
Alura sedang mengikuti kajian Islam rutin seminggu sekali di rumah Ustadzah Arini. Selain mereka berdua ada juga, Melan, Indah dan Naya. mereka berlima sudah menikah semua. Hanya Alura yang belum mempunyai momongan. Masing-masing sahabatnya sudah memiliki dua orang anak. Alura selalu bahagia tiap kali akan pergi kajian. Selain dia mendapatkan ilmu dan tambahan tsaqofah Islam, dia juga akan bertemu malaikat kecil yang membuat hatinya menghangat. Anak-anak itu bergitu imut dan menggemaskan. Andai saja Max mau memberikan benih agar dia juga bisa memiliki malaikat kecil itu. Membayangkan itu, Alura hanya bisa tersenyum. Mengingat Max, muncul rasa kangen walaupun baru dua jam mereka berpisah. Ini mungkin efek jatuh cinta. Ah, sweetnya.
Alura memang sudah jatuh cinta pada suaminya, belahan jiwanya. Tidak peduli meskipun Max menolak dan mengabaikannya.
"Begitu, ya. Jadi, jawaban seorang mukmin jika diseru pada Allah dan Rasul-Nya adalah samikna wa atokna, kami tahu dan kami taat."
Suara Ustadzah Arini menyadarkan Alura. Dia kembali fokus mendengarkan.
"Contohnya, ketika Allah mewajibkan muslimah yang sudah baligh untuk menutup aurat, atau larangan menjauhi zina dan meninggalkan riba serta larangan lainnya, sikap kita sebagai mukmin adalah taat. Islam itu jelas, tidak abu-abu. Tidak ada juga kompromi atau garis tengah. Jika itu perintah dari Allah, maka kerjakan bersungguh-sungguh, sebaliknya jika itu larangan maka tinggalkan jangan menyentuhnya sama sekali," kata Ustadzah Arini menatap satu persatu sahabatnya.
"Ustadzah, bagaimana jika seseorang dengan sengaja mengabaikan larangan Allah?" tanya Naya. Tangannya dari tadi tidak berhenti mengusap punggung si bungsu yang pulas di pangkuannya.
Sebelum menjawab pertanyaan Naya, Ustadzah Arini tersenyum. Naya memang paling aktif bertanya jika kajian sedang berlangsung.
"Terkadang seseorang enggan meninggalkan apa yang telah diharamkan oleh agama karena menganggap hal tersebut bermanfaat baginya. Seseorang enggan meninggalkan korupsi karena berjudi membuatnya mendapat uang, seseorang enggan meninggalkan daging **** karena rasanya enak, enggan meninggalkan khamer karena bisa menenangkan dan lainnya. Coba kita lihat bagaimana
para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in, bersikap terhadap larangan agama, mereka berkata:
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah melarang sesuatu yang kami anggap lebih bermanfaat. Namun taat kepada Allah dan Rasul-Nya tentu lebih bermanfaat bagi kami” (HR. Muslim, no. 1548).
Sesuatu yang Allah Swt larang untuk dikerjakan, sudah tentu itu yang terbaik. Karena Allah Sang Khalik. Allah tahu apa yang baik dan buruk bagi makhluk ciptaan-Nya. Jika dengan sengaja kita melanggar laranganga Allah, tentu saja akan berdosa. Itu artinya, kita kufur terhadap nikmat Allah."
Ustadzah Arini melanjutkan,
"Jika atasan, atau orang yang kita hormati melarang terhadap sesuatu, tentu kita pun akan mematuhinya bukan? Maka bagaimana lagi jika larangan itu datang dari Dzat yang menciptakan, memberikan nikmat berlimpah, menghembuskan kehidupan pada diri kita, Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Dzat Yang Menguasai Hari Pembalasan kelak, tentu lebih layak kita mematuhinya, bukan?"
"Masyaallah, benar Ustadzah. Lalu kepada Allah Sang Pencipta, mengapa kita harus tidak taat," kata Naya sambil tersenyum.
"Iya Ustadzah. Larangan serta perintah yang Allah sampaikan, tentunya semua demi kemaslahatan manusia," kata Alura menambahkan dan membenarkan penjelasan Ustadzah Arini.
Inilah mengapa Alura selalu bersemangat saat pergi untuk menuntut ilmu. Penjelasan yang dia dapat saat kajian sungguh mencerahkan.
__ADS_1
Tidak terasa dua jam lebih sudah berlalu. Setelah kajian usai, Ustadzah Arini menjamu mereka dengan makan siang di rumahnya.
"Alura, Emm, bagaimana apa sudah ada tanda-tanda?" tanya Melan memberi kode sambil mengusap perutnya.
"Belum, Mel. Doakan saja, ya," jawab Alura tanpa merasa tersinggung sama sekali.
"Nggak apa-apa Alura, aku juga ditahun ketiga baru isi," kata Indah menimpali.
"Iya, sekarang nikmati saja masa-masa pacaran dulu," kata Naya kemudian tertawa mengingat dia dulu tidak sempat pacaran karena sebulan menikah langsung positif.
"Nah, bener itu," ujar Melan.
Alura tersenyum menanggapi komentar sahabatnya. Sebenarnya Alura sudah ingin, tapi mau bagaimana jika Max belum bersedia.
Selesai makan siang dan solat zuhur, Alura pulang bersama Indah. Tidak langsung pulang ke rumah, melainkan Alura memilih mampir ke kafe untuk menemui Max. Entah kenapa saat ini dia begitu merindukan sosok Max dan ingin berada didekatnya.
Sampai di Kafe Alura dapat melihat Max dan Ray sedang duduk di kasir. Alura mempercepat langkahnya menghampiri sosok yang memenuhi pikirannya sejak tadi.
"Assalamu'alaikum," sapa Alura mendekat ke sisi Max.
"Sudah."
"Apakah kau mau makan siang?" tawar Max.
"Tadi aku sudah makan siang di rumah Ustadzah Arini."
"Baiklah."
"Max, kau sudah solat?"
"Belum," jawab Max.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo solat dulu." Alura meraih kursi roda Max mendorong ke ruangannya. Menyisakan Ray yang sejak kehadiran Alura memilih bungkam.
Selesai solat Max mendekati Alura yang sedang duduk di sofa mini dekat meja kerjanya. Dia memperhatikan penampilan Alura saat ini yang mengenakan gamis hitam berpadu kerudung biru langit. Ujung bibir Max tertarik membentuk senyuman. Istrinya ini kalau di ingat-ingat dia suka memakai gamis berwarna hitam. Hampir setiap hari Max melihatnya memakai warna itu. Kemudian dia mendorong kursi rodanya menuju meja di samping sofa. Tangannya bergerak membuka laci dan mengeluarkan paper bag.
"ini ambillah."
Alura menurunkan gawainya. Pandangannya tertuju pada paper bag di tangan Max.
"Untukku?" tanya Alura.
"Iya."
Alura berdiri lalu berjongkok di depan Max. Dengan tidak sabar dia membuka dan melihat isinya. Ah, ternyata satu stel gamis berwarna hitam. Cantik sekali.
"Max, kau membelikan ini untukku?" bisik Alura dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja. Kau pikir istriku ada berapa?"
"Terima kasih, Max," ujar Alura menghambur memeluk leher suaminya. Alura saat ini sangat bahagia. Meskipum ini bukan kali pertama Max membelikanya baju. Tapi ini berbeda, karena Max Tahu warna kesukaannya.
"Jangan menangis, nanti kemejaku basah."
"Aku sudah terlanjur menangis."
"Kalau begitu berhentilah."
"Max, Ana uhibbuka fillah. Aku mencintaimu karena Allah," bisik Alura di dekat telinga Max.
Mendengar itu tubuh Max menegang. Kemudian dia meraih pundak Alura, menatap wajah basah yang terlihat menggemaskan.
"Cintamu, berikan kepada laki-laki yang layak."
__ADS_1
"Tapi Max... "
Max mengusap airmata Alura. Setelah itu dia menggerakkan kursi rodanya keluar ruangan. Menyisakan Alura dengan hati yang seketika layu.