
Pagi ini begitu cerah. Angin yang bertiup semilir menerpa lembut wajah-wajah para pejalan kaki yang memulai aktifitas pagi mereka. Termasuk Emi yang sedang berada di belakang rumah. Ia benar-benar menikmati hangatnya sinar matahari pagi itu dengan melakukan beberapa gerakan kecil untuk melenturkan tubuhnya.
Ada banyak pakaian yang menumpuk di depannya. Mumpung hari ini adalah hari ahad, Ia akan menggunakannya untuk mencuci pakaian-pakaian yang tidak sempat ia cuci minggu lalu.
Emi mengehela nafas pendek ketika melihat banyaknya pakaian kotor menumpuk di depannya. Minggu kemarin ia tidak sempat mencuci, sebab dia kebagian giliran bersih-bersih di pesantren.
Seperti biasa sebelum memasukkan cucian ke dalam ember, terlebih dahulu ia akan memeriksa saku baju dan roknya satu persatu sebelum memasukkannya ke dalam ember berisi air. Ia takut ada sesuatu yang lupa diambilnya dan akhirnya rusak.
Ada sebuah kertas yang terlipat yang ia temukan di salah satu saku bajunya. Ia masih mencoba mengingat-ingatnya.
Emi mengangguk kecil. Itu lembaran yang ia temukan di dekat bangunan tua dua hari lalu. Emi melepas baju yang dipegangnya dan mulai membuka lipatan kertas. Ternyata sebuah puisi. Tulisan tangan yang indah. Tulisan yang membuatnya tertarik membacanya. Dan untung saja ia belum memasukkannya ke dalam ember.
"Wahai gadis berkerudung putih dengan langkah maha anggun.
Sampai di sini, Emi menghentikan bacaannya. Ia merasa gadis berkerudung putih dalam kalimat pembuka puisi itu seperti ditujukan untuknya. Dia memang penyuka warna putih. Ada dua belas jilbab warna putih yang ia koleksi. Semuanya berwarna polos. Terkadang teman-temannya suka mengoloknya karna dikira tak pernah mengganti jilbabnya. Lembaran puisi itu ia temukan di bangunan tua, tempat dia pernah melihat bayangan seseorang di balik jendela. Ia mencoba mengaitkan kejadian-kejadian itu dengan dirinya.
Emi kembali melanjutkan bacaannya.
"Wahai permata dunia yang memancarkan kemilau indahnya.
Wahai gadis yang memiliki mata seindah Yaqut.
Wahai gadis pemilik mata bak ekor burung kasuari.
__ADS_1
Wajahmu purna seperti purnanya Sang Wulan saat purnama.
Rambutmu yang tersibak di balik kerudung putihmu, seperti sutra malam yang berkilauan menghias syair para pemimpi.
Tatapanmu teduh, seperti secawan anggur yang memabukkan.
Dan aku terlena sehingga melupakan Penciptaku
Wahai gadis berkerudung putih dengan langkah penuh tuntunan.
Aku Sang Musafir menantimu di ujung penantian.
Maukah kau kubangunkan istana yaqut merah dengan emas melapisi dinding-dindingnya?
adalah keshalehanmu...
Keshalehan yang akan membawaku kepada cinta Sang Pemilik Cinta.
Wahai gadis berkerudung putih.
Berkenankah engkau bila ku ajak terbang ke tempat yang tak pernah kau saksikan?
Tempat yang hanya bisa disaksikan oleh dua hati yang mencinta karna Rabb.
__ADS_1
Maukah kau bersujud denganku karna cinta?
Sudikah kau berzikir denganku untuk cinta?
Hingga saatnya nanti alam akan berkata
Wahai hati-hati yang tenang...
Kembalilah kepada Tuhanmu.
Wahai gadis berkerudung putih
Mendongaklah sekali saja dan lihat aku.
Kalaupun engkau tidak bisa melihatku, Rasakan saja bahwa Aku ada di sana, sedang mengagumimu."
Emi terdiam. Untuk sesaat tadi, ia merasa seperti terbawa jauh ke dalam bait demi bait puisi yang dibacanya. Ia merasa dialah gadis berkerudung putih dalam puisi itu. Sangat mengena dan menembus hingga ke dasar hatinya.
Dia mulai yakin, memang ada orang di atas tingkat bangunan tua yang sedang mengawasinya. Orang itu bukan orang jahat yang berniat tidak baik kepadanya.
Emi bangkit dan melangkah memasuki kamarnya. Ia meletakkan selembar puisi itu di samping amplop titipan bu ustazah.
Permasalahan pertama sampai saat ini belum bisa ia putuskan. Sekarang muncul lagi teka-teki baru, walaupun belum pasti itu ditujukan untuknya atau tidak.
__ADS_1