Senandung Cinta Alura

Senandung Cinta Alura
Debaran


__ADS_3

Alura merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya sembab dengan cuping hidung memerah akibat menangis lama. Rasanya malam ini dia tidak ingin melihat wajah Max. Bukan karena Alura marah, tapi lebih karena malu. Belum pernah Alura menerima penolakan secara terang-terangan seperti ini. Rasanya lebih sakit dari pada disiksa ibu dan suadara tirinya. Sulit sekali membuat Max membuka hatinya. Bahkan, Alura rela menanggalkan rasa malu demi meraih hati suaminya. hasilnya, tetap saja Max tidak melihat kepadanya.


Tentang perkataan Max, Alura berpikir bahwa Max tidaklah serius menginginkan pernikahan ini. Buktinya, mudah sekali Max mengatakan kata pisah. Padahal pernikahan mereka baru berjalan satu bulan. Bagi Alura pernikahan itu ikatan yan sakral. Perjanjian yang kuat mengikat dua insan di hadapan Allah. Pernikahan bukan permainan yang bisa seenaknya, sesuka hati. Ada hak dan kewajiban suami istri yang harus tertunaikan di dalam sebuah pernikahan. Agar rumah tangga yang dibina mencapai barokah.


Alura merasakan nyeri di dadanya bagai diremas sesuatu tidak kasat mata. Sakit sekali, rasanya untuk bernafas saja sulit.


Menekan dadanya, Alura mencoba untuk tidur. Rasanya lelah sekali dengan semua yang telah terjadi. Mungkin dengan tidur dia dapat melupakan sejenal rasa sakitnya.


Baru saja matanya hendak terpejam suara pintu dibuka kembali mengembalikan kesadarannya. Tanpa melihat siapa yang telah membuka pintu, Alura tahu itu Max.


Sadar akan penampilannya yang kacau, Alura memilih menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Menyembunyikan diri di balik selimut.


Menit demi menit berlalu tidak ada pergerakan kasur di sebelahnya. Kemana perginya Max?


Alura menyembulkan kepalanya dari balik selimut. Saat dia berbalik matanya langsung berserobok netra gelap Max.


"Kau masih menangis?" Tanya Max berusaha menahan senyum melihat wajah Alura sekarang.


Alura memilih bungkam. Dia kembali menenggelamkan kepalanya di dalam selimut. Sudah melihat dia yang kacau, masih repot-repot bertanya, bathin Alura.


"Wajahmu mirip tomat busuk," kata Max.


Alura menyibakkan selimut bersandar di kepala ranjang. Tangannya meraba permukaan wajahnya. Benarkah sekarang wajahnya seperti tomat busuk? ingin membuktikan perkataan Max,


Alura turun dari ranjang menuju meja riasnya. Melihat pantulan dirinya di cermin membuat Alura kaget. Benar apa yang dikatakan Max, tapi apa tidak keterlaluan mengatainya mirip tomat busuk.


Masih tanpa suara Alura cepat-cepat ke kamar mandi untuk membasuh muka. biar lebih segar.

__ADS_1


Keluar dari kamar mandi Alura tetap bungkam. Dia mengambil cream malam lalu mengoleskan ke wajahnya dengan posisi membelakangi Max. Dari kaca di meja riasnya dia sesekali melirik Max yang fokus pada buku di tangannya.


Setelah selesai Alura berniat langsung tidur. Ini caranya menghindari suaminya.


Belum sampai tubuhnya mencapai kasur, suara Max menghentikan langkahnya.


"Kemarilah!" pinta Max.


Alura berbalik. Mau tidak mau sekarang mereka bersitatap. Alura kembali disergap rasa malu.


"Kenapa Max?" Alura pikir Max butuh bantuannya untuk naik ke atas tempat tidur.


"Cepat kemari sebelum aku berubah pikiran," tegas Max.


Alura mendekati Max lalu berjongkok di depannya. Sepersekian detik mereka hanya saling menatap. Seperti berbicara dari hati ke hati. Alura melihat wajah Max tidak sehoror tadi. Hanya ekspresi datar seperti biasa.


Alura menurut semakin merapatkan tubuhnya ke arah Max.


Tanpa dia duga Max meraih kepalanya merebahkan ke pangkuan laki-laki itu.. Lalu tangan hangat Max mengelus pelan surai panjangnya.


Tubuh Alura menegang seperti dialiri listrik bertegangan tinggi. Degub jantungnya perpacu lebih cepat, sekarang rasanya Alura mendadak diserang demam. Mimpikah dia sekarang? Jika iya, jangan biarkan dia terjaga.


Alura merasakan matanya mulai memanas ketika Max mendekapnya. Rasanya hangat dan nyaman seperti dia telah menemukan tempat pulang. Ya, inilah tempat kembalinya yang sudah lama dia rindukan. Sandaran tempat memberikan perlindungan dan rasa nyaman. Sulit sekali mendeskripsikan apa yang saat ini dia rasakan.


Sementara Max keadaannya tidak jauh berbeda dari Alura. Sejujurnya tadi dia menyesal mengatakan perpisahan secara terang-terangan. Meskipun dia tidak mencintai Alura, tapi tidak berniat membuat Alura menjadi janda secepat itu. Setidaknya sampai Alura menemukan lelaki yang tepat dan Mery mendapatkan harta warisan yang dia inginkan.


Ketika dia masuk kamar mendapati Alura di atas ranjang dengan seluruh tubuh tertutup selimut sudah bisa ditebak pasti dia menangis. Benar saja, saat selimut tersibak menampakkan wajah Alura yang sembab. Justru terlihat lucu di mata Max. Bahkan Max berusaha keras menahan diri agar tidak tertawa.

__ADS_1


Max orangnya tidak pandai merangkai kata-kata atau membujuk wanita. Jadi, apa yang dia lakukan sekarang berharap dapat menghibur Alura serta mengembalikan suasana hatinya menjadi lebih baik.


"Kau menangis lagi?" Max mendengar isak Alura dengan kepala masih berada di pangkuannya.


"Berhentilah menangis. Apa kau tidak takut stok airmatamu habis?"


"Biarkan saja," kata Alura.


"Baiklah, menangis sesuka hatimu." Akhirnya Max menyerah.


Mendengar itu tangis Alura kian kencang. Kenapa suaminya tidak peka sama sekali. Bukannya minta maaf malah membuat hatinya semakin rapuh dengan apa yang dia lakukan sekarang.


Alura mengangkat wajahnya yang basah. Lalu dia meraih tissu menyeka hidungnya pelan.


"Max, apa aku tidak menarik?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibis tipis Alura.


Max memandang wajah basah Alura menimbulkan rasa iba dalam hatinya. Mengapa wanita sebaik dan secantik Alura harus menjadi istri dari pria cacat sepertinya yang tidak memiliki masa depan sama sekali? Max harus segera membebaskan Alura dari pernikahan ini agar Alura mendapatkan pria yang layak.


"Tidurlah."


"Max, apa kau begitu tersiksa dengan pernikahan ini?" Alura bertanya dengan tidak melepaskan tatapannya, Alura padahal sudah berjanji akan mempertahankan pernikahan ini. Namun, jika Max benar-benar ingin lepas tidak ada gunanya lagi bertahan. Max menggerakkan kursi rodanya mendekati Alura. Tanpa menjawab pertanyaan Alura dia kembali meraih tubuh istrinya. Baru kali ini sejak Max divonis lumpuh dia ingin bisa sembuh. Entah kenapa melihat rapuhnya Alura seperti sekarang muncul keinginan untuk menjaga wanita itu.


Alura mendongak menatap wajah Max.


"Max, apakah kau marah?" Alura tadi terbawa suasana sampai bertanya yang tidak sepantasnya. Kemudian dia teringat akan sebuah hadist,


"Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.”

__ADS_1


Max menggeleng lalu jempolnya mengusap airmata di pipi Alura. Melihat itu kebahagiaan Alura membuncah. Seperti ini saja sudah cukup. Ya Allah, tumbuhkanlah rasa cinta di hati Max untuk hamba. Doa Alura dalam hati.


__ADS_2