
Nuansa pink mendominasi kamar Alura, jelas sekali terasa feminimnya. Setelah beberapa jam yang lalu acara pernikahan mereka selesai kini Max terdampar di kamar milik istrinya.
Tidak ada taburan bunga mawar atau dekorasi lainnya. Biasa saja, jauh sekali dari kesan kamar pengantin.
Max tak begitu peduli dengan itu. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya. Apalagi kini dia telah berstatus sebagai seorang suami. Selanjutnya dia harus mempelajari tentang agama barunya. Bahkan sebelum mereka menikah, istrinya itu sudah memilihkan seseorang yang dia panggil 'Ustadz' untuk membimbingnya. Max begitu malas untuk bertanya lebih. Sejujurnya jika bukan karena Mery, dia tidak akan melangkah sampai sejauh ini.
Tapi lagi-lagi, Mery adalah kelemahan Max. Wanita yang begitu berjasa dalam hidupnya, begitulah Max mengingat Mery.
Clek ...
Max memutar kepalanya memastikan siapa yang telah membuka pintu, setelah dia melihat sosok wanita yang baru dinikahinya beberapa jam lalu masuk dengan masih memakai pakaian pengantin dan terlihat kelelahan, Max kembali memalingkan wajahnya. Tak ada niat untuk sekedar menyapa.
"Maaf, aku baru masuk. Tadi saudara berpamitan untuk pulang," ujar Alura berjalan mendekati Max.
"Hmm."
Hanya itu yang keluar dari mulut lelaki yang sudah sah secara agama dan hukum sebagai suaminya itu.
"Max, kau sudah makan tadi siang? Dan obatmu?"
"Sudah," jawab Max singkat.
"Oh, syukurlah." terdengar helain nafas Alura. Lega, tahu suami itu sudah makan. Alura maklum dengan sikap cuek dan dingin Max, wajar saja mungkin semua masih mengejutkan untuk mereka berdua dan tentu mereka butuh waktu untuk saling mengenal lebih jauh. Bagi Alura tidak masalah, malah dia bersyukur bisa mengenal Max saat mereka sudah terikat.
"Baiklah, aku mau membersihkan diri dulu, ya." Alura meninggalkan Max lalu berjalan ke kamar mandi.
Max bergeming. Masih betah di tempatnya semula hingga Alura selesai mandi. Melihat istrinya itu keluar kamar mandi memakai piyama panjang serta rambut tergerai sampai mencapai punggungnya membuat darah Max berdesir. Untuk menutupi perasaannya Max segera membuang muka.
Lain halnya dengan Alura. Tadi dia sempat ragu untuk membuka kerudungnya didepan Max. Tapi mengingat status mereka, Alura tak ragu lagi.
Setelah mengeringkan rambut dan menyisirnya, Alura kembali mendekati Max.
"Max, sudah magrib, ayo kita solat." suara lembut Alura membuyarkan lamunan Max.
"Aku belum terlalu hapal bacaan dan gerakan solat," jawab Max jujur.
Alura beralih berjongkok di hadapan Max dan tersenyum lembut.
"Max, kita sama. Aku juga seorang muallaf. Awalnya, akupun tidak tahu. Tapi seiring waktu dan terus belajar aku jadi mengenal dan memahami agama ini. Sampai sekarang pun aku masih belajar, Max."
Alura meraih tangan Max. Dia sempat melihat kilat mata suaminya yang sulit diartikan. Apakah Max marah ia menyentuhnya? Tapi melihat reaksi Max yang tidak membalas dan hanya membiarkan saja membuat Alura tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Max yang terasa hangat.
"Max, kita belajar sama-sama, ya. Mau bagaimana pun, sekarang kita telah resmi menjadi suami istri. Jadi, kita harus berupaya agar pernikahan ini membawa kita pada ridha Allah," kata Alura meremas jemari Max pelan.
"Kenapa kau bersedia menikah denganku?!" Tanya Max mengintimidasi Alura dengan sikapnya. Alura mencoba untuk tidak terintimidasi.
"Eem, itu karena ..."
"Harta warisan!" potong cepat. Alura yang mendengarnya membulatkan mata. Kenapa Max menilainya begitu rendah.
"Kau salah besar, Max. Jika masalah harta, aku tak begitu peduli. Karena kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya materi," lirih Alura menarik sambil nafas panjang, genggaman tangan mereka sudah terlepas.
__ADS_1
"Jika bukan karena itu, lalu apa? oh biar kutebak, karena kasihan dengan kondisiku, begitu!" Suara Max naik satu oktaf.
Kini, mata Alura sudah berkaca-kaca. Alura berdiri sedikit menjauh dari Max. Tidak bisakah Max melihat cinta dimatanya? Cinta untuk suami dan kekasih halalnya. Alura bahkan tak begitu mempermasalahkan kondisi suaminya itu. Baginya apa yang menimpa Max adalah qadha Allah tak patut untuk dicela.
"Jawab jujur!" Suara berat Max memenuhi setiap sudut kamar Alura.
Saat Alura berbalik, Max terkejut mendapati istrinya itu sedang menghapus airmatanya. Ada rasa sesal karena tadi Max membentak wanita cantik itu. Dari awal dia mengenal Alura, dia adalah sosok wanita yang lembut dan tentu saja terjaga. Alura juga sangat sopan kepadanya maupun Mery.
"Maaf, Max, ayo kita solat!" setelah itu Alura langsung mendorong kursi roda Max ke kamar mandi untuk berwudhu. Mengabaikan pertanyaan Max.
Selesai solat, tidak ada lagi percakapan diantara mereka berdua. Kini sudah masuk jam makan malam. Max tidak bersedia makan, dengan alasan dia capek dan ingin segera istirahat.
Akhirnya Alura hanya makan malam bertiga bersama Mama dan Papanya.
Siap makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu.
"Alura, apakah kau bahagia, Sayang?" Wanita dengan sifat keibuan itu merangkulnya penuh sayang.
"Insyaallah. Mohon doanya, ya, Ma, Pa. Semoga Alura dan Max bisa membawa pernikahan ini pada tujuan yang mulia."
"Aamiin, banyak berdoa dan bersabar, Sayang," ucap mamanya.
" iya, Ma," balas Alura.
Dirasa cukup lama meninggalkan Max sendirian, Alura segera menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Dengan pelan, Alura mendorong pintu kamarnya, khawatir membangunkan Max. Tapi ternyata Alura salah. Max masih setia duduk di kursi rodanya dengan sebuah buku di tangannya.
Max menurunkan buku di tangannya menaruh diatas nakas. Dia terlihat gelisah beberapa kali melihat ke arah tempat tidur lalu melihat ke arah kakinya. Alura yang melihat itu mulai mengerti.
Ya Allah, kenapa dia sampai melupakan kondisi suaminya. Max pasti tidak bisa untuk berpindah naik ke tempat tidur. Alura kini berdiri didepan Max.
"Mari, ku bantu," tawar Alura.
"Hmm." hanya itu yang keluar dari mulut Max.
Melihat ukuran tubuh Alura mungil menawarkan bantuan untuk mengangkatnya yang jelas-jelas jauh lebih besar. Max merasa tak yakin Alura kuat.
"Kenapa kau tidak percaya kepadaku?" Alura cemberut membuat Max menarik ujung bibirnya membentuk senyum. Hanya sekilas.
"Baiklah, jika kau memaksa," kata Max merasa tidak ada pilihan lain.
"Bismillah."
Alura menyelipkan tangannya di kedua ketiak Max. Dengan bantuan tangan Max akhirnya dia dapat memindahkan tubuh besar suaminya itu keatas kasur.
Max yang melihat Alura tidak bergerak jadi khawatir, apakah dia pingsan?
"Hey, kau kenapa diam?"
"Tunggu, Max. Aku sedang mengatur nafasku." Setelah dirasa tenaganya berkumpul kembali, Alura turun untuk mengambil selimut Max.
__ADS_1
Selesai mengatur bantal dan menyelimuti Max, Alura pun ikut berbaring.
"Max, kau sudah tidur?"
"Belum."
"Max, apa pun anggapan dan tuduhanmu atas apa yang kulakukan untuk pernikahan ini, itu tidak benar, Max," kata Alura beralih menghadap Max, "Kau tahu, Allah yang Maha membolak-balikkan hati, semoga saja hati kita istiqomah selalu dalam jalan kebenaran dan ... rasa itu segera Allah hadirkan. Karena pernikahan bukan hanya tentang tinggal satu atap Max. Lebih dari pada itu, pernikahan itu ibadah. Insyaallah jika mengingat tujuan awal pernikahan kita, maka badai dan ujian yang singgah bisa kita lalui."
Max hanya memasang wajah datar mendengar kalimat panjang Alura. Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu.
"Sudahlah, ayo tidur! Jangan lupa baca doa dulu." kemudian Alura mengadahkan kedua tangannya, tak lama ia mengusapkan ke wajahnya. Setelah itu mencoba untuk memejamkan mata membawa kealam mimpi.
Alura terbangun saat merasakan gerakan disebelahnya. Dia melirik jam di dinding menunjukkan pukul 2 dini hari. Alura membalikkan badan menghadap Max. Tampak suaminya ini bergerak gelisah dengan mata terpejam.
Seketika Alura dilanda rasa cemas. Apakah Max sakit? Dia langsung meraba dahi suaminya. Tidak. Suhu tubuhnya normal.
Kriuuk
Alura menyipitkan sebelah matanya, ah, bukankah tadi Max melewatkan jam makan malamnya?
Alura menyentuh pelan lengan Max.
"Max, apakah kau lapar?" tanya Alura.
Mata Max yang tadinya terpejam perlahan terbuka. Selanjutnya Alura membantu Max untuk bersandar di kepala ranjang. Max tak menjawab. Tapi sekali lagi perutnya tidak bisa bohong. Tanpa diminta Alura segera merapikan bajunya, menyambar kerudung lalu berjalan keluar.
Tidak sampai sepuluh menit ia kembali dengan sepiring makanan dan segelas air putih.
"Makanlah, Max."
Max menerima piring dari tangan Alura dan mulai memakan isinya. Melihat suaminya selesai, Alura menyodorkan segelas air yang langsung tandas isinya. Setelah memastikan Max selesai makan, Alura kembali membawa piring dan gelas kosong keluar kamar.
Saat dia kembali ke kamar Max sudah dalam posisi berbaring.
"Terimakasih," ujarnya Max pelan.
Alura naik keatas tempat tidur memilih duduk didekat Max. Tidak ada jawaban sampai isak tangisnya tertangkap telinga Max.
"Kau menangis?" Max merasa tak melakukan apa pun, tapi kenapa istrinya itu menangis.
"Maaf, jika aku menyakitimu," kata Max merasa serba salah.
"Max, kau tega." suara Alura berlomba dengan isakannya.
"Tega?"
"Ya. Kenapa tidak membangunkanku, aku ini istrimu, Max. Jika kau butuh sesuatu jangan sungkan untuk meminta bantuanku," ujar Alura. setelah mengatakan itu Alura berbaring dengan posisi meringkuk seperti janin. Hatinya sakit melihat Max yang kelaparan semalam. Pasti sulit mengingat kondisi suaminya itu. Bahkan hanya itu bergeser saja dia membutuhkan bantuan. Dada Alura kembali sesak. Setidaknya Max membangunkan dia, bukannya malah menahan rasa lapar.
"Maaf," hanya kata itu yang meluncur dari mulut Max.
Alura membisu. Lalu dia beranjak ke kamar mandi. Seperti biasa, dia ingin mengadu pada Rabb nya.
__ADS_1