
Pagi ini Alura bangun dengan status baru seorang istri, rasanya ada senang, sedih juga mengingat hati Max masih belum tersentuh. Tadi subuh saat terjaga dia sempat kaget ketika mendapati Max tidur di ranjang yang sama. Sejenak dia lupa bahwa lelaki itu adalah suami sahnya. Sebelum beranjak ke kamar mandi, Alura mengamati wajah damai Max saat tertidur, jauh berbeda dengan wajahnya saat terjaga yang dingin dan terkesan horor.
Alura merasa, sekarang adalah wajah Max yang sebenarnya. Tidak ada kepura-puraan seperti yang biasa dia tampilkan. Mungkin itu hanya sekedar untuk menutupi hatinya yang sebenarnya.
Insiden semalam membuat Alura berpikir bahwa Max belum bisa menerima dia dan status mereka. Alura memang tidak bisa memaksa. Tapi jika dia boleh meminta, dia ingin Max segera menghadirkan rasa itu padanya. Alura tak bisa membayangkan menjalani pernikahan tanpa cinta didalamnya.
Harusnya Alura sadar, pemilik Mahabbah adalah Allah, semestinya dia meminta kepada_Nya. Sebagaimana rasa dihatinya yang telah bersemi untuk sang suami.
Pernikahan ini bukanlah sebuah permainan, Alura tidak berpikir sama sekali bahwa semua akan berakhir layaknya drama ketika harta warisan itu sudah bisa didapatkan. Dia tidak sanggup menerima kenyataan jika harus ditinggalkan lagi. Sudah cukup Alura ditinggal orang terkasih sejak dia kanak-kanak dulu. Apakah salah jika dia ingin mempertahankan pernikahan ini?
Egoiskah jika dia ingin menahan Max disisinya? Jika iya, biarlah Alura egois satu kali ini saja. Dia sudah terlanjur mencintai lelaki itu. Apa lagi mengetahui setiap tahun angka perceraian di negara ini meningkat dengan berbagai macam pemicunya. Membayangkannya saja membuat dada Alura sesak. Karena itu, Alura tak ingin menjadi salah satu bagian dari mereka.
Sejak semalam dia mulai bertekad untuk mempertahankan rumah tangga yang baru seumur jagung ini semampunya sampai Allah Swt sendiri yang memisahkan.
Alura akan berusaha meluluhkan hati Max, Alura bersemangat dan optimis dapat mencairkan sikap cuek dan dingin suaminya itu.
Bagi Alura, kuncinya mereka harus saling terbuka agar lebih mudah saling memahami dan semakin mendekatkan diri pada Allah Swt. Bagaimanapun, hanya Allah tempat bergantung.
"Max, bangun, sudah subuh." mata biru Max langsung terbuka dan memandang tepat ke netra Alura. Merasa di tatap seperti itu, Alura jadi salah tingkah.
"Iya," balas Max mencoba untuk duduk. Melihat itu Alura dengan sigap membantunya.
"Solat." Alura menyibak selimut yang menutupi tubuh besar Max, "mari, ku bantu."
Alura sudah turun dari ranjang lalu mendorong kursi roda mendekati sisi ranjang. Seperti semalam, Alura membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa memindahkan Max. Itung-itung olahraga.
"Max, kau lupa, ya. Basuh dulu mukamu tiga kali, setelah itu, baru basuh tangan sampai siku. Di dahului dengan tangan kanan, ok. Sini, ku bantu agar lengan bajumu tak basah," terang Alura menggulung lengan piyama Max hingga melewati sikunya.
Sementara Max hanya diam dan menurut. Sedikit merasa terganggu dengan jarak mereka yang begitu dekat. Entah
perasaan aneh apa yang menelusup ke hatinya sejak mereka sah menjadi suami istri.
Setelah selesai wudhu, mereka bergegas solat. Sebelumnya Alura membantu memasangkan sarung dan mengambilkan peci untuk Max.
Selesai solat, Alura meraih musaf berwarna pink di tumpukkan kitab-kitabnya, lalu mulai membacanya dengan tartil dan suara yang indah.
Max memperhatikan Alura dengan seksama. Max tahu itu kitab suci umat Islam. Hanya saja dia belum pernah menyentuh apalagi membacanya.
Cepat atau lambat, dia juga pasti akan mempelajarinya. Karena Alura pasti tak akan membiarkan dia tidak mengetahui apa-apa tentang Islam setelah memutuskan menjadi muallaf.
__ADS_1
Max kembali teringat tentang kejadian semalam, setelah melewatkan jam makan malam Max merasa lapar. Tapi sungkan ingin membangunkan Alura hanya sekedar meminta tolong mengambilkan makanan ke dapur. Dia tahu dia cacat, karena itu, tidak ingin menunjukkan kelemahannya kepada orang lain termasuk istrinya. Jadilah dia menahan rasa lapar sendirian dengan berusaha untuk tidur. Tapi sayangnya, rasa lapar itu membuatnya malah tidak bisa terlelap. Itu juga yang akhirnya membangunkan Alura. Yang tidak disangka Max justru reaksi Alura, pertama wanita itu tidak terganggu atau merasa direpotkan, selanjutnya istri cantiknya itu malah menangis dan meninggalkan Max sendiri di ranjang. Sementara dia solat cukup lama. Max jadi merasa tidak enak. Baginya, Alura adalah sebuah rahasia. Wanita itu menerima dia yang notabene cacat tanpa pernah mempermasalahkan sama sekali. Lalu mengenai harta warisan, semalam dia mendengar langsung dari mulut Alura bahwa dia tak begitu tertarik dengan harta itu. Lalu, sebenarnya, apa yang membuat dia menyetujui pernikahan ini?
Max pun tak berharap lebih akan ini semua. Baginya, yang terpenting Mery, mendapatkan harta itu.
Jika setelah itu Alura memilih untuk bercerai, dia akan dengan senang hati mengabulkannya. Max akan kembali menjalani kehidupannya seperti dulu lagi.
"Max, kau melamun." apakah barusan dia melamun? Ah, ini kebiasaan Max yang masih dibawanya hingga ke kerumah ini.
"Kau ingin sarapan apa? nanti biar aku buatkan, ya," tawar Alura berdiri melepas mukenah, melipat dan menaruhnya kembali ke dalam lemari.
"Terserah saja," jawab Max datar.
"Ok. Baiklah. Oh, iya. Mulai nanti malam kita pindah ke kamar bawah, ya. Disini hanya akan menyulitkanmu untuk turun."
"Ada Ray."
"Tapi 'kan Max, Ray gak stay di sini. Aku hanya tidak ingin kau bosan di kamar, jika Aku tidak di rumah," kata Alura memperhatikan wajah Max. Takut-takut suaminya itu marah.
"Baiklah."
Senyum Alura tak bisa lagi disembunyikan di wajah putihnya mendengar Max tak menolak usulannya.
Alura segera ke dapur untuk membantu Bi Asih sekaligus membuat sarapan untuk Max.
"Non, ceria sekali pagi ini," goda Bi Asih.
"Hmm, Bibi bisa aja. Setiap hari saya juga ceriak kan, Bi?" Alura mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng.
"Tapi pagi ini beda, Non. Mungkin aura manten anyar, ya." Bi Asih tertawa sambil mengaduk kopi untuk tuannya, Arya.
"Bibi bisa aja, ya." Alura ikut terkekeh.
Setelah selesai Alura membawa sarapan ke kamarnya. Tapi saat pintu terbuka, dia tertegun melihat Max sudah rapi dengan stelan jas berwarna navy dan juga penampilannya yang sudah rapi.
"Max, kau mau kemana?" Alura meletakkan sarapan yang ia bawa ke atas nakas.
"Kerja."
"Dimana?"
__ADS_1
"Kafe tempat kita pertama bertemu, itu adalah milikku," jelas Max menggerakkan kursi rodanya mendekati nakas.
"Benarkah?" Alura tak bisa menyembunyikan wajah senangnya. Setidaknya, Max tidak akan bosan di rumah selama tinggal disini.
"Ya, kau pikir aku lelaki cacat pengangguran, begitu?!" Max memicingkan matanya dengan wajah dingin seperti saat pertama kali mereka bertemu.
"Bukan begitu, Max ... maksudku."
"Sudahlah, aku tahu apa yang kau pikirkan," ucap Max tidak lagi menatap Alura, tangannya meraih sepiring nasi goreng yang tadi dibawakan Alura dan menyantapnya dalam diam. Sementara Alura hanya menundukkan kepalanya duduk dipinggir ranjang. Tidak menyangka jika Max akan tersinggung seperti itu.
Tok Tok
Max berhenti menyuap sarapannya, dia tahu itu pasti Ray. Karena tadi dia menelfon Ray untuk menjemputnya.
"Masuklah," teriak Max dari dalam.
Ray yang sudah membuka pintu segera berjalan mendekat kearah Max. Lelaki keturunan Tionghoa itu rapi seperti biasa. Wajahnya pun datar mungkin ketularan Max.
"Selamat pagi, Tuan, Nona," sapa Ray membungkukkan badannya.
"Iya, ayo kita segera ke kafe."
"Tuan, jika kau ingin honeymoon, aku tidak keberatan menjaga kafe sendiri seperti biasa," ujar Ray terlihat biasa saja setelah mengatakan kalimat itu, sedangkan Alura merasa ruangan itu barubah panas ditandai dengan wajahnya yang memerah.
Max sendiri, berdehem beberapa kali dan melemparkan tatapan tajam kearah Ray.
"Sudahlah, ayo kita berangkat!" perintah Max tak ingin mulut Ray kembali mengeluarkan kata-kata yang aneh. Dia bahkan mengabaikan keberadaan Alura di belakangnya.
"Max, hati-hati, ya." Alura berjalan mendekat ke kursi roda suaminya itu, meraih tangan Max dan mencium punggung tangannya.
"Assalamu'alaikum."
Max mengerutkan dahinya.
"Jawabnya walaikumsalam, Max," kata Alura tersenyum.
"Walaikumsalam."
Selesai menjawab salam mereka berdua lantas keluar kamar meninggalkan Alura dengan dada berdebar. Hangatnya tangan Max masih terasa. Membuat senyum Alura tak juga sirna. Sungguh jatuh cinta itu indah. Apa lagi cinta dalam bingkai hubungan yang diridhai Allah.
__ADS_1
Jam 11 siang terdengar deru mobil. Alura berjalan ke depan dan mendapati Max sedang didorong diatas kursi rodanya oleh Ray. Belum sampai mereka masuk kedalam rumah, satu lagi mobil berhenti di halaman. Pintu mobil terbuka tak lama sosok sahabat kecilnya keluar dari mobil mewah tersebut, Askal sedang tersenyum kepadanya.