
Wajah cantik itu berubah menjadi sepucat mayat, ingatan akan segala kepedihan di rumah itu tidak bisa ditutupi. Kejadian beberapa tahun yang lalu begitu membekas di ingatannya. baru tadi siang, Pak Oscsar, pengacaraya memberitahukan jika rumah itu sudah kembali menjadi miliknya. Dan dia diminta untuk mengecek langsung rumah yang sudah hampir sepuluh tahun ia tinggalkan.
Ingatan bagaimana dulu dia disiksa, di caci maki oleh keluarga tiri yang sangat membencinya membuat dia bergidik. Bahkan mereka seperti tak ada rasa belas kasih sama sekali saat memperlakukan dia dengan tidak manusiawi. Dia sering dikurung didalam kamar, di suruh membersihkan rumah tiga tingkat itu dengan tangannya sendiri, mengerjakan pekarjaan rumah yang lainnya juga.
Makanan yang berikan hanya nasi putih, tempe dan tahu goreng. Bahkan sejak penyiksaan itu dia kehilangan banyak berat badan. Dia yang dulunya merupakan gadis yang cantik dengan kulit mulus seputih porselen serta terawat sempurna kini berubah menjadi kasar dan kusam. Kulit yang kering itu bahkan sampai mengelupas dan pecah-pecah pada bagian kakinya.
Malapetaka itu bermula sejak Dady nya menikahi janda cantik dengan tiga orang putri, lalu beberapa tahun kemudian Dadynya meninggal akibat serangan jantung. Tapi beberapa bulan yang lalu dia mengetahui fakta bahwa Dady meninggal karena di bunuh oleh Uncle Def, saudara laki-laki ibu tirinya. Kini Uncle Def dan Ibu tirinya sudah mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Sedangkan ke tiga saudara tirinya entah bagaimana kabar mereka sekarang. Alura sudah tidak berhubungan sejak lama. Mereka bertiga hilang bak ditelan bumi.
Kisah hidupnya sudah mirip cerita cinderella bersama ibu tiri, hanya saja tidak ada ibu peri yang mengubahnya menjadi putri dan tidak ada pangeran berkuda putih menyelamatkan dari pedihnya siksaan ibu dan sudara tirinya.
Alura tersenyum tipis mengingat bagaimana dia bisa berakhir di panti asuhan malam itu. Keluarga tirinya mengusirnya tanpa ampun. Menguasai semua harta penginggalan kedua orang tuanya. Alura tidak bisa berbuat apa-apa. tidak ada yang bisa menyelamatkannya, akhirnya gadis belia itu pun menyerah, menjalani tahun demi tahun hidupnya di panti asuhan.
Namun, keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Alura, dia di adopsi oleh pasangan yang tidak memiliki anak di usia pernikahan mereka yang sudah mencapai dua puluh tahun. Kedua orang tua angkat Alura merupakan salah satu pengusaha kaya di Indonesia.
Mereka sangat menyayangi Alura layaknya anak sendiri. Mata hazel yang di milik Alura mampu menarik hati mereka ketika pertama kali bertemu. Alura gadis yang ceria, tidak susah baginya untuk bergaul dengan keluarga barunya. Alura akhirnya menemukan kembali kasih sayang yang sudah lama tidak dia rasakan sejak sang Mami dan Dady meninggal dunia.
Alura yang awalnya beragama kristen memilih memeluk Islam, sama dengan agama orangtua angkatnya tidak lama setelah dia di bawa ke rumah mewah itu. Semua terjadi bukan kerena di paksaan, Alura memilih dengan kesadaran penuh. Karena dia melihat betapa baik akhlak Mama, Papa, beserta keluarga lainnya terhadap Alura. Alura terlibat diskusi panjang dengan kedua orang tuanya, sebelum memutuskan menjadi muallaf. bahkan Arya dan istrinya sampai mengundang Ustadzah untuk diskusi lanjutan dengan Alura. Dari diskuski itulah Alura yakin, karena penjelasan tentang Islam sesuai fitrah dan memuaskan akal.
Hal lain yang membuat dia mantap untuk bersyahadat adalah ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an.
Hatinya tiba-tiba terasa menghangat dan air matanya menetes tanpa bisa di cegah. Alura merasakan perasaan luar biasa yang sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata.
Setelah bersyahadat, Alura menjadi muslimah yang taat. Bahkan dia sudah menghapal sepuluh juz di bawah bimbingan Ustadzah Aisyah.
__ADS_1
Alura begitu cepat memahami apa yang di sampaikan Mama, Papa dan Ustadzah Aisyah tentang Islam. Karena pada dasarnya Alura adalah gadis yang cerdas, dia juga baru menyelesaikan pendidikan S1 nya meskipun sedikit terlambat.
Alura berjalan ke arah lemari mengeluarkan beberapa stel gamis. Mungkin nanti dia akan menginap beberapa hari di sana. Mengingat sudah lama dia tidak menginjakkan kaki ke sana.
Setelah memasukkan semua keperluannya untuk ke dalam tas, Alura segera beranjak meninggalkan kamar mewah yang dia tempati selama beberapa tahun belakangan.
"Mama," sapa Alura pada Wanita berkerudung biru yang tengah duduk di ruang tamu.
"Jadi berangkat?" Tanya wanita itu lembut.
"Insyaallah, jadi siang ini, Ma."
"Siapa yang akan menemanimu, Sayang?" Ada nada khawatir dari pertanyaan wanita itu.
"Baiklah, hati-hati, ya. Mari, makan siang dulu!" Dua wanita berbeda usia itu segera berjalan menuju meja makan.
Disinilah Alura sekarang, sedang menyetir menuju rumah masa kecilnya. Sepanjang perjalanan Alura mencoba menguatkan hatinya. Bagaimanapun, rasa sedih dan bahagia bercampur jadi satu. Sedih bila mengingag kenangan pahit selama tinggal di rumah itu. Bahagia karena dia akan kembali ke rumah masa kecilnya.
Tidak berapa lama mobil yang di kemudikan Alura memasuki halaman luas, tepat di depannya menjulang bangunan kokoh bertingkat. Alura melepas seat-beltnya dan turun dari mobil.
Alura tidak langsung masuk, dia sejenak memperhatikan rumah yang lama sudah di tinggalkan pemiliknya. Alura merasakan matanya memanas, kilasan kenangan saat kedua orang tuanya masih hidup seakan menari-nari di depannya. Tidak ada yang berubah dari rumah itu, hanya catnya saja agak memudar. Dari luar rumahnya tampak terawat dan bersih. Berdasarkan keterangan Pak Oscar memang ada seorang yang di pekerjakan untuk merawat dan membersihkan rumahnya selama ini.
Alura masih larut dengan kenangan masa kecilnya ketika me mendengar sebuah suara membuat dia tersadar.
__ADS_1
"Assalam'ualaikum." sapa pemilik suara itu.
Alura membalikkan badan, tidak jauh darinya, berdiri seorang laki-laki yang wajahnya begitu familiar.
"Nona, Alura. Senang bertemu anda kembali," ujar lelaki itu sambil tersenyum.
Alura masih diam dan mencoba mengingat siapa laki-laki tampan di depannya ini. Yasir ...! Ah, iya, dia Yasir anak tukang kebunnya dulu. Tidak menyangka pemuda kurus itu sudah menjadi pria dewasa.
"Walaikumsalam. Apakah anda Yasir? anaknya Pak Soleh," tanya Alura memastikan. Lelaki yang bernama Yasir itu hanya mengangguk.
"Sudah lama tidak bertemu," kata Alura menangkupkan tangannya di depan dada.
"Iya, Nona. Bagaimana kabar anda?" tanya Yasir sedikit terkejut melihat penampilan Alura yang berubah seratus persen. Dibalik keterkejutan itu, Yasir sebenarnya sangat bahagia.
"Baik. alhamdulillah," balas Alura.
"Apakah sekarang Nona tinggal di sini?"
"Hmm, tidak. Aku hanya ingin mengunjungi saja," ujar Alura mengeluarkan koper dari dalam mobilnya.
"Baiklah, Nona. karena ada baru saja melakukan perjalanan jauh, silahkan istirahat," kata Yasir dengan sopan.
lalu pergi meninggalkan Alura.
__ADS_1