
Mario duduk di dalam mobil dengan pandangan lurus ke depan. Tangannya mencengkeram kuat stir mobil. Bau alkohol menguar dari mulutnya. Terlihat jelas mata Mario merah karena setengah mabuk menahab amarah. Dari kecil dia membenci Max karena berhasil merebut perhatian orangtuanya. Max yang notabene anak angkat mendapatkan kasih sayang dan fasilitas sama dengannya.
Mario mengutuk dalam hati. Kenapa Max hadir dikeluarga mereka.
"Harusnya dia mati saja waktu itu!" Mario bermonolog sambil menyulut sebatang rokok.
Kebencian Mario membuatnya berambisi membuat Max terus menderita. Dia ingat ketika berusia tiga belas tahun. Dengan sengaja menyembunyikan sepatu bola Max, membuat Max gagal ikut pertandingan hari itu. Atau dilain waktu dia merusak sepeda Max, hingga sepeda itu tak layak lagi dipakai dan hal lainnya masih banyak yang dia lakukan semata-mata agar Max sedih dan membuat mereka saling membenci.
Namun yang terjadi sebaliknya, Max selalu memaafkan dan tetap menganggap Mario saudaranya. Bagi Max yang yatim piatu, mendapatkan keluarga adalah anugrah. Jadi, dia tidak terlalu peduli dengan perbuatan Mario yang berusaha membuat dia tidak betah tinggal bersama. Jika pergi, Max tak tahu harus kemana dan apa yang bisa dilakukan bocah umur sepuluh tahun. Karena itulah Max menelan rasa pahit demi kelanjutan hidupnya.
Dia membuka kaca jendela mobil melemparkan puntung rokok keluar. Matanya menangkap dua orang berjalan menuju mobil. Dua orang itu tak lain Max dan Ray. Mereka baru saja menutup kafe dan berniat pulang.
Mobil bergerak meninggalkan area parkir menuju rumah baru Max dan Alura. Ya, dua hari yang lalu mereka memilih tinggal terpisah dari orangtua Alura. Awalnya mama dan papa Alura keberatan. Mereka merasa rumah cukup besar untuk hanya ditinggali berdua. Namun Max berusaha menjelaskan bahwa ia dan Alura ingin mandiri. Lagipula jarak rumah mereka tidak terlalu jauh. Hanya sepuluh menit jalan kaki.
Mario mengikuti mobil Max dari belakang. Namun ketika tiba ditempat yang sepi Mario memacu mobilnya berusaha memepet mobil Max.
Terang saja apa yang ia lakukan membuat Max dan Ray kaget. Ray yang menyetir berusaha fokus serta menghindar sebisa mungkin. Namun Mario yang kalap tidak membiarkan mobil yang ditumpangi Max lolos begitu saja. Kali ini dia harus berhasil membunuhnya!
Betapa beruntungnya Max, sudah cacat masih saja bisa menikahi sepupunya yang cantik. Sekarang dia juga menikmati warisan dari Om George yang jumlahnya tidak sedikit. Harusnya dia yang ada diposisi itu. Sudah lama dia menyukai anak semata wayang Om George. Meski mereka tidak terlalu akrab, bukan berarti Mario abai terhadap Alura. Dia ingat betul saat pertama kali melihat anak perempuan berusia sepuluh tahun dengan mata biru dan rambut pirang datang ke rumah mereka di London. Mario langsung menyukainya. Tidak menyangka ia memiliki adik sepupu secantik itu. Beranjak dewasa Mario hanya bisa menahan perasaannya. Bagaimanapun dia sungkan untuk mengutarakan. Apa lagi Mama Mery tak begitu suka pada Alura. Hingga Mario mendengar keputusan Max harus menikahi Alura demi warisan Om George. Serasa disambar petir disiang bolong. Mario murka dengan keputusan mamanya.
Mobil Mario masih berusaha memepet Mobil Max. Akhirnya saat jalanan lengang dia memotong dan berhenti tepat didepan mobil Max.
Ray yang melihat itu mendadak menginjak rem membuat mereka hampir terpental menembus kaca depan. Beruntung seatbelt menahannya.
Ray buru-buru mengecek keadaan tuannya. Tak ingin Max sampai terluka. Karena tanggungjawabnyalah untuk menjaga keselamatan Max. Dia digaji untuk itu.
"Tuan, anda baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Ray.
"Aku baik-baik saja," jawab Max cepat.
"Syukurlah, Tuan." Ray mengusap wajahnya yang banjir keringat. Kejadian tadi memacu adrenalinnya. Siapa pengemudi tidak waras didepan itu, pikirnya.
"Tuan, anda mengenal mobil didepan?" tanya Ray menuntaskan rasa penasarannya dengan langsung bertanya pada Max.
Tidak ada jawaban. Mata Max memandang lekat pada sosok yang baru keluar dari mobil. Pria berperawakan tinggi besar itu setengah terhuyung berjalan mendekati mobil mereka. Max mengepalkan kedua buku tangannya erat. Orang ini, dari dulu selalu cari masalah dengannya. Kapan Mario akan berubah baik. Sehingga hubungan ini layaknya saudara pada umumnya. Tidak memandangnya terus menerus sebagai musuh yang harus dimusnahkan.
"Buka!" Mario mengetuk dengan keras kaca jendela disamping Max.
"Tuan, itu Kakak anda." Ray menunjuk kearah Mario diluar.
"Buka cepat!" Mario mengulangi permintaannya.
"Ray, bantu aku turun." Suara Max datar seperti biasa. Ekspresinya juga sangat tenang.
"Tapi Tuan... dia sepertinya tidak berniat baik," ujar Ray khawatir.
"Tidak apa-apa, Ray. Dia butuh bicara denganku." balas Max menatap Ray. Sedangkan yang ditatap tidak ada pilihan lain selain menuruti apa kemauan majikannya.
Ray mengeluarkan kursi roda Max lalu membantunya duduk disana.
Ray mendorong kursi roda Max mendekati Mario yang berdiri disisi jalan.
"Ada apa?" tanya Max.
"Kau,ceraikan Alura sekarang juga!" Bentak Mario lalu menatap tajam kearah Max.
__ADS_1
Max bergeming. Apa hubungannya dengan Alura?
"Kenapa?"
"Ha ha ha, dasar cacat tidak berguna, cih!" desis Mario menarik bagian depan sweater Max membuat Max terpaksa mendongak. Netra mereka bertemu. Max dapat melihat kebencian dari mata itu.
"Lepaskan tangan anda!" Ray yang berdiri di belakang Max maju. Menatap Mario tidak suka.
"Biarkan," ujar Max menahan Ray yang ingin melayangkan tinjunya ke wajah tampan Mario.
"Benalu! Kau itu tidak ubahnya seperti itu. Hidup bertahun-tahun menumpang dengan keluargaku, kini kau menikmati semua kemewahan yang tidak seharusnya jadi milikmu!" teriak Mario mengucapkan kata-kata itu persis di depan wajah Max. Max menutup matanya sebentar. Dia sudah kebal dengan semua kata-kata kasar dan cacian Mario.
"Apa yang kau mau? tanya Max langsung tidak ingin bertele-tele.
"Ceraikan Alura, dan pergi sejauh mungkin dari hidupnya dan hidup kami!" Mario mundur selangkah memperhatikan wajah datar Max. Kadang Mario merasa bingung. Dari dulu Max tak pernah membalasnya. Apakah dia tidak sakit hati? Atau, dia menahannya saja.
"Aku tidak bisa!" lirih Max penuh penekanan.
"Kau...!"
Bugh
Sebuah tinju bersarang mengenai bibir Max membuat dia mengerang sesaat. Darah segar mengalir. Max menyeka dengan tangannya.
"Anda keterlaluan. Berhenti!" teriak Ray menerjang Mario hingga terjungkal ke tanah. Dia berdiri diatas Mario siap memukul jika saja Max tidak menahannya. Dengan kesal Ray akhirnya menurut berdiri menjauh.
"Mario, hentikan semua ini! Jika tentang harta, ambillah seberapa yang kau inginkan. Aku hanya tidak ingin, saudaraku terus diliputi dendam dan kebencian. Itu akan merusak jiwamu," kata Max melihat sekilas kearah Mario. Lalu dia memanggil Ray meminta membantunya kembali ke mobil. Sedangkan Mario berusaha berdiri dengan memegangi perutnya yang terkena tendangan Ray. Mobil Max bergerak meninggalkan dia sendirian.
Alura menutup Al-Qur'an yang barusan dia baca. Dia melihat sudah jam 7 malam tapi Max belum juga pulang. Tidak biasa suaminya pulang terlambat seperti ini. Alura meletakkan Al-Qur'an di tangannya kedalam lemari. Lebih baik sekarang dia telfon saja untuk memastikan.
Alura meraih gawainya diatas nakas mengusap layarnya mencari kontak Max. Tidak ditemukan.
Baru saja Alura selesai merapikan mukenah, terdengar suara mobil. Itu pasti Max, tebaknya. Dia segera mengenakan gamis beserta kerudung sebelum keluar.
Benar saja, baru saja dia membuka pintu kamar, Max dan Ray muncul dari pintu depan. Alura tersenyum rasa khawatirnya hilang sudah.
"Assalam'alaikum, Max," sapa Alura berjalan mendekat. Tapi berapa terkejutnya dia melihat di sudut bibir Max ada warna biru memar.
"Max, apa yang terjadi?" Tangan Alura terulur ingin menyentuh bibir Max.
"Jangan sentuh!" tepis Max pada tangan Alura.
Alura menarik kembali tangannya. Dia lupa bagaimana sifat Max.
"Tuan, saya permisi dulu," ujar Ray berjalan ke depan.
"Baiklah. Besok jemput jam 8 pagi."
"Baik, Tuan," jawab Ray sambil sedikit membungkukkan badannya kearah Alura. Kemudian dia berbalik menuju pintu keluar.
Sepeninggal Ray Max mendorong sendiri kursi rodanya menuju sofa. Alura mengikuti dari belakang.
"Max, kau terluka. Aku obati ya," tawar Alura.
"Tidak perlu!"
__ADS_1
Alura mendesah melihat sikap yang belum berubah. Masih saja dingin kepadanya.
"Ya, aku siapkan makan malam dulu." Alura beranjak dari Sofa.
"Aku sudah makan," jelas Max menghentikan langkahnya. Padahal dia tadi masak untuk mereka berdua. Alura mengabaikan Max dia kembali berjalan ke dapur.
Tidak lama Max mengekor. Dia melihat wajah Alura yang semula ceria kini berubah murung. Menghadap makanan dalam diam.
"Aku mau makan."
Alura mengangkat wajah. Bukankah tadi jelas dia mendengar Max mengatakan sudah makan. "Kau bilang tadi sudah makan," kata Alura.
"Sudah makan, bukanĀ berarti aku tidak mau makan." Max bergerak mendekati meja.
"Ah, iya. Maaf," kata Alura berdiri mengambil piring satu lagi.
Selesai makan malam mereka masuk kedalam kamar. Max menggerakkan kursi rodanya menuju tempat tidur. Melepaskan sweaternya menyisakan kaos berwarna putih yang mencetak tubuh atletisnya.
"Max kau mau mandi? Mari aku bantu," tawa Alura berdiri mendekati kursi roda.
Max hanya mengangguk membiarkan Alura mendorong kursi rodanya masuk kedalam kamar mandi. Setelah itu Alura langsung keluar. Mengambil baju ganti dan menaruhnya diatas kasur.
Alura duduk di depan meja rias. Membersihkan wajah dan menyisir rambutnya pelan. Saat dia berbalik matanya menangkap tubuh atas Max yang tidak terbungkus. Pipinya langsung merona lalu secepat kilat Alura berbalik dan memejamkan mata.
"Baju ganti diatas kasur," terangnya dengan mata masih terpejam.
Max melirik Alura yang memunggunginya, "Iya, terima kasih."
"Sudah?" tanya Alura
"Apa?!" Max balik bertanya. melihat Alura masih memunggunginya.
"Emm, i-itu, ganti bajunya," kata Alura mendadak gugup.
"Sudah."
Huft. Akhirnya Alura bisa membuka mata dan melihat Max yang terlihat lebih segar dengan rambut basah dan baju kaos yang pas di tubuhnya.
"Max," panggil Alura menghampiri Max. "Bolehkah aku minta nomor telfonmu?"
Max tidak menjawab hanya menyodorkan gawainya.
"Ah, terima kasih," ujar Alura segera menyalin ke kontak hpnya.
"Ini." Alura menyerahkan kembali hp Max, "kau ingin istirahat, mari kubantu." seperti biasa. Alura membantu Max naik keatas tempat tidur. Setelah sebelumnya menata bantal yang sedikit lebih tinggi untuk Max bersandar.
"Max, tadi Papa telfon. Mengenai Ustaz yang akan membimbingmu untuk mempelajari Islam, Papa merekomendasikan temannya. Jika kau bersedia, besok aku akan menemanimu menemui Ustaznya."
"Terserah kau saja," jawab Max tanpa melihat Alura.
"Baiklah kalau begitu." Alura berbaring di sisi Max. Meraih guling memeluknya erat. Dia melirik Max sekilas sedang membaca buku. Alura tersenyum mengagumi wajah tampan suaminya. Meski Max jarang tersenyum. Coba kalau dia sering menarik bibirnya keatas mungkin aura suram dari wajah tampan itu akan hilang.
Max menoleh. Mereka saling pandang sekarang. Alura menutup mata rasa malu karena ketahuan diam-diam memperhatikan. Dia ingin membalik badan tapi merasakan pergelangan tangannya dipegang Max.
Alura terkejut. Jarang-jarang mereka melakukan kontak fisik seperti ini. Dadanya berdebar semoga saja Max tidak mendengar degup jantungnya.
__ADS_1
"Tidurlah menghadap kesini," perintah Max lalu melepaskan pegangan tangannya pada tangan Alura.
"Ba-baiklah, Max," kata Alura memejamkan matanya berusaha keras untuk segera tidur.