
Kini mereka berempat tengah duduk bersama di meja makan. Suasana keakraban langsung terasa. Obrolan mengalir begitu saja menciptakan suasana yang familier bagi Alura.Tadi saat dia pertama melihat pria itu ada rasa bahagia karena sudah sangat lama mereka tak bertemu. Askal terlihat banyak berubah, tubuh kurus dan kulit pucat yang dulu, sudah berganti dengan tubuh yang sangat proposional dengan tinggi yang terasa pas. Kulitnya juga lebih putih dari terakhir mereka bertemu, rambutnya di potong pendek dan disisir rapi. Wajahnya terlihat jauh lebih dewasa mungkin juga karena seiring bertambahnya usia. Hanya satu yang tidak berubah, tatapan teduh itu. Tadi Alura sempat melihatnya hanya sekejap saja sebelum mereka berdua saling memalingkan muka.
"Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Karena dulu sudah banyak membantu putri kami," ujar Arya yang telah selesai makan menatap Askal yang juga baru selesai dan meletakkan sendoknya.
"Sama-sama, Om. Alura adalah sahabat saya, sudah seharusnya saya melakukan itu," jawab Askal sambil meraih tissu dan membersihkan pinggir bibirnya.
"Ya, bagaimana kau tahu Alura tinggal disini?" Pertanyaan Mira mewakili juga pertanyaan Alura. Dari mana Askal bisa tahu dan datang ke kediamannya.
"Saya ke panti asuhan dulu, sebelum kesini. Bi May yang memberikan alamat rumah ini." Alura memang sempat memberikan kartu namanya pada Bi May saat dia berkunjung ke panti itu.
"Oh. Iya."
"Askal." suara Alura sedikit bergetar merasa canggung dengan pertemuan ini. Dulu mereka bisa akrab karena Alura masih belum mengerti interaksi antara laki-laki dan perempuan. Kini, sejak dia muallaf, dia tahu Islam mengatur sedemikian rupa interaksi antara laki-laki dan perempuan. Karena itulah Alura begitu menjaga pergaulannya, dia tidak ingin tergelincir pada hawa nafsu yang membuat syetan bersorak karena berhasil menggoda anak cucu adam.
"Ya?" Pria itu menoleh pada Alura
"Bagaimana dengan orangtua angkatmu?" Alura merasa ingin tahu. Dia berharap Askal hidup dengan baik dan memiliki keluarga yang baik pula. Dia merasa kasihan dengan kehidupan Askal dulu yang di buang di panti sejak bayi. Bahkan Askal tak tahu sama sekali kedua orangtua kandungnya.
"Alhamdulillah, kini aku sudah tinggal dengan kedua orangtua kandungku." jawaban Askal membuat Alura terkejut sekaligus senang.
Askal melanjutkan,
"Dua tahun, saat aku di bawa orangtua angkatku ke kota Padang, ada sepasang suami istri yang datang menjemput. Mereka mengaku sebagai orangtua kandungku. Awalnya aku tak menerima begitu saja, apa lagi Ayah dan Bunda. Untuk menyakinkan, akhirnya dilakukan tes DNA. Dan hasilnya, aku positif anak mereka." tampak Askal menarik nafas panjang, "Sejak itu,aku tinggal dengan mereka di Palembang. Sesekali kembali ke rumah Ayah dan Bunda, di Padang." Askal mengakhiri ceritanya dengan senyum yang mengembang.
Arya, Mira dan Alura juga ikut tersenyum. Mereka turut merasa bahagia atas pertemuan orangtua dan anak kandungnya. Bagaimana pun, hubungan nasab tidak bisa dihilangkan.
"Alhamdulillah turut senang akhirnya kau bertemu juga dengan orang tua kandungmu," ujar Alura.
Askal hanya mengangguk.
Obrolan empat orang itu terus mengalir hingga menjelang isya, setelah itu Askal pamit. Sebenarnya Alura banyak diam selama obrolan itu berlangsung. Pikiran Alura lebih ke surat wasiat yang menyeret dirinya. Dia tidak tahu kalau Dady nya meninggalkan surat wasiat entah apa pula isinya.
Kini Alura sudah berada di kamarnya. Dia membuka pesan wa dari Pak Oscar dan membaca alamat Putra Bibi Mery, lokasinya di salah satu perumahan modern di Jakarta Timur.
Tidak sulit bagi Alura untuk menemukannya. Besok pagi Alura berniat mengunjungi mereka, menyambung silaturahim yang sempat terputus karena jarak mereka yang berjauhan. Alura ingat akan salah satu hadist Rasulullah Saw, bahwa pentingnya untuk menyambung tali silahturahmi kepada keluarga.
"Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)." (HR. Bukhari no. 5983).
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyambung silahturahmi ini, misalnya saja dengan saling mengunjungi, memberi hadiah, dan saling berbuat baik.
Tok Tok
Alura turun dari tempat tidurnya menuju pintu.
Klek
"Belum tidur?"
"Belum, Ma. Masuklah." Alura dan Mira masuk ke dalam dan duduk di Sofa panjang di
__ADS_1
samping ranjang.
"Alura, besok Mama sama Papa mau ke Jogja, kamu mau ikut?"
"Kok mendadak, Ma?" Biasanya kalau mau mengunjungi Eyang di Jogja jauh hari Mama memberi kabar. Tapi kenapa ini mendadak sekali. Alura jadi berpikir jika ada urusan mendadak.
"Begini." Mira menggeser duduknya mendekat ke Alura "Anita, terlibat skandal dengan pria beristri. Eyang, meminta Mama dan Papa untuk bantu mengurusnya." selesai kalimat Mira, sukses membuat mata melebar dengan mulut sedikit terbuka.
"Bagaimana bisa, Ma?" Anita adalah ponakan Mira, sejak menjadi yatim piatu Anita tinggal bersama Eyang.
"Intinya, karena gaya hidup hedonisnya selama ini, Sayang. Anita merasa perlu uang tambahan, karena itulah dia menempuh jalan yang salah." raut wajah Mira berubah sendu memikirkan apa yang di perbuat ponakannya itu. Padahal setiap bulan dia juga memberikan uang untuknya.
"Benar, Ma. Gaya hidup hedonis yang membuat orang ingin selalu tampil wow dan kekinian, membuat mereka tak jarang menghalalkan berbagai macam cara agar terpenuhi," timpal Alura
"Iya, Sayang. Mama rasa, Anita perlu diarahkan dan mengikuti binaan secara intensif. Untuk membentengi dirinya agar tak terbawa arus."
Mira memang sudah membicarakan ini dengan suaminya semalam. Dia meminta salah satu Ustadzah kenalannya di Jogja untuk membantu membina Anita.
"Semua tidak terlepas dari sistem yang mendukung semua itu terjadi, Ma. Seakan memfasilitasi." ada nada kesal dari kalimat Alura barusan.
"Kau benar, Sayang. Semoga kita bisa istiqomah dan Allah mudahkan untuk menetapi jalan kebenaran," kata Mira.
"Aamiin."
Mentari baru saja menampakkan sinarnya. Sisa-sisa hujan semalam sesekali masih menetes dari tanaman di halaman rumah Alura. Tadi, selepas subuh Mira dan Arya sudah berangkat ke Jogja, meninggalkan Alura dan bibi Enci di rumah. Alura kini sudah siap dengan gamis berwarna Navy, warna kesukaannya. Seperti rencananya semalam ia akan pergi mengunjungi Bibi Mery.
Di meja makan Alura sarapan seorang diri. Selesai sarapan dia melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 8 pagi. Alura kembali ke kamarnya mengambil tas dan sedikit buah tangan untuk Bibi Mery kemudian menghidupkan mobilnya dan mengemudi ke tempat tujuan.
"Maaf, apakah ada Bibi Mery di dalam?" pemuda itu tidak langsung menjawab, dia malah terlihat sedang menilai penampilan Alura dengan kerudung lebarnya.
"Ehem." deheman Alura sukses membuat pria itu menjawab pertanyaannya.
"Ya ada, masuklah!"
Alura mengekor di belakang berjalan masuk ke dalam.
Setelah mempersilahkan Alura duduk, pria itu masuk ke dalam kamar.
Alura setia menunggu di sofa. Tidak lama muncul seorang perempuan blasteran yang kisaran umurnya empat puluh akhir berjalan dengan anggun.
Alura mengenalinya sebagai Bibi Mery. Ternyata kecantinkan Bibi Mery tak lekang termakan usia.
"Hallo, Sayang." perempuan itu langsung memeluk Alura dan mencium kedua pipinya. Alura tak kuasa menahan tangis karena wajah Bibi Mery mengingatkan ia pada Dady nya.
"Hiks .. Hiks.
Bibi Mer, bagaimana kabar, Bibi" Alura bertanya di sela tangisnya
"Bibi baik, dan kau? Apa yang terjadi denganmu, Alura?" Alura yakin pasti Bibi Mery kaget dengan penampilannya sekarang ini. Alura mengeluarkan sapu tangan dari dalam tas untuk menyeka airmatanya.
__ADS_1
"Saya sekarang muallaf, Bibi," jawab Alura nyaris tak terdengar.
"APA!" teriak Bibi Mery membuat Alura mengangkat wajahnya.
"Apa yang kau lakukan Alura, kau ...!" Bibi Mery terlihat sedang mengatur nafasnya "Kau, meninggalkan keyakinan kita?" Tanyanya dengan wajah memerah menahan amarah
"Iya, Bi."
"Astaga! George pasti kecewa padamu."
"Insyaallah tidak. Kalau Dady masih hidup, saya yakin dia tidak akan melarang," jawab Alura merasa kurang nyaman saat Bibi Mery membawa-bawa Dadynya yang sudah meninggal.
"Sejak kapan?" Tanya Bibi Mery tajam.
"Alhamdulillah sejak sepuluh tahun yang lalu, Bibi."
"Kau membuat Bibi kecewa, Alura."
Mery menggeram kesal jelas dia tidak suka. Ini tentu akan menghambat rencananya.
"Langsung saja, aku ingin membahas isi surat wasiat George," kata Bibi Mery mengeluarkan sebuah map berwarna biru lalu memberikannya pada Alura, "bacalah!"
Alura menerima dan mulai membaca membaca isinya. Tiba ke point terakhir, jantung Alura rasanya berhenti berdenyut.
"MENIKAH DENGAN MAX." itu isi pointnya jika ingin harta warisan itu di miliki Alura.
"Bibi, benarkah ini Dady yang membuatnya?" Alura mencari kebenaran dari ekspresi wajah Bibi Mery. Wajah Mery terlihat tenang, percayalah, Mery adalah orang yang paling pandai berakting.
"Tentu, apa kau menuduh Bibi mu ini berbohong?" Kini Mery sudah memasang wajah sedih membuat Alura jadi tidak tega.
"Baiklah, Bibi. Sebenarnya mengapa Dady membuat surat wasiat seperti ini?"
"Itu karena George tak ingin hartanya jatuh kepada orang lain. Dia ingin harta itu tetap beredar pada keluarganya," terang Bibi Mery.
Alura mencoba mencerna penjelasan Bibi Mery barusan. Tapi entah kenapa hatinya masih saja ragu. Terlepas dari benar atau tidak. Alura perlu meluruskan satu hal, bahwa dia tidak bisa menikah dengan Max karena mereka berbeda keyakinan.
"Bibi Mery, sebelummya saya minta maaf, semuat terasa sangat mengejutkan dan tiba-tiba untuk saya. Saya sama sekali tidak menyangka, jika ada surat wasiat seperti ini. Tapi terlepas dari itu semua, saya dan Max ... " Alura menjeda kata-katanya menimbulkan rasa penasaran Bibi Mery.
"Saya tidak bisa menikah dengannya," ujar Max dengan ekspresi dingin
"Kenapa? Tunggu disini." Bibi Mery beranjak berjalan memasuki salah satu kamar. Tidak lama dia keluar tapi tidak sendiri, dibelakangnya ada pria yang membukakan pintu di depan tadi dengan pria lainnya yang duduk di kursi roda.
DIA? Alura mengingatnya, pemuda di kursi roda itu yang dia tabrak waktu di kafe.
"Alura, kenalkan ini Max." Bibi Mery yang berinisiatif mengenalkan duluan putranya.
Untuk sesaat Alura bisa melihat bola mata sebiru lautan itu menatapnya tajam, Alura kembali menunduk.
"Max." suara dingin dan berat itu mau tak mau membuat Alura mendongak dan melihat kearah mereka bertiga. Merasa gugup Alura menelan salivanya pelan.
__ADS_1
"Alura," cicitnya. Alura hanya pernah bertemu Max dua kali ketika dia dan keluarganya pergi ke rumah Bibi Mery di London. Itupun usianya sekitar lima tahun. Jadi dia hanya samar-samar mengingatnya.