
"Namaku Alura." Alura menyambut uluran tangan anak laki-laki itu.
Setelah terjadi perkenalan singkat, mereka berdua berjalan masuk kedalam. Di dalam seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan hangat.
"Sini, Nak.Tadi itu Tantemu memberitahuku. Bahwa kau adalah anak yatim piatu. Tak ada keluarga lain selain dirinya. Karena tantemu ada urusan keluar kota cukup lama, jadi kau di titipkan sementara disini. Tenanglah, jika dia kembali pasti datang kesini untuk menjemputmu." Perempuan yang di kenal dengan panggilan Bi Hen itu menjelaskan bagaimana obrolan dia dan Jeny tadi sesaat sebelum Jeny meninggalkan Alura.
Lidah Alura kelu, hatinya berdenyut sakit mendengar kebohongan Mama tirinya pada Bi Hen. Teganya ia sampai berbohong. Alura sangat yakin Mamanya tak akan pernah menjemput dia untuk kembali ke rumah penginggalan kedua orangtuanya.
"Semoga kau betah. Ada banyak anak seusiamu disini, Askal, dia akan menjadi salah satu temanmu," kata Bi Hen menunjuk Askal yang berdiri tak jauh darinya. Alura melirik orang yang di tunjuk Bi Hen, dia anak laki-laki yang memiliki kulit pucat, tatapan matanya teduh, tubuhnya kurus, tidak jauh berbeda dengan tubuh Alura. Alura jadi berpikir, apakah dia juga hidup tersiksa sama sepertinya?
"Baiklah, Bi Hen. Terima kasih," ujar Alura sedikit membungkukkan badannya ke arah Bi Hen.
"Mari kuantar ke kamar mu." Wanita itu berjalan lebih dulu dengan Alura yang mengikutinya dari belakang.
Minggu-minggu pertama tinggal di pantiĀ Alura agak kesulitan, lantaran dia tidak terbiasa dengan keramaian. Kalau untuk bantu-bantu pekerjaan rumah Alura sudah terbiasa. Anak panti juga tidak membedakan dia yang non muslim, mereka memperlakukan dia dengan baik.
Askal selalu menghibur dan membantunya jika dia mendapat tugas atau pekerjaan dari Bi Hen dan Bi May. Alura bersyukur memiliki sahabat sebaik Askal. Sekarang mereka berdua sedang menjemur selimut di bagian belakang panti. Memang disana ada pekarangan cukup luas, selain tempat bercocok tanam sayur-sayuran juga di gunakan untuk tempat menjemur pakaian di bagian pinggirnya.
"Askal, apakah kau kasihan padaku?" tanya Alura. merasakan selama ini Askal selalu ada untuknya.
__ADS_1
"Tidak," jawab Askal.
"Tapi, kenapa kau bersikap baik padaku? eh sangat baik malah." Alura tak bisa menahan rasa penasaran. Dia melihat ekspresi Askal dari balik selimut yang mulai terbentang sempurna diatas jemuran. Wajah itu sama seperti biasa, meneduhkan jika di lihat. Wajah yang jika kau melihatnya maka kau akan tersenyum karena keteduhannya.
"Karena aku ingin," jawab Askal singkat sambil beralih mengambil selimut yang lain.
"Aku banyak berhutang budi padamu." Alura merasa tidak enak menerima setiap kebaikan dengan cuma-cuma.
"Tak perlu merasa berhutang budi padaku, Alura. Cukup kau bahagia dan tidak menangis lagi. Kau tau, jika kau terus bersedih maka hidup akan berlalu dengan sia-sia dan terasa tidak menyenangkan," kata Askal meletakkan kembali selimut di tangannya ke tempat semula, "Dengar, tidak ada seorang pun yang akan menyakiti kita, jika kita tidak mengizinkannya."
"Kau selalu bijak, pemikiranmu yang dewasa tidak sesuai dengan usiamu," goda Alura menyembunyikan senyumnya.
"Alura, jika berpisah dan di masa depan kita bertemu lagi, semoga saja persahabatan kita tidak akan berubah. Aku dengar Bi Hen mengatakan pada Bi may, bahwa ada yang ingin mengadopsi ku. Itu artinya, tidak berapa lagi kita akan berpisah. Dimana pun kau berada aku selalu berdoa agar hidupmu selalu bahagia. Sudah cukup kau menderita." Askal menatap Alura yang menundukkan wajahnya.
"Terima;kasih, Askal."
"Sama-sama. Ayo! Kita lanjutkan menjemurnya, jika tidak Bi May akan mengomel." lalu mereka berdua tertawa dan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Tidak lama kebersamaan mereka di panti, hanya lima bulan, setelah itu Askal mendapatkan orang tua angkat yang mengadopsi dan membawanya tinggal di Sumatera Barat. Dua tahun kemudian Alura menyusul di adopsi dan tinggal di Jakarta Selatan bersama keluarga barunya. Sejak itu mereka tidak lagi bertemu dan tidak tahu kabar masing-masing.
__ADS_1
Alura tersadar dari lamunan ketika terdengar suara adzan zuhur dari ponselnya. Ternyata tadi dia melamun cukup lama mengenang kehidupannya selama di panti.
Kemudian Alura beranjak dari tempat duduknya untuk berwudhu di lanjutkan solat. Siang ini dia berencana akan mengunjungi Mama Jeny di penjara. Bagaimanpun, Mama Jeny juga keluarganya.
Selesai solat Alura berganti pakaian dengan gamis berwarna navy dan kerudung warna senada. Setelah siap dia berjalan menuruni tangga menuju pintu depan.
Oh iya, Alura juga berniat untuk berterimakasih pada Yasir atas kebaikannya di masa lalu.
Nanti saja sepulang dari mengunjungi Mama Jeny, pikirnya.
Alura mengemudikan mobilnya ke lembaga permasyarakatan tempat Mama Jeny mendekam. Dia sudah menyiapkan hati jauh-jauh hari untuk berhadapan dengan orang yang menjadi sumber penderitaannya di masa lalu itu. Setelah menemui petugas yang berjaga dan mengutarakan maksud kedatangannya, selanjutnya Alura diminta menunggu di ruang tunggu yang memang sudah di siapkan untuk keluarga yang datang berkunjung.
Tidak lama perempuan yang sangat di kenalnya berjalan dengan tidak bersemangat. Dia tidak semodis dan secantik dulu. Tubuhnya terlihat kurus dan tak terawat, rambutnya hanya di ikat asal, wajahnya juga terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya.
Semakin dekat jarak mereka detak jantung Alura juga semakin kencang, kilasan wanita itu meninggalkan dia di panti dan tawanya malam itu terasa menggema di telinganya. Alura membaca asma Allah untuk untuk menghilangkan keresahan hatinya. Setelah di rasa cukup tenang, Alura pun menatap wanita yang kini sudah duduk berhadapan.
"Mama bagaimana kabarnya?" Alura mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku setelah sepuluh tahun mereka tidak bertemu.
"Tidak usah basa-basi! Apa tujuanmu datang kesini, hah!" Bentak Jeny membuat Alura tersentak. Ah dia belum berubah juga, masih saja galak seperti dulu.
__ADS_1
"Aku ingin mengunjungi, Mama," Kata Alura.
Alura sudah berdamai dengan hatinya sejak lama. Memang awalnya tidak mudah. Tapi karena dia tahu bahwa menyimpan dendam dan kebencian hanya akan menjadi penyakit hati. Alura tidak ingin terjangkiti penyakit hati yang membuat hidupnya gelisah dan tidak tenang. Dia pasti akan selalu was-was kala perasaan benci dan dendam itu mengakar di hatinya. Hati yang bersih membuat pemiliknya mudah menerima kebaikan san hidayah. Sebaliknya, hati yang kotor oleh penyakir hati membuat pemiliknya akan sulit ketika diajak kepada kebaikan.