
Mario baru saja tiba di Bandara Soekarno Hatta setelah melakukan perjalanan selama 14,5 jam dari London. Dia memakai jaket kulit berwarna coklat, celana jeans dan kacamata hitam. Penampilan yang mendukung ketampanannya. Tangan kanannya menarik koper. Dengan langkah tegap dia berjalan keluar bandara.
Seorang pria berjas hitam lengkap dengan kacamata hitam bergegas menghampiri ketika melihat sosok Mario. Dia mendapatkan tugas dari tuannya untuk menjemput tamu sekaligus rekan tuannya itu.
"Tuan sudah menunggu anda," terang pria berjas hitam mengambil alih koper dari tangan Mario.
"Iya."
Kemudian mereka berdua berjalan menuju pajero yang terparkir tidak jauh dari Bandara. Mario duduk di kursi penumpang sambil menyandarkan kepalanya. Rasanya lelah sekali setelah melakukan perjalanan jauh. Jika bukan karena tujuannya, dia tidak akan repot-repot datang ke Indonesia. Karena sejujurnya Mario tidak begitu menyukai perjalanan jauh.
Tapi dia sudah bertekad untuk menuntaskan tujuannya secepat mungkin. Tidak ingin mengulur waktu lebih lama. Semakin cepat semakin baik. Kali ini dia akan benar-benar menghabisi nyawa Max. Tapi Mario licik dan cerdik. Dia tidak akan mengotori tangannya sendiri, melainkan orang-orang dari rekannya yang akan dia temui inilah yang akan menjalankan rencana busuknya. Mario tersenyum membayangkan Max akan segera meregang nyawa. Setelah itu dia akan berusaha merebut hati Alura sampai menjadi miliknya. Mario memejamkan matanya, seiring mobil yang bergerak meninggalkan Bandara.
Siang ini cuaca terik dan macet membuat perjalanan Mario
sedikit lama. Tapi Mario tidak begitu peduli, dia sibuk dengan gawainya tanpa bicara sepatah katapun.
Mobil yang membawanya memasuki sebuah perumahan elit di Jakarta. Berhenti di sebuah rumah bertingkat dua. Mario membuka pintu mobil memperhatikan bangunan megah di depannya sebelum masuk.
"Mari," ujar pria berjas hitam mendahului Mario.
Mario memutar bola matanya malas. Setelah itu dia mengekor masuk ke dalam. Sampai di depan pintu, seorang Maid membuka pintu dan tersenyum ramah.
"Silahkan masuk, Pak. Tuan sudah menunggu di dalam."
"Panggil aku Mario," ujarnya sambil membuka kacamata hitamnya.
Maid yang merasakan aura tidak bersahabat dari Mario membuatnya gugup. Ini pertama kalinya dia melihat sosok Mario mengunjungi rumah ini. Tapi entah kenapa, sepertinya sosok Mario bukanlah orang yang suka basa-basi.
"Ba-baiklah," jawab Maid itu sedikit membungkukkan badannya.
Mario mengangkat dagunya, memperhatikan maid itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kemudian dia berdecih lalu berlalu meninggalkan maid yang seketika wajahnya berubah pucat seperti habis melihat hantu.
Pri berjas hitam membawa Mario ke ruangan di lantai dua.
"Tunggu sebentar, saya akan memanggil Tuan," kata Pria berjas hitam berbalik meninggalkan Mario sendirian di ruangan itu. Mario tidak menjawab hanya melirik pria itu sekilas.
Pandangan Mario menyapu tiap sudut ruangan yang ukurannya tidak terlalu besar. Terdapat sebuah lemari yang dipenuhi buku-buku tebal. Sebuah meja ukuran sedang, sofa minimalis, dua buah guci dan televisi LED ukuran 32 inch. Pandangan Mario berhenti pada sebuah pigura yang tergantung di sebelah lemari. Di dalam pigura itu tampak seorang pemuda yang usianya tidak jauh berbeda dengannnya tengah tersenyum di atas kuda. Menampilkan deretan gigi putihnya yang terawat.
Suara pintu terbuka mengalihkan tatapan Mario. Seorang pria bertubuh jangkung dengan kulit sawo matang serta rambut yang di ikat kebelakang berjalan menghampirinya. Pria itu tersenyum sebelum mendaratkan tubunnya di sofa kosong di samping Mario.
"Selamat datang dihunianku. Lama tidak berkunjung," ujar lelaki itu membuka suara.
"Jika tidak ada urusan, aku enggan kemari," tukas Mario tidak peduli.
__ADS_1
"Ha ha ha, kau belum berubah juga rupanya." tawa pria itu membuat Mario ingin mencekik lehernya saat ini juga.
"Itu tidak penting!"
"Santai Mario, kau bisa cepat tua jika seperti itu terus. lihat, kerutan di wajahmu."
Mario refleks meraba mukanya. Tidak. Dia yakin tidak ada kerutan di wajah tampannya.
"Aku ingin membicarakan tujuanku kemari," kata Mario terus terang.
"Santai dulu kau baru dari perjalanan jauh. Mau minum apa?"
"Vodka."
"Baiklah." Pria itu menepuk tangannya sebanyak dua kali. Tidak lama pria berjas hitam tadi muncul. Setelah mendapatkan info untuk membawa minuman dari tuannya dia segera keluar.
"Kau boleh menginap di sini jika mau," tawar pria itu sambil tersenyum ramah.
"Apakah di dekat sini ada club?" tanya Mario.
"Ha ha ha." kembali pria itu tertawa membuat Mario jengah. Apakah pertanyaannya barusan lucu?
"Jika kau mau akan menyewa gadis-gadis terbaik untuk malam ini," ujar lelaki itu setelah tawanya reda.
"Kapan kau ingin orang-orangku menghabisi saudaramu itu?"
"Hei, dia bukan saudaraku!" teriak Mario. Dari dulu dia tidak sudi jika ada yang mengatakan dia dan Max bersaudara. Itu menjijikan baginya. Bagaimana mungkin, seorang gelandangan yang tidak sengaja ditemukan mamanya dan di adopsi bisa menjadi saudaranya. Tidak masuk akal.
"Kenapa kau begitu tidak menyukainya?" tanya pria itu.
"Itu karena dia hanya menjadi benalu dalam keluarga kami."
"Hanya itukah?" selidik pria itu merasa tidak yakin dengan jawaban Mario. Jika hanya karena itu. Mengapa Mario begitu berambisi menghabisi nyawa laki-laki di kursi roda itu.
"Kau cerewet sekali, Alvin," dengkus Mario membuang muka.
"Aku membayarmu untuk membunuhnya. Jadi, jalankan saja tugasmu," tegas Mario.
"Ok ok. Nah, minumannya sudah datang. Minumlah!"
Mario meraih gelas berisi vodka kemudian meneguknya isinya hingga tandas.
Di tempat berbeda sepasang suami-istri baru saja selesai menunaikan ibadah solat magrib. Alura melipat mukenah sambil sesekali melirik Max yang masih mengenakan baju koko berwarna hijau lumut lengkap dengan peci di kepalanya. Max memang cocok memakai pakaian warna apa saja. Lelaki jangkung berkulit putih kemerahan itu tengah asyik mengusal layar gawainya tidak menyadari Alura yang terus memperhatikan.
__ADS_1
Saat Max menoleh, pandangan mereka beradu. Alura merasakan kembali detak jantungnya bertalu-talu. Pipinya merona.
"Kapan kita akan makan malam?"
"oh, i-iya. Sebentar, Max." Alura bergegas menyelesaikan melipat mukenahnya. Setelah itu dia mendekati Max, lalu mendorong kursi rodanya ke luar kamar.
Mereka berdua makan dalam diam. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring mengisi keheningan di antara keduanya.
"Uhuuuk!" Alura tersedak makanannya. Susah payah dia menelan hingga wajah putihnya memerah.
"Minumlah." Max mengangkat gelasnya menyerahkan pada Alura.
Alura menerima dan segera meminum isinya. Rasanya lega setelah makanan itu tidak lagi menyangkut.
"Alhamdulillah, terima kasih, Max."
"Apakah kau sangat kelaparan?"
"Ya?"
"Kau makan buru-buru sekali."
"Oh, maaf," ujar Alura menyembunyikan rona di wajahnya karena malu.
"Makanlah dengan pelan. Aku tidak akan menghabiskan makanan ini."
"Ba-baiklah, Max."
Baru saja Alura hendak menyendok makanannya ke mulut, Max mengangkat sendok ke dekat mulutnya.
Alura terkejut dengan sikap Max yang tiba-tiba.
"Kata ibuku, makan dari tangan orang lain rasanya lebih nikmat, cobalah!"
Pelan Alura membuka mulutnya. Max menyuapinya dengan pelan. Alura tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.
"Makanlah, jangan menangis," ujar Max beralih ke piringnya.
"Max, kau mengingatkanku pada mendiang Momy. Orang yang terakhir menyuapiku adalah beliau."
"Jika kau ingin, maka kapanpun mintalah padaku untuk menyuapimu."
Alura terharu. Dia mengangguk dan tersenyum kemudian melanjutkan makannya.
__ADS_1
Pic: Pinterest