Sementara Hilang Memori

Sementara Hilang Memori
21. Muntah


__ADS_3

Setelah berganti pakaian, Natsya mengikuti Krista dan Linda pergi shopping ke pusat perbelanjaan. Linda tidak mau kejadian tadi merusak suasana hari Natsya dan Krista yang sedang hamil, karena itu dia mengajak keduanya untuk berbelanja bersama.


Melewati toko perlengkapan ibu dan bayi, Krista tertarik untuk masuk dan melihat. Natsya juga tertarik melihat barang-barang yang terpajang di toko itu. Keduanya tersenyum sepemahaman dan masuk ke toko. Linda terpaksa harus mengikuti keduanya.


“Coba lihat, lucu banget." Krista memperlihatkan sepatu bayi merah muda kepada Natsya.


"Ya, sangat lucu," angguk Natsya.


”Bagaimana kalau aku beli yang ini?" tanya Krista.


"Krista, buat apa kamu beli hal ini. Bayinya saja kita belum tahu jenis kelaminnya. Bagaimana kalau dia cowok? Masa bayi cowok pakai sepatu bayi perempuan," ujar Linda tidak menyarankan.


“Kalau begitu beli dua aja sekalian," kata Krista mengambil sepatu bayi berwarna biru.


"Banyak amat beli dua. Mau kamu apakan?" ucap Linda.


”Natsya kan juga sedang hamil. Kalau bayi aku cowok dan bayi Natsya cewek, sepatu biru ini untuk bayiku dan merah muda untuk bayi Natsya. Begitu juga sebaliknya," jelas Krista.


“Wah, Kalau begitu kenapa nggak sekalian di jodohin aja?" cetus Linda.


Natsya dan Krista menatap Linda bersamaan.


”Bayinya belum lahir Linda, masa mau dijodohin? Kalau sama cowok atau cewek gimana?" ucap Natsya tidak setuju.


"Benar kata Natsya. Bagaimana kalau bayinya udah besar dan ternyata mereka tidak saling menyukai. Apa jadinya perjodohan itu?" timpal Krista setuju dengan Natsya.


Linda menatap keduanya heran. "Kalian bersekongkol ya, buat nyerang aku. Aku kan hanya iseng saja."


“Tapi, kamu ada benarnya juga sih," ucap Krista tiba-tiba.


Natsya menatap Krista bingung, kenapa dia berubah setuju dengan ucapan Linda.


”Menurut kamu gimana, Sya? Kalau anak kita nanti di jodohkan?" tanya Krista menatap Natsya.


“Em, gimana ya? Nanti aku kasih tahu suamiku dulu," jawab Natsya.


Linda menepuk jidatnya mendegar jawaban Natsya.


Astaga. Bayi polos ini bisa-bisanya ngejawab kayak gitu. Kapan ingatan Natsya bisa kembali? Batin Linda.


×××××


Di toko 4S.


Arfan dan Nino memasuki toko dan di sambut oleh pelayan toko.


”Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" sambut pegawai toko dengan ramah.

__ADS_1


Arfan melirik mobil-mobil yang terpajang di toko itu.


“Tuan ingin mobil jenis apa? Di sini kami memiliki ......" pegawai toko memperkenalkan jenis-jenis mobil yang mereka tawarkan.


Arfan menatap mobil berwarna putih yang merupakan salah satu seri dari Mercedes-Benz.


Melihat tatapan Arfan, pegawai segera menjelaskan spesifikasi mobil itu kepada Arfan.


"Pak Arfan ingin mobil ini?" tanya Nino.


”Mobil ini harganya 2,2 M. Jika Tuan memiliki kartu keanggotaan maka akan ada diskon cukup bayar 2 M saja," kata pegawai toko.


"Ini terlalu mahal," ucap Arfan sedikit kecewa.


Dia tidak memiliki uang sebanyak itu.


"Pak Arfan jangan khawatir. Pak Adler sudah berpesan kalau Pak Arfan bisa membeli mobil yang Anda suka berapa pun harganya," ucap Nino.


Arfan memikirkan mobil yang dimiliki Adler dan saudaranya yang lain dan akhirnya setuju membeli mobil itu. "Baiklah, yang itu saja."


Adler telah memberinya kesempatan menjadi bagian keluarga Ridsyi, membuktikan dirinya kalau dia layak untuk nama keluarga itu. Dia tidak bisa lagi membuat orang lain memandang rendah dirinya.


Nino mengeluarkan kartu yang telah diberikan oleh Adler kepadanya dan menyerahkannya ke pegawai.


“Silahkan ikut saya untuk mengurus administrasinya," kata pelayan itu menerima kartu dan berjalan menuju meja kasir.


×××××


Kediaman Ridsyi.


Sebuah mobil hitam berhenti di depan halaman. Pintu mobil terbuka dan Adler keluar dari mobil.


Di dalam rumah, Natsya yang duduk di ruang tamu mendengar suara mobil segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu.


Adler yang memasuki rumah terkejut melihat Natsya yang menyambutnya dengan senyuman.


"Kamu sudah pulang," ucapnya berhenti di depan Adler.


"Iya," jawab Adler.


Natsya mendekat dan mengulurkan tangannya memegang lengan Adler. "Aku sudah meminta bibi menyiapkan makan malam kesukaan kamu. Kamu mau makan dulu atau berganti pakaian dulu?"


”Aku akan ganti baju dulu. Kamu bisa makan malam duluan," ucap Adler.


“Tidak. Aku akan menunggumu. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Tidak masalah untuk menunggu sedikit lagi," balas Natsya.


”Kamu tidak perlu menunggu aku seperti ini. Jika kamu lapar, kamu bisa makan lebih dahulu. Ingat, kamu masih punya bayi yang butuh nutrisi juga," kata Adler melinkarkan tangannya di pinggang Natsya sambil melihat ke perutnya.

__ADS_1


“Ah, ya. Aku lupa. Masih ada satu di sini yang butuh makan," ucap Natsya menundukan kepala mengelus perutnya.


”Jangan seperti ini lagi nanti. Aku tidak ingin kamu dan bayinya kelaparan karena menungguku," sambung Adler.


“Oke," angguk Natsya.


”Ayo, kita makan dulu." Adler membawa Natsya ke ruang makan.


"Bukankah kamu mau ganti baju dulu?" tanya Natsya bingung.


"Tidak. Kita makan dulu. Ganti bajunya nanti saja. Aku tidak mau kamu dan bayinya kelaparan," jawab Adler.


Dia harus lebih memperhatikan istrinya. Natsya yang masih kehilangan ingatan tidak bisa menjaga dirinya dengan baik. Apalagi dengan hal kecil di perutnya juga membutuhkan perhatian. Dia tidak ingin sesuatu sampai terjadi pada ibu dan bayinya.


Adler menarik kursi untuk Natsya, Natsya pun duduk di kurs itu dan Adler duduk di kursi di sebelah Natsya.


Melihat kedua majikan telah duduk, pelayan segera menyajikan makan malam.


Mencium bau sup ikan di depannya membuat Natsya merasa mual. Dia menutupi mulutnya menahan mual.


“Ada apa?" tanya Adler khawatir melihat istrinya mengerutkan kening sambil menutupi mulutnya.


"Hooaak." Natsya menahan muntah sambil menggelengkan kepalanya.


Dia merasa perutnya bergejolak, sangat asam dan pahit di tenggorokannya, dia ingin segera memungahkan hal asam dan pahit itu.


Natsya tidak bisa menahannya lagi, dia langsung berlari masuk ke dapur dan muntah di wastafel.


”Hooaak ... hooeek ... hooeek ...." Natsya memuntahkan cairan asam dan pahit dari perutnya. Dia merasa sangat tidak enak.


Adler yang khawatir mengikuti Natsya ke dapur. Berdiri di belakangnya, Adler menepuk-nepuk punggung Natsya dengan pelan. “Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya cemas.


Pelayan dan koki berbaris di belakang keduanya sambil menahan gugup dan cemas melihat nyonya muda yang muntah-muntah. Mereka khawatir akan di pecat karena makanan yang mereka sajikan membuat nyonya muntah.


Natsya menyalakan kerang, membilas mulutnya yang terasa asam dan pahit habis muntah dengan air.


”Aku merasa sangat tidak nyaman," ucap Natsya lemah sambil memgangi perutnya.


Adler menahan Natsya dalam pelukannya. “Yang mana tidak nyaman? Aku akan segera memanggil dokter untuk memeriksamu," ucap Adler sangat cemas.


"Perutku tidak nyaman," ujar Natsya.


Adler segera menggendong Natsya dan memluknya dalam pelukan sang putri membawanya ke luar dari dapur.


Dia meletakkan Natsya di sofa. Lalu, mengeluarkan ponselnya menelepon dokter keluarga.


"Halo. Dokter Fandi. Cepat ke rumah saya sekarang juga," kata Adler, kemudian menutup panggilan.

__ADS_1


×××××


__ADS_2