SENYUM SANG REMBULAN

SENYUM SANG REMBULAN
ternyata benar, gadis berkerudung putih adalah pemilik buku itu


__ADS_3

Alfian memasang telinganya dengan seksama. Ada suara perempuan lain yang ia dengar sedang berbicara dengan ibunya di luar rumah. Suara yang terdengar tidak asing dan familiar di telinganya. Ia merasa pernah mendengar suara itu. Suara itu semakin membuatnya penasaran. Alfian merengsek pelan kearah jendela. Dibukanya pelan tirai jendela.


Dari dalam kamarnya, ia melihat ibunya sedang duduk bersama seorang perempuan berjilbab biru. Ada pembicaraan hangat antara keduanya. Dan sepertinya Ibunya terlihat akrab dengan perempuan itu. Sayang sekali ia tidak bisa melihatnya dengan seksama, sebab Ibu dan perempuan itu duduk membelakangi kamarnya.


"Sebentar ya Nak. Ibu mau ambil bukunya dulu di dalam." Perempuan itu terlihat mengangguk. Alfian berharap, Perempuan itu memalingkan wajahnya sedikit saja agar bisa dilihatnya.

__ADS_1


Ibu Alfian terlihat bangkit dari duduknya dan melangkah ke dalam rumah. Alfian masih saja tidak bisa melihat dengan seksama. Perempuan itu tetap tak menoleh. Namun kalau dilihat dari bentuk tubuh gadis itu, perempuan itu seperti mengingatkannya pada seseorang. Dan benar saja, ketika ibunya kembali keluar dan menyodorkan sebuah buku, perempuan itu berbalik.


Alfian terdiam menahan nafasnya. Ternyata benar, perempuan yang duduk bersama ibunya adalah gadis berkerudung putih, walaupun hari ini ia memakai kerudung berwarna biru. Ternyata benar, pemilik nama Emi Widja Yanti yang tertulis dalam buku, adalah gadis berkerudung putih, yang kini sedang berada di depan rumahnya. Mimpi apa gerangan ia semalam sehingga kedatangan gadis pujaannya. Ingin rasanya ia pura-pura keluar memperlihatkan dirinya, tapi ia hanya tertunduk ketika menyadari, ia bukanlah pemuda normal seperti pemuda lainnya. Ia juga tak memiliki wajah tampan untuk membuat dua mata saling memandang penuh ketertarikan.


Gadis itu terlihat mencium tangan ibunya. Tak lama kemudian, gadis itu pergi. Alfian terus memandang tubuh gadis itu dari balik kaca jendela hingga sosok gadis itu hilang.

__ADS_1


Alfian menangis. Ia mulai menyesali masa lalunya. Menyesali kenapa kecelakaan itu harus terjadi kepadanya. Orang yang menabraknya pun, sampai sekarang belum juga ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Setidaknya memberikannya sedikit ganti rugi untuk memperbaiki wajah dan kakinya.


Tapi sudahlah. Ia merasa tidak perlu larut menyesali apa yang sudah terjadi. Ia merasa sudah terlalu sering mengeluh. Terlalu sering mengumpat dan meratapi kehidupannya. Dia telah melupakan Tuhan, tempat satu-satunya mengeluh dan meminta. Jika Ia telah berkehendak, maka dunia hanyalah setitik kotoran di ujung kuku. Ada baiknya sekarang ia berwudhu, shalat dhuha dan berdoa atas segala keinginannya. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Tuhan lebih tahu, kapan harus memberi. Semua musibah yang terjadi untuk menguji kekuatan iman hamba-Nya. Dan Tuhan, tidak akan menimpakan suatu musibah di luar batas kemampuan hamba-Nya.


Alfian bangkit. Setelah merenung beberapa saat, ia seperti telah menemukan kembali kekuatan serta harapan besarnya. Dia harus memiliki Emi Widja Yanti. Tuhan akan membantunya lewat kesalehan dan doa yang dipanjatkan istiqomah.

__ADS_1


Alfian tersenyum dan melangkah ke luar rumah. Ia memandang ibunya. Sepertinya ia begitu capek setelah membersihkan dedaunan yang berserakan di halaman rumah. Alfian menghampiri ibunya dan duduk di sampingnya. Dengan pelan ia mulai memijat punggung ibunya.


"Tumben gak ke rumah temannya. Biasanya pagi-pagi betul sudah hilang dari rumah." Kata ibunya sambil melirik ke arah Alfian. Alfian tak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menatap jauh ke ujung jalan.


__ADS_2