
Max menatap Alura tepat ke netranya. Apa yang barusan Alura ungkapkan sedikit mengggetarkan hatinya. Terbuat dari apa hati wanita di depannya ini? mudah sekali melupakan penolakan dia selama ini.
"Berhentilah menangis," ujar Max mengelus kepala Alura.
"Maaf," kata Alura menyeka airmatanya menggunakan punggung tangan.
"Maafkan aku, jika kau bersikeras. Aku tidak bisa memberikan kepastian berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menerima semua ini."
Alura mendadak merasa bersemangat mendengar kalimat Max barusan. Itu artinya dia ada harapan untuk selalu bersama.
"Max, aku akan berusaha agar tidak terlalu lama," kata Alura mengubah posisinya menjadi berjongkok di depan Max.
"Kau percaya diri sekali," tukas Max.
"Aku akan terus berdoa kepada Allah yang Maha membolak-balikkan hati, agar kebekuan di hati suamiku segera mencair," ujar Alura tanpa ragu.
"Terserah kau saja."
Max memutar kursi rodanya ingin masuk ke dalam rumah. Alura di belakang tersenyum. Di dalam hati dia bertekad akan berusaha meluluhkan hati suaminya.
Askal baru saja keluar kantor. Dia berjalan ke parkiran menuju mobilnya. Nanti malam dia ada agenda mengisi kajian Islam di masjid dekat rumah sahabatnya. Sebelum mencapai mobilnya dia memperhatikan seorang perempuan berdiri di samping motornya terlihat bingung. Karena penasaran Askal mendekati wanita itu.
"Assalamu'alaikum. Mbak butuh bantuan?" tanya Askal belum melihat wajah si punya motor karena berdiri membelakanginya.
"Walaikumsalam." wanita itu berbalik. Mereka saling menatap sesaat kemudian sama-sama mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Anda kan yang menabrak saya tempo hari."
"Iya. Maafkan keteledoran saya waktu itu," kata Askal sedikit merasa malu mengingat perbuatannya sore itu.
"Sudah aku maafkan," balas wanita itu tidak berminat terlibat obrolan dengan Askal.
"Mbak butuh bantuan?"
"Motor saya habis bensin. Saya bingung di dekat sini tidak ada yang menjualnya."
__ADS_1
"Mbak tunggu di sini. Sebentar akan saya belikan," kata Askal berlalu meninggalkan wanita itu sendirian. Kemudian dia setengah berlari menuju mobilnya.
tiga puluh menit kemudian Askal muncul membawa bensin. Dia langsung menghampiri wanita itu yang masih setia menunggu di samping motornya.
Setelah selesai, wanita itu mengucapkan terima kasih dan segera menghidupkan motornya. Sebelum motor melaju Askal sempat bertanya siapa nama wanita yang secara kebetulan bertemu dengannya sebanyak dua kali.
"Panggil saja, Laila." Setelah mengatakan itu Laila segera memacu sepeda motornya meninggalkan Askal.
"Laila," Askal membeo. Kemudian dia berbalik menuju mobilnya dan meninggalkan kantor.
Askal sekarang sudah tidak tinggal lagi dengan keluarga angkatnya. Dari hasil kerjanya dia sudah bisa membeli rumah dan kendaraan. Sekarang dia tinggal di Jakarta. Sesekali pulang ke Padang menunjungi orang tua angkatnya.
Selesai membersihkan diri Askal duduk di kamarnya. Kamar yang di isi satu buah tempat tidur dengan ukuran sedang, meja dan kursi serta lemari dua pintu. Di dinding ada Foto dirinya dan kedua orang tua angkatnya ketika wisuda.
Askal mengambil Al-Qur'an di atas meja membawanya duduk di atas tempat tidur.
Dengan tartil dia membaca ayat demi ayat. Suara beratnya memenuhi seisi ruangan kamarnya.
"Assalamu'alaikum, Askal!"
Askal menggentikan bacaannya. Di depan seseorang sedang mengucapkan salam dan mengetuk pintu.
"Walaikumsalam," kata Askal sambil menarik daun pintu.
"Ustaz Umar, mari silahkan masuk." Askal menyalami Ustaz Umar kemudian beriringan menuju ruang tamu.
"Aku pas lewat sini, jadi sekalian mampir," terang Ustaz Umar setelah duduk.
"Maaf Ustaz, saya belum sempat berkunjung ke rumah antum."
"Tidak apa-apa, lain kali saja sekalian bawa pendamping," seloroh Ustaz Umar sambil tersenyum.
"Wah, calon saja belum ada, Ustaz."
"Akhwat yang waktu itu antum ceritakan ingin di khitbah bagaimana?" tanya Ustaz Umar.
"Dia sudah menikah, Ustaz," jawab Askal dengan raut berubah sendu.
__ADS_1
"Sudahlah, berarti dia bukan jodoh antum. Berarti Allah sedang menyiapkan jodoh terbaik untuk antum." hibur Ustaz Umar sambil menepuk bahu Askal pelan.
"Tapi rasanya sulit melupakan akhwat itu, Ustaz. Sejak remaja saya mengenalnya. Saya berazzam akan menghalalkannya jika waktunya sudah tepat."
"Askal, antum kan tahu perkara jodoh itu rahasia Allah. Jika sesorang bukan digariskan menjadi jodoh kita, bagaimanapun kerasnya kita berusaha. Tetap saja tidak akan bersama. Cinta itu fitrah, maka tidak bisa dihilangkan. Tetapi bisa dialihkan, dari cinta kepada manusia kepada cinta kepada Sang Pencipta," ujar Ustaz Umar dengan khas pembawaannya yang tenang.
Askal mengangguk dua kali. membenarkan apa yang barusan Ustaz Umar sampaikan. Memang salahnya juga, menyukai Alura yang belum halal untuknya. Sedangkan hati itu begitu lembut. Jika tidak pandai mengelolanya, maka dia akan terjerat pada hawa nafsu.
"Astaghfirullah, Betul Ustaz. Saya terbawa perasaan," kata Askal jujur..
"Maka segeralah menikah."
"Saya merasa saat ini ingin lebih fokus pada dakwah dulu, Ustaz," tolak Askal halus.
"Memangnya kalau menikah, kau tidak bisa fokus dakwah?" tanya Ustaz Umar.
"Askal, Berdakwah itu wajib, merupakan ibadah kepada Allah. Menikah juga ibadah kepada Allah Swt. Lihatlah Rasulullah Saw. Beliau menikah, Beliau juga berdakwah. Semua berjalan bersinergi. Jangan jadikan pernikahan itu beban.
ingat hadist Rasulullah ini:
"Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka segeralah menikah, karena nikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (Muttafaqun alaihi)."
Askal mendengarkan merasa tertampar. Sebenarnya dia hanya beralasan saja. Karena belum bisa melupakan Alura. Dia menyibukkan diri dengan dakwah dan kerja. Mungkin dengan begitu keinginanan dia untuk menikahi Alura akan sirna dengan sendirinya.
"Maaf, Ustaz."
"Sudahlah. Anak muda sepertimu terlalu banyak perimbangan. Jika antum mau ta'aruf nanti biar saya tanyakan pada istri. Mana tahu ada akhwat yang siap menikah."
"Syukron, Ustaz," kata Askal merasa tidak enak.
"Sama-sama. Oh iya, ini buletin dakwah nanti bisa antum sebarkan pada jamaaj yang antum isi." Ustaz Umar menyerahkan buletin ke tangan Askal.
"Kalau begitu saya permisi, dulu."
"Baiklah, Ustaz. Insyaallah, nanti akan saya sebarkan."
Askal dan Ustaz Umar berjalan menuju pintu. Diam-diam Askal merasa iri pada Ustaz Umar yang memilih menikah muda ketika dia masih kuliah. Sekarang Ustaz itu telah memiliki empat orang putra dan putri. Sedangkan dia, jangankan anak, calon istri saja belum ada.
__ADS_1
Askal kembali masuk ke dalam kamarnya. Obrolan dengan Ustaz Umar mengusik pikirannya. Benar kata Ustaz Umar. Jika dia menikah sekarang akan ada fatner dakwah bersama. Membangun visi misi yang bersama. Tentunya hatinya akan tenang, tidak lagi memikirkan wanita yang sudah menjadi istri orang lain. Mau bagaimanapun kenyataanya Alura sudah menikah.