
Natsya yang baru bagun keluar dari kamar dan melihat Naila yang sudah rapi mengenakan seragam berwarna coklat.
"Selamat pagi, Naila. Kamu mau ke mana?" sapa Natsya.
"Pagi, Kak Syasya. Naila mau pegi sekolah," jawab Naila.
"Sekolah? Aku juga mau pergi sekolah!" seru Nastya.
Najiha yang keluar dari dapur dengan piring di tangannya heran dengan perkataan Natsya.
"Kenapa kamu ingin pergi ke sekolah Nastya?" tanya Jiha meletakkan piring di atas meja.
“Ya, Syasya kan juga udah sekolah. Tiap hari Syasya selalu di antar sama mommy ke sekolah bersama kakak," jawab Natsya.
Jiha mengehela napas mendengar jawaban Natsya. Pikiran Natsya sekarang sama dengan Naila, meskipun tubuhnya sebenarnya sudah dewasa.
”Natsya yakin mau pergi ke sekolah?" Jiha hanya bisa memperlakukan Natsya seperti anak kecil untuk saat ini.
“Ya, Syasya mau."
”Kalau begitu kamu mandi dulu terus ganti baju. Setelah itu kita sarapan bersama,“ ucap Jiha.
"Em.” Natsya senang segera berlari ke dalam kamar mengambil pakaiannya, kemudian pergi ke kamar mandi.
Selesai sarapan, Jiha membawa Naila dan Natsya ke taman kanak-kanak dekat perumahan.
Bu guru Naila sudah menunggu anak-anak.
“Selamat pagi, Bu Riya," sapa Jiha.
"Selamat pagi, Jiha," balas Bu Riya, guru kelas Naila.
"Pagi, Bu,” Naila juga menyapa gurunya.
“Pagi Naila, ayo masuk."
”Ada apa Jiha?“ tanya Bu Riya melihat Jiha yang masih berdiri di depannya dan terlihat bingung.
”Begini, Bu. Ini Kakak saya, Natsya. Dia juga ingin ikut belajar dengan Naila di sini,“ ungkap Jiha.
”Halo, Bu. Nama saya Natsya Aldiva. Nama panggilan saya Syasya,“ ucap Nastya tersenyum pada Bu Riya.
”Halo."
“Kamu nggak salah Jiha? Kakak kamu ....” Bu Riya menatap Jiha dengan bingung.
“Begini Bu. Kakak saya kehilangan ingatan dan hanya memiliki ingatan masa kecilnya. Pikirannya sekarang seumuran dengan Naila. Jadi bisakah Natsya ikut belajar di sekolah ini. Hanya untuk sementara kok, Bu," jelas Jiha.
”Baiklah, asalkan kakakmu tidak mengganggu.“
”Terima kasih, Bu Riya.“
”Natsya, ingat ya, kamu harus baik di sekolah. Jangan berbuat nakal dan patuhi perkataan Bu Guru,“ pesan Jiha.
"Em, Syasya janji akan patuh,” angguk Natsya.
Hari ini Natsya mengikuti Naila ke sekolah, Natsya sangat senang bisa pergi sekolah bersama Naila. Dia bertemu banyak teman baru yang imut dan baik, tidak seperti teman sekolahnya sebelumnya.
Natsya juga bahkan memiliki buku dan pensilnya sendiri yang telah disediakan Jiha kemarin kalau Natsya ingin menulis. Ya, Jiha hanya bisa menuruti semua keinginan Natsya.
__ADS_1
Anak-anak juga sangat senang bermain dengan Natsya yang ceria dan memiliki suara yang lembut dan manis.
“Dadah, Kak Syasya. Sampai ketemu lagi!” teriak salah satu anak perempuan melambaikan tangannya pada Natsya, lalu berlari menghampiri ibunya.
“Kak Syasya besok akan datang lagi, kan?” tanya anak lainnya.
“Em ... gimana ya? Okey, Kakak akan datang besok,” kata Natsya tersenyum pada anak itu.
“Yey! Sampai jumpa besok!” ucap anak itu senang.
Keluar dari kelas Natsya melihat Linda berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangan.
"Udah pulang. Kalau begitu ayo pergi," ujar Linda berhenti di depan Natsya.
"Iya." Balas Natsya.
"Naila imut, ayo pegang tangan Kakak. Kakak bakal mengajak kamu makan enak." Linda berkata sambil mengulurkan tangannya meraih tangan kecil Naila.
Kemarin Linda berjanji akan mengajak mereka makan siang bersama. Karena itu Linda datang menjemputnya di sekolah.
"Kakak Linda, apa Kak Jiha juga ikut?" tanya Naila.
"Kakak kamu Jiha tidak bisa ikut, soalnya dia lagi kerja. Tapi, kamu jangan khawatir, nanti kita bakal bawa pulang makanannya buat kakakmu Jiha,” jelas Linda.
"Hore, asyik! Kita semua bakal makan enak." Teriak Naila kegirangan.
Kakak Linda baik banget ngajakin aku, dan kak Syasya makan bersama, bahkan buat kak Jiha juga ada. Udah baik cantik lagi. Pikir Naila.
Restoran yang dipesan Linda merupakan salah satu restoran terbaik di kota A. Makanan di sana sangat lezat karena itu memiliki banyak pelanggan. Linda harus membuat janji sebelumnya agar bisa makan di restoran itu saking banyaknya tamu yang berkunjung.
Restoran itu sudah dipesan Linda seminggu sebelumnya untuk menjamu Natsya yang baru kembali ke kota A setelah sekian lama.
"Linda, aku mau pipis. Toiletnya di mana?" Natsya berbisik menarik baju Linda menahan diri.
"Ah, toiletnya ada di sana. Lurus aja lalu belok kiri. Mau aku temani?" Linda menggerakkan tangannya menunjukkan arah.
Natsya menggeleng, "Tidak usah. Syasya bisa sendiri. Linda lebih baik temani Naila saja," tolak Natsya.
"Ok. Kalau gitu aku tunggu kamu di sini," ucap Linda meletakkan tasnya di atas meja.
"Em." Natsya buru-buru berjalan mengikuti arah yang ditunjuk Linda.
Sementara itu di luar restoran, Adler menatap papan nama yang terpasang di atas pintu dan tulisan di layar ponselnya.
'Loyaly Resto'
'Sepertinya benar ini tempatnya.' Adler kemudian masuk ke restoran itu setelah memastikan bahwa alamatnya benar. Di sinilah tempat yang dimaksud Asgar.
Seorang pelayan menghampiri Adler melihatnya datang. "Selamat datang di Loyaly Resto. Ada yang bisa saya bantu," sapa pelayan itu.
"Saya punya janji dengan Asgar," ucap Adler.
"Pak Asgar sudah memberitahu kami kalau ada tamu yang mencarinya silakan datang ke kotak no. 1 yang ada di lantai 2. Bapak perlu saya antarkan?"
"Tidak perlu."
Adler berjalan ke dalam restoran menuju tangga yang dilihatnya berada di bagian ujung dalam restoran. Adler melihat pesan yang dikirim Asgar di grup yang mengatakan bahwa tinggal dirinya yang belum datang.
Adler membalas pesan, 'Aku udah sampai. Sebentar lagi tiba.'
__ADS_1
"Ah!!"
Ponsel ditangannya terlempar karena tiba-tiba ditabrak seseorang dari samping.
Natsya yang baru saja keluar dari toilet tidak sabar ingin menikmati makanan enak di restoran ini.
Tanpa sengaja dia menabrak seorang di depannya. Natsya refleksi melindungi perutnya saat bersentuhan dengan orang itu hingga jatuh terduduk di lantai.
"Awh..." ucap Natsya lirih merasa perutnya tiba-tiba sedikit sakit.
Adler awalnya ingin mengambil ponselnya yang jatuh, tapi berubah arah mendengar rintihan gadis yang menabraknya.
"Kamu baik-baik saja. Apa kamu terluka?" Adler berjongkok di depan gadis itu.
Natsya mengangkat kepalanya melihat orang yang ditabraknya setelah perutnya terasa lebih baik.
"Aku tidak terluka. Maaf telah menabrak mu," kata Natsya menyesal.
Natsya melebarkan matanya terkejut melihat wajah pria di depannya. "Ah! Ma.. Maaf Pak Polisi Aris. Syasya nggak sengaja nabrak Bapak. Ampuni Syasya... Jangan... Jangan masukkan Syasya ke penjara." Natsya berbicara dengan terbata-bata dan mata berkaca-kaca takut akan dipenjara.
Adler tertegun melihat wajah gadis yang menabraknya dengan jelas. Segera dia maju memeluk gadis itu.
"Akhirnya aku menemukanmu. Tahukah kamu betapa khawatirnya aku tidak bisa menghubungimu! Syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Adler memeluk Natsya erat. Adler tidak menghiraukan ucapan Natsya sebelumnya.
"Hikss... hikss..." Air mata Natsya tidak terbendung lagi. Dia menangis sedih dipeluk terlalu erat oleh paman polisi. Apakah paman polisi akan memasukkannya ke penjara?
Adler segera melepaskan pelukannya berubah memegang kedua bahu Natsya. "Ada apa? Jangan menangis. Apa kamu terluka? Apa aku menyakitimu? Katakan padaku?" tanya Adler gugup.
Adler tidak pernah melihat Natsya menarik sebelumnya, ini pertama kalinya dan itu membuatnya gugup dan tertekan.
Natsya menggelengkan kepalanya sambil berusaha menghilangkan air matanya. "Tidak. Syasya... baik... baik-baik aja, kok. Jadi... jangan... masukkan Syasya... ke... penjara," ucapnya tersengal-sengal karena habis menangis.
Adler dibuat bingung dengan ucapan Natsya. Kenapa dia akan memasukkannya ke penjara? Dia hanya akan membawanya ke rumah impiannya, memanjakannya, dan memberikan semua yang dia inginkan.
Sudah terlambat baginya menyesal membuatnya menderita selama ini. Mana mau dia menyakitinya apalagi sampai memenjarakannya ke dalam sel tahanan.
Adler tidak akan pernah berpikir Natsya berkata seperti itu karena hanya mengenalnya lewat drama televisi yang dilihatnya tadi malam. Drama terakhir yang dibintanginya sebagai Hilman Ansanay sebelum vakum dari dunia entertainment.
Adler juga tidak akan membayangkan bahwa istri barunya yang baru menikah lebih dari sebulan akan tiba-tiba kehilangan ingatan dan melupakannya.
"Sayang, jangan menangis. Tentu saja aku tidak akan pernah memasukkanmu ke dalam penjara," bujuk Adler. Dia tidak bisa lagi melihat air mata Natsya berjatuhan yang membuat hatinya merasa perih.
Senyum dan tawa Natsya membuatnya bahagia dan manis bagai makan permen, namun air mata Natsya membuat hatinya sakit dan perih bagai diiris pisau. Inikah yang dinamakan cinta, selalu ingin orang yang dicintai bahagia dan tidak ingin dia bersedih.
'Chuurrr... Chuurrr...’ bunyi perut Natsya.
Suasana tiba-tiba mandek mendengar suara itu.
Natsya merasa sangat malu dan ingin mengali lubang untuk dirinya bersembunyi.
Adler tersenyum mendengar bunyi perut Natsya. "Kamu belum makan siang?" tanyanya.
"Em... Syasya... lapar," ucap Natsya sedikit malu.
"Baiklah, kalau gitu aku akan bawa kamu makan siang yang enak," balas Adler membantu Natsya berdiri. Kemudian memungut ponsel dan tas Natsya dari lantai.
"Ayo ikut aku." Adler menarik tangan Natsya memegangnya menuju lantai dua.
×××××
__ADS_1