
Suara guruyan air dari shower memecah keheningan di kamar mewah itu. Tidak berapa lama Alura keluar dari kamar mandi setelah tubuhnya bersih.
Alura berjalan ke arah lemari, lalu mengambil gamis berwarna biru laut dengan kerudung warna senada.
Setelah di rasa rapi, dia turun menuju ke dapur mengambil air mineral dalam botol yang di beli tadi siang lalu membawanya duduk di sofa. Setelah meminum beberapa teguk, Alura meraih dan mengusap layar ponselnya, berniat untuk memesan makan malam. Setelah selesai memesan beberapa menu makanan, Alura beralih melihat lemari besar yang terdapat di sudut ruang tamu.
Alura membuka lemari yang terlihat sedikit berdebu. Tangannya meraih sebuah album berwarna merah lumayan tebal lalu menarik keluar dan meniup debu-debu di atasnya.
Setelah itu Alura kembali duduk di sofa. Membukanya, pada bagian pertama terdapat foto dirinya. Sepertinya foto itu di ambil saat dia baru dilahirkan, karena terlihat catatan kecil dibawah foto itu 'selamat datang dalam pelukan Momy, baby girl' disana tampak ia di gendong sang Momy yang sedang bersandar di kepala ranjang rumah sakit.
Pelan jemari Alura menyusuri wajah Momy nya yang sedang tersenyum, jelas sekali terpancar kebahagiaan dari wajah cantik wanita itu. Airmata Alura tertahan di pelupuk, "Momy" ucapnya lirih.
Lalu tangan Alura beralih ke foto berikutnya, disana ada foto lain saat dia pertama makan terlihat menggemaskan, lalu foto saat ia belajar berjalan, selanjutnya ada foto mereka jalan-jalan di London, hampir di setiao foto mereka bertiga selalu tersenyum.
Airmata yang tadi coba dia tahan sudah luruh, Alura merindukan kedua orangtuanya.
Hal yang membuat Alura semakin sedih mengingat Mereka meninggal masih dengan agama mereka.
Alura terisak sambil memeluk album berisi foto-foto dia dan keluarganya sampai bahunya bergucang. Alura berkeinginan bisa bertemu dan bersama orangtuanya di surga kelak, namun bagaimana semua itu bisa terwujud jika keduanya bukan muslim.
Lama Alura menumpahkan tangisnya di ruang tamu seorang diri. Kerinduan dan kesedihan itu bercampur jadi satu membelah jiwanya yang memang rapuh sejak lama.
Sekali lagi Alura bersyukur karena dia mengenal dan bisa memeluk Islam, jika tidak mungkin Alura sudah memutuskan untuk mengakhiri saja hidupnya. Alura bisa bertahan dari keputus asaannya karena dia sudah paham bahwa ada dalam hidup ini area yang tidak kita kuasai, itulah yang dinamakan qadha Allah.
Sebagai hamba yang beriman, kita harus sabar dan ikhlas atas setiap ketentuan-Nya.
Dapat Alura rasakan, ketika dirinya mendekati Sang Pencipta, maka dia merasakan kekuatan dan optimis dalam hidupnya kian kuat.
"Permisi!" Alura menoleh ke arah pintu, Ah ya, mungkin saja itu makanan yang tadi dia pesan. Dia taruh kembali Album foto tadi ke tempat semula, kemudia Alura berjalan untuk membuka pintu.
Setelah selesai makan malam dan solat isya, Alura teringat janjinya pada Fatimah untuk berkunjung ke rumah mereka yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya.
Kini Alura sudah berdiri di depan rumah minimalis tersebut, Alura segera mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu. Tapi belum sempat tangannya menyentuh daun pintu itu sudah terbuka menampilkan wajah Yasir yang tersenyum ramah kepadanya.
"Aku berniat untuk mengunjungi Tante dan Paman," ujar Alura singkat
"Masuklah, Nona." Yasir menggeser tubuhnya ke samping
"Terima kasih." Tanpa menunggu lama Alura segera masuk ke dalam, tapi kemudian dia berbalik menghadap Yasir yang sudah berdiri di luar "panggil saja Alura!" Pintanya pada pemuda itu, toh keluarga mereka tidak bekerja lagi dengan keluarga Alura.
__ADS_1
Yasir menghentikan langkahnya, ketika dia menoleh Alura sudah tidak ada disana. Yasir tersenyum tipis, membayangkan dulu Alira adalah majikan bagi dia dan keluarganya.
"Assalamualaikum, Mba Alura." Fatimah menghampiri Alura dan menuntunnya untuk ke ruang keluarga.
"Alura! Kau kah itu sayang?" Raihanah tak bisa menyembunyikan keterkejutan sekaligus rasa bahagianya.
"Iya, Tante. Aku kembali." Alura berajalan kearah wanita yang tak bisa dibilang muda lagi itu dengan rasa haru.
"Sayang, kemarilah," ujar Raihanah membuka lebar kedua tangannya. Tidak lama tubuh Alura sudah berada dalam pelukan wanita itu.
"Kau tumbuh dengan baik, Sayang. Wajahmu sangat cantik, mengingatkan, pada Nyonya Meriam." Raihanah tak bisa menyembunyikan tangisnya, begitu pun Alura.
Raihanah melanjutkan masih sambil memeluk Alura, "Kenapa lama baru kembali?" tanya Raihanah.
"Ceritanya panjang, Tante."
"Baiklah, Tante punya waktu banyak untuk mendengarkan ceritamu." Lalu dia mengurai pelukannya dan menatap wajah basah Alura "Pilihanmu sudah tepat sayang," kata Rainahan beralih mengusap kepala Alura yang tertutup kerudung.
Kini mereka bertiga sedang duduk di ruang tamu menikmati cake buatan Fatimah tadi sore.
"Astagfirulllah, apakah benar begitu?" Wajah Raihanah dan Fatimah berubah merah karena terkejut sekaligus kesal mendengar cerita Alura barusan.
"Benar, Tante. Aku tidak tinggal di London, melainkan di buang ke panti asuhan," jawan Alura menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih mengingat kejadian malam itu.
Braaak !
Alura berjengkit kaget ketika suara keras pintu kamarnya seperti di buka dengan paksa.
"Hei, pemalas, bangun!" Suara teriakan itu membuat Alura segera meloncat dari tempat tidurnya
"Ada apa, Mama?" Pertanyaan itu keluar dari bibir mungil Alura, karena tidak biasanya Mama Jeny membangunkan dia jam segini.
"Ini!" Dia melemparkan tas ransel usang kepada ke depan Alura, "Kemasi segera baju-baju mu, masukkan ke dalam tas itu!" Perintahnya.
Alura meraih tas ransel tersebut dalam hati dia ingin bertanya, akan kemana sampai harus mengemasi pakaian segala malam-malam begini. Tapi pertanyaan itu tertahan, Alura tidak ingin memancing amarah Mama Jeny.
"Cepat!"
"Baik, Ma." Alura bergegas memasukkan beberapa potong baju dan celana.
__ADS_1
Setelah itu Jeny menarik tangannya dengan kasar dan membawanya menuruni tangga.
Lalu di bawah sudah berdiri, Audry anak pertama Jeny.
"Ayo!" Perintah Jeny pada Audry.
Mereka bertiga pun memasuki mobil mewah milik mendiang Dady Alura.
Alura sudah tak bisa menahan rasa penasaranya lagian mau kemana memangnya mereka sekarang.
"Mama, kita akan kemana?" Dengan keberanian yang dia miliki Alura mencoba bertanya.
"Diam... ! Jangan banyak tanya!" Jeny membentaknya membuat nyali Alura ciut. Lalu Alura memilih diam dengan mendekap ranselnya. Tidak berapa lama, Alura diserang rasa kantuk, dia pun tertidur.
"Bangun!" Audry mengungcang keras bahunya. Mata bulat Alura terbuka dan mendapati mobil mereka sudah berhenti.
"Keluar!" Suara teriakan Jeny membuat Alura menutup telinganya dan segera turun.
"Ayo!" Sebelum mereka masuk, Jeny berbalik menatap Alura tajam "kau, tunggu di luar."
"Baik, Ma," sahut Alura patuh.
Tidak lama Jeny dan Audry keluar, lalu Jeny mengampiri Alura meberikan beberapa lembar uang ratusan, tanpa sepatah katapun mereka berjalan ke arah mobil meninggalkan Alura dalam kebingungan.
"Mama, tunggu!" Alura berlari mengampiri mereka yang sudah duduk di dalam mobil.
"Apa lagi?"
"Mama, tolong jelaskan apa maksudnya ini?" tanya Alura.
"Hahaha." mereka berdua tertawa melihat wajah panik dan bingung Alura "Tempat tinggal kamu sekarang disini! Jangan coba-coba untuk kembali ke rumah, jika tidak ingn kami habisi," Ancam Jeny dengan wajah sangar.
Alura beku di tempatnya. Disini? Panti asuhan.
"Mama, tolong jangan tinggalkan Alura disini. Alura janji akan lebih giat mengerjakan pekerjaan rumah," mohon Alura pada Jeny.
"Cih! Cepat masuk!"
tanpa peduli Jeny menjalankan mobilnya meninggalkan Alura yang berteriak memangil-manggil namanya.
__ADS_1
"Mama! ... Mama. Hiks Hisk, tolong jangan buang Alura." isak pilu Alura sungguh menyayat hati. Tangisnya sama deras dengan hujan malam itu. Tubuh kurus itu sudah basah kuyup. Tapi seketika Alura merasakan air hujan tak lagi menetes di atas tubuhnya. Saat dia menengadah, seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya sedang berdiri memegangi payung.
"Hei, berhentilah menangis, kita bisa menjadi teman," ujar anak laki-laki dengan kulit pucat itu mengulurkan tangannya, "Namaku, Askal."