
Alura kembali menyesap tehnya sambil memandang sendu langit bak aksara tanpa awan. Dia duduk sendirian di teras.
Sejak dua minggu lalu diboyong Max ke rumah pribadinya. Mereka hanya tinggal berdua, jika seperti sekarang saat Max pergi ke kafe, Alura merasa begitu kesepian.
Terlintas dalam benaknya jika memiliki anak pasti dia tidak akan kesepian lagi. Ada yang menemaninya kala Max pergi. Alura tersenyum sendiri membayangkan akan hal itu. Anak? Ah sepertinya dia berharap terlalu jauh. Tiga minggu menikah Max tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Kontak fisikpun hanya sebatas berpegangan tangan, tidak lebih. Sepertinya sekarang Alura harus memikirkan cara bagaimana agar Max menatapnya, agar Max menganggap hadirnya ada. Alura bukan patung yang bisa terus diabaikan seperti ini. Alura berdiri lalu masuk ke kamarnya. Hal pertama yang dia tuju adalah kaca besar di samping tempat tidurnya. Kemudian Alura menatap bayangan dirinya di dalam cermin. Apakah dia tidak menarik sehingga Max terus mengabaikannya?
Alura memutar tubuhnya. Lalu kembali tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Di dalam sana berdiri wanita cantik bak seorang model. Wajah blasteran warisan Dadynya adalah pesona yang sulit ditolak kaum adam. Hidung mancung, alis hitam seperti semut berbaris, kulit putih bersih terawat sempurna ditambah bibir tipis sewarna cerry. Alura memang cantik, tapi apa artinya kecantikan yang dia miliki jika Max terus mengabaikannya.
Alura menghela nafas, kemudian dia duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Wanita seperti apa yang Max suka." Alura bermonolog sambil memainkan surainya. Meskipun Max cacat, dia yakin suaminya itu laki-laki normal.
Kalau sudah begini, apakah Alura perlu mengambil langkah duluan. Misalnya merayu atau menggoda suaminya? Oh astaga...
Membayangkan dia melakukan itu membuat kedua pipinya merona serta badannya meriang.
Malu sekali rasanya. Iya kalau Max suka, kalau tidak.
Malah nanti Max berpikiran kalau dia wanita yang haus belaian sampai melakukan hal demikian.
Alura membenamkan wajahnya di atas bantal. Dia tidak menemukan jalan keluar. Selama ini Alura tidak pernah pacaran atau menjalin hubungan sejenisnya. Laki-laki yang pernah dekat dengannya ketika remaja hanyalah Askal. Dan bagi Alura, Askal tidak lebih dari seorang sahabat. Jadi, dia tidak ada pengalaman sama sekali untuk menarik perhatian pria.
Alura melihat jam di atas nakas menunjukkan pukul 2 siang. Seketika ide muncul.
Alura menegakkan badannya semangat.
Dia kemudian meraih gawainya menekan nomor mamanya. Mama bisa diandalkan dalam situasi sekarang. Setelah mendapatkan jawaban dari mamanya dan mama bilang ok, Alura mengirimi Max pesan singkat. Sebelum pergi, Alura selalu meminta izin dulu.
Alura ingat nasehat Ustadzah Ainun tempo hari. Jika ingin keluar rumah maka izinlah kepada suami. Kemudian beliau menyampaikan hadist terkait hal itu,
Ketika Aisyah sakit dan ingin ke rumah bapaknya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau minta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
"Apakah anda mengizinkan aku untuk datang ke rumah bapakku?”
Kecuali dalam kondisi terpaksa, yang mengharuskan wanita keluar rumah, tanpa harus meminta izin suami karena kesulitan jika harus meminta izin kepadanya. Alhamdulillah sampai hari ini Alura masih mengingat dengan baik nasehat dari Ustadzah Ainun yang kini menetap di Yaman ikut suaminya.
Alura bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
15 menit kemudian Alura selesai. Wanita cantik itu mengeluarkan gamis dan kerudung warna biru langit, pemberian Max minggu lalu. Alura tersenyum, ternyata sisi lain dari Max, perhatian juga.
Setelah siap, Alura keluar menuju garasi mengeluarkan mobilnya. Sebelumnya dia akan menjemput mamanya dulu di rumah.
Mobil yang Alura kendarai memasuki halaman rumah orang tuanya. Tampak di depan pintu wanita paruh baya sudah menantinya sambil tersenyum.
Alura keluar dari mobilnya berjalan menghampiri mamanya.
"Assalamu'alaikum, Mama," sapa Alura memeluk serta mencium pipi mamanya.
"Walaikumsalam, sayang."
"Mama, sehat?" Tanya Alura memperhatikan wajah cantik di depannya.
"Alhamdulillah sehat. Ayo, kita berangkat sekarang." Wanita itu menggandeng tangan Alura menuju mobil.
"Ayo, Ma."
Di mall Alura begitu senang bisa belanja berdua dengan mamanya. Mereka terlihat kompak. kasih sayang terpancar jelas dari satu dan lainnya. Alura menggandeng kadang merangkul pundak mamanya. Meskipun hanya orang tua angkat, tapi Alura begitu menyayangi.
Mereka memasuki salah satu toko baju. Dahi Alura mengernyit melihat jenis baju yang terpajang di toko.
__ADS_1
"Mama, kenapa kita ke sini?" Tanya Alura setengah berbisik.
"Sayang, pakai baju ini nanti malam di depan, Max, ya." Mamanya memilihkan beberapa lingerie dengan berbagai model.
Pipi Alura bersemu. Tidak...
Akan ditaruh dimana mukanya jika memakai pakaian seperti itu.
"Ma, kita beli pakaian yang lain saja," Tolak Alura.
"Udah, kamu nurut, aja."
Alura mendesah di tempatnya. Menyerah atas keputusan mamanya.
"Nah, Sayang. Ini bagus, gak!" Tunjuk mamanya pada tiga lingerie berwarna merah, pink dan hitam.
Alura yang awalnya menunduk langsung mengangkat wajah.
"Ba-bagus, Ma. Semuanya bagus," jawab Alura gugup. Ingin rasanya segera keluar dari toko tersebut.
Setelah mendapat persetujuan dari Alura, mamanya menyerahkan tiga lingerie tadi ke pelayan toko di ikuti Alura di belakangnya menuju kasir.
Selesai dari mall. Mereka menuju salon Tante Dina, adik sepupu mamanya. Salon Tante Dina ini khusus muslimah. Jadi Alura tidak khawatir ketika membuka hijabnya saat melakukan perawatan.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Setelah mengantar mamanya pulang, Alura bergegas kembali. Sesampainya di rumah Alura segera ke dapur untuk memasak makan malam. Alura mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas. Meskipun tidak jago, namun Alura berusaha tetap memasak untuk Max. Dia tidak ingin membuang kesempatan pahala yang Allah berikan. Mengurusi semua kebutuhan Max adalah kewajibannya. Alura berusaha menjadi istri yang baik. Ya, meskipun pernikahan mereka diawali tanpa dasar cinta.
Satu jam kemudian masakan sederhana sudah terhidang di atas meja makan. Ada capcay, ikan gurame goreng serta sambal ijo.
Alura beranjak ke kamarnya bersiap solat magrib. Sebentar lagi sepertinya Max akan pulang. Benar saja, tak lama dia mendengar deru mobil memasuki halaman rumahnya. Alura menyibakkan gorden kamarnya melihat Max dan Ray keluar dari mobil. Segera dia memakai hijabnya lalu keluar kamar menyambut suaminya.
"Ray, kau mau makan malam disini?" Tanya Max tanpa menatap orang yang diajaknya bicara.
"Baiklah."
"Tuan, saya permisi sekarang." Ray mendorong kursi roda Max sampai ke ruang tamu. Alura yang melihat kepergian Ray langsung menghampiri Max.
"Max, kau mau langsung mandi, atau mau ku bikinkan teh hangat?" Tawar Alura.
"Mandi," jawab Max singkat.
"Baiklah, ayo." Alura mendorong kursi roda Max masuk ke kamar.
Selesai solat magrib dan makan malam Alura terlihat resah. Dia sedang menimbang, akankan menjalankan rencananya sekarang. Bagaimana jika Max tidak suka?
Alura membuka sedikit pintu kamarnya. Dia mengintip dari sana tampak Max sedang duduk di ruang tamu dengan laptop di pangkuannya.
Alura kembali menutup pintu.
Dia berjalan menuju lemari. Mengeluarkan paper bag dari mall tadi. Setelah berpikir, Alur pun mengganti bajunya.
Kemudian dia duduk di depan meja rias memoles wajahnya dengan make-up tipis. Bismillah, bathinnya. Jika dia tidak memulai, bagaimana hubungan mereka akan berkembang. Tidak ada kemajuan jika dia hanya berdiam diri menunggu Max berjalan kearahnya.
Alura mendengar Max membuka pintu langsung menghambur ke kamar mandi menguncinya dari dalam. Nyaris saja jantungnya copot. Beruntung Max belum melihatnya.
Max yang sudah di kamar mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Namun, tidak menemukan Alura. Max menggerakkan kursi rodanya mendekati rak buku mini di sudut kamar. Tangannya meraih salah satu buku tebal bersampul biru.
Tak lama Max sudah tenggelam dalam bacaanya.
Max menurunkan buku di tangannya. Sudah lebih 15 menit Alura tak kunjung keluar dari kamar mandi. Terdorong rasa khawatir, akhirnya Max memutuskan mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Max dari balik pintu.
"Ah, iya. Aku baik-baik saja," jawab Alura dari dalam.
"Keluarlah!" Seru Max.
"I-itu, Max, bisakah kau mengambilkan piyama ku di dalam lemari," pinta Alura
Kedua alis Max terangkat. Dia merasa Alura aneh malam ini. Tidak biasanya Alura lupa membawa baju ganti. Dan... bukankah sebelum magrib tadi Alura sudah mandi.
"Tunggu."
Max mengambil piyama Alura lalu menggerakkan kembali kursi rodanya menuju pintu kamar mandi.
"Bukalah!"
"Max, hemm... i-tu, bisakah kau menutup matamu," ujar Alura sebelum membuka pintu.
Max kembali dibuat heran.
"Apa yang kau lakukan di dalam?" Tanya Max penasaran.
"Lakukan saja, Max. Dan ulurkan piyamanya," desis Alura.
Tangan Alura meraih knop pintu membukanya, belum sempat pintu terbuka seluruhnya Max menerobos masuk.
Alura yang melihat Max di depannya sejenak tidak dapat berpikir sama sekali. Netra mereka bertemu. Alura lebih dulu mendapatkan kesadarannya.
"Astaga, Max...!" Alura menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.
"Max, tutup matamu. Aku malu," lirih Alura dengan wajah merah padam seperti kepiting rebus.
Max yang melihat pemandangan indah di depannya terpana sampai tidak berkedip. Barulah dia sadar saat mendengar teriakan Alura.
"Max!" Seru Alura lagi.
Max berdehem beberapa kali guna menetralkan detak jantungnya. Baru kali ini sepanjang masa pernikahan mereka dia melihat Alura memakai pakaian yang membuat darahnya berdesir. Bagaimanapun pemandangan indah itu halal untuknya.
"Apa yang kau lakukan dengan pakaian itu?" Tanya Max setelah mereka sama-sama keluar dari kamar mandi.
Alura yang sudah berganti piyama hanya tertunduk malu. Rasanya tidak ada kekuatan untuk mengangkat wajah di depan Max.
"Kau, berusaha menggodaku?" Max kembali bertanya. Suara beratnya semakin membuat nyali Alura ciut.
"Bukan begitu, Max. Itu..." Alura tidak mampu menyelesaikan kata-katanya.
"Berhentilah melakukan hal itu lagi," Tegas Max.
Demi mendengar itu Alura memberanikan diri menatap Max.
"Kenapa?"
"Karena itu tidak akan pernah berhasil," jawab Max.
Alura mencelos mendengarnya.
"Maafkan aku, Max." Alura berpaling. Pura-pura sibuk membereskan buku di atas nakas.
"Alura, kau wanita yang cantik. Aku menghargaimu. Jika kau lelah dengan pernikahan ini, maka berhentilah," kata Max. Kemudian dia keluar kamar meninggalkan Alura yang mengangis tanpa suara.
__ADS_1