Adler memanggil kalian kemari untuk memberitahukan pesan terakhir kakek sebelum meninggal," ucap Adler memulai pembicaraan.
”Papa masih punya pesan terakhir? Bukankah pengacara sudah memberitahukan semua isi surat wasiat papa sebelumnya?" tanya Pak Herman bingung.
"Pesan ini hanya diberitahukan kepadaku sebelumnya," ucap Adler.
"Pesan apa?" tanya Pak Harial.
"Sebuah janji lisan pernikahan dengan teman lama kakek sebelumnya. Kakek ingin janji itu di penuhi," ungkap Adler.
“Sungguh, ada hal seperti itu? Kenapa papa tidak pernah memberitahukan sebelumnya?" kata Pak Herman mengerutkan kening.
”Itu karena janji ini sudah sangat lama. Kakek tiba-tiba teringat janji ini dan mengetahui kalau keluarga teman kakek sedang dalam masalah. Kakek ingin dengan pernikahan ini keluarga kita bisa membantunya," jelas Adler.
Adler telah menyelidiki keluarga teman lama kakek sebelumnya. Dan dia tahu kalau perusahan keluarga itu sedang mengalami masalah keuangan dan terancam bangkrut.
“Hanya Adrian dan Arfan yang belum menikah di keluarga kita. Siapa di antara keduanya yang akan mau dijodohkan seperti ini?" ucap Pak Harial menatap adiknya selalu orang tua kedua anak itu.
”Papa dan Paman tidak perlu khawatir mengenai siapa yang akan menikah. Aku sudah memberitahu hal ini pada mereka. Adrian tidak setuju, jadi hanya Arfan yang bisa melakukannya.“
”Adler hanya berharap Paman bisa membujuk bibi untuk tidak membuat masalah nantinya. Aku tahu bibi sangat tidak menyukai Arfan. Tapi, Arfan tetap anggota keluarga ini," lanjut Adler menatap pamannya.
“Kamu tenang saja. Paman pasti akan membujuk bibimu. Arfan juga anak Paman. Paman tidak mungkin mengabaikan kejadian seumur hidupnya," angguk Pak Herman.
”Adler berencana melamar keluarga itu minggu depan. Jika Paman mau, Paman bisa pergi bersamaku," ucap Adler.
Adler tahu paman dan bibinya pasti tidak akan mau pergi melamar wanita itu untuk Arfan. Karena itu dia lah yang akan pergi sendiri selaku pemimpin keluarga.
Pak Herman tersenyum kecut. “Kamu tahu bagaimana bibimu. Paman pasti tidak akan bisa pergi. Paman hanya bisa merepotkan kamu untuk melakukan hal ini. Kamu tenang saja, Paman pasti akan menambahkan hadiah pernikahan untuk Arfan," ucap Pak Herman.
”Oh, ya, Paman. Sebaiknya Paman lebih memperhatikan Adrian. Adler rasa Adrian menyembunyikan sesuatu," timpal Adler mengingat perilaku Adrian di restoran waktu itu.
__ADS_1
“Ah, ya. Paman pasti akan memperhatikan Adrian. Adrian lebih tua dari kalian semua, tapi masih belum memiliki pasangan. Sudah saatnya Adrian juga mulai sebuah keluarga," setuju Pak Herman.
×××××
"Tok ... tok ... tok ...."
“Nyonya, ada teman Nyonya di bawah sedang menunggu Nyonya," teriak pelayan sambil mengetuk pintu.
Natsya berjalan membuka pintu. "Temanku? Siapa?" tanya Natsya pada pelayan setelah membuka pintu.
”Katanya namanya Linda, Nyonya," jawab pelayan itu.
“Linda. Aku akan menemuinya. Ya, kamu bisa bawakan minuman dan kudapan utnuk temanku," pinta Natsya.
”Baik, Nyonya."
Natsya pergi ke lantai bawa sangat senang Linda datang mengunjunginya.
"Linda," seru Natsya tersenyum melihat Linda menghampiri Linda dan memegang tangannya.
"Bagaimana kabarmu tinggal di rumah ini? Apakah mereka memperlakukan kamu dengan baik?“ tanya Linda khawatir.
Linda khawatir Natsya akan di tindas di rumah ini oleh anggota keluarga Adler. Natsya hanya gadis biasa dari desa, apalagi sekarang dia kehilangan ingatan, tidak bisa melawan mereka.
Linda pernah bertemu Bu Selena beberapa kali dan dia tahu betul Bu Selena itu sangat angkuh dan sombong. Suka pamer kekayaan dan menghina orang lain yang lebih rendah darinya.
Bagaimana kalau Bu Selena memperlakukan Natsya dengan buruk?
”Em. Keluarga Adler sangat baik padaku," angguk Natsya mengingat perlakuan yang lainnya padanya selama tinggal di sini baik-baik saja.
Papa Adler sangat menyukainya, begitu juga dengan paman dan saudara-saudara Adler. Mereka sangat baik padanya. Hanya bibi Selena yang sering menatapnya dengan tidak enak, tapi bibi Selena tidak pernah melakukan apa-apa padanya.
Perlakuan keluarga ini padanya sangat jauh lebih baik dari pada perlakuan yang di dapatkan mommnya yang dia ingat. Mommy diperlakukan sangat buruk oleh keluarga daddy. Seandainya saja keluarga daddy bisa sama dengan keluarga Adler, mommy dan dia pasti tidak akan berpisah dari daddy dan kakak.
“Nyonya, Bu, silahkan di minum tehnya," kata pelayan yang datang menyajikan teh dan kudapan sesuai perintah Natsya.
__ADS_1
”Ayo Linda di minum. Kamu pasti haus menungguku dan berbicara denganku di sini," ucap Natsya.
“Ya, kebetulan aku memang haus. Masih ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Aku harus melembabkan tenggorokanku dulu." Linda mengambil cangkir teh, meniupnya pelan, dan meneguknya perlahan.
Keduanya lalu berbicara banyak hal. Natsya juga mengajak Linda berkeliling melihat tempat tinggal barunya. Linda menemani Natsya sepanjang siang hingga dan kembali pada sore hari.
×××××
Di malam hari.
”Kamu terlihat sengat senang hari ini. Ada apa?" Adler duduk di atas tempat tidur menarik Natsya ke dalam pelukannya.
“Aku sangat senang bertemu Linda hari ini. Dia datang berkunjung dan Linda menceritakan banyak hal saat kita masih SMA. Meski aku masih tidak bisa mengingatnya, mendengar cerita Linda membuatku bisa membayangkannya. Pasti sangat menyenangkan," terang Natsya bersandar di dada Adler sambil bermain dengan jemarinya.
"Kalau kamu suka, kamu bisa sering-sering meminta Linda datang ke sini," ucap Adler membiarkan Natsya bermain dengan jarinya.
”Ya. Linda mengajakku untuk bertemu dengan temannya yang katanya adalah temanku juga saat SMA. Kami adalah sahabat. Bolehkah aku pergi besok?" tanya Natsya bangun dari pelukan Adler dan menatapnya.
“Perlu aku temani?" tawar Adler.
Natsya menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku tahu kamu sangat sibuk. Ada Linda beramaku, kamu tidak perlu khawatir."
”Baiklah. Kalau begitu tidurlah sekarang agar kamu bisa segar besok," bujuk Adler.
“Em," gumam Natsya dan berbaring di tempat tidur.
Adler mematikan lampu dan berbaring di samping Natsya. Natsya berbalik menganghadap Adler dan mengurukan tangannya untuk memeluknya. Sejak tinggal di rumah ini bersama Adler, Natsya mengembangkan kebiasaan untuk memeluk Adler sebelum tidur.
Adler tersenyum dan juga memeluk Natsya. Dia menyukai Natsya yang seperti ini. Berbicara terus terang mengungkapkan isi hatinya dan bergantung padanya. Itu artinya Natsya sudah mempercayainya sepenuhnya.
Tidak seperti sebelumnya di mana Natsya menyembunyikan banyak hal darinya. Meskipun keduanya telah menikah, saling menyukai, dan sangat dekat. Adler tahu Natsya masih sedikit terasing dan tidak pernah mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya. Natsya masih sedikit waspada terhadapnya. Dia tahu mereka mengenal terlalu singkat dan langsung menikah, jadi wajar Natsya masih tertutup padanya.
Dia hanya berharap setelah Natsya memulihkan ingatannya dia akan tetap seperti ini padanya. Natsya yang riang dan suka tersenyum, bukan Natsya yang dingin dan terasing.
×××××
__ADS_1