
By Nelliya Azzahra
Alura melangkahkan kaki memasuki rumah besar itu dan menyusuri setiap ruangannya. Dadanya kembali terasa sesak ketika mengingat setiap sudut dari rumah itu yang berisi kenangn indah dan kenangan pahit bersamaan.
Itulah kehidupan, seperti dua sisi mata uang, bahagia dan kesedihan tidak bisa terelakkan.
Adakalanya Allah menguji dengan ujian, kesedihan, kesakitan, dan kekurangan. Lalu di lain waktu, Allah anugrahkan nikmat kebahagiaan yang tak terkira.
Alura berjalan ke arah jendela yang terdapat di ruang utama. Dengan sedikit mendorongnya, maka jendela itu sudah terbuka dan menampakkan langsung pemandangan kebun bunga mawar milik paman Soleh.
Alura ingat dulu waktu dia berusia tujuh tahun, dia suka membawa keranjang dan meminta izin pada Tante Raihanah untuk memetik bunga mawar merah itu. Kemudian bunga-bunga itu dia bawa ke rumahnya dan di letakkan begitu saja di atas meja sampai kering.
Alura tertawa kecil membayangkan kenangan masa kecilnya.
Hidup kita memang tidak tahu akhirnya akan seperti apa. Dulu, Alura pikir hidupnya akan selalu bahagia dengan keluarga yang utuh, namun siapa sangka, semua tidak seperti apa yang dia harapkan. Dia baru sadar, bahwa manusia hanya bisa berencana, untuk hasil akhirnya hanya Allah yang menentukkan.
Tapi, sungguh Allah itu Maha Adil dan tidak zalim. Saat Alura merasa di titik terendah dalam hidupnya, saat itu pula Allah hadirkan kemudahan dan kebahagiaan lewat orangtua angkatnya. Dan yang lebih luar biasa adalah agama yang kini dia anut, yakni agama Islam. Alura tidak pernah merasa sebahagia ini, bagaimana dia tidak bahagia? Jika dia bisa mengenal Rabb yang menciptakannya, bisa tahu tujuan hidupnya, tahu untuk apa dia diciptakan di dunia ini, bisa beribadah sesuai dengan apa yang Rabbnya inginkan bagi Alura sudah cukup. Dia tidak ingin serakah dengan meminta lebih.
Keinginan Alura sederhana saja, hanya ingin hidup, beribadah dengan tenang, dan menebarkan kebaikan. Tidak menghabiskan waktu yang Allah pinjamkan dengan hal-hal yang sia-sia, sudah itu saja.
Alura menyeret langkahnya menuju kamar yang dulu dia tempati. Satu-satu anak tangga di naiki, semakin dekat dengan kamarnya, rasa sesak semakin memenuhi rongga dadanya.
Klek ...!
Terpampanglah, kamar yang lumayan luas. Sedikit gemetar Alura masuk ke dalam, dan duduk di pinggir ranjang.
Ingatan itu datang lagi, Alura ingat bagaimana dia menahan lapar semalaman dengan meringkuk di atas ranjang tersebut sambil memegangi perutnyq karena terasa perih, biasanya berakhir dengan tidur dalam kondisi perut lapar. Ya, jika Alura dianggap berbuat kesalahan, sebagai hukumannya Alura tidak diberikan makan malam.
Tangis Alura pecah mengingat itu semua sampai dia meremas dadanya, sakit ... rasa sakit itu masih begitu nyata..
Bukan Alura tidak ikhlas, hanya saja Alura butuh waktu untuk menyembuhkan setiap luka dihatinya. Untuk memaafkan, insyaallah sudah lama Alura memaafkan perbuatan ibu dan ketiga saudari tirinya itu. Karena dalam Islam tidak di ajarkan untuk menyimpan rasa dendam dan kebencian, nasehat dari Ustadzah Aisyah, beliau mengatakan, untuk membalas perbuatan buruk dengan kebaikan.
__ADS_1
Mungkin, orang lain berpikir Alura terlalu naif, tapi sesungguhnya tidak sama sekali. Alura merasakan ketenangan dalam hidupnya, ketika dia tidak menyimpan kebencian dan dendam. Dia tidak ingin kebencian itu bersarang di hatinya membentuk penyakit hati yang kelak sedikit demi sedikit menyebabkan hatinya mati. Hati yang mati, sulit untuk menerima hidayah dan kebenaran.
"Assalamualaikum!"
Alura tersentak mendengar suara perempuan yang mengucapkan salam. Buru-buru dia menghapus sisa airmatanya dan merapikan kerudungnya sebelum keluar kamar.
Dia tidak salah dengar, di depan pintu berdiri perempuan muda mengenakan gamis dan kerudung lebar sedang memunggunginya.
"Walaikumsalam" perempuan itu berbalik dan tersenyum hangat.
"Mba Alura! Masyaallah. Gak nyangka kita bisa bertemu lagi, Mbak" Fatimah anak kedua Paman Soleh segera memeluk Alura, menyalurkan kerinduan karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Dulunya, dia dan Alura sering bermain bersama di taman mawar milik ibunya di belakang rumah. Keluarga Alura sangat baik, rumah yang mereka tempati sekarang adalah pemberian dari keluarga Alura.
Bahkan, dulu Alura sudah dianggap seperti anak sendiri oleh ibu dan Ayahnya.
Tapi sayang, ketika Alura berumur lima belas tahun, mereka tidak pernah lagi melihat Alura di rumah mewah itu. Berdasarkan keterangan Mama tirinya, Alura tinggal di luar negeri bersama paman dan bibinya.
Mereka percaya saja, tidak menaruh curiga sedikit pun. Karena mereka tahu memang ada paman dan bibi Alura yang tinggal di London.
"Mbak ..." Fatimah menutup mulut dengan kedua tanganya, dia baru sadar jika Alura mengenakan pakaian muslimah. Setahunya, keluarga Alura non muslim, termasuk Alura.
"Ya?"
"Maaf, pakaian Mbak, Alura?"
Alura tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Fatimah. Dia bisa melihat ekspresi keterkejutan dari wajah sahabat masa kecilnya itu.
"Sekarang, kita saudara seakidah, Fatimah. Aku memutuskan menjadi muallaf" terang Alura yang justru membuat Fatimah mengangis tidak kuasa menahan rasa haru dan dan bahagia. Sesungguhnya hidayah itu milik siapa saja yang Allah Swt kehendaki.
"Allahu akbar!" Fatimah menyusut airmatanya "ahlan wa sahlan ukhti" mereka kembali berpelukan.
"Dari mana kau tahu, jika aku kembali?"
__ADS_1
"Bang Yasir, dia yang memberitahuku Mbak. Aku tidak menyangka, bisa bertemu Mbak Alura lagi" kali ini tangis Fatimah sudah mulai reda.
Yasir, ya pemuda yang dia temui di depan gerbang tadi adalah Abang kandung Fatimah.
"Ooh. Bagaimana kabar pak Soleh dan Ibu Raihanah?"
"Alhamdulillah baik, Mbak. Ayo, kerumahlah! Mereka juga pasti merindukkan mba Alura" Fatimah yakin kedua orangtuanya akan senang jika melihat Alura kembali.
"Baiklah, nanti malam insyaallah aku berkunjung ke rumah, mu"
Tidak berapa lama Fatimah pun pamit meninggalkan Alura sediri di rumah tiga tingkat itu. Alura segera kembali ke kamarnya setelah mengunci pintu depan.
Alura sudah membersihkan diri dan bersiap solat magrib, sambil menunggu adzan, Alura murojaah hapalannya satu juz.
Airmata Alura menetas ketika sampai pada ayat: maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?
Tidak sedikit yang kufur terhadap nikmat Allah, padahal nikmat Allah itu sangatlah banyak tak akan mampu di menghitungnya.
Sekeras apa pun kita mencobanya.
Drrrt Drrrt
Baru saja selesai murojaah, ponsel Alura bergetar muncul nama Pak Oscar disana.
"Assalamualaikum, ada apa Pak Oscar?"
"Walaikumsalam. Maaf, Mbak Alura, saya baru dapat email dari Bibi, Mbak di London. Isinya meminta Mbak untuk kesana. Karena mengenai surat wasiat itu, mereka ingin melihat secara langsung"
"Lalu, kenapa harus aku yang kesana?"
"Mereka, ingin bertemu denganmu, Mbak Alura"
__ADS_1
Alura menghembuskan nafas kasar. Apakah dia harus menemuai bibinya? Bagaimana pula reaksi mereka nanti melihat perubahan pada dirinya?