
Malam ini tidur Alura tak senyenyak biasanya, pertemuan tadi siang antara dia dan keluarga Bibi Mery sedikit banyak mengganggu pikirannya.
Bolak balik, mata tak jua mau terpejam. Akhirnya Alura memutuskan untuk beranjak ke ruang sebelah tempat biasa dia menulis.
Alura menarik salah satu kursi memilih duduk di sisi jendela yang menampilkan langsung jalan raya tampak juga beberapa lampu jalan yang menerangi di bagian pinggirnya.
Alura membiarkan jendela terbuka menikmati angin malam sambil tangannya meraih musaf lalu mulai membacanya dengan tartil dan khusuk.
Mengingat bagaimana kekehnya Bibi Mery meninginkan pernikahan dia dan Max membuat Alura harus lebih menyakinkan lagi memberikan alasan kecuali pemuda itu muslim.
Alura memejamkan mata, sosok Max yang dingin kembali muncul. Pemuda itu seperti sesuatu yang tak tersentuh karena benteng yang dia bangun. Pertemuan tadi bukanlah pertama kalinya bagi mereka berdua, setidaknya Alura sudah dua kali bertemu dengannya. Hanya saja Alura cukup terkejut melihat kondisi Max sekarang.
Awalnya Bibi Mery mengira Alura menolak karena kondisi Max yang cacat, padahal bukan. Dia rasa, dari awal, alasannya sudah cukup jelas.
"Max, kau sendiri yang harus menyakinkannya!" Mery bersedekap sambil menatap Max tajam
"Ma, bukankah sudah sangat jelas keputusan gadis itu," ujar Max mencoba tak terpengaruh
"Ayolah, Max! dia tidak menolakmu seutuhnya, dia hanya menolak karena keyakinan kalian yang berbeda." Mery mendengkus, "lagi pula, kenapa juga dia harus jadi muslim. Membuat semua semakin sulit," geram Mery.
"Sudahlah, Ma. Aku tidak ingin memaksanya. Sudahi ambisi Mama itu." kali ini suara Max lebih tegas. Dia benci dengan ambisi Mamanya yang tergila-gila dengan harta.
"KAU!" Demi mendengar itu, Mery berubah murka.
"Begini caramu membalas apa yang sudah kulakukan padamu, Max. Hah! Kau ingat, jika aku tidak mengadopsimu waktu itu, kurasa sekarang kau sudah jadi gembel atau mati di jalanan!" Tatapan tajam Mery seakan mampu menghancurkan Max saat itu juga.
Tentu Max tak lupa kejadian malam itu. Max yang yatim piatu tinggal tidak menetap dan berpindah-pindah. Sampai kejadian saat dia sedang demam tinggi di tambah hujan turun dengan deras, tidak ada tempat yang bisa Max datangi. Akhirnya dia hanya menyusuri jalan, berharap ada orang yang berbaik hati memberikan tumpangan untuk dia bermalam barang semalam saja. Tapi tak ada yang peduli padanya, sehingga Max hampir pingsan tepat saat itu mobil Mery melintas. Mery -lah orang yang mengulurkan tangan untuknya. Memberikan kehidupan yang mewah, kasih sayang dan pendidikan sampai dia bisa mengenyam pendidikan tinggi. Inilah yang membuat Max merasa berhutang budi dan menyayangi wanita itu seperti orangtuanya sendiri.
"Saya ingat, Ma." nada suara Max kembali merendah
"Baguslah kalau kau masih mengingatnya. Bagaimana pun, aku harus mendapat bagian. Jika tidak, kau tahu? harta itu tidak akan bisa cairkan."
"Bagaimana caranya, Ma? Sudah jelas dia menolak."
"Dasar, kau tidak berguna!" Mario yang muncul tiba-tiba langsung mengambil tempat duduk di sebelah Mery.
__ADS_1
"Apa susahnya menikahi Alura, kalau perlu, kau ikut keyakinannya," kata Mario menekankan kata 'keyakinan'
"Tidak semudah itu," jawab Max memancing emosi Mario. Dari awal Mario tidak setuju Mery mengadopsi Max. Dia merasa Max adalah saingannya. Benar saja, Max jauh lebih tampan, lebih dewasa, dan mendiang Papa nya juga sangat menyayangi Max. Mario merasa di nomor duakan, padahal dialah yang anak kandung mereka.
"Apa yang tidak mudah? Cih, Dasar lelaki cacat tidak berguna!"
"MARIO!" Mery menarik lengan putranya kasar.
"Jaga mulut anda, Tuan Mario." Ray sedari tadi hanya diam menjadi pendengar merasa tidak terima Mario merendahkan tuannya.
"Hei, apa yang salah. Dia memang cacat, tidak berguna, hanya jadi benalu!" Ray yang tak tahan lagi, segera meraih kerah kemeja Mario, giginya gemeretak menahan amarah yang siap meledak.
"Ray, hentikan!" Max menggerakkan kursi rodanya lalu meraih tangan Ray.
"Singkirkan tangan kotormu itu!" Mario tak kalah berang melihat Ray berani menyentuhnya.
"Ya, hentikan semua ini. Kalian membuat kepala ku serasa ingin pecah," teriaj Mery memijit pelan kepalanya, "Max, jika kau ingin membalas kebaikan ku, maka, inilah saatnya. Aku tak mau tahu, yang ku inginkan, kau jadi suaminya. Dan kau Mario, berhentilah mengacau," ujar Mery berlalu masuk ke kamarnya.
Menyisakan mereka bertiga di ruangannya itu. Akhirnya Max meminta Ray membawanya ke kamar.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Ray menatap Max.
Setelah solat subuh Alura turun ke dapur membantu Bi Asih membuat sarapan. Ini memang sudah rutin untuk Alura kerjakan, tak tega melihat wanita senja itu bekerja sendirian. Tadi, Bibi Mery menghubunginya lagi meminta untu bertemu. Alura ingin menolak, tapi dia tidak tega. Bagaimana pun Bibi Mery adalah keluarganya. Dia mengundang Bibi Mery untuk datang ke rumahnya.
Tapi Bibi Mery menolak, meminta Alura datang kembali ke rumahnya. Baiklah Alura setuju. Tanpa mengulur waktu, setelah selesai membantu Bi Asih, Alura pun bersiap.
Disinilah dia sekarang, tengah di ruang tamu Rumah Bi Mery, saat melihat Bi Mery keluar bersama Max, Alura merasa dejavu.
Alura lalu berdiri menyambut pelukan Bibi Mery.
"Duduklah." setelah mempersilahkan Alura duduk, Bibi Mery memberi kode pada Ray untuk mendorong kursi roda Max mendekat.
"Alura, Max setuju untuk mengikuti keyakinanmu, Sayang," ujar Bibi Mery lebih lembut dan terdengar lebih ramah, "bukankah begitu, Max?" Bibi Mery melirik Max.
Max hanya mengangguk.
__ADS_1
Alura mendadak kaku di tempatnya. Tidak mungkin rasanya laki-laki itu berubah pikiran dalam semalam. Ini bukan sesuatu yang main-main dan di lakukan dengan terpaksa.
"Bibi, saya ingin menyakinkan sekali lagi, apakah ini murni dari Max?" Kini tatapan Alura mengarah pada lelaki di kursi roda itu.
"Ya," jawabnya singkat
"Sungguh?"
"Apa kau tidak dengar?"sela Bibi Mery.
"Ya, dengar." Alura beralih pada Bibi Mery.
"Bibi, sebaiknya Max melakukan ini dengan niat yang benar-benar tulus, bukan hanya karena pernikahan ini."
"Sudahlah, Alura. Kenapa kau cerewet sekali. Kau barusan dengar sendiri jawaban Max. Jadi apa lagi masalahnya?" BibiMery mulai menampakkan wajah tidak suka
"Bibi, berikan waktu saya untuk berpikir," kata Alura akhirnya. Tidak mau berlama-lama, Alura pun memilih untuk pamit.
Seminggu kemudian Max resmi menjadi seorang muallaf setelah mengucapkan syahadat di masjid kawasan rumah Alura.
Papa dan Mama juga sudah mengenal Max. Karena pada dasarnya Max adalah laki-laki yang baik, maka mereka memberikan restunya untuk pernikahan Alura yang akan diadakan dua minggu lagi.
Alura sendiri menerima dengan ketulusan hati, dia merasa ke Islaman Max sudah cukup menyakinkan hatinya. Setelah melalui beberapa kali istikharah, dia merasa kian mantap. Ketika Alura mengajukan seorang Ustazd untuk mengajarinya tentang Islam, Max juga tak menolak. Itu saja sudah cukup bagi Alura.
Akhirnya, hari yang di nanti pun tiba, di sebuah gedung mewah sedang dilangsungkan acara pernikahan Alura dan Max. Alura tampak cantik dan anggung dengan balutan baju dan kerudung serba putih. Sedangkan Max terlihat lebih segar dan rapi dari biasanya dengan stelan tuxsedo hitam. Tamu perempuan mulai berbisik-bisik melihat kondisi Max yang duduk di kursi roda. Ada yang melihat dengan tatapan iba, ada juga yang memandang sinis, menyayangkan gadis secantik Alura harus menikah dengan lelaki cacat seperti itu.
Menyadari itu, membuat Max ingin segera meninggalkan tempat itu. Max tak terlalu suka keramaian. Apa lagi dengan kondisinya sekarang. Dia melirik Alura yang duduk di sampingnya, wanita cantik itu terlihat anggun, sesekali ia tampak tersenyum.
Sadar Max memperhatikannya, Alura pun mengalihkan tatapannya pada Max yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
"Kau lelah, atau menginginkan sesuatu?" tanya Alura.
"Lelah," balas Max singkat.
"Baiklah, Max. Ayo istirahat saja. Jangan memaksakan diri." Alura berdiri meraih kursi roda Max.
__ADS_1
"Biarkan aku sendiri! Kau tak perlu ikut-ikutan mengasihaniku," tegas Max dengan ekspresi datar tapi kata-katanya barusan terdengar dingin dan tajam.
"Bukan begitu, Max. Aku..." belum selesai kalimat Alura, Max memotongnya dengan memanggil Ray yang duduk tak jauh dari mereka. Ray mendekat, mengerti keinginan tuannya itu. Dia segera mendorong kursi rodanya meninggalkan Alura dengan mata berkaca-kaca.