Senandung Cinta Alura

Senandung Cinta Alura
Kemarahan Max


__ADS_3

Mereka tengah berkumpul di ruang tamu. Alura tidak menyangka kedatangan Askal yang tiba-tiba merasa sangat senang. Akhirnya dia bisa bertemu kembali sahabat masa kecilnya.


Berbeda dengan Max. Wajahnya terlihat datar seperti biasa.


Ingin meninggalkan Alura dan tamunya tapi Ray menahannya.


"Dimana, Om dan Tante?" tanya Askal karena sejak tadi tidak melihat orangtua Alura.


"Papa masih di kantor. kalo Mama, berangkat ke Jogja," jawab Alura.


Askal mengangguk dan tersenyum.


"Alura, aku ... hem, sebenarnya datang kesini,l ingin bertemu dengan, Om Arya. Ada hal serius yang ingin aku bicarakan," ujar Askal tanpa melihat Alura. Pemuda dengan wajah tampan itu melirik Max sekilas. Dia penasaran siapa lelaki di kursi roda itu. Terakhir dia kesini tidak melihatnya.


"Oh, sayang sekali, biasanya jam 5 Papa sudah pulang. Tunggu saja, ya." kata Alura santai. Dia tidak begitu khawatir karena Max bersama mereka.


"Ok. Baiklah." Askal menyandarkan punggungnya ke sofa. Ekor matanya kembali melirik Max yang dari tadi hanya diam.


"Ah, iya. Askal, kenalkan ini suamiku, Max," terang Alura berjalan mendekat ke arah suaminya.


Demi mendengar itu Askal menegang di tempatnya. Namun buru-buru dia menguasai diri. Melihat kondisi Max,  akhirnya dia yang berjalan menghampiri.


Setelah saling berjabat tangan Askal kembali ke sofa dengan perasaan yang sulit dideskripsikan. Tapi satu kata yang pasti. TERLAMBAT.


"Selamat atas pernikahan kalian," ujar Askal tidak bersemangat.


"Terimakasih, Askal. Maaf tidak mengundangmu," sesal Alura berubah sendu, perubahan itu tertangkap oleh Max.


"Tidak apa-apa, mungkin memang sebaiknya begitu," balas Askal.


"Ya?"


"Bukan apa-apa." Askal merutuki kata-katanya barusan.


"Sebentar ya, aku buatkan minuman. Kau mau minum apa?" tanya Alura pada Askal yang terlihat gusar.


"Apa saja," jawab Askal asal.


Setelah mendapatkan jawaban Alura bergegas kebelakang meninggalkan tiga lelaki dewasa itu dengan rasa canggung diantara mereka.


"Kau tahu, kami bersahabat sejak sama-sama tinggal di panti. Meskipun akhirnya terpisah, tapi aku berusaha untuk kembali menemukkan dia. Akhirnya setelah sekian lama kami bisa bertemu kembali. Bahagia, tentu saja. Aku menunggu saat yang tepat untuk datang padanya. nNamun, takdir nampaknya tidak menghendaki itu," kata Askal menatap  Max tajam. Dia tidak suka kenyataan ini apa lagi melihat kondisi lelaki yang kini menjadi pendamping wanita yang telah mengisi hatinya duduk di kursi roda.


"Apa tujuanmu mengatakan itu padaku?" Max yang tadi terlihat cuek akhirnya buka suara.

__ADS_1


"Itu, agar kau tau bahwa ..."


"Kalian saling mencinta, begitu?" potong Max. Tangan Max terkepal kuat dipangkuannya. Matanya lurus menatap Askal. Dia memang tidak banyak tahu tentang Alura dan masa lalunya. Tapi mengetahui bahwa pria didepannya ini secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya membuat Max kesal.


"Alura terlalu berharga untuk mengurusi orang sepertimu, seumur hidupnya!" balas Askal.


"Kau!" Max menggeram diatas kursi rodanya.


"Tuan." Ray menyentuh pundak Max. Menahannya untuk mendekati Askal.


Tak lama Alura dan Bi Asih keluar membawa minuman dan camilan.


"Silahkan," kata Alura memberikan secangkir teh pada Askal.


Askal meraih minuman yang ditawakan Alura, meminumnya pelan


Setelah itu dia berdiri berpamitan.


"Tidak menunggu Papa?" Alura merasa aneh dengan perubahan sikap Askal.


"Nanti saja aku kemari lagi. Lagi pula, aku menginap di hotel sekitar sini. Baiklah, aku pamit dulu. Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam."


"Emm, Ray, tolong antarkan Max ke kamar itu," kata Alura menujuk kamar di sebelah ruang tamu. Tadi dia sendiri yang membersihkan dan menatanya.


"Baik, Nona."


"Terima kasih. Aku akan mengambilkan makan siang untuk Max." Alura berjalan ke dapur.


Ray terus mendorong Max hingga sampai di dalam kamar bernuasan abu abu yang rapi dan juga wangi. Diatas nakas ada pigura berisi foto pernikahan mereka.


"Tuan, apakah anda butuh sesuatu?" tanya Ray. Dia tahu mood Max sedang buruk sekarang. Max memang sensitif setiap ada yang menyinggung tentang kondisinya.


"Tidak. Tinggalkan aku sendiri!" lirih Max tanpa menatap Ray.


"Baiklah, Tuan. Saya permisi." Ray segera meninggalkan Max.


Klek


Alura masuk dengan membawa makan siang. Makanan itu, dia sendiri yang telah memasaknya. Dengan senyum ceria  Alura memandang punggung suaminya yang tengah melihat keluar jendela.


Alura selalu berdoa, semoga hati Max segera mencair dan rumah tangga mereka berjalan seperti selayaknya. Bukan seperti sekarang, terasa canggung dan asing.

__ADS_1


"Max, makan dulu."


"Berhenti berbuat seolah-olah aku ini orang cacat yang butuh dikasihani!" teriak Max memutar kursi rodanya. Mendapati raut bingung di wajah Alura "Kau tahu, hal yang paling ku benci, adalah di 'kasihani," tukasnya.


Mata Max berkilat penuh amarah. Alura yang melihatnya hanya mampu beristigfar dalam hati.


"Max, kau sedang emosi. Coba untuk istighfar. Emosi itu datangnya dari setan. Dan ... yang kulakukan ini adalah kewajibanku sebagai seorang istri," kata Alura dengan nada suara sedikit bergetar. Dia tidak tahu apa  penyebab Max begitu emosi saat ini.


"Tapi aku tidak suka! Apa tujuan mu sebenarnya menikah denganku?!"


Alura membeku di tempatnya. Kenapa Max marah? Adakah dia berbuat salah.


Dulu dia sering membaca kisah bagaimana Rasulullah Saw. memperlakukan istri-istrinya. Sungguh Alura terpesona dengan akhlak manusia mulia itu. Berharap dia bisa menemukan suami yang akan memperlakukkannya dengan baik. Meskipun tidak ada manusia yang sempurna.


"Max, kenapa kau berprasangka buruk padaku, itu namanya su'udzon. Apa salah jika aku ingin berbakti pada suamiku? Jika iya, dimana letak salahnya?" Airmata Alura sudah siap tumpah, hatinya sakit melihat keputus-asaan Max.


"Itulah rahasia jodoh, Max, sudah diatur oleh Allah Swt. Aku ingin menjalani pernikahan ini dengan selayaknya, salahkah jika aku ingin meraih surga dengan taat pada suamiku? Tapi, aku merasa kau membangun tembok yang terlalu tinggi, sehingga aku tak bisa menggapainya, hiks... hiks... ragamu ada, tapi hatimu entah dimana."


Alura sudah tak tahan lagi. Dia luruh ke lantai sambil memeluk kedua lututnya sambil membenamkan wajahnya disana.


Max tak kalah terkejut mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Alura. Hatinya pun sakit. Andai dia tidak cacat seperti sekarang, pasti dia tidak akan menjadi se-sensitif ini dan dia akan dengan senang hati menerima Alura tanpa curiga apa yang telah dilakukan istrinya itu hanya wujud rasa kasihan.


"Salah, seharusnya wanita seperti dirimu menikah dengan lelaki yang lebih baik! Bukan sepertiku, yang akan menjadi beban seumur hidupmu! Dan kaki cacat ini tidak berguna," balas Max frustasi.


Kata-kata Max malah membuat tangis Alura kian kencang. Mengapa sulit sekali untuk saling memahami. Alura baru sadar, menikah ternyata bukan hanya tentang hal indah-indah saja. Adanya perbedaan itu haruslah disikapi dengan bijak.


"Jika kau ingin tahu, tidak ada yang merasa dibebani di sini, Max. Allah juga tidak menyukai hambanya yang berputus asa dari rahmat_Nya. Jangan pernah menyalahkan qadha Allah." selesai mengatakan itu dengan muka sembab Alura melangkah ke kamar mandi. Setelah berada di dalam dia mencuci muka dan merapikan kerudungnya. Jika Max memang membutuhkan waktu, biarlah Alura bersedia memberikan berapa banyak pun waktu yang dia butuhkan.


Alura keluar dari kamar mandi mendapati Max masih di posisi semula. Dengan menguatkan hatinya Alura mengambil makanan tadi membawanya mendekati Max.


Dia tidak ingin suaminya itu kelaparan lagi. Karena ini sudah masuk jam makan siang.


"Ayo, makan." Alura mengarahkan sendok ke mulut Max yang masih bungkam, "aku yang memasaknya sendiri, Max. Cobalah," ujar Alura. Max membuka mulutnya tak lagi menolak. Dengan jarak sedekat ini dia bisa melihat wajah sembab Alura dengan cuping hidung yang memerah. Akhirnya


Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Max. Nasi di piring tinggal separuh lagi. Alura melihat itu tersenyum sendiri. Benar, sepertinya dia hanya butuh bersabar.


"Max, hmm... dengarkan kisah ini, ya. Suatu hari, Fatimah Azzahra ra, putri Rasulallah Saw. bertanya, siapakah wanita pertama yang masuk surga setelah Ummul mukminin? Lalu Rasullallah Saw. menjawab, bahwa wanita itu bernama Siti Muti'ah, dia tinggal di pinggiran Madinah pada masanya. Mengetahui jawaban itu, timbul rasa penasaran Fatimah. Karena selama ini dia belum mengenal pemilik nama itu. Untuk menuntaskan rasa penasarannya, akhirnya dia berniat mengunjungi wanita itu. Lalu suatu hari, datanglah Fatimah kerumah wanita itu. Dia mengetuk pintu, lalu terdengar jawaban dari dalam yang menanyakan Fatimah datang dengan siapa? Fatimah menjawab dia datang dengan anaknya, lalu pertemuan hari itu gagal, karena Siti Muti'ah belum meminta izin pada suaminys untuk tamu laki-laki. Padahal waktu itu anak Fatimah masih kecil. Begitupun hari kedua. Nah, di hari ketiga barulah Fatimah bisa masuk ke rumah itu dan diterima dengan baik. Fatimah  merasa kagum pada kepatuhan Siti Muti'ah pada suaminya. Fatimah juga melihat saat itu Muti'ah tengah memakai pakaian yang bagus lagi wangi, rumahnya juga rapi dan nyaman. Katanya, dia sedang menunggu suaminya pulang kerja. Hari ke-4, Fatimah dibuat terharu, melihat bagaimana Siti Muti'ah menyambut suaminya, suaminya baru sampai dia langsunh mengambil handuk dan menyeka keringat suaminya, kemudian mengipasi sampai hilang keringatnya. Sebelumnya dia sudah menyiapkan air rebusan untuk mandi dan menyiapkan makanan. Saat suaminya akan makan, dia meletakkan cambuk disebelah suaminya. Jika makanannya tidak enak, dia bersedia untuk di cambuk. Kau tahu, Max. Begitulah wujud ketaatannya kepada suaminya. Jadi wajar, jika Siti Muti'ah wanita ahli surga. Ia


adalah seseorang wanita juga seorang istri yang begitu baik, patuh, taat dan menyenangkan pada suaminya." Alura menyuapkan suapan terakhirnya.


"Bisakah aku, hiks ... mendapatkan kesempatan yang sama, Max? Apalah artinya semua yang kulakukan, jika kau tak ridha, karena ridha Allah Swt. terletak pada ridha suami," bisik Alura.


Max yang mendengarkan cerita Alura terkesiap. Dia baru tahu hati Alura sangatlah baik, beberapa kali dia memperlakukan Alura dengan tidak menyenangkan, tapi wanita itu tidak membencinya. Max berpikir Alura terlalu naif. Tapi melihat sorot matanya Max ingin percaya.

__ADS_1


"Maukah, memberi aku kesempatan untuk bisa berbuat hal yang sama padamu, Max? Semoga dengan itu ridha Allah bisa kuraih" airmata Alura kembali membasahi wajahnya. Melihat itu, Max mengulurkan tangan menghapus airmata yang semakin deras turun di wajah cantik istrinya.


__ADS_2