
“Bisa katakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Natsya,” ucap Adler langsung ke intinya.
Najiha mengangguk dan menceritakan semuanya secara singkat kepada Adler. “Natsya mengalami perampokan hari itu dan perampok itu mendorong Natsya hingga kepalanya terbentur ke tiang listrik. Benturan itu menyebabkan dia kehilangan sebagian besar ingatannya. Sekarang dia hanya mengingat hal-hal masa kanak-kanaknya.”
“Apakah ada cara untuk mengembalikan ingatannya?" tanya Adler khawatir. Dia tidak menyangka istrinya akan mengalami musibah seperti itu.
”Kita hanya bisa membantunya dengan membangkitkan ingatan akan masa lalunya pelan-pelan. Tapi, aku tidak tahu bagaimana memulainya. Ibunya yang paling dekat dengannya sebelumnya telah pergi,“ lanjut Jiha.
Duduk di tepi tempat tidur, Adler menatap wajah lembut istrinya yang sedang tidur. Dia menggerakan tangannya meraih tangan Natsya yang berada di luar selimut dan menggenggamnya.
”Kamu sudah mengalami masa yang sulit. Maaf, aku tidak bisa berada di sampingmu dan melindungi kamu. Kedepannya aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi,“ gumam Adler.
Tatapannya beralih ke bawah ke arah perut Natsya. Dia teringat perkataan Najiha sebelumnya.
”Apa kamu benar-benar suaminya?" tanya Najiha ingin memastikan.
Adler memperlihatkan cincin nikah di jari manisnya yang sepasang dengan cincin yang ada pada Natsya. “Apa perlu aku memperlihatkan buku nikah kami juga?" ucap Adler.
Melihat cincin itu, Najiha dan Linda sudah yakin kalau Adler adalah suami sah Natsya. Menurut pandangan Najiha selama menjadi penggemar Hilman, dia tahu aktor papan atas seperti dirinya tidak perlu berbohong tentang masalah seumur hidup mereka di belakang layar.
”Apa kamu tahu kalau Natsya hamil?" tanya Najiha.
“Hah? Natsya hamil?” Adler sangat terkejut mendengar berita itu.
Kebagian serta kesedihan bercampur jadi satu. Dia senang mengetahui dia akan menjadi ayah, namun sedih karena dia tidak berada di samping istrinya di saat dia paling membutuhkannya.
Natsya yang sedang tidur terbangun dan terkejut melihat Adler yang berada di dekatnya.
“Paman, kenapa bisa masuk ke kamar Syasya?" tanyanya dengan suara sedikit malas karena baru bangun tidur.
”Maaf, aku membangunkanmu,“ kata Adler. ”Tidurlah lagi jika kamu masih mengantuk,“ lanjutnya.
Natsya menatap Adler kemudian pada tangannya yang dipegang oleh Adler. ”Paman, kenapa Paman memegang tanganku?"
“Jangan panggil paman, oke. Panggil mas atau suami,” ucap Adler membenarkan. Dia merasa tidak nyaman disebut sebagai paman oleh istrinya sendiri.
Panggilan paman seolah dia telah menikah dengan anak di bawah umur saja. Ya, meskipun Natsya beberapa tahun lebih muda darinya, rasanya canggung harus dipanggil paman.
Natsya berusaha untuk bangun dan duduk di tempat tidur. Dia menatap Adler dengan cemberut. “Kenapa aku harus memanggilmu suami? Hanya mereka yang telah menikah yang bisa dipanggil suami dan istri. Seperti mommy yang sering memanggil daddy,” protes Natsya.
Adler menghela napas, istrinya benar-benar berubah seperti anak kecil. Adler mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto pernikahan dirinya dan Natsya di desa.
“Ini aku?" seru Natsya terkejut melihat gambar dirinya yang sekarang ini mengenakan pakaian pengantin bersama paman ini.
Adler mengangguk dan menggulir layar ponsel agar Natsya bisa melihat foto-foto lainnya.
”Aku ... kamu ... kita ..., kamu suamiku?" Natsya berkata sambil menunjuk dirinya kemudian Adler bolak-balik tidak bisa percaya.
__ADS_1
Natsya tiba-tiba teringat perkataan Najiha di atap rumah sakit waktu itu. Dia menundukkan kepalanya dan menatap perutnya, lalu mengulurkan tangan meletakkannya di perut bagian bawahnya.
Natsya lalu kembali menatap Adler. “Kamu ayah dari dede bayi di sini?" lanjutnya mengusap perut bagian bawahnya.
Adler mengulurkan tangganya dan meletakkannya di atas tangan Natsya yang membelai perutnya membuat Natsya menghentikan gerakan tangannya.
”Ya. Aku suami kamu dan ayah dari bayi dalam kandunganmu,“ ucap Adler menatap mata Natsya lembut.
”Kamu benar-benar suamiku? Kalau begitu apa daddy, mommy, dan kakak juga ada di pernikahan kita. Sepertinya aku melupakan banyak hal. Bisakah kamu memberitahuku apa yang aku lupakan?" ucap Natsya bersemangat memegang tangan Adler dengan kedua tangannya.
“Aku akan berusaha membantumu mengingat kembali ingatan yang hilang itu,” janji Adler.
“Kamu sangat baik. Aku menyukaimu,” imbuh Natsya.
“Kalau begitu kamu mau kan kembali bersamaku?" tanya Adler.
”Kembali? Kemana?"
“Ke rumah kita.”
“Oke. Aku akan memberitahu Jiha dan yang lainnya dulu,” setuju Natsya.
Sifat Natsya yang seperti anak kecil sekarang membuat Adler semakin merasa bersalah. Ini membuatnya ingin mengetahui masa lalu Natsya. Apa yang membuatnya bisa menjadi Natsya yang selama ini dia kenal.
Dari perilaku Natsya saat ini membuatnya menyadari kalau istrinya memiliki masa kecil yang sangat riang dan bahagia. Dia suka tersenyum dan sangat ramah, penuh keingintahuan dan manja.
Natsya yang dikenalnya sangat tertutup, sedikit dingin, tangguh, dan pekerja keras. Benar-benar sangat berbeda.
Setelah Natsya berpamitan dengan Najiha dan Naila, dia mengikuti Adler kembali ke rumahnya.
“Natsya,” panggil Najiha sebelum Natsya naik ke mobil.
Natsya berbalik dan menatap Najiha.
“Jika ada sesuatu kamu harus menghubungi aku ya,” pesan Najiha sedikit mengkhawatirkan Natsya.
Natsya menganggu sungguh-sungguh, “Najiha juga jangan lupa telepon Syasya, ya.”
“Ya. Aku pasti akan menelpon kamu."
Natsya tersenyum melambaikan tangannya pada Najiha dan Naila, lalu masuk ke dalam mobil.
Setelah Natsya duduk, Adler memasangkan sabuk pengaman untuk Natsya. ”Terima kasih, Mas Ad,“ ucap Natsya.
Adler mengecup kening wanita cantik yang tersenyum seperti bunga. Dia merasa istrinya yang riang menjadi semakin cantik dan mudah di dekati.
Ingin rasanya dia menyembunyikan istrinya, hanya dia yang boleh melihat senyum manis istrinya yang sangat hangat.
__ADS_1
Natsya melebarkan matanya tercengang dengan perilaku Adler yang mengecup keningnya. Dia berpikir sejenak dan akhirnya mendaratkan sebuah kecupan cepat di pipi Adler sebelum dia kembali ke posisinya.
Adler tertawa tersenyum bahagia Natsya menanggapinya. Meski kehilangan ingatan istrinya tetap menyukainya.
Adler menyalakan mobil dan menuju ke kediaman keluarga Ridsyi.
❖❖❖
Tiba di rumah.
Adler memegang tangan Natsya dan membawanya masuk ke dalam rumah mewah itu.
Menatap mansion di depannya sebuah kenangan tiba-tiba muncul di benaknya.
”Ada apa?“ tanya Adler merasakan kekakuan tubuh Natsya saat berjalan.
Natsya mendongak dan melihat wajahnya tampan Adler. Dia pun berusaha tetap tenang.
Natsya tidak tahu kenapa saat melihat rumah besar bergaya Eropa klasik ini membuatnya merasakan sesuatu yang aneh. Perasaan seperti dejavu. Dan dia merasa sedikit takut dan sedih.
Apakah yang muncul tadi itu adalah ingatannya?
Natsya menggenggam lengan Adler dengan erat mencoba mendapatkan rasa aman. Bersama dengan Adler membuatnya merasa nyaman dan tidak takut akan apapun.
”Kamu baik-baik saja, Sya?" tanya Adler khawatir. Dia bisa merasakan tangan Natsya yang memegang lengannya sangat erat sedikit gemetar.
“Syasya hanya merasa sedikit tidak nyaman,” jawab Natsya jujur. Hanya saja dia tidak tahu apa penyebab ketidaknyamanannya.
“Kalau begitu aku akan membawamu ke kamar untuk istirahat,” ucap Adler prihatin.
Natsya mengangguk. Adler pun langsung membawa Natsya menuju kamarnya di lantai dua.
“Kamu bisa istirahat di sini,” ucap Adler membawa Natsya ke tempat tidur.
Setelah Natsya duduk di atas tempat tidur Adler ingin mengambilkan air untuk Natsya, tapi tangannya tiba-tiba di tarik.
Natsya manarik tangan Adler mencegahnya pergi. Dia tidak berani berada di sini sendirian.
“Jangan pergi,” ucap Natsya menatap Adler dengan mata berkaca-kaca.
Adler meraih tangan Natsya, menggenggamnya dengan kedua tantangannya. “Baiklah aku tidak akan pergi. Tidurlah,” bujuk Adler.
“Kamu janji tidak akan pergi?” tanya Natsya.
“Aku akan menemanimu di sini,” kata Adler duduk di atas ranjang juga.
Natsya akhirnya sedikit tenang dan perlahan berbaring masih memegang tangan Adler, tidak melepaskannya.
__ADS_1
Adler memperbaiki duduknya dan bersandar di kepala tempat tidur. Satu tangan memegang tangan Natsya dan tangan lainnya mengusap rambut di pucuk kepalanya perlahan.
❖❖❖