Sementara Hilang Memori

Sementara Hilang Memori
17. Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Di sebuah ruang tamu.


"Kenapa tiba-tiba Adler meminta kita semua makan malam bersama?" tanya


Selena melihat semua orang yang duduk di sofa. Bahkan si anak haram itu juga datang.


Selena tidak senang melihat Arfan, anak haram suaminya yang selalu mengingatkannya kalau suaminya pernah selingkuh.


”Kak Adler ingin memberitahukan hal yang sangat penting kepada kalian. Jadi Kak Adler memanggil semuanya ke rumah ini," ucap Asgar.


“Hal penting apa? Dia sudah memberitahu kamu?" tanya Selena menatap putra bungsunya dan melihatnya terdiam. Tidak mau menjawabnya.


”Kenapa tidak kami beritahu saja lebih dulu,“ kata Selena penasaran.


”Kita tunggu sajalah. Kalian juga akan tahu sendiri nanti,“ ucap Asgar tidak ingin membocorkan.


”Apakah Kakak Ipar tahu apa yang ingin di beritahukan Adler?" Selena menatap Pak Harial tidak menyerah mencoba mencaritahu.


“Tunggu saja Adler datang,” ucap Pak Harial.


Pak Harial tahu apa yang ingin diberitahukan putranya sehingga meminta merek semua berkumpul di dini. Adler telah berbicara dengannya kemarin dan menceritakan semuanya. Dia tidak pernah menyangka putranya akan melakukan hal seperti itu di belakang mereka.


Dia benar-benar gagal menjadi ayah untuk putranya, sehingga Adler akan menyembunyikan pernikahannya dari dirinya.


"Tap ... tap ... tap ...." terdengar suara langkah kaki.


Semua orang menoleh ke asal suara yang berasal dari tangga dan menatap wanita yang dipegang oleh Adler.


"Siapa wanita ini Adler?" tanya Pak Herman memecah kesunyian.


Adler membantu Natsya duduk, lalu duduk sendiri di sampingnya.


Adler menatap semua orang yang ada di ruang tamu itu satu persatu dan perlahan berbicara. "Wanita ini adalah istriku, Natsya. Aku memanggil kalian semua untuk memperkenalkannya pada kalian."


"Apa? Kapan kamu menikah?" tanya Pak Herman bingung sambil menatap wanita asing di samping Adler.


"Kami menikah lebih dari satu bulan yang lalu. Mulai sekarang Natsya akan menjadi nyonya rumah ini. Aku harap kalian semua akan menerimanya," lanjut Adler.


"Putri keluarga mana dia? Kenapa aku tidak pernah melihatnya sebelumnya?" tanya Selena. Wanita secantik Natsya pasti akan sangat terkenal di kalangan atas. Kenapa dia tidak pernah mendengar ada wanita seperti itu?


"Natsya seorang yatim piatu. Tidak ada keluarga di belakangnya. Tapi, dia punya aku. Aku harap kalian akan memperlakukannya dengan baik," ucap Adler.


"Hah? Hanya seorang yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya kamu meminta kami untuk menghormatinya. Tidak mungkin," tolak Selena.


"Jika ada yang berani tidak menghormati istriku. Maka, silahkan pergi dari rumah ini," ancam Adler.

__ADS_1


"Kamu terlalu berlebihan. Kamu mengusir ku dari rumahku sendiri?" ucap Selena tidak percaya.


"Rumahmu? Semua bagian dari bukit berada dalam namaku. Aku berhak mengusir siapa pun yang aku inginkan," kecam Adler.


"Kamu— emm—"


Herman buru-buru menutup mulut istrinya tidak ingin membuat Adler marah.


"Bibumu hanya bercanda. Tentu saja kita akan menganggap istrimu sebvai keluarga sendiri dan memperlakukannya dengan baik," ucap Pak Herman.


Selena memelototi suaminya dan menarik tangan suaminya yang menutupi mulutnya.


"Huh," dengus Selena pada Pak Herman.


"Selamat Kakak dan Kakak Ipar. Aku dan Rindi tidak sempat mengucapkan selamat sebelumnya. Kami telah menyiapkan hadiah pernikahan untuk kalian berdua," ucap Asgar seraya bertepuk tangan.


Seorang pelayan membawa kotak hadiah segera datang dan menyerahkannya kepada Natsya.


"Kami harap Kakak dan Kakak Ipar akan menyukainya," imbuh Rindi tersenyum pada Natsya.


Natsya mentap Rindi kemudian menatap Adler. Adler mengangguk kepada Natsya. Natsya pun mengambil kotak itu dari tangan pelayan.


Dia membuka kotak itu dan melihat dua botol parfum tergeletak di dalamnya. Natsya menangkap kepalanya dan melihat Asgar dan Rindi.


"Terima kasih Asgar dan Rindi," ucap Natsya masih mengingat nama keduanya saat bertemu kemarin.


"Kalian berdua sudah tahu hal ini sejak awal bahkan menyiapkan hadiah. Kenapa tidak memberigahuku?" ucap Selena meatap putra bungsu dan menantunya tidak senang.


Bisa-bisanya mereka menyembunyikan hal yang begitu penting seperti ini darinya. Padahal dia baru saja ingin menjodohkan keponakannya dengan Adler.


"Bukan hanya kami yang tahu. Kak Adrian dan Arfan juga tahu," ucap Asgar.


"Apa? Jadi kalian semua sudah tahu. Hanya menyembunyikannya dari kami," seru Selena.


"Kami juga baru tahu kemarin, Ma." Adrian yang disebutkan namanya segera berkata, dia tidak ingin mamanya membuat keributan.


Selena sedikit tenang mendengar ucapan putra sulungnya. Apa pun yang dia lakukan sekarang tidak ada gunanya. Adler telah menikah, buat apa dia melakukan hal-hal yang tidak perlu lagi.


"Lian," panggil Pak Harial.


"Iya, Pak." Lian menjawab sambil berdiri dari sofa tempatnya menunggu sejak tadi.


Lian berjalan menuju Pak Harial dan memberikan sebuah kotak perhiasan kepadanya.


Pak Harial mengambil kotak perhiasan itu dan membukanya di depan semua orang. Satu set perhiasan berlian biru tergeletak di dalamnya.

__ADS_1


Pak Harial menatap perhiasan itu dengan penuh nostalgia. "Perhiasan ini adalah perhiasan turun-temurun dari keluarga kita. Awalnya perhiasan ini milik nenek Adler yang kemudian diberikan kepada ibunya sebagai menantu putra pertama. Sekarang perhiasan ini adalah milikmu," ucap Pak Harial menyerahkan kotak berisi perhiasan itu kepada Natsya.


Melihat perhiasan itu Selena merasa sangat cemburu. Sudah sejak lama dia menginginkan perhiasan itu, tapi ibu mertuanya yang pilih kasih malah memberikannya kepada wanita berumur pendek itu. Sekarang perhiasan itu malah jatuh ke tangan wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu.


"Aku tidak bisa menerimanya. Ini terlihat sangat berharga," tolak Natsya merasa tidak pantas menerima barang semahal itu.


"Terima saja. Perhiasan itu memang seharusnya berada di tanganmu," bujuk Adler.


Natsya berbalik menatap Adler dan Adler tersenyum lembut padanya. Natsya menarik napas pelan dan akhirnya menerima kotak itu.


"Terima kasih, Paman," ucap Natsya.


"Hei, panggil saja Papa sama seperti Adler. Kamu sekarang istri Adler dan juga menantuku, jangan panggil Om lagi," koreksi Pak Harial.


"Baik, Terima kasih, Pa." Natsya menagguk patuh.


Adrian dan Arfan juga memberikan hadia kepada Natsya. Hanya Herman dan Selena yang tidak memberinya hadiah.


“Kelurgamu sangat baik," ucap Natsya yang saat ini sudah berada di kamarnya.


Tidak seperti keluarga daddynya, apalagi hadiah, menyambut mommynya saja mereka sangat bermusuhan.


"Apa kamu menyukai mereka?" tanya Adler.


"Apa?" tanya Natsya bingung.


"Jika kamu tidak menyukai mereka tinggal disini, aku bisa membiarkan mereka pergi," jelas Alder.


"Tidak perlu. Aku akan kesepian jika rumah ini kosong," tolak Natsya.


"Aku ingin bergaul dengan mereka. Siapa tahu dengan berhubungan dengan mereka bisa membuat ingatanku cepat kembali," lanjut Natsya.


"Bagaiman kalau aku membawamu ke Desa Galan?” usul Adler.


“Desa Galan?"


"Em. Di sanalah kamu pernah tinggal selama 3 tahun. Kita juga bertemu dan menikah di sana," terang Adler.


Natsya merasa tertarik mendengar apa yang dikatakan Adler. Mungkin dengan ke sana bisa memicu ingatannya.


"Baiklah. Tapi, bukankah kamu harus bekerja?" ragu Natsya.


"Kalau begitu setelah aku mengurus beberapa masalah di sini kita akan ke Desa Galan."


"Em," gumam Natsya setuju.

__ADS_1


setuju.


❖❖❖


__ADS_2