Sementara Hilang Memori

Sementara Hilang Memori
14. Ke Rumah Jiha


__ADS_3

Adler membawa Natsya ketempat parkir, dia membuka pintu mobil penumpang depan dan meminta Natsya duduk. “Ayo masuk.”


Natsya dengan patuh masuk dan duduk di dalam mobil.


“Hei, kemana kamu mau membawa sahabatku?” teriak Linda berlari kecil menghampiri Adler dengan Naila di pelukannya.


Linda menggendong Naila agar bisa lebih cepat menyusul Adler dan Natsya.


“Aku akan membawa Natsya ke rumah sakit,” jawab Adler.


“Rumah sakit? Syasya nggak mau ke rumah sakit. Paman jangan bawa Syasya ke rumah sakit ya~” panik Natsya tidak mau pergi ke rumah sakit. Natsya berusaha keluar dari mobil.


Adler segera menghalangi Natsya. “Oke. Kamu duduk yang tenang. Kita nggak akan ke rumah sakit,” bujuknya.


“Paman janji?”


“Ya. Aku berjanji,” angguk Adler.


Adler menutup pintu mobil dan berbalik menatap Linda. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan Natsya? Kenapa dia seperti ini?” tanya Adler bingung dan khawatir.


“Kamu yakin mau bicara di sini?” tanya Linda.


“Masuk ke dalam mobil,” pintar Adler.


Adler berjalan memutar di depan mobil, membuka pintu pengemudi dan duduk. Linda juga masuk ke kursi penumpang belakang bersama Naila.


Adler menyalakan mobil.


“Kita mau ke mana Paman? Syasya mau pulang. Paman bawa Syasya pulang ke rumah Jiha ya~” rengek Natsya.


Kepala Adler berdenyut-denyut mendengar panggilan paman dari mulut Natsya. Dia memang beberapa tahun lebih tua dari Natsya, tapi tidak perlu memanggilnya dengan sebutan paman juga. Ini membuatnya merasa kalau dia menikah dengan anak di bawah umur.


“Siapa Jiha?” tanya Adler berusaha tenang agar tidak menakuti istrinya.


“Jiha adalah saudara tiri Natsya,” jawab Linda. “Kamu tidak tahu itu? Apa benar kamu suaminya? Masa kamu tidak tahu anggota keluarga Natsya?” curiga Linda.


Adler memutar stir mulai menjalankan mobil keluar dari tempat parkir.


“Beritahu di mana alamatnya,” kata Adler tidak menjawab pertanyaan Linda.


“Dipinggiran kota ....” Linda menyebutkan alamat tempat tinggal Jiha.


“Kakak Linda, Naila lapar.” Naila tiba-tiba berbicara sambil memegangi perutnya.


“Astaga, aku lupa. Maaf ya Naila. Karena sibuk mencari Natsya kita jadi nggak sempat makan siang,” ucap Linda merasa bersalah.


Natsya yang duduk di depan berbalik dan tersenyum ke arah Naila. “Naila lapar. Ayo makan ini,” kata Natsya mengeluarkan sesuatu yang di bungkus kertas tissu dari dalam tasnya.


Ketiganya segera melirik Natsya dengan heran.


Naila meraih bungkusan tissu dari tangan Natsya dan membukanya. Di dalamnya ternyata ada sepotong paha ayam panggang. Natsya sengaja membungkusnya tadi di tengah makan saat semuanya sibuk menikmati minuman dari Asgar.

__ADS_1


“Makasih Kak Syasya,” ucap Naila bahagia.


“Natsya bagaimana bisa kamu membawa makanan seperti ini?” tanya Linda penasaran. Baru kali ini dia melihat sahabatnya menyeludupkan makanan seperti ini.


Adler juga melirik Natsya ingin tahu jawabannya. Dia tidak pernah tahu istrinya masih punya kebiasaan seperti itu. Sepertinya banyak hal yang tidak dia ketahui tentang Natsya.


“Ayamnya sangat enak. Mirip dengan ayam yang sering di pesan daddy di restoran. Jadi, Syasya ambil sedikit kalau-kalau Syasya masih lapar nanti,” jawab Natsya tersenyum malu.


Dia tahu perbuatannya ini tidak baik. Tapi, dia terpaksa melakukan ini soalnya dia sering tiba-tiba merasa lapar.


“Ya, ampun Sya~ Kamu benar-benar berubah baget. Dulu kamu nggak kayak gini. Kamu tuh selalu memasang tampang kuat dan dingin. Kamu kok jadi imut banget sih sekarang. Apalagi suka senyum kayak gitu. Senyum lo tuh sangat mahal baget seingat gue,” celoteh Linda.


“Benarkah? Aku selalu senyum kok. Daddy bilang senyum aku senyum paling membahagiakan di dunia. Setiap kali aku tersenyum wajah dady langsung melembut. Karena itu aku sangat suka tersenyum,” kenang Natsya.


“Oh, ya Sya. Siapa daddy kamu?" tanya Linda penasaran. Soalnya Natsya tidak pernah cerita soal ayah kandungnya. Mereka hanya tahu tentang ayah tirinya.


”Daddy Syasya orang paling tampan di dunia. Dan ya, daddy juga punya rumah seperti istana yang sangat-sangat besar dan luas. Juga sangaaat indahhh~" ungkap Natsya.


“Hoaamh~ Syasya ngantuk. Syasya boleh tidur?" Natsya menutup mulutnya yang sedang menguap dan menatap Adler meminta persetujuan.


”Tidurlah,“ anggun Adler.


Natsya menutup matanya mendapatkan keinginannya dan mulai tertidur.


Mobil itu terdiam setelah Natsya tertidur. Mereka takut mengganggu Natsya yang sedang tidur. Adler bahkan memelankan laju mobilnya.


×××××


”Biarkan dia tidur. Aku akan membawanya ke atas,“ ucap Adler.


”Kamu yakin? Rumah Jiha ada di lantai tiga lo dan nggak ada lift di sini,“ ujar Linda mengingatkan.


Adler mengangguk. Linda pun menyerah dan membawa Naila turun dari mobil terlebih dahulu. Adler juga turun mengitari bagian depan mobil, membuka pintu penumpang, dan membungkuk untuk mengeluarkan Natsya.


Linda memimpin menunjukkan jalan dan Adler mengikuti dari belakang dengan Natsya di pelukanya.


Baru beberapa langkah dari mobil, Natsya terbangun dan membuka matanya.


”Sudah sampai?" Natsya mengerutkan matanya merasakan sinar matahari yang kuat.


“Iya,” jawab Adler terus berjalan memasuki gedung komunitas.


Natsya yang baru saja terbangun sadar kalau seseorang sedang menggendong dirinya. “Turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri,” pintar Natsya.


Adler berhenti berjalan dan menatap wajah Natsya, dia menghela napas dan menurunkan Natsya dari pelukan sangat putri.


Natsya yang menapakkan kakinya di tanah mencoba untuk menstabilkan dirinya. Adler membantu dengan setengah memeluknya.


“Terima kasih,” ucap Natsya sedikit menjauh dari Adler setelah berdiri dengan stabil.


“Hei! Apa yang kalian berdua lakukan?” teriak Linda yang sudah jauh di depan.

__ADS_1


Natsya melihat ke arah Linda mendengar suaranya, dia pun segera berjalan menuju Linda. Adler juga kembali berjalan di belakang Natsya.


Tiba di depan pintu rumah Jiha, Linda mengetuk pintu dan pintu dibuka oleh Jiha. Linda sudah mengirimkan pesan sebelumnya kepada Jiha, jadi Jiha meminta cuti dan menunggu mereka di rumah.


Jiha sangat terkejut melihat pria di belakang Natsya. Dia tidak mungkin salah mengenali idolanya, Hilman Ansanay. Bagaiaman bisa dia ada di sini?


Tunggu ....


Apa Hilman suami Natsya? Ingat Jiha pada pesan yang dikirim Linda sebelumnya kalau pria yang mengaku sebagai suami Natsya muncul.


“Jiha?" Linda melambaikan tangannya di depan wajah Jiha melihatnya tercengang mematung.


”Ah, maaf.“ Jiha tersenyum malu baru sadar.


Aduh, apa yang telah kamu lakukan Jiha? Batin Jiha grogi.


“Silahkan masuk,” sambut Jiha membuka pintu dengan lebar dan memberikan jalan.


Adler mengangguk dan mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.


“Naila masuk ke kamar dulu ya,” pinta Jiha pada Naila. Jiha berusaha keras menekan kegembiraan dan kegugupan di hatinya bisa bertemu dengan idola secara langsung.


“Iya, Kak,” angguk Naila patuh.


“Boleh kah Syasya ke kamar juga? Syasya masih ngantuk,” ucap Natsya berusaha menahan rasa kantuk yang datang melanda.


“Ya. Kamu istirahat yang baik,” ucap Jiha.


Natsya dan Naila pun menuju ke kamar mereka masing-masing.


“Ayo duduk. Saya akan mengambilkan teh untuk kalian dulu,” ucap Jiha mempersilahkan.


“Terima kasih,” ucap Adler.


Jiha mengangguk dan berjalan menuju dapur. Linda dan Adler duduk di sofa. Adler mengamati ruangan itu sementara Linda mengamati Adler.


Tidak lama kemudian Jiha kembali dengan membawa nampan dengan tiga cangkir teh. Dia meletakan cangkir satu persatu untuk Adler, Linda, dan dirinya sendiri.


“Kamu benar suami Natsya?" tanya Jiha memulai pembicaraan.


”Ya. Nama saya Adler Ridsyi. Suami sah Natsya,“ ucap Adler memperkenalkan diri.


”Adler? Kamu bukan Hilman Ansanay?" tanya Jiha bingung. Wajah itu benar-benar mirip Hilman, dia tidak mungkin salah. Tapi, kenapa namanya beda?


“Nama lengkap saya Adler Hilman Ansanay Ridsyi. Hilman Ansanay adalah nama panggung,” jelas Adler tidak menyangka saudara Natsya ternyata merupakan salah satu penggemarnya.


“Oh,” gumam Jiha. Ternyata nama panggung, pantas saja.


“Kamu keluarga Natsya?” tanya Adler menatap Jiha.


“Ah, ya. Aku keluarganya. Lebih tepatnya aku adik tirinya,” jawab Jiha gugup.

__ADS_1


×××××


__ADS_2