Senandung Cinta Alura

Senandung Cinta Alura
Uhibbuka Fillah


__ADS_3

Langit terlihat mendung, sepertinya sebentar lagi hujan akan turun mengguyur bumi. Askal memacu sepedanya lebih kencang. Dikayuhnya sepeda melewati taman bunga biasa tempat dia melukis. Suasana taman yang sejuk membuatnya betah melukis sambil menikmati harumnya bunga yang sedang mekar. Bisa sampai berjam-jam Askal di sana jika hari libur.


Baju kaus bagian belakangnya mulai basah karena keringat. Askal tidak sedikitpun mengurangi kecepatan sepedanya. Dia tidak ingin basah-basahan. Karena dia alergi dingin. bisa bersin-bersin sepanjang malam dan besoknya berakhir dengan tidak masuk kerja. Askak tidak ingin hal itu terjadi.


Disebuah jalan yang menurun, Askal sengaja melepas kedua tanganya. Dia tertawa menikmati hembusan angin menerpa wajah tampan dan menerbangkan rambutnya. Tanpa dia sadari seorang gadis melintas di depannya membawa keranjang berisi buah.


Askal tidak bisa mengendalikan laju sepedan yang kencang. Sebelum dia sempat menginjak rem, sepedanya sudah menghantam tubuh gadis itu yang juga sama terkejut tidak dapat menghindar. Insiden itu terjadi dalam sekejap mata.


"Aaauw!" Teriak gadis itu yang jatuh di timpa Askal dan sepedanya.


"Menyingkir dari tubuhku," seru gadis itu seperti ingin menelan Askal hidup-hidup.


Askal meringis merasakan pedih di bagian lututnya. Dia langsung berdiri dan menyingkirkan sepeda yang menimpa gadis berkerudung ungu itu. Melihat siku gadis itu berdarah, Askal di terpa rasa bersalah.


"Maaf atas keteledoran saya," kata Askal berusaha membantu.


"Tidak perlu," tepis gadis itu dengan wajah cemberut. "Kau merusak buah-buahku." tunjuknya pada buah-buahan yang berserakan sampai di pinggir jalan.


"biar saya ganti," ujar Askal mengeluarkan dompet dari saku celana kausnya. "Berapa?"


"Dua ratus ribu," jawab gadis itu cepat.


Askal menyerahkan dua lembar seratusan yang langsung di sambar gadis itu.


"Lain kali hati-hati. Keteledoranmu membuat orang lain celaka."


"Iya. Sekali lagi saya mohon maaf."


Askal memperhatikan gadis itu memunguti buah-buah yang masih bisa diselamatkan.


"Mengapa kau masih memungutinya?" tanya Askal heran. Padahal tadi dia sudah membayar ganti rugi.


"Kita hidup di sistem ini harus bisa mengelola semuanya dengan baik jika tidak mau kelaparan. Yang di atas sana tidak mau tahu urusan kita. Meskipun buah ini tidak bisa dijual lagi, tapi masih bisa dimakan," terang gadis itu.


Askal tersenyum mendengar jawaban jujur dari gadis berwajah oval itu. Memang begitulah kenyataannya.

__ADS_1


"Biar ku tambahkan ganti ruginya, kau juga terluka," tawar Askal.


"Hei, kau pikir aku matre," Sarkas gadis itu berdiri di depan Askal.


"Aku tidak ingin mengambil sesuatu melebihi hakku. Permisi." Gadis itu berjalan melewati Askal tidak peduli kalau dia baru saja menginjak kaki Askal membuat Askal meringis menahan sakit.


"Gadis aneh," desis Askal kembali menaikki sepedanya.


Alura baru saja selesai masak untuk makan malam. Dia memasak ayam rica-rica, sayur labu kuning dan udang tepung. Semua masakan ditata rapi di atas meja makan. Alhamdulillah nyeri pinggangnya sudah berkurang. Tidak sesakit tadi pagi.


Alura membawa piring kotor bekas memasak ke wastafel dan mencucinya. Semua pekerjaan rumah memang Alura kerjakan sendiri karena tidak memakai jasa asisten rumah tangga. Dia masih bisa mengcover semuanya. Meskipun Max beberapa kali menawarinya untuk memperkerjakan seorang asisten rumah tangga. Dengan halus Alura menolak.


Selesai mencuci piring dan menyusunnya di rak. Alura melepaskan celemek menggantungnya kembali di dekat kulkas. Dia berjalan ke ruang tamu. Di sana Max sedang duduk dengan buku di tangannya dan sebuah kacamata bertengger di hidung mancungnya. Alura tersenyum menyaksikan wajah serius Max. Kadang tangannya gemes ingin menarik kedua ujung bibir Max membentuk tersenyuman.


Alura memilih duduk di sofa kosong di samping Max. Dia meraih remote dan menyalakan tv. Membiarkan Max yang tengah asyik dengan bacaannya.


"Istirahatlah di kamar," saran Max. Dia sudah menutup bukunya.


"Aku baik-baik saja, Max."


"Coba lihat sini!" pinta Max.


"Ada sisa tepung di pipimu," kata Max setelah tangannya tidak lagi berada di pipi Alura.


"Ya. A-aku, mandi dulu, Max," ujar Alura dengan pipi merona. Dia buru-buru berdiri untuk ke kamar mandi. Belum sempat melangkah, pergelangan tangannya ditarik Max. Membuat dia memutar badan.


"Jangan sakit lagi."


Max melepaskan pegangannya pada tangan Alura.


Demi mendengar itu Pipi Alura makin bersemu. Jarang-jarang menerima perhatian dari Max . Apakah suaminya itu tengah mengkhawatirkannya?


"Baiklah, Max."


Alura menyentuh bahu Max kemudian berlalu meninggalkan suaminya sendiri di ruang tamu.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi Alura meraba dadanya. Rasanya ada yang meledak di dalam sana. Baru begitu saja Alura sudah sangat bahagia. Meskipun Max tidak terang-terangan menunjukkan rasa padanya. Sudah lama Alura menantikan kebahagiaan dalam rumah tangganya.


Siapa tidak ingin hidup bahagia dalam berumahtangga? Rasanya tak satu pun manusia menghendaki yang sebaliknya. Semua ingin bahagia, semua ingin keluarga sakinah, keluarga yang penuh berkah.


Menikah bagi Alura, satu langkah lagi sebagai upaya menjaga kehormatan dan kesucian diri, artinya seorang yang telah menikah semestinya lebih terjaga dari perangkap zina dan mampu mengendalikan syahwatnya. 


Selesai membersihkan diri Alura melihat kamar kosong. Mungkin Max masih di ruang tamu.


bergegas Alura mengganti baju dengan piyama berwana biru laut motif bunga-bunga. Lingerie tempo hari sudah dia keluarkan dari lemarinya. Memalukan.


karena itu pula dia harus menangis lama dan dikatai Max tomat busuk.


Alura menyisir rambutnya yang panjangnya melewati bahu. Kemudian mengoleskan lotion pada bagian tangan dan kaki. Tidak lupa menyemprotkan parfum non alkohol hadiah dari sepupunya ketika dia pulang umroh seminggu lalu.


Merasa penampilannya sudah rapi, Alura keluar kamar ingin menemui Max.


Di ruang tamu tidak ada keberadaan suaminya. Alura langsung ke dapur siapa tahu Max sedang mengambil minum. Di dapur, tidak ada juga.


"Max, kau dimana?"


Tidak ada sahutan. Alura pergi ke kamar tamu. Dibukanya pintu dengan pelan. Tidak ada juga. Kemana perginya Max?


Alura berjalan ke depan. Mengintip dari balik korden. Ah, rupanya di sana suaminya. Max sedang memandangi bunga mawar merah hasil tanaman Alura yang sedang mekar.


Alura kembali masuk ke dalam kamar mengenakan gamis dan kerudungnya. Kemudian menyusul Max.


"Aku mencarimu," kata Alura berdiri di belakang kursi roda.


"Bunga ini indah," ujar Max menyentuh kelopak bunga mawar.


"Iya. Itulah mengapa aku menamamnya."


"Mengapa kau tidak membelinya saja? repot-repot harus menanam," ujar Max tanpa mengalihkan perhatiannya dari bunga yang sedang bermekaran di depannya.


"Itu karena... aku menghargai proses, Max. Dari proses itulah aku menemukan suatu kepuasan ketika menikmati hasilnya," kata Alura. Dia kemudian berjongkok di di samping kursi roda Max.

__ADS_1


"Kau tahu, Max. Aku juga menikmati proses untuk kemajuan rumah tangga kita. Tidak peduli berapa kalipun kau menolak, tidak peduli berapa kalipun kau berpaling, atau mengabaikanku. Insyaallah, Aku akan tetap di sisimu, bertahan sampai kau benar-benar tidak menginginkan aku lagi. Karena, kau imanku. Satu-satunya laki-laki yang berhak memiliki hatiku."


Bulir bening turun dari mata jernih Alura tanpa dia bisa cegah. Dia selalu akan serapuh ini jika sudah menyangkut persoalan hati.


__ADS_2