Senandung Cinta Alura

Senandung Cinta Alura
Pingsan


__ADS_3

Sebelum subuh Alura sudah terjaga. Dia melihat di sampingnya Max masih pulas. Alura mengubah posisinya jadi miring. Di perhatikannya lekat wajah tampan Max ketika tidur tidak jauh berbeda dengan saat dia terjaga. Mudah sekali menebak ekspresi suaminya itu, hanya ekspresi wajah datar yang dia punya.


Alura kadang bertanya-tanya, bagaimana Max bisa mengendalikan perasaannya seperti itu. Seolah dia benda mati tanpa emosi.


Tangan halus Alura membelai kerutan di dahi Max pelan. Mimpi apa suaminya sampai dahinya berkerut seperti itu. Perlahan kerutan di dahi Max hilang, Alura tersenyum. Tiba-tiba wajahnya berubah sendu. Dia hanya bisa mengagumi sedekat ini hanya bila Max tidur. Jika terjaga, Max terang-terangan akan menjaga jarak. Seolah Alura parasit tidak layak berdekatan bahkan mungkin dia tidak pernah menganggap Alura ada.


Alura meraba dadanya yang kembali berdenyut. Selalu Alura minta kepada Allah agar cinta di hati suaminya lekas bersemi. Sebenarnya Alura tidak keberatan menunggu berapa lama pun waktu yang Max butuhkan untuk mendekat. Hanya saja, dia khawatir justru Max akan bosan. Seiring waktu akan menjauh dan menghilang dari hidupnya.


"Astaghfirullah... tidak," desah Alura pelan tidak ingin Max terjaga. Dia tidak ingin kehilangan Max, suaminya.


Alura mendengar azan subuh. Dia segera turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Setelah selesai wudhu dan memakai mukenah, Alura naik ke kasur membangunkan Max.


"Max, bangun sudah subuh."


Perlahan Max membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Alura. Netra hazel Alura seakan membiusnya untuk tidak berpaling. Ada ketulusan dan cinta yang besar di dalam sana. Sayangnya, Max tidak berhak untuk itu.


"Mari kubantu," ujar Alura mendekatkan kursi roda ke sisi tempat tidur. Setelah Max duduk di kursi roda, Alura mendorongnya sebatas pintu. Setelah itu Max sendiri menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam kamar mandi.


Suara lantunan ayat suci begitu merdu menyejukkan hati. Indahnya setiap ayat per ayat yang dibacakan menghantarkan rasa rindu pada Illahi Rabbi. Rasa rindu pada-Nya untuk bersua.


Suara Yasir memang indah ketika membaca Al-Qur'an. Dulu ketika masih sekolah dia sering ikut lomba MTQ dan keluar sebagai juara. Dulu ketika masih kanak-kanak, dia sering mendapati Alura mengintipnya yang sedang mengaji. Anak perempuan itu sering menyimak bacaannya diam-diam.


Sejak malam itu Yasir tidak pernah lagi melihat Alura di rumahnya. Dia hanya mendapat kabar dari Fatimah, kalau Alura sudah pergi ke London.


Yasir remaja merasa kehilangan.


Setelah sekian tahun tidak bertemu, akhirnya beberapa bulan lalu Alura muncul. Yasir sempat tertegun melihat penampilan anak mantan majikannya itu. Alura, sudah menjadi muallaf rupanya.


Maka bertamah pula rasa syukur Yasir kepada Allah. Doanya di penghujung malam, telah Allah ijabah.


Dara jelita itu telah lama menghuni hatinya. Perasaan hanya Yasir dan Allah yang tahu. Hakikatnya cinta adalah setelah ikatan halal di antara dua insan. Meskipun Yasir jatuh hati pada Alura tidak membuat dia gelap mata. Biarlah rasa ini bagai air mengalir, kelak akan bermuara di mana. Satu yang pasti, Yasir akan tetap berjuang untuk menghalalkan pujaan hatinya. Dulu dia pemuda miskin, merasa tidak pantas bersanding dengan Alura pewaris tunggal keluarga Goerge yang kaya. Namun lagi-lagi Allah memudahkan urusannya. Yasir kini sudah bekerja disalah satu perusahaan perhotelan. Dia menjabat sebagai Manager di sana. Penghasilannya sudah lumayan. Usia juga sudah cukup untuk menikah.


"Bang Yasir," panggil Fatimah dari luar pintu kamar pemuda itu.

__ADS_1


Yasir menutup Al-Qur'annya menaruh di atas meja.


"Ada apa, Fatimah?" Tanya Yasir tersenyum pada adik perempuan satu-satunya itu.


"Bang, Sini," kata Fatimah nyelonong masuk ke kamar Yasir lalu duduk di atas tempat tidurnya.


"Lusa ada yang ingin mengkhitbahku," kata Fatimah berusaha menyembunyikan rona di wajah cantiknya.


"Alhamdulillah, barakallah, adik kecil," kata Yasir mendekati Fatimah.


Fatimah tidak lagi bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Seminggu yang lalu Gus Zaid menelfon ayahnya. Menanyakan kesediaan Fatimah untuk dijadikan pendamping anak kyai Arifin pemilik pesantren tempat kelahiran ayahnya, di Sukabumi.


Setelah solat istikharah, akhirnya Fatimah meng-iyakan lamaran itu. Dia dan Gus Zaid sudah saling mengenal sejak kecil. Fatimah terakhir bertemu lima tahun lalu ketika mereka sekeluarga pulang ke Sukabumi.


Fatimah awalnya tidak menaruh rasa apapun pada sosok pemuda hitam manis tersebut. Dia menghargai Gus Zaid sebagai anak Kyai Arifin, itu saja.


"Bang Yasir, apakah nggak apa-apa kalau Fatimah menikah duluan?"


Mendengar pertanyaan adik perempuannya Yasir terkekeh pelan. Apanya yang salah jika jodoh adiknya datang lebih dulu.


Mendengar jawaban Yasir, mata Fatimah berkaca-kaca. Dari kecil, Yasir selalu mengalah pada Fatimah. Itulah yang membuat Fatimah begitu menyayangi pemuda itu.


"Terima kasih, Bang Yasir. Fatimah selalu berdoa kepada Allah, agar jodoh Abang disegerakan," kata Fatimah bersungguh-sungguh.


"Aamiin."


Yasir kembali terbayang wajah dan senyum Alura. Sadar apa yang baru saja dipikirkannya Yasir cepat-cepat menepis dan beristghfar.


Alura dan Max sedang di perjalanan menuju rumah Ustaz Umar. Ustaz yang nantinya akan mengajari Max tentang Islam.


Sejak mobil meninggalkan rumah, Alura dan Max memilih bungkam. Alura sendiri bingung tidak ada topik menarik yang ingin dibicarakan. Hari ini Alura sendiri yang menyetir karena Ray sedang di kafe. Awalnya Max memaksa agar di supirkan Ray, tapi Alura menyakinkan kalau dia sendiri yang akan akan mengemudi.


Dengan begitu, waktu berdua dengan Max lebih banyak.


Max melirik Alura yang sedang fokus menyetir. Ada yang berbeda, wajah istrinya terlihat lebih pucat dari biasanya.

__ADS_1


"Kau sakit?" Tanya Max.


"Ya? Oh... tidak Max, aku hanya sedang datang bulan," akunya sedikit malu.


"Kau terlihat kurang sehat."


"Sudah biasa seperti ini, memang sedikit tidak nyaman," kata Alura tetap fokus melihat ke depan.


"Baiklah," ujar Max kembali menekuri buku bacaannya.


Alura merasakan pandangannya berkunang-kunang. Kepalanya pusing, juga berkeringat dingin.


Anemi yang diderita sejak remaja membuat dia seperti ini bila sedang datang bulan.


Alura meraih tissu mengelap keringat di keningnya. Perjalanan masih lumayan sekitar satu jam lagi. Tidak mungkin meminta Max yang menggantikan menyetir dengan kondisi seperti itu.


"Alura injak rem!" Seru Max sambil mengambil alih stir. Mereka hampir saja menabrak pembatas jalan.


Alura terkesiap. Sadar kalau mobil sudah berhenti. Ya Allah... hampir saja dia membuat dirinya dan Max celaka.


"Ma-maafkan aku, Max."


"Kau baik-baik saja?" Tanya Max mulai khawatir.


"Aku...." belum selesai kalimatnya Alura sudah tidak sadarkan diri.


"Alura!" Max mengguncang bahu Alura.


Dengan sigap Max melepas seat-belt Alura dan membawa ke dalam dekapannya. Badan kedua tangan Alura terasa dingin.


"Sadarlah," ujar Max semakin mengeratkan pelukannya. Baru kali ini Max merasa benar-benar menjadi suami tidak berguna. Dia hanya laki-laki cacat, tidak lebih!


Dalam keadaan seperti ini, dia tidak dapat diandalkan sama sekali.


"Aaaakh...!" Teriak Max memukul kakinya berkali-kali. Kelumpuhan ini merenggut hidupnya. Merenggut kebahagiannya. Sampah, Max merasa tidak lebih dari itu.

__ADS_1


"Pergilah, kau tidak layak berada di sisiku," lirih Max di dekat wajah pucat Alura.


__ADS_2