Senandung Cinta Alura

Senandung Cinta Alura
Diantara Hati


__ADS_3

Selesai menelfon Ray minta di jemput, Max menunggu dengan gelisah. Sepuluh menit berlalu Alura belum juga sadar. Max mengusap kepala Alura yang tertutup kerudung. Kepala istrinya dia rebahkan di atas pahanya. rasanya dicengkeram rasa khawatir sungguh membuat Max tidak nyaman. Max beralih melihat wajah Alura, mengambil tissu menyeka keringat di dahinya dengan gerakan pelan.


Max menarik ujung bibirnya membentuk senyuman walau sekilas. Wajah cantik Alura adalah sebuah anugrah yang wanita itu miliki. Bukan hanya wajah yang cantik, akhlak dan agamanya pun bagus.


Bagi Max, semua itu belum cukup untuk mencairkan hatinya dan menghilangkan trauma masa lalu. Menjalin hubungan serius seperti ini membuat Max takut akan ditinggalkan lagi suatu saat nanti. Kemudian dia akan menelan kenyataan pahit bahwa dia sendirian di dunia ini. Diawali dari kedua orang tuanya yang meninggal secara tragis dalam sebuah kecelakaan mobil. Membuat Max menjadi yatim piatu dalam sekejap. Rasanya begitu menyakitkan kehilangan orang-orang yang disayangi.


Beruntung waktu itu Max tidak ikut, sehingga dia selamat dari kecelakaan beruntun itu. Malam itu dia menginap di rumah temannya.


Sejak itu pula hidup Max berubah layaknya di neraka. Hanya yang dipikirkannya bagaimana dia bisa bertahan hidup. Perutnya terisi meskipun dengan makanan seadanya. Setahun tinggal di rumah bibinya membuat Max kecil amat menderita. Dia dijadikan pekerjakan di rumah keluarga dari pihak ibunya itu layaknya pembantu.


Akhirnya karena tidak tahan, Max memilih kabur dari rumah bibinya dan berakhir luntang lantung hidup di jalanan.


Untuk makan dia sampai menjadi pengemis. Tidur di emperan, kadang juga menyelinap masuk ke dalam taman kanak-kanak untuk sekedar berlindung atau berteduh ketika hujan.


Sampai pada malam itu, Mary dengan mobil mewahnya menemukan dia yang tergeletak hampir meninggal tertabrak mobilnya.


Sejak hari itu, Max di bawa ke kediaman Mary dan diadopsi menjadi anaknya. Mendiang suami Mary sangat menyayangi Max layaknya anak kandung. Max kecil tumbuh dengan baik berkat kebaikan hati Mary dan suaminya. Itulah mengapa Max bersedia mengabulkan apa yang Mary inginkan meskipun itu bertolak belakang dengan hatinya dan juga berarti harus mengorbankan kebahagiaan dia sendiri. Bagi Max, yang penting mamanya senang dan merasa bahagia. Hanya ini cara dia membalas budi untuk semua kebahagian dan kasih sayang yang telah Mary berikan.


"Maaf, Tuan. Sedikit terlambat," kata Ray yang baru turun dari taxi.


"Tolong bantu pindahkan Alura ke belakang," tunjuk Max pada kursi penumpang.


"Baik, Tuan."


Ray duduk di belakang stir fokus mengemudikan mobil. Max tadi meminta agar membawa Alura ke rumah sakit. Baru kali ini Ray melihat emosi di wajah tuannya. Jelas sekali kalau itu sebuah kekhawatiran. Diam-diam Ray tersenyum. Mungkin nona muda ini bisa mengembalikan lagi keceriaan dalam hidup tuannya. Jujur saja Ray merasa kasihan selama ini. Tuannya itu hidup tapi mati. Raganya hidup tapi tidak ada gairah sama sekali. Seakan Max hanya tinggal menunggu ajalnya datang menjemput.


Alura mengerjap beberapa kali menyesuaikan dengan cahaya lampu yang terang. Setelah matanya terbuka dia bisa melihat dengan jelas kalau sekarang dia tengah berada di rumah sakit. Alura mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, sepi. Tidak ada orang sama sekali. Dia ingat sebelum pingsan tadi mereka sedang berada di jalan. Lalu bagaimana Max bisa membawanya kesini?


"Kau sudah sadar?"


Alura menoleh ke arah pintu. Di sana Max sedang di dorong Ray mendekati tempat tidurnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah."


"Kau pingsan lama sekali," ujar Max terlihat tidak suka.


"Maafkan aku Max, sudah merepotkanmu."


"Minta maaflah pada Ray. Berkat kau, dia meninggalkan sarapannya," tukas Max.


"Ah, maafkan aku, Ray," ujar Alura merasa tidak enak pada asisten suaminya itu.


"Tidak masalah, Nona. Semoga kau cepat sembuh," balas Ray sambil tersenyum. Mata cipitnya kian hilang karena senyum lebarnya.


"Ya, terima kasih," kata Alura.


"Bersiaplah, kita akan segera pulang," potong Max. Tidak suka melihat Alura tersenyum pada pria keturunan tionghoa yang berdiri memegangi kursi rodanya di belakang.


"Iya. Aku mau ke kamar mandi dulu," kata Alura berusaha turun dari tempat tidur.


Ray mendorong kursi roda Max melewati pintu keluar. Entah kenapa kali ini Max tidak suka kehadiran Ray. Padahal biasanya dia amat bergantung dengan laki-laki bermata cipit itu.


Kalau diperhatikan, Ray cukup tampan. Kulit putih mulus, badan atletis, hidung mancung. Mirip aktor korea.


Max pertama bertemu dengannya di rumah sakit London ketika dia baru keluar dari rumah sakit. Waktu itu Ray sedang menjenguk sahabatnya yang menderita kanker darah. Sejak hari itu mereka menjadi akrab.


Tidak terasa hari ini sudah hampir lima tahun Ray menjadi asisten Max.


Max merasa cocok saja karena Ray tidak terlalu ingin tahu dan ikut campur urusan pribadinya. Bahkan, Ray terkesan selalu menjaga perasaannya. Bagi Max, Ray bukan hanya sekedar asisten. Tapi lebih dari itu Max sudah menganggapnya sebagai saudara. Max dulu mempunyai seorang adik perempun tapi meninggal saat berusia tiga bulan.


Sedangkan Mario, sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai saudara. Sebaliknya, bagi Mario, Max hanya benalu dalam keluarganya.


"Aku sudah siap, ayo!" Kata Alura menghampiri Max yang tengah mengobrol dengan Ray.

__ADS_1


"Kau yakin tidak akan pingsan lagi?" Tanya Max memperhatikan wajah Alura sudah tidak sepucat tadi.


"Insyaallah, aku sudah merasa lebih baik, Max."


"Baiklah, kita pulang," ujar Max memberi kode pada Ray agar mendoronh kursi rodanya.


"Tapi, bukannya kita mau ke rumah Ustaz Umar?" Tanya Alura bingung. Bukankah tujuan mereka dari rumah tadi mau ke sana.


"Itu tadi sebelum kau pingsan," jawab Max.


Alura tidak ada pilihan lain selain mengikuti perkataan Max. Salahnya juga pakai pingsan segala. Sudah merepotkan Max dan Ray, mana mungkin sekarang dia berani membantah kata-kata suaminya.


Mario merasakan kepalanya masih pusing dan berat akibat mabuk semalam. Dia berusaha duduk dan meraih celananya yang berserakan di lantai. Mario tersenyum mengingat kegiatannya bersama wanita yang dibawanya dari club semalam.


Dia beranjak ke dapur. Menuangkan air putih ke dalam gelas lalu membawanya kembali masuk ke dalam kamar. Setelah meneguk sampai tandas isi gelasnya, Mario menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Terbayang perkataan mamanya seminggu lalu tentang surat wasiat dan harta keluarga omnya.


Mario geram. Lagi-lagi soal harta. Dia tidak hanya menginginkan harta, tapi juga Alura. Ya, sepupu cantiknya itu bagaimanapun caranya harus menjadi miliknya. Mario harus merebutnya dari laki-laki cacat dan tidak berguna itu.


Mario teringat janjinya dengan seorang teman lama. Dia melirik jam di atas nakas sudah hampir tengah hari.


"Astaga." Mario menepuk kepalanya, "Aku terlambat," ujarnya melompat dari atas tempat tidur menuju kamar mandi.


"Allah, tidak melihat pada rupa kita, tetapi Allah melihat pada amalan kita."


Yasir sedang duduk melingkar bersama beberapa remaja laki-laki yang sedang mengikuti kajian Islam siang ini di mushola tidak jauh dari tempat tinggal mereka.


Yasir melanjutkan, "Allah Saw berfirman yang artinya:


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13).


Jadi, yang paling mulia di antara kita adalah yang paling bertakwa kepada Allah. Jika kita ingin meraih kemuliaan itu tentunya kita harus meraih takwa terlebih dahulu. Tidak ada hasil tanpa usaha," kata Yasir memandangi satu persatu wajah adik-adik binaannya selama dua tahun ini. Bagi Yasir terjun langsung ke masyarakat untuk mengajak dan menyampaikan kebaikan kepada mereka bukan hanya karena itu kewajiban. Lebih dari itu, dia merasa inilah wujud cintanya terhadap saudaranya. Cinta dalam ikatan akidah Islam.

__ADS_1


__ADS_2